Thursday, May 18, 2017

Jangan Biarkan Dia Bicara

Jangan biarkan dia bicara.

Aku menyumpal mulutku dengan pil-pil kuning. Aku hitung sampai sepuluh. Apa aku butuh lebih? Tapi perutku kembung karena air putih. Malam ini malam yang gerah. Kipas angin berputar kesepian. Langit-langit kamar gelap. Kotak merah ternganga di bawah ranjang. Aku berlutut, berdoa sebelum tidur, kedua tanganku kubuka. Setelah selesai aku baringkan tubuhku di kasur. Suara musik mengalun pelan. Dalam kegelapan pisau kecil tertinggal di lantai sendirian. Kepalaku berkunang-kunang.

-

“Jadi kau maunya apa?”

Pertanyaan itu seperti melilit tenggorokanku. Jadi aku maunya apa? Aku juga tidak tahu. Kalau aku buka suara orang-orang akan mengataiku pemimpi. Jadi aku diam saja. Tapi dadaku sesak. Nafasku sengal. Diam saja. jangan biarkan dia bicara, begitu kata benakku.

Tatapan tuan berkemeja dengan wajah lesu memicing, menungguku menjawab, mungkin agar ia bisa mengatakan apa yang aku dengar di kepalaku. Aku diam saja.

“Kalau kau pilih jalan yang kanan mungkin kau bisa menemukan pohon rambutan,” ia akhirnya menjawab untukku, “sudah banyak yang coba, rata-rata mereka berhasil menemukannya.” Aku masih diam saja.

“Jadi kau pilih jalan kanan?” Aku ingin menggeleng. Aku tidak pandai memanjat. Aku tidak suka rambutan. Tapi jangan biarkan dia bicara, bisik seseorang. Jadi akhirnya aku mengangguk. Senyum tipis menghiasi wajah tuan berkemeja yang keriput, ia mengusap rambutnya yang putih. “Aku kira kau akan menjawab tidak. Jalan yang kiri, ah, jalan yang kiri tidak aman,” aku diam saja. “Tenang saja, jangan terlalu tertekan.” Tapi aku kesusahan bernafas.

-

“Kau sedang apa sekarang?”

Aku terdiam. Aku tidak sedang apa-apa. Aku hanya duduk lalu berdiri. Sudah sampai di jalan ini aku tidak tahu harus bagaimana. Aku mau ke kiri tapi jalannya bukan untukku katanya. Jadi aku diam saja.

Akhirnya aku pura-pura jalan. Jalan di tempat? Nyonya di dalam mobil menatapku kasihan. Ia ingin meninggalkan aku di hutan ini atau memakiku karena aku banyak cacatnya, tapi ia tidak tega. Ia memberiku payung juga roti dan susu. Ah, nyonya yang baik, kata benakku. Tapi sekarang aku sedang apa? Aku menangis, aku tersenyum, aku terbahak, aku tidak tahu. Aku diam saja.

-

“Bagaimana kalau kau coba naik sepeda?”

Begitu kata gadis yang kutemui di pinggir jalan. Ia punya sepeda tak jauh dari tempat kami bertegur sapa. Sepedanya belum bisa dikendarai karena ia belum bisa naik sepeda. Aku ingin bilang aku tidak punya sepeda. Tidak ada yang mau memberiku sepeda. Ia hanya menatapku heran. Seolah aku yang tidak mau punya sepeda. Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku diam saja.

-

Aku rasa semua orang sedang tidak mendengarku sekarang begitu aku berpikir sambil menatap jurang terjal di hadapanku. Mungkin karena aku diam saja. Tapi kalau aku berkata semua orang menganggapku gila. Jadi aku diam saja. Jangan biarkan dia bicara, begitu bisik seseorang di kepalaku. Tapi aku hampir benar-benar gila. Akhirnya aku teriak juga. Tapi teriakanku tidak ada bentuknya. Mungkin lebih baik aku diam saja.

