Monday, July 10, 2017

Giselle Act 2

Setelah bincang kami di kelas drama modern, aku dan Tian sekarang saling senyum saat berjumpa di koridor kampus. Tidak ada perubahan yang signifikan. Kami tidak tiba-tiba menjadi sangat dekat, tapi kami bukan lagi orang asing bagi satu sama lain. Aku cukup senang dengan keadaan ini. Saling bertukar senyum di koridor adalah hubungan yang lebih nyaman dari pada saling-kenal-tapi-tidak-cukup-dekat-untuk-saling-menyapa dan tidak terlalu dekat untuk bertukar kata lebih dari sapaan.

Keadaan ini berlangsung sampai kami kembali duduk di kelas bu Diana. Ibu Diana duduk di atas meja sambil membaca sebuah buku besar, menghiraukan mahasiswanya yang telah duduk rapi dan bingung kenapa kelas belum dimulai juga. Ibu Diana tiba-tiba mengangkat kepalanya lalu mulai menatap kami lama. “Hmm.. Kalian buat lima kelompok lalu minggu depan kumpulkan laporan mengenai pertunjukkan drama, bebas mau drama apa saja, saya tidak keberatan walau satu kelompok membahas drama yang sama asal dalam prespektif yang berbeda,” kelas segera ribut dengan gumaman protes. Ibu Diana menutup bukunya, berdiri, lalu mengangkat tangannya, “sampai jumpa minggu depan,” ia kemudian pergi meninggalkan kelas.

Aku menghela nafas. Aku tidak kenal siapa-siapa di kelas ini dan aku bukan orang yang bisa dengan mudah berbicara dengan orang asing. Tiba-tiba bahuku disentuh seseorang, “hei,” Tian tersenyum kepadaku. “Aku tidak kenal siapa-siapa di kelas ini selain kamu, mau bareng?” Aku hanya bisa mengangguk. Tian langsung duduk di sebelahku, lengannya bersenggolan dengan bahu dan lenganku. Kenapa tempat duduk di sebelahku dekat sekali dengan tempat dudukku?

Akhirnya, karena kami hanya berdua kami bergabung dengan kelompok lain yang juga masih kekurangan anggota. Kami mendiskusikan drama apa yang sebaiknya akan kami bahas, tapi ada terlalu banyak pilihan. Aku mengusulkan drama klasik Jepang, seperti Kabuki atau Noh, tapi seseorang berkata akan sulit menulis laporan tentang drama yang bahasanya saja tidak kami mengerti.

“Giselle,” Tian bergumam. “Ha?” Aku menatapnya. “Bagaimana kalau Giselle? Pertunjukkannya tidak memiliki dialog karena Giselle pertunjukkan balet dan plotnya tidak terlalu berat dan cukup sederhana,” usul Tian dengan semangat, matanya berbinar. Aku mengangguk setuju. Mungkin karena yang lain lelah berdiskusi dan mau pulang saja atau mungkin karena Tian punya mata yang menghipnotis dan mematikan, akhirnya yang lain ikut setuju. Kami bertukar kontak dan memutuskan untuk bertemu lagi Sabtu di perpustakaan kampus. Saat Tian masih berbicara dengan Cipto, salah satu anggota kelompok, tentang apa itu Giselle, aku pergi keluar kelas bersama anggota kelompok lain. Saat aku baru menginjakkan kaki di luar kampus telpon genggamku bergetar.

Hati-hati di jalan Rai ;) -Tian

Hampir saja aku menjatuhkan telpon genggamku. Walau kami sudah bertukar nomor ID aplikasi untuk chat, Tian menghubungiku lewat SMS. Mungkin dia punya bonus 100 SMS yang sayang bila tidak digunakan jadi dia tiba-tiba mengirimkan pesan singkat ini? Aku masih menatap telpon genggamku lama. Apa aku harus balas pesan singkatnya? Apa aku harus diamkan saja? Aku agak bersyukur pesan ini ia kirim lewat SMS bukan aplikasi chat gratis yang memperlihatkan apakah pesan sudah dibaca atau belum. Tiba-tiba telpon genggamku bergetar lagi.

Oh, aku tahu nomor ini dari Egi. Maaf kalau mengagetkanmu!

