Friday, June 23, 2017

Giselle Act 1

Pertama kali aku bertemu dengannya kami sedang ospek jurusan. Aku ingat, “ah, orang ini matanya indah,” terlintas di kepalaku ketika kami berpapas mata untuk pertama kalinya. Saat itu aku rasa aku tidak sedang jatuh cinta, jantungku tidak berdegub kencang dan tanganku tidak berkeringat dingin. Aku suka matanya yang besar tapi tajam dan rambutnya yang ikal panjang sebahu. Walau begitu aku pikir kami tidak akan pernah bertegur sapa. Aku tidak ramah, dia seperti tokoh utama novel remaja yang pendiam dan misterius. Aku butuh seseorang untuk memulai pembicaraan dalam bergaul, aku rasa dia juga.

Kenyataannya, benar, kami tidak bertegur sapa untuk waktu yang lama. Aku lebih suka pulang setelah perkuliahan selesai, dia cukup aktif di kampus. Kami bukannya benar-benar berbeda, malahan aku rasa kami memiliki selera yang cukup sama, tapi kesamaan selera tidak serta merta membuat dua orang yang enggan menyapa tiba-tiba menjadi kawan.

Kedua kali aku berpapas mata dengannya kami sedang menonton pertunjukkan teater yang sama. Ia dengan seorang kakak cantik yang diam-diam sering aku pandangi di kampus dan aku dengan kawanku yang menyeretku jauh karena ia tertarik dengan pertunjukkan teater ini. Kakak cantik itu ternyata kenalan kawanku, Egi. Mereka saling bertegur sapa dan entah kenapa akhirnya aku duduk bersebelahan dengan tuan bermata indah.

Aku tidak pernah bisa diam dalam menonton pertunjukkan atau film, komenku selalu banyak, dan Egi sama cerewetnya denganku. Tapi duduk di sebelah orang yang terasa asing membuatku enggan membuka percakapan dengan Egi. Egi kadang melirikku, tapi dia memutuskan untuk diam saja. pertunjukkannya tidak buruk, tapi juga bukan pertunjukkan terbagus yang pernah aku saksikan. Beberapa adegan cukup menggelitik dan menghibur, beberapa terlihat canggung. Tiba-tiba bahuku dicuil dan permen karet disodorkan kepadaku. Kami bertatapan mata untuk ketiga kalinya.

Aku ingin menolak tawarannya, tapi tanganku tanpa sadar sudah mengambil satu permen karetnya. Aku sebenarnya tidak terlalu suka permen karet. Permen karet terlalu manis untukku dan aku tidak boleh menelannya, aku tidak terlalu mengerti apa kenikmatannya. Jadi aku simpan permen karet itu di sakuku cepat-cepat. Tuan bermata indah mengulurkan tangannya lebih jauh untuk menawari Egi. Tuan bermata indah matanya menghipnotis. Aku ingin buang permen karet darinya karena entah kenapa permen itu terasa panas di sakuku.  

-

Malam itu, setelah pertunjukkan teater selesai, aku cepat-cepat menarik Egi untuk segera pulang. Sudah kemalaman, kataku tanpa menatap matanya. Aku bisa merasakan tatapan Egi yang tahu aku berbohong. Aku pernah pulang lebih malam dari ini, sendirian. Tapi ia tidak terlalu mempersalahkan tingkah lakuku yang agak aneh. Ia mungkin berpikir aku tidak terlalu menyukai pertunjukkan teaternya dan ia mungkin merasa bersalah telah menyeretku paksa. Di dalam kereta aku pura-pura mengantuk, Egi mulai bercerita tentang pendapatnya tentang pertunjukkan tadi. Aku sedikit membenci diriku yang masih dapat merasakan permen karet di sakuku.

-

Mungkin aku punya sedikit ketertarikan dengan tuan bermata indah. Bukan salahku. Ia pria yang menarik. Tapi aku benci mengakuinya jadi aku berusaha untuk tidak pernah bertatapan mata lagi dengannya. Ia punya mata yang berbahaya. Sayangnya, aku berkawan dengan Egi (dan aku tidak bisa memutuskan pertemanan kami karena kalau benar-benar dihitung, aku hanya punya dua kawan; Egi dan Dipta).