-

Aku terbangun dengan lengan dan kaki yang mati rasa. Perutku mual. Tubuhku lemas. Suara gema teriakan tadi masih terngiang di kepalaku. Jangan biarkan dia bicara, bisik seseorang di sudut kamar. Jadi dengan tangan gemetar aku gapai kotak merah dan aku sumbat mulutku dengan pil-pil yang sekarang berubah warna. Aku hitung sampai sepuluh. Haruskan aku tambah? Cahaya masuk melalui celah jendela. Suara manusia bicara membuatku iri, aku ingin keluar sana.

Tapi seseorang menahan kakiku, membisikku penuh cemooh; “jangan biarkan dia bersuara.” Jadi aku diam saja. Air mataku keluar, tapi seseorang membekam bibirku. Aku tidak bicara, tidak bersuara, seseorang memeluk tubuhku di dalam kegelapan; “'tak kan ku biarkan kau bicara.”    

Tuesday, May 16, 2017

Magenta



Tangan Elena tidak bisa berhenti gemetar.

Ia berusaha menenangkan dirinya. Ssshh... Elena sudah dewasa bukan remaja tanggung yang tidak bisa mengapresiasi hidup ia coba meyakinkan dirinya. Tapi 12 tahun berikutnya ia masih saja digoda malam-malam yang sepi. Seperti angin musim pancaroba membisikinya untuk kembali menggoresi tubuhnya. Seperti kegelapan yang hampa mengingatkan keberadaannya yang sia-sia.

Mungkin, tidak semua orang bisa mengerti mengapa rasa sakit malahan membuatnya sedikit terbebas dari rasa sesak yang menggorogoti tidur dan bangunnya. Tapi begitulah ternyata, ketika luka terbuka, ia merasa akhirnya ia bisa menangis tersedak bebas. Ia bisa melupakan hidupnya yang menyedihkan, perasaan-perasaan yang membuatnya gelisah. Elena ingin merasakan kesakitan itu lagi. Ia ingin lupa, ia ingin melihat magenta.

-

Elena ingat ketika darah terlalu banyak keluar dari lukanya dunia tiba-tiba berubah menjadi magenta. Kepalanya menjadi berkunang-kunang dan lukanya terasa pedih, tapi lantai keramik putih di bawah kakinya dihiasi warna magenta cantik. Seperti bunga-bunga kecil, seperti cinta, mungkin. Lalu ia akan tertawa kecil dengan air mata di pipinya; ah, magenta, cinta. Senada.

-

Ia berhenti melukai dirinya ketika lukanya menjadi terlalu banyak dan orang-orang di sekitarnya mulai menatapnya curiga. “Dia gila,” mungkin begitu orang-orang mengatainya. Lengannya tidak muat lagi untuk luka baru dan ia tidak berani mengiris terlalu dalam. Akhirnya ketika luka-lukanya mengering, perasaan bersalah melilit perutnya. Ia sadar yang ia lakukan tidak ada artinya, tidak ada gunanya. (Kecuali bila ia dapat menekan pisau kecil di pergelangan tangannya lebih dalam. Lebih perih. Sampai dunia magenta itu berubah jadi merah dan akhirnya gelap menghilang bersama angan-angan, keputusasaan, lubang hampa di perut dan dadanya.)

-

Tidak ada yang harus mengerti. Ia sendiri juga tidak mengerti.

Mengapa ia seperti ini? Bagaimana membuatnya bahagia? Cintakah? Hartakah? Apa yang membuat tangannya gemetar mendambakan magenta yang memabukkan? Setankah yang membisikinya pada malam-malam penuh gelisah? Atau ia kurang dekat dengan Tuhan yang katanya dapat menyelamatkan manusia dari diri mereka? Ia tidak tahu.

Ia coba tenggelam dalam alkohol yang memabukkan, atau doa-doa malam dan ritual agama, keduanya tidak mengisi rongga dadanya dengan apa-apa.

-

Ketika matahari terbit Elena merasa seperti boneka. Ia tersenyum, tertawa, mengapresiasi pagi hari. Ia bersyukur, entah untuk apa. ia memeluk orang tuanya, bercengkrama dengan kawan-kawannya. Duduk, berdiri, berjalan, berlari. Ia merasa seperti manusia biasa. Ketika pertanyaan-pertanyaan dilemparkan kepadanya ia jawab dengan baik-baik saja. Tapi di setiap ruangan ada sudut yang gelap, tempat warna magenta bersembunyi, mengingatkannya pada malam-malam yang sepi.