Ya, sekitar dua minggu yang lalu. Tapi kenapa dia baru menghubungiku sekarang? Kenapa dia menghubungiku dengan pesan singkat tidak penting seperti “hati-hati di jalan winky face”? Apa maksudnya? Apa dia sedang berusaha memancingku? Memancingku untuk apa? Terlalu banyak pertanyaan, terlalu banyak dugaan, jadi akhirnya aku memutuskan untuk mengunci layar telpon genggamku, menyimpannya ke dalam sakuku lagi, dan melanjutkan perjalananku pulang ke kamar kosanku yang sempit.

Hari ini adalah hari yang panas, aku memegangi kedua pipiku.

-

“Aku rasa ada yang salah dengan pangeranmu itu,” Egi mengacungkan sumpitnya ke depan wajahku. Gilang memukul kepalanya dari belakang, “jangan menodong orang dengan sumpit yang baru saja kau masukkan kemulutmu, menjijikkan,” Egi mengusap kepalanya. “Ini kekerasan dalam rumah tangga!” Tuduhnya kesal. “Aku rasa ini hanya kekerasan,” potongku, Gilang mengusap kepalaku, “tuh, dengarkan Rai, ini hanya kekerasan.”

“Dasar keluarga kejam! Sadis! Tidak berprikemanusiaan!” Aku hanya mengangkat bahuku. “Ya, ya, tapi si Tian ini, apa dia membuatmu tidak nyaman? Kau mau aku bicara dengannya?” Gilang bertanya kepadaku. Aku segera menggeleng kencang, “tidak, tidak, dia hanya... membuatku curiga. Tapi kau tidak perlu berbicara apa-apa dengannya. Paling seminggu dua minggu dia akan berhenti menggangguku sendiri.” Egi mengangkat salah satu alisnya, tapi memutuskan untuk diam saja.

“Kau yakin?” Gilang menatapku, wajahnya terlihat khawatir. Gilang memang hanya beda empat bulan dariku tapi bagaimana pun dia kakak sepupuku jadi kadang dia terlalu protektif kepadaku. Pertama kali Egi mengajakku makan malam di warung bawah kosannya, Gilang langsung menceramahi Egi malam itu juga setelah kami selesai makan. Aku ingat malam berikutnya ia menceramahiku untuk tidak jatuh cinta kepada Egi. Aku berhasil meyakinkannya bahwa aku tidak akan jatuh cinta kepada Egi karena hal yang dia bicarakan kepadaku, ya, kalau bukan pacarnya yang bekerja di bank, pacarnya yang bekerja di kantor pemerintahan, atau pacarnya yang baru ambil S2. Lagipula, pada satu titik, aku benar-benar yakin Egi dan Gilang pacaran, tapi keduanya langsung marah saat aku tanyai soal hal ini. Terutama Gilang; “kalau pun aku gay aku juga pilih-pilih kali!” Katanya kesal malam itu.

“Tentu saja aku yakin. Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku. Justru aku yang khawatir tentang perkembangan hubunganmu dengan Lani,” Lani adalah teman satu angkatan Gilang yang ia taksir dari semester pertama. Tapi Gilang pengecut kalau soal cinta, tidak seperti Egi, jadi sampai sekarang pun Gilang hanya bisa mengagumi Lani dari jauh. Gilang mengalihkan pandangannya, menolak menatapku. “Ah, si payah ini menyapa Lani saja tidak berani. Inilah kenapa kau masih perjaka sampai sekarang nyet,” ejek Egi. “Memang aku kau, itu penis atau USB? Colok sana, colok sini”

“Aku cuma punya tiga colokan njing! Memang kau kira aku laki-laki apaan? Aku setia!” Bela Egi. “Cuma tiga,” Gilang mendengus. “Jadi yang di chat-mu itu siapa?” Egi langsung menunjuk Gilang dengan tatapan menuduh, “kau buka-buka hapeku?! Bahkan pacarku tidak buka-buka hapeku!” Gilang memutar bola matanya, “aku tidak perlu memeriksa hapemu kalau reaksimu seperti itu.” Egi hanya cemberut, kehilangan kata-kata, tiba-tiba ia mengernyitkan keningnya, “tunggu, kita tadi sedang membahas pangerannya Rai yang kemungkinan besar adalah seorang psikopat kenapa malah membicarakan keperjakaan Gilang.”