“Kau ingat Tian?” Egi memulai pembicaraan saat kami sedang makan malam di salah satu warung ayam goreng kesukaannya.

“Siapa?” Jawabku malas, aku sebenarnya tidak lapar atau pun mau keluar kamar, tapi Egi—seperti biasa—memaksaku untuk menemaninya. Dia habis bertengkar dengan pacarnya, entah yang mana, jadi dia sedikit haus perhatian belakangan ini.

“Tian, yang duduk di sebelahmu waktu nonton teater minggu lalu,” aku terdiam sejenak. Tentu saja aku ingat. Permen karetnya masih ada di saku kardiganku.

“Oh, ya, namanya Tian?” Egi menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memberikan tatapan orang tua yang kecewa kepada anaknya (aku tahu karena orang tuaku selalu menatapku seperti itu), “dia satu jurusan denganmu, bagaimana kau bisa tidak tahu namanya?” Aku hanya mengangkat kedua bahuku. “Kau tahu bagaimana. Kenapa dengan si Tian ini?” Aku balik bertanya.

“Tian bertanya padaku apakah kau membencinya,” Egi menatapku serius, “dan apakah kita pacaran.” Aku mengernyit, “apa kita terlihat pacaran? Apa ini alasan kenapa tidak ada yang mau mendekatiku selama empat semester?” Egi hanya mengangkat bahunya, “kalau menurut pendapatku, itu mungkin karena kau selalu memasang wajah tidak bersahabat setiap orang mendekatimu.” Aku menendang kakinya cukup kencang, “aku tidak butuh pendapatmu.” Egi meringis.

“Apa kita tidak akan membicarakan bahwa akhirnya ada seseorang yang sepertinya tertarik denganmu?” Aku menyedot teh tawar dingin dihadapanku, menolak memberikan komentar apapun. Egi menatapku aneh. “Rai?”

“Siapa yang bilang dia tertarik denganku? Bagaimana kalau dia tertarik denganmu?” Aku balas bertanya. Egi tiba-tiba nyengir lebar. Cengiran yang berarti dia habis melakukan sesuatu yang benar-benar bodoh. “Karena... nomor kontak yang dia minta dan aku berikan kemarin nomor kontakmu?”

-

Berkawan dengan Egi bukanlah keputusanku. Kebetulan dia adalah kawan baik sepupu laki-lakiku. Sebelumnya kami tidak sedekat ini, tapi setelah sama-sama merantau ke kota, universitas, dan fakultas yang sama dengan natural intensitas tegur-sapa kami semakin besar dan akhirnya aku terjebak di dalam perkawanan yang tidak sehat di mana aku menginginkan kedamaian dan dia datang menggangguku karena Gilang, kakak sepupuku, adalah laki-laki 23 tahun emo dengan hormon estrogen yang lebih tinggi dariku; “butuh waktu sendiri” katanya.

Di saat Gilang tidak mau diganggu maka Egi hanya punya dua pilihan; Dipta atau Rai yang malang. Dipta biasanya tidak merespon bila dijejali dengan masalah cinta Egi yang rumit, maka Rai yang malang harus terjebak dengan Egi yang dipenuhi dengan keluh kesah tentang kisah cintanya yang rumit dan tidak hanya satu.

Intinya, perkawananku dengan Egi seharusnya kuakhiri saat kami masih ditahap tegur-sapa.

-

Untungnya, Tian dan Egi sepertinya hanya mengalami miskomunikasi waktu itu karena setelah hampir satu minggu tuan bermata indah tidak menghubungiku. Ia mungkin tidak bermaksud apa-apa ketika bertanya tentang hubunganku dan Egi, ia hanya penasaran, tapi Egi memang sering kali salah membaca premis karena itu kesimpulan yang ia ambil juga sering kali salah. Permen karet dari tuan bermata indah sudah aku buang karena aku tidak suka permen karet dan entah kenapa aku enggan memberikannya kepada orang lain. Sebagian kecil dari diriku merasa kecewa, tapi setidaknya dengan begini aku tidak harus mengalami perasaan-perasaan tidak menyenangkan saat bertatap muka dengan Tian; berkeringat dingin atau merasakan ngilu di perutku tanpa alasan yang jelas. Aku benci merasa seperti anak SMP yang baru mengenal cinta. Aku tidak suka merasa menyedihkan. Aku suka memiliki kontrol atas apa yang aku rasakan.