-

Elena menggenggam pisau kecilnya dengan tangan yang gemetar.

Nafasnya pendek seperti tercekik, dadanya berdetak kencang tak beraturan, keringat dingin turun di punggungnya. Ia tidak sedang bersedih, ia hanya kesulitan mencintai diri dan hidupnya. Kenapa ia ada? kenapa Tuhan memilihnya? Dirinya adalah kesalahan. Semua ini adalah kesalahan. Ia tidak mau merasa seperti ini juga. Ia tidak tahu mengapa ia begitu menderita juga. Apa dia benar gila? Atau setan sedang membisikinya?

Mungkin semuanya benar. Mungkin benar ia gila. Ada penjelasan apa lagi? Hidupnya baik-baik saja, tapi ia ingin mati. Ia ingin menghilang. Ia ingin mati.

Tapi ia tidak punya nyali. Jadi ia hanya menggores luka-luka kecil di lengannya. Bersikap seolah-olah tidak ada yang mencintainya. Tapi ia sadar betul itu hanya kebohongan saja; sebetulnya ia hanya pura-pura. Satu-satunya yang tidak mencintainya adalah dirinya sendiri. Dan mungkin Tuhan yang siap mengirimnya ke neraka.

-


(Dunia warna magenta. Bunga-bunga di kakinya. Suara-suara hilang. Pergelangan tangannya mati rasa.) 

Tuesday, May 9, 2017

Merah


Kalau Lusiana mati ia mau mati dengan cantik.

Suatu hari Lusiana sedang melamun, langit hari itu abu-abu tapi bau hujan belum tercium. Ia sedang duduk di halte bis entah menunggu apa sambil memikirkan skenario-skenario kematian dirinya. Mati karena kecelakaan atau tertabrak kereta terdengar menyakitkan. Mati karena tenggelam membuat jasadnya gembung terisi air. Gantung diri? Di mana ia bisa gantung diri? Langit-langit kamarnya terlalu tinggi. Ada racun kalau ia mau, tapi racun cukup mahal. Kecuali mungkin racun tikus. Tapi racun tikus terdengar menjijikan.

Sebenarnya banyak cara-cara mati lain. Skenario yang paling ia benci adalah mati karena sakit. Sudah sakit, jelek, menghabiskan banyak uang, juga terlalu lama. Ia ingin mati cepat tapi tetap cantik. Ia ingin kematian yan membuat orang-orang mengaguminya sejenak. Yang membuat orang-orang takut menyentuh jasadnya; takut merusak keindahannya.

Ia menghela nafas. Mati itu gampang. Mati dengan indah? Tuhan seperti tidak mengizinkan.

-

Kadang Lusiana terjaga di malam hari sambil memandangi langit-langit. Ia merasakan kehampaan yang mencekik. Yang membuatnya menangis tersedak-sedak di dalam kegelapan malam. Lusiana ingin pulang tapi ia tidak punya rumah. Ia ingin pergi jauh. Ia ingin berhenti merasakan. Ia ingin jadi angan-angan atau mimpi. Ia tidak mau menjadi senyata ini. Begitu menakutkan, begitu kecil.

-

Kadang ia menjejerkan satu-satunya pisau yang ia punya dan pil-pil yang ia kumpulkan. Di bawah sinar temaram lampu tidurnya, keduanya terasa sama menggiurkan. Tetapi pada akhirnya ia hanya duduk di situ memandangi mereka. Tidak bergerak, kadang sulit bernafas. Tanpa sadar, pagi datang. Kamarnya terang. Suara azan berkumandang. Kehampaan yang melilit lehernya makin mencekam.

-

Lusiana tidak tahu mengapa ia seperti ini.

Mungkin ia yang terlalu melodramatis. Hidupnya tidak menyedihkan. Orang tuanya menyayanginya, ia cukup akur dengan adiknya, ia punya kawan-kawan yang sepaham dengan dirinya, keluarganya berkecukupan, ia tidak sedang jatuh atau putus cinta. Kehidupannya baik-baik saja. Tapi entah kenapa ia merasa selalu lelah. Ia lelah tertawa, tersenyum, menangis, bernafas... hal yang paling melelahkan adalah menjadi baik-baik saja. “Apa kabar? Sudah makan? Lagi apa Lusi sayang?” Lusiana akan jawab sesuai apa yang orang tua atau kawannya mau.

