Tuesday, May 9, 2017

Merah


Kalau Lusiana mati ia mau mati dengan cantik.

Suatu hari Lusiana sedang melamun, langit hari itu abu-abu tapi bau hujan belum tercium. Ia sedang duduk di halte bis entah menunggu apa sambil memikirkan skenario-skenario kematian dirinya. Mati karena kecelakaan atau tertabrak kereta terdengar menyakitkan. Mati karena tenggelam membuat jasadnya gembung terisi air. Gantung diri? Di mana ia bisa gantung diri? Langit-langit kamarnya terlalu tinggi. Ada racun kalau ia mau, tapi racun cukup mahal. Kecuali mungkin racun tikus. Tapi racun tikus terdengar menjijikan.

Sebenarnya banyak cara-cara mati lain. Skenario yang paling ia benci adalah mati karena sakit. Sudah sakit, jelek, menghabiskan banyak uang, juga terlalu lama. Ia ingin mati cepat tapi tetap cantik. Ia ingin kematian yan membuat orang-orang mengaguminya sejenak. Yang membuat orang-orang takut menyentuh jasadnya; takut merusak keindahannya.

Ia menghela nafas. Mati itu gampang. Mati dengan indah? Tuhan seperti tidak mengizinkan.

-

Kadang Lusiana terjaga di malam hari sambil memandangi langit-langit. Ia merasakan kehampaan yang mencekik. Yang membuatnya menangis tersedak-sedak di dalam kegelapan malam. Lusiana ingin pulang tapi ia tidak punya rumah. Ia ingin pergi jauh. Ia ingin berhenti merasakan. Ia ingin jadi angan-angan atau mimpi. Ia tidak mau menjadi senyata ini. Begitu menakutkan, begitu kecil.

-

Kadang ia menjejerkan satu-satunya pisau yang ia punya dan pil-pil yang ia kumpulkan. Di bawah sinar temaram lampu tidurnya, keduanya terasa sama menggiurkan. Tetapi pada akhirnya ia hanya duduk di situ memandangi mereka. Tidak bergerak, kadang sulit bernafas. Tanpa sadar, pagi datang. Kamarnya terang. Suara azan berkumandang. Kehampaan yang melilit lehernya makin mencekam.

-

Lusiana tidak tahu mengapa ia seperti ini.

Mungkin ia yang terlalu melodramatis. Hidupnya tidak menyedihkan. Orang tuanya menyayanginya, ia cukup akur dengan adiknya, ia punya kawan-kawan yang sepaham dengan dirinya, keluarganya berkecukupan, ia tidak sedang jatuh atau putus cinta. Kehidupannya baik-baik saja. Tapi entah kenapa ia merasa selalu lelah. Ia lelah tertawa, tersenyum, menangis, bernafas... hal yang paling melelahkan adalah menjadi baik-baik saja. “Apa kabar? Sudah makan? Lagi apa Lusi sayang?” Lusiana akan jawab sesuai apa yang orang tua atau kawannya mau.

Lusiana siapa dan kenapa harus hidup? Kenapa Lusiana harus baik-baik saja dan bersyukur atas setiap tarikan nafas yang mencengkram lehernya erat? Kenapa Lusiana merasa terikat, terkungkung? Kenapa Tuhan terasa mentertawainya? “Ah, Lusiana, kau ratu drama,” begitu mungkin Tuhan mengejeknya.

-

Ketika ia masih kecil, ibunya bilang kalau ia menelan biji jeruk maka pohon jeruk akan tumbuh di perutnya. Ia tidak pernah menelan biji jeruk lagi semenjak itu. tapi kalau dipikir-pikir sekarang, mati karena ditumbuhi pohon jeruk tidak terdengar buruk. Akan lebih baik lagi bila ia mati karena perutnya ditumbuhi bunga. Ah, bayangkan bunga keluar dari tenggorokannya, menyeruak dari bibirnya mencari sinar matahari. Bayangkan mawar merah, duri-durinya menggores isi tubuhnya, warna merah—entah darah atau kelopak bunga—menghiasi lehernya, bukankah akan begitu cantik? Lusiana tidak peduli bila harus mati kesakitan kalau ia bisa mati dengan mawar merah tumbuh di dalam tubuhnya.

Lusiana menghembus rokoknya. Apa ia coba telan bibit mawar merah?

-

Lusiana ingin jadi bintang di langit. Ingin jadi kucing di jalanan. Ingin jadi layangan putus yang tersangkut di tiang-tiang listrik ibu kota.

Apa yang sebenarnya ia inginkan? Lusiana tidak tahu juga. Apakah ia kesepian? Apakah ia ingin sendirian? Luisana tidak tahu. Yang ia tahu ia tidak ingin jadi Lusiana lagi. Lusiana ingin menghilang. Kadang Lusiana menangis kepada Tuhan, minta hidupnya dicabut saja. “Bunuh aku, bunuh aku...” bisiknya disela air mata. Tuhan diam saja. Memandangi Lusiana yang menyedihkan. Yang kotor dan pantas tidak bahagia. Tuhan tidak akan pernah bunuh dia selama ia masih mengemis kematian dari diriNya.

-

Aku baik-baik saja.

Kelopak mawar keluar dari mulutnya.

Aku punya kehidupan yang bahagia.

Ia batuk, tersedak mawar-mawar yang berjatuhan ke lantai kamarnya yang temaram.

Tuhan mencintaiku.

Dadanya sesak.

Ayah, Ibu, mereka mencintaiku.

Tenggorokannya sakit.

Kawan-kawanku mencintaiku.

Ia merasa penuh.

Aku baik-baik saja.

Mawar merah menyeruak keluar mencari sinar matahari. Lantai terasa dingin di pipinya. Ah, kelopak mawarkah itu? Merah menutupi bola matanya. Merah seperti darah, seperti lipstik favoritnya. Ia tersenyum bahagia.




-

Lusiana terbangun.

Dadanya sesak. Kepalanya sakit. Pil-pil berserak di hadapannya. Suara musik mengalun pelan, samar-samar di benaknya. Kamarnya masih temaram. Pisaunya bergagang merah tidak jauh dari tangannya. Lantai terasa dingin di pipinya. Suara tawa samar terdengar. Tuhankah? Setankah?

Lusiana terbangun dari mimpinya yang indah. Air mata mengalir pelan di pipinya. Ia sesenggukan. Kejam, sungguh kejam. Ia hanya ingin istirahat. Ia lelah, lelah. Kegelapan di sudut kamarnya terlihat sedih bersimpati. Nafas yang ia tarik seperti duri. Kehampaan mencengkramnya kembali. 

“Bunuh aku... Bunuh aku...” Bisik Lusiana yang tidak berani menelan pil-pil atau menggunakan pisau bergagang merah. Bisik Lusiana yang lelah, terlalu takut untuk menghadapi dunia dan warna merah yang menggodanya.



No comments:

Post a Comment