Keberuntunganku ternyata tidak lama karena kelas drama modern yang aku ambil karena aku pikir akan menyenangkan adalah kelas yang juga tuan bermata indah anggap akan menyenangkan. Kami bertatap mata saat aku masuk ke kelas dengan langkah kaki yang gembira. Rasanya ususku jatuh ke bawah lubang, tahu kan, perasaan seperti naik roller coaster dan tiba-tiba roller coasternya jatuh ke bawah. Langkah kakiku jadi kurang gembira dan aku cepat-cepat duduk di bangku depan, jauh dari tuan bermata indah yang duduk di belakang kelas.

Aku berusaha melupakan eksistensi tuan bermata indah selama kelas berlangsung. Tidak mudah karena dosen kelas ini ternyata suka melihat muridnya menderita. Ibu Diana, dosen yang gayanya tidak senyentrik yang aku kira, memutuskan akan menyenangkan bila mahasiswanya saling mengenal satu sama lain sebelum memulai mengajarkan kami tentang sejarah perkembangan seni pertunjukkan klasik sampai modern Eropa. Ia memegang daftar hadir kelas lalu menggumamkan sesuatu yang sulit untukku tangkap.

“Rai Annisa? Siapa Rai Annisa?” Aku mengangkat tanganku. “Kenapa nama kamu Rai Annisa?” Tudingnya tiba-tiba. Aku bingung mau menjawab apa dan hanya bisa membuka mulutku sedikit, “ssshhh, aku tidak mau tahu, aku mau Sebastian Kuncoro yang tahu kenapa namamu Rai Annisa. Siapa Sebastian Kuncoro?” Aku memutar kepalaku ke belakang dan mendapati tuan bermata indah mengangkat tangannya, “saya bu.” Aku menghadap ke depan lagi dengan perut yang ngilu. Sepertinya perasaanku terlihat di wajahku karena ibu Diana memandangku aneh, “kenapa? Kamu tidak suka Sebastian?” Aku segera menggelengkan kepalaku cepat-cepat, tapi dia masih memandangku aneh, “kalau begitu kenapa wajahmu seperti itu?” Aku baru mau membuka mulutku untuk menjawab tapi dia segera memotongnya, “sssshhh, aku tidak mau tahu, aku mau Sebastian Kuncoro tahu kenapa wajahmu seperti itu saat aku pasangkan kalian. Kalian berdua pindah ke belakang dan mulai mengenal satu sama lain.” Aku bisa merasakan seluruh kelas menatapku dan mulai menggoda kami berdua, “diam, siapa Lania Marwan?”

-

“Jadi kenapa namamu Rai Annisa?” Tian memulai pembicaraan setelah ibu Diana selesai membagikan pasangan dan keluar untuk “mencari udara segar” yang aku yakin adalah kode untuk merokok. “Karena orang tuaku memberikan nama itu kepadaku?” Jawabku tidak yakin harus menjawab apa. Tian tertawa kecil, matanya yang indah berubah bentuk menjadi bulan sabit. “Oke, aku ubah pertanyaannya, apa arti Rai Annisa?” Ia tersenyum sambil membenarkan duduknya agar lebih nyaman. “Secara literal? Atau filosofis?” Tian tiba-tiba terbahak, beberapa anak kelas lain memandang ke arah kami heran. Aku hanya memandang Tian dengan bingung, bahunya yang bidang naik turun, ia menutup wajahnya dengan tangannya yang besar. Setelah selesai tertawa ia mengangkat wajahnya, “secara literal,” ia nyengir lebar, matanya berkilat. “Rai dari Ray dalam bahasa Inggris dan Annisa dari bahasa Arab,” aku menjelaskan. “Sinar perempuan?” Tian mengangkat alisnya, aku mengangguk. “Tidak semua orang bisa punya nama keren seperti Sebastian,” gumamku. Tian sepertinya mendengar gumamanku (dan punya selera humor yang sangat aneh) karena dia tertawa kecil lagi.