Lusiana siapa dan kenapa harus hidup? Kenapa Lusiana harus baik-baik saja dan bersyukur atas setiap tarikan nafas yang mencengkram lehernya erat? Kenapa Lusiana merasa terikat, terkungkung? Kenapa Tuhan terasa mentertawainya? “Ah, Lusiana, kau ratu drama,” begitu mungkin Tuhan mengejeknya.

-

Ketika ia masih kecil, ibunya bilang kalau ia menelan biji jeruk maka pohon jeruk akan tumbuh di perutnya. Ia tidak pernah menelan biji jeruk lagi semenjak itu. tapi kalau dipikir-pikir sekarang, mati karena ditumbuhi pohon jeruk tidak terdengar buruk. Akan lebih baik lagi bila ia mati karena perutnya ditumbuhi bunga. Ah, bayangkan bunga keluar dari tenggorokannya, menyeruak dari bibirnya mencari sinar matahari. Bayangkan mawar merah, duri-durinya menggores isi tubuhnya, warna merah—entah darah atau kelopak bunga—menghiasi lehernya, bukankah akan begitu cantik? Lusiana tidak peduli bila harus mati kesakitan kalau ia bisa mati dengan mawar merah tumbuh di dalam tubuhnya.

Lusiana menghembus rokoknya. Apa ia coba telan bibit mawar merah?

-

Lusiana ingin jadi bintang di langit. Ingin jadi kucing di jalanan. Ingin jadi layangan putus yang tersangkut di tiang-tiang listrik ibu kota.

Apa yang sebenarnya ia inginkan? Lusiana tidak tahu juga. Apakah ia kesepian? Apakah ia ingin sendirian? Luisana tidak tahu. Yang ia tahu ia tidak ingin jadi Lusiana lagi. Lusiana ingin menghilang. Kadang Lusiana menangis kepada Tuhan, minta hidupnya dicabut saja. “Bunuh aku, bunuh aku...” bisiknya disela air mata. Tuhan diam saja. Memandangi Lusiana yang menyedihkan. Yang kotor dan pantas tidak bahagia. Tuhan tidak akan pernah bunuh dia selama ia masih mengemis kematian dari diriNya.

-

Aku baik-baik saja.

Kelopak mawar keluar dari mulutnya.

Aku punya kehidupan yang bahagia.

Ia batuk, tersedak mawar-mawar yang berjatuhan ke lantai kamarnya yang temaram.

Tuhan mencintaiku.

Dadanya sesak.

Ayah, Ibu, mereka mencintaiku.

Tenggorokannya sakit.

Kawan-kawanku mencintaiku.

Ia merasa penuh.

Aku baik-baik saja.

Mawar merah menyeruak keluar mencari sinar matahari. Lantai terasa dingin di pipinya. Ah, kelopak mawarkah itu? Merah menutupi bola matanya. Merah seperti darah, seperti lipstik favoritnya. Ia tersenyum bahagia.




-

Lusiana terbangun.

Dadanya sesak. Kepalanya sakit. Pil-pil berserak di hadapannya. Suara musik mengalun pelan, samar-samar di benaknya. Kamarnya masih temaram. Pisaunya bergagang merah tidak jauh dari tangannya. Lantai terasa dingin di pipinya. Suara tawa samar terdengar. Tuhankah? Setankah?

Lusiana terbangun dari mimpinya yang indah. Air mata mengalir pelan di pipinya. Ia sesenggukan. Kejam, sungguh kejam. Ia hanya ingin istirahat. Ia lelah, lelah. Kegelapan di sudut kamarnya terlihat sedih bersimpati. Nafas yang ia tarik seperti duri. Kehampaan mencengkramnya kembali. 

“Bunuh aku... Bunuh aku...” Bisik Lusiana yang tidak berani menelan pil-pil atau menggunakan pisau bergagang merah. Bisik Lusiana yang lelah, terlalu takut untuk menghadapi dunia dan warna merah yang menggodanya.