Tuesday, December 20, 2016

Pada Malam yang Panjang, Aku Mengingatmu

Ketika Desember tiba, mawar kering yang terselip di dalam buku yang tak pernah aku baca tiba-tiba menjadi hal yang melankolis dan kartu ucapan selamat ulang tahun berwarna oranye terang buatan tangan di atas rak bukuku terlihat kesepian.

Siapa lagi yang akan menuliskan perasaan yang tulus ke dalam kartu ucapan di tengah dunia yang ruangnya bisa kau sebrangi dengan layar telpon genggam? Hanya engkau rasanya.

Aku cukup bersyukur juga tidak ada orang seromantis dirimu lagi dalam berkawan kepadaku. Aku tidak tahu bagaimana rasanya harus kehilangan dua orang yang meninggalkan mawar kering dan kartu ucapan buatan tangan pada hari ulang tahunku. Karena kehilangan satu orang sepertimu saja sudah cukup membuatku sepi pada malam-malam yang panjang.

Sambil menulis ini aku menatap sketsa wajahmu yang dulu tidak jadi aku berikan kepadamu, tapi aku urungkan, karena sketsaku tidak sebanding kartu ucapan oranye itu. Ah.

Monday, December 5, 2016

Ada sesuatu di dalam diriku yang perlahan mati.

Apakah itu kenaifan seorang anak atau idealisme dunia. Mungkin juga ambisi dan harapan akan masa depan, atau semangat. Aku sendiri tidak tahu apa.

Aku tidak tahu apa yang kukerjakan hari ini, apa saja yang kurasakan hari ini. Ketika sedang mengupas apel, jariku berdarah, aku tidak juga merasa begitu sakit atau terkejut. Sekali, dua kali, tiga kali, entah sudah biasa atau jadi kebiasaan, luka kecil seperti itu tidak menggangguku lagi. Aku bahkan kesulitan memastikan tubuhku yang lemas dan terasa panas ini karena aku sakit atau aku mengada-ngada saja.

Rasanya sudah lama aku tidak tertawa. Atau menangis. Atau marah. Lama sekali aku tidak merasakan apa-apa yang signifikan, lama sekali aku tidak menulis. Bahkan saat aku menuliskan hal ini, entah berapa kali aku berhenti dan memandangi layar laptopku (apa lagi yang harus kutulis? Apa lagi yang kurasakan sekarang? Belakangan ini?).

Ada sesuatu di dalam diriku yang perlahan tidak berdetak lagi.

Aku tidak tahu apa (sayangnya bukan jantungku). Apakah karena umurku sudah semakin bertambah? Atau aku sudah menyerah? Ah, bahkan perasaan iriku kepada binatang liar tidak terasa lagi.

Bila ada yang bertanya kepadaku: “apa kabar?” aku rasa satu-satunya jawabanku adalah, “baik.” Aku tidak tahu kata apa yang bisa mewakili kabarku saat ini selain baik. Aku baik. Mungkin kadang merasa tidak enak badan karena hujan terus turun belakangan ini, dan entah kenapa, aku sering melukai jariku saat mengupas apel. Tapi aku baik. Aku tidak merasakan kesedihan atau kemarahan, tidak bisa dibilang bahagia juga. Aku baik.

Ah, tapi benar ada yang sesuatu yang perlahan mati itu. Walau hal ini sebenarnya tidak bisa dikatakan hal yang buruk juga. Sayang aku akan semakin jarang menulis. Tapi setidaknya aku akan “baik” saja.