“Sayangnya aku tidak tahu arti di balik namaku. Tapi Kuncoro adalah nama belakang keluarga ayahku,” ia memangku dagu dengan tangannya. “Tapi aku bisa beritahu apa arti Sebastian Kuncoro secara filosofis bila kau ingin tahu,” lanjutnya. “Aku tidak tertarik dengan ceramah eksistensialis pagi-pagi begini,” balasku. Tian tersenyum, “ah, siapa yang bilang aku eksistensialis?” Aku balas tersenyum, “karena aku bisa mengenali kawan saat aku bertemu satu.” Tian tersenyum puas, kemudian mengangguk kecil.

“Aku kira kau tidak menyukaiku,” ia tiba-tiba memulai topik lain. Topik yang kebetulan sekali tidak ingin aku mulai. “Saat di teater kita duduk bersampingan dan kau duduk sangat jauh dariku, seperti aku membawa penyakit menular. Aku sampai mengecek bau nafasku dua kali,” ia memasang tampang sedih tapi aku bisa melihat kilat di matanya yang menunjukkan ia menikmati reaksiku. “Aku hanya sulit berdekatan dengan orang asing,” aku mencoba membela diri. “Dan ibu Diana bilang kau tidak suka harus dipasangkan denganku,” tambahnya lagi.

“Aku hanya merasa kita tidak akan menjadi partner yang cocok,” Tian terlihat tertarik dengan jawabanku. “Oh? Kenapa?” Aku menelan ludahku. Kenapa? Karena kau punya mata yang indah yang membuatku merasa bodoh? Karena rambutmu ikal sebahu dan pakaianmu rapi dan menarik? Karena bahu dan tanganmu besar? “Hanya perasaanku saja,” jawabku singkat. “Hmm.. Menurut perasaanku kita akan menjadi partner yang sangat cocok,” ia menaikturunkan alisnya sambil menatapku. Aku harap ekspresiku tidak berubah karena jantungku hampir copot.

“Kenapa ambil kelas ini?” Aku berusaha mengalihkan pembicaran. Tian tersenyum, tapi aku bisa melihat ia tahu aku berusaha mengalihkan pembicaran kami. “Aku suka seni pertunjukkan dan kelas ini adalah satu-satunya kelas tentang seni pertunjukkan yang buka semester ini,” ia mengangkat bahunya. Aku mengangguk, pura-pura tertarik. “Seni pertunjukkan seperti apa yang kau suka?” Aku kembali bertanya.

“Giselle,” Tian menjawab dengan percaya diri, matanya menatapku menantang. “Giselle? Balet Giselle” Aku bertanya dengan nada tidak percaya. Giselle? Serius? Orang ini suka Giselle? Tian tampak sedikit kecewa. “Kenapa? Ada masalah kalau aku suka Giselle?” Ia melipat tangannya di depan dada. “Iyalah, cerita Giselle menyebalkan, tokoh-tokohnya menyebalkan, koreografinya standar. Dari segi cerita aku jauh lebih suka Carmen, Coppèlia punya moral cerita yang menarik dan koreografinya cukup menghibur, tapi dari segi koreografi jelas Swan Lake yang menang karena Odile harus berputar 32 kali.”

Fouettè.”

“Ha?”

“Odile harus melakukan fouettès 32 kali.”

Tian tampak puas. Seperti ia baru selesai menyelesaikan tes sulit dan sangat senang dengan hasilnya. Matanya memicing dan senyumnya lebar. Aku mengerutkan keningku, “tidak semua orang gila balet,” kataku setelah berdecak kesal. Tian tertawa renyah. “Kau sering sekali tertawa padahal menurutku tidak ada yang lucu,” kataku lagi sambil menaikkan alisku.

“Aku hanya... sangat senang,” jawabnya, senyumnya masih lebar diarahkan kepadaku. Aku mengalihkan pandanganku dari tatapannya yang mempesona; yang membuat tanganku berkeringat dan jantungku berdetak kencang.


No comments:

Post a Comment