“Dia bukan pangeranku! Dan aku sudah mengalihkan pembicaraan kita menjadi Lani,” aku melipat kedua tanganku di meja. “Kalau begitu aku alihkan lagi menjadi Tian, karena pembicaraan kita soal Lani hanya akan berakhir sampai Gilang diam dengan pipi yang memerah seperti perawan. Apa hanya aku yang merasa si Tian ini aneh dari cerita-ceritamu?” Gilang baru saja mau membalas ejekan Egi tapi dia memutuskan untuk menyeruput tehnya yang mulai dingin dan diam saja. karena bagaimana pun apa yang dikatakan Egi tidak salah.

“Aku rasa dia tidak seaneh itu tapi, ya, dia memang agak aneh,” aku membaringkan kepalaku di lenganku yang terlipat di meja. “Aku rasa dari pada aneh dia hanya sedikit terlalu edgy. Aku yakin dia ini termasuk anak-anak yang baca Murakami dan pikir mereka keren karena mereka sudah membaca semua buku-buku Murakami,” Gilang mengaduk tehnya. Egi mengangguk, “aku selalu merasa orang-orang seperti itu aneh, karena aku bahkan berusaha baca cerita pendeknya Murakami dan aku tidak pernah selesai karena bagian depannya terlalu membosankan.” Gilang tertawa, “Samsa in Love? Ugh, aku bahkan tidak bisa baca Kafka. Kita cetek banget, sih, jadi sedih.” Egi ikut tertawa.

Aku memejamkan mataku. “Kau ngantuk Rai? Ayo, kita pulang, memang sudah malam,” Gilang mengusap kepalaku. Egi tertawa mengejek, “ah, dasar bayi. Masih jam segini sudah ngantuk.” Aku terlalu capek untuk membalas ejekannya jadi aku hanya mengerang pelan tanda tak setuju. Akhirnya kami pulang ke kosan masing-masing, Gilang mengingatkanku untuk cuci muka dan gosok gigi sebelum tidur dan Egi tertawa mengejek karena Gilang terdengar seperti ibuku (yang membuatnya dihadiahi sebuah tendangan, walau Egi tidak salah, Gilang memang kadang terdengar seperti ibuku).

Setelah sampai di kosan aku langsung membaringkan tubuhku di kasur. Memejamkan mata sejenak. Bayangan tuan bermata indah terbesit di kepalaku; matanya berbinar, senyumnya lebar, lesung pipitnya kecil. Aku segera membuka mataku, sadar tentang apa yang aku baru saja kubayangkan di kepalaku. Aku duduk, wajahku panas, aku cepat-cepat ke kamar mandi untuk mencuci wajahku. Apa yang terjadi kepadaku? Apa yang sudah dia lakukan kepadaku?

-

Sabtu pagi aku sudah di perpustakaan untuk menghabiskan waktu sampai waktu janjian kelompok kelas drama modern. Awalnya aku mau menunggu di kosan saja sambil malas-malasan, tapi kepalaku dipenuhi dengan bayangan-bayangan yang membuat perutku terasa aneh setiap aku membiarkan otakku istirahat sejenak saja, jadi aku putuskan untuk main di perpustakaan, mencari-cari buku yang enak untuk dibaca.

Aku suka menghabiskan waktu di perpustakaan saat aku tidak punya buku tertentu untuk dicari. Hanya menelusuri rak-rak dan mencari-cari buku apa yang kelihatannya menarik. Kadang aku menemukan buku-buku yang sangat menarik, kadang aku menemukan buku aneh yang membuatku bertanya-tanya kenapa perpustakaan kampus menyimpan buku ini. Tapi bila aku punya buku tertentu yang harus aku cari, aku benci harus mencarinya di perpustakaan kampus karena 90% akhir dari skenario ini aku tidak berhasil menemukan buku yang aku cari.

Aku duduk di lantai di depan rak bagian buku-buku sastra Cina, aku tidak pernah membaca buku fiksi dari Cina sebelumnya, aku menimbang-nimbang mungkin aku bisa memulai sekarang, tapi aku tidak tahu harus membaca yang mana. Sebenarnya perpustakaan menyediakan tempat duduk, bahkan ada sofa segala. Tapi aku suka duduk-duduk di lantai di sudut perpustakaan, bersembunyi di balik rak-rak, dan dikelilingi oleh buku-buku tua yang banyak berdebu. Aku merasa sendirian dan aman. Rasanya walau di luar sedang terjadi zombie apocalypse aku akan baik-baik saja.

