Tuesday, May 16, 2017

Magenta



Tangan Elena tidak bisa berhenti gemetar.

Ia berusaha menenangkan dirinya. Ssshh... Elena sudah dewasa bukan remaja tanggung yang tidak bisa mengapresiasi hidup ia coba meyakinkan dirinya. Tapi 12 tahun berikutnya ia masih saja digoda malam-malam yang sepi. Seperti angin musim pancaroba membisikinya untuk kembali menggoresi tubuhnya. Seperti kegelapan yang hampa mengingatkan keberadaannya yang sia-sia.

Mungkin, tidak semua orang bisa mengerti mengapa rasa sakit malahan membuatnya sedikit terbebas dari rasa sesak yang menggorogoti tidur dan bangunnya. Tapi begitulah ternyata, ketika luka terbuka, ia merasa akhirnya ia bisa menangis tersedak bebas. Ia bisa melupakan hidupnya yang menyedihkan, perasaan-perasaan yang membuatnya gelisah. Elena ingin merasakan kesakitan itu lagi. Ia ingin lupa, ia ingin melihat magenta.

-

Elena ingat ketika darah terlalu banyak keluar dari lukanya dunia tiba-tiba berubah menjadi magenta. Kepalanya menjadi berkunang-kunang dan lukanya terasa pedih, tapi lantai keramik putih di bawah kakinya dihiasi warna magenta cantik. Seperti bunga-bunga kecil, seperti cinta, mungkin. Lalu ia akan tertawa kecil dengan air mata di pipinya; ah, magenta, cinta. Senada.

-

Ia berhenti melukai dirinya ketika lukanya menjadi terlalu banyak dan orang-orang di sekitarnya mulai menatapnya curiga. “Dia gila,” mungkin begitu orang-orang mengatainya. Lengannya tidak muat lagi untuk luka baru dan ia tidak berani mengiris terlalu dalam. Akhirnya ketika luka-lukanya mengering, perasaan bersalah melilit perutnya. Ia sadar yang ia lakukan tidak ada artinya, tidak ada gunanya. (Kecuali bila ia dapat menekan pisau kecil di pergelangan tangannya lebih dalam. Lebih perih. Sampai dunia magenta itu berubah jadi merah dan akhirnya gelap menghilang bersama angan-angan, keputusasaan, lubang hampa di perut dan dadanya.)

-

Tidak ada yang harus mengerti. Ia sendiri juga tidak mengerti.

Mengapa ia seperti ini? Bagaimana membuatnya bahagia? Cintakah? Hartakah? Apa yang membuat tangannya gemetar mendambakan magenta yang memabukkan? Setankah yang membisikinya pada malam-malam penuh gelisah? Atau ia kurang dekat dengan Tuhan yang katanya dapat menyelamatkan manusia dari diri mereka? Ia tidak tahu.

Ia coba tenggelam dalam alkohol yang memabukkan, atau doa-doa malam dan ritual agama, keduanya tidak mengisi rongga dadanya dengan apa-apa.

-

Ketika matahari terbit Elena merasa seperti boneka. Ia tersenyum, tertawa, mengapresiasi pagi hari. Ia bersyukur, entah untuk apa. ia memeluk orang tuanya, bercengkrama dengan kawan-kawannya. Duduk, berdiri, berjalan, berlari. Ia merasa seperti manusia biasa. Ketika pertanyaan-pertanyaan dilemparkan kepadanya ia jawab dengan baik-baik saja. Tapi di setiap ruangan ada sudut yang gelap, tempat warna magenta bersembunyi, mengingatkannya pada malam-malam yang sepi.

-

Elena menggenggam pisau kecilnya dengan tangan yang gemetar.

Nafasnya pendek seperti tercekik, dadanya berdetak kencang tak beraturan, keringat dingin turun di punggungnya. Ia tidak sedang bersedih, ia hanya kesulitan mencintai diri dan hidupnya. Kenapa ia ada? kenapa Tuhan memilihnya? Dirinya adalah kesalahan. Semua ini adalah kesalahan. Ia tidak mau merasa seperti ini juga. Ia tidak tahu mengapa ia begitu menderita juga. Apa dia benar gila? Atau setan sedang membisikinya?

Mungkin semuanya benar. Mungkin benar ia gila. Ada penjelasan apa lagi? Hidupnya baik-baik saja, tapi ia ingin mati. Ia ingin menghilang. Ia ingin mati.

Tapi ia tidak punya nyali. Jadi ia hanya menggores luka-luka kecil di lengannya. Bersikap seolah-olah tidak ada yang mencintainya. Tapi ia sadar betul itu hanya kebohongan saja; sebetulnya ia hanya pura-pura. Satu-satunya yang tidak mencintainya adalah dirinya sendiri. Dan mungkin Tuhan yang siap mengirimnya ke neraka.

-


(Dunia warna magenta. Bunga-bunga di kakinya. Suara-suara hilang. Pergelangan tangannya mati rasa.) 

No comments:

Post a Comment