Sunday, February 19, 2017

Cinta?

Cinta adalah topik sulit untukku jadi aku putuskan untuk menuliskan apa saja yang terlintas di kepalaku tentang cinta. Sebelumnya aku minta maaf karena aku sudah berusaha untuk menjelaskan tentang cinta lebih jelas dan panjang lagi tapi aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku tulis.



Seorang kawanku berkata kepadaku dengan tawa yang miris bahwa cinta adalah kebohongan.

Bagiku yang selalu melihat cinta dari sudut pandang pesimis, cinta tidak pernah terasa seperti kebohongan. Bukan berarti omonganku yang ngelantur tentang cinta ini benar karena aku rasa aku bukanlah orang yang tepat untuk menceramahi orang tentang cinta. Aku tidak familiar dengan cinta. Dari kecil aku tidak pernah melihat atau mendengar bentuk dan kata-kata cinta yang sifatnya romantis. Keluargaku bukanlah keluarga yang membicarakan betapa kami saling mencintai satu sama lain di meja makan. Kami bahkan tidak punya meja makan ketika aku kecil. Kami adalah keluarga dari kalangan bawah yang orang tuanya harus bekerja hingga larut malam untuk anak-anaknya. Aku bahkan ingat ibuku pernah menasehati aku dan adik laki-lakiku bahwa cinta itu tidak ada. Cinta tidak akan bisa menolong apa-apa. Kami berdua tidak boleh mengandalkan cinta dan “tidak ada orang lain yang akan membantu kalian berdua kecuali kalian sendiri.” Ibuku selalu mengingatkan: aku terlahir sendirian ke dunia ini.

Karena aku tidak familiar dengan cinta, ketika bersenggolan dengan cinta, aku merasa asing dan terkejut. Aku sadar aku menjadi sangat egois saat jatuh cinta. Aku ingin diperhatikan, aku menjadi posesif, aku menjadi sensitif, aku terus ketakutan akan apa yang orang lain pikirkan, aku merasa sakit, aku sering kalut. Aku merasa cinta membuatku merasakan banyak hal yang tidak ingin aku rasakan. Karena hal ini aku lebih memilih memandang cinta dari kejauhan dari pada terjun ke dalam cinta yang sisi-sisinya tajam dan lantainya licin. Cinta membangkitkan sisi paling buruk dari diriku. Membuatku merasa menyedihkan, tidak punya kekuatan atas apa yang aku rasakan, merasa kasihan kepada diriku sendiri.

Cinta bukanlah kebohongan bagiku. Cinta adalah hal abstrak yang melayang lembut menggoda dengan tulisan peringatan besar di dekatnya: “JANGAN SENTUH. JANGAN HIRUP. MEMATIKAN.” Cinta adalah lubang besar yang mengeluarkan bau harum tapi dasarnya tidak kelihatan dengan tulisan di dekatnya: “AWAS LUBANG.” Bagiku, cinta tidak pernah berbohong; bila kau cukup pintar untuk membaca tanda-tanda bahaya, maka kau pasti tahu cinta tidak pernah menjanjikan kebahagiaan, adrenalin, ya, tapi tidak kebahagiaan, apalagi yang eternal. Cinta membuat kita semua gila, membuat kita semua terluka, membuat kita semua marah. Tapi, entah manusia makhluk yang bebal atau memang nikmat cinta sebegitu besarnya sampai-sampai pengalaman bercinta yang selalu berakhir pahit itu bukanlah hal yang berarti, kita semua akhirnya jatuh ke dalam cinta dan berakhir tidak bahagia.

Bila ada kalian para optimis cinta berargumen: “tapi ada yang saling jatuh cinta dan hidup selamanya bersama sampai ajal menjemput mereka,” jawabanku adalah dua pertanyaan: 1). Apakah benar mereka saling cinta atau 2). Apakah benar mereka bahagia hidup bersama sampai ajal menjemput mereka. Hubungan manusia yang egois tidak mungkin berakhir bahagia. Cinta yang tidak egois bagiku bukanlah cinta hanya kasih sayang saja.

Aku bukannya tidak percaya cinta. Aku juga bukannya merasa cinta adalah kebohongan. Aku hanya merasa cinta bukanlah untuk orang-orang yang lemah seperti diriku. Cinta adalah untuk orang-orang yang dapat menahan rasa sakitnya. Cinta adalah untuk orang-orang yang cepat sembuh dari memar dan luka. Cinta adalah untuk orang-orang yang sangat membutuhkannya. Aku? Aku terlalu pengecut untuk bercinta. Aku lebih suka melihatnya dari kejauhan. Sendirian. Baik-baik saja. Tidak sakit di mana pun jua.