“Kau sedang baca apa?”

Aku bersumpah jantungku benar-benar hampir copot saat itu juga. Aku berhasil menahan teriakanku. Suara yang terdengar tidak asing itu tertawa kecil, sangat familiar. Benar saja, Tian berjongkok di belakangku. Kepalanya berada sangat dekat dengan kepalaku, berusaha mengintip buku yang sedang aku buka-buka. Sedekat ini aku bisa melihat bulu matanya yang panjang dan mencium bau parfum samar yang anehnya cukup lembut. Bukannya aku merasa bahwa laki-laki yang menggunakan parfum yang wanginya lembut aneh, tapi baik Gilang atau Egi selalu menggunakan parfum yang baunya menyengat dan membuatku pusing. Aku sedikit membenci Tian karena parfumnya sangat wangi sampai-sampai aku ingin menciumnya lebih dekat.

“Oh, aku belum pernah baca ini, apa bukunya menarik?” Ia menggapai buku yang sedang aku pegang dan membaliknya untuk melihat sampul bukunya. Menyadari betapa dekat tubuh kami karena tidak hanya mencium wangi parfumnya, aku juga bisa merasakan panas tubuh Tian di punggungku, aku dengan refleks mencondongkan tubuhku ke depan. Aku tidak pernah sedekat ini dengan manusia, apalagi laki-laki. Bahkan aku dan Gilang tidak pernah sedekat ini. Mungkin ia menyadari aku merasa tidak nyaman, mungkin dia akhirnya sadar bahwa posisi kami sangat tidak enak dipandang dari sudut pandang orang ketiga, entah yang mana tapi Tian akhirnya bergerak dan duduk di sebelahku. Lengan kami masih bersentuhan dan ini masih terlau dekat bagiku, tapi setidaknya punggungku tidak lagi merasa panas. Buku yang tadinya ada di tanganku sudah berpindah ke tangannya.

Aku menatapnya lama, kehilangan kata-kata. Ini masih jam sembilan pagi, waktu kumpul untuk tugas drama modern masih empat jam lagi. Apa yang Tian lakukan di sini? Apa dia mengikutiku? Untuk apa dia mengikutiku? Bagaimana dia tahu aku ada di sini? “Kalau kau terus menatapku seperti itu mukaku akan memerah karena malu,” ia mengalihkan pandangannya dari buku di tangannya dan menatapku dengan senyum yang membuatku kesal. “Sedang apa kau di sini?” Tanyaku seketus yang aku bisa. Ia mengangkat kedua bahunya, “aku bosan di rumah dan memutuskan untuk menghabiskan waktuku di perpustakaan sampai jam satu. Lalu aku melihatmu duduk sendirian di sini. Kau asyik sekali sampai-sampai tidak mendengar aku mendekat,” ia menatap buku yang ia ambil dariku, “Empress Orchid? Apa buku ini sebegitu menariknya?” Aku mengambil buku itu lagi dari tangannya, “aku tidak tahu, sebelum benar-benar membacanya seseorang mengejutkanku dari belakang,” Tian diam saja dan kemudian mengambil buku lain lalu membuka-bukanya.

Selama sepuluh menit, kami berdua diam, aku mencoba membaca buku tadi dan Tian membaca buku lain. Tapi aku tidak bisa konsentrasi jadi aku akhirnya menutup buku yang sedang kupegang lalu menatapnya, “sedang apa kau di sini?” Tian balas menatapku bingung, “tadi kan sudah kubilang, aku-“ Aku segera memotongnya, “bukan, bukan sedang apa kau di perpustakaan pagi-pagi buta begini, tapi sedang apa kau, di sini, di sampingku.” Tian memanyunkan bibirnya, “apa aku tidak boleh ada di sini?” Tanyanya dengan wajah sedikit sedih. Aku menghela nafasku, “bukannya tidak boleh, sih, tapi bukannya kau punya selera buku sendiri?”

Tian hanya menggaruk belakang kepalanya, “aku tidak keberatan duduk di sini, lagipula siapa bilang aku tidak suka... buku-buku ini?” ia menatap buku-buku sastra dari Cina yang kebanyakan buku novel sejarah. “Kau bukannya suka Murakami?” Mendengar pertanyaannku, wajah Tian langsung terlihat cerah. “Dari mana kau tahu aku suka Murakami? Aku sudah baca semua novelnya! Apa kau juga suka buku-bukunya?” Mendengar hal ini aku hanya bisa kembali menghela nafas. Tentu saja Gilang dan Egi benar. Tentu saja Tian suka Murakami seperti anak-anak hip edgy lainnya. “Aku.. hanya menebak-nebak saja. Kau terlihat seperti orang yang akan sangat menyukai Murakami. Tidak bisa dibilang suka kalau aku hanya pernah baca Samsa in Love,” karena Egi adalah Murakami anti dan Gilang terlalu malas untuk menyelesaikan buku-buku Murakami, aku tidak pernah benar-benar mencoba membaca buku-buku karyanya. Aku juga membaca Samsa in Love karena Gilang terus membicarakan betapa membosankannya cerita pendek itu dan ia harus membacanya untuk kelas kesusastraan. Akhirnya ia menyerah dan memilih untuk membaca novel Kawabata, Yukiguni, yang menurutnya juga membosankan tapi setidaknya tidak bercerita tentang kisah cinta kecoak dan manusia. Menurutku Samsa in Love tidak seburuk itu tapi Gilang memang sering terlalu dramatis.

“Wah! Kau harus baca satu karyanya kalau begitu! Sini!” Tian menggenggam pergelangan tanganku dan menarikku berdiri lalu menuntunku ke depan rak bagian buku-buku sastra dari Jepang. Ia mendudukkanku di depan rak lalu sibuk mencari-cari buku kesukaannya. “Sebenarnya yang paling aku suka adalah Hard Boiled Wonderland and the End of the World, tapi mungkin kau lebih baik mulai dari Norwegian Wood karena kebanyakan orang mulai dari situ, ah!” Ia kemudian menarik satu buku dari rak lalu duduk di sebelahku dan menyerahkan bukunya kepadaku. Lagi-lagi aku merasa kami terlalu dekat karena bau parfumnya tercium lagi. Apa Tian tidak tau artinya personal space?

Aku mencoba membaca buku yang ia berikan tapi sulit membaca sesuatu saat seseorang menatapmu dengan seksama seolah kau punya sesuatu yang aneh di wajahmu. Akhirnya aku menutup bukunya membuat Tian terkejut, “kenapa? Apa kau tidak suka bukunya?” aku menggeleng, “mungkin aku baca di kosan saja, aku mau beli sesuatu untuk mengganjal perutku karena aku belum sarapan.” Tian kembali tersenyum, “ide yang bagus! Aku butuh kopi pagi-pagi begini.” Aku mengernyit karena aku tidak bisa minum kopi, apalagi pagi-pagi di saat perutku kosong, “kita juga bisa pesan roti lalu bagi dua! Roti di kafe bawah cukup enak, tapi porsinya terlalu besar untuk sarapan bagiku, apa kau mau kentang goreng juga? Atau nasi goreng?” Aku tidak bisa makan pagi jadi aku semakin mengernyitkan dahiku. Kenapa dia langsung berkesimpulan aku mengajaknya untuk ikut bersamaku? “Roti saja,” gumamku. Ah, pada akhirnya aku tidak bisa bilang tidak pada wajah yang bersemangat itu.

-

“Aku punya kartu mahasiswa sendiri, kenapa kau harus meminjamkan bukunya untukku?” Tian tersenyum menggoda. Matanya berkilat dan lesung pipitnya yang kecil dan hampir tidak kelihatan muncul. “Karena dengan begini kau tidak bisa lari dariku, setidaknya untuk dua minggu ke depan,” jawabnya santai. Perutku kembali ngilu dan wajahku terasa panas. Tian menatapku lalu tertawa kecil, ia kemudian menyodorkan minuman yang tadi aku pesan lalu membawa kopi dan roti yang ia pesan. Rasanya otakku gosong dan aku mengalami korsleting karena saat aku sadar kami sudah duduk di kursi kafe, lututnya bersentuhan dengan lututku, dan aku sedang minum kopinya yang ia sodorkan kepadaku.

Ya, Tuhan, apa yang sudah orang ini lakukan kepadaku?