Saturday, November 5, 2016

Kapan aku akhirnya menghilang di masa depan nanti?

Kapan aku akhirnya menghilang di masa depan nanti?

Kadang aku terlalu tertekan untuk memikirkan esok hari. Sebulan yang akan datang. Tahun depan. Ah, kapan akhirnya aku bisa menghilang? Jadi debu atau kumpulan awan? Hidup sebagai zat yang tak berpikir atau merasa. Kalau bisa, benar-benar hilang, jangan ada bentuk dan sisa.

Aku sering menulis mau jadi binatang, seperti kucing liar atau anjing yang menggaruk tempat sampah untuk makan. Itu boleh juga. Pokoknya jangan jadi makhluk yang punya peradaban dan aturan yang susah-susah. Aku tidak mau hidup dalam kungkungan ekspektasi orang. Aku muak, aku lelah.

Jadi manusia harus memikirkan masalah pasangan hidup, bukan hanya cinta, tapi agama dan ras serta keluarga. Harus mengkhawatirkan uang juga. Pekerjaan dan kawan. Keturunan, nama, pakaian, dan kalau kau wanita, banyaknya kerutan.

Intinya: jadi manusia susah! Tidak segampang jadi pohon atau rumput. Aku harus punya banyak gelar dan pekerjaan terhormat. Walau tidak seperti pohon dan rumput yang tidak punya kaki, aku tidak bisa juga berkelana melihat dunia. Kaki manusia hanya untuk melangkah dekat-dekat sini saja, seperti untuk mencari kerja dan jalan ke mall bersama keluarga.  

Kalau orang berkata,”nah, yang mengekang dirimu, ya, kau sendiri saja! kalau kau mau pergi, pergi saja!” tapi bagaimana dengan pasangan-pasangan mata yang mengharapkan aku hidup “bahagia”? Hidup bergelimang harta, taat agama, rumah tangga utuh, jadi orang dewasa yang sesungguhnya! Pasangan-pasangan mata itu adalah cinta hatiku yang sedikit ini berlabuh. Kalau kutinggalkan maka hilanglah sudah sedikit harapan dan cinta kasih dalam diriku ini. Sebuah perasaan irrasional yang tidak pernah kuhilangkan dalam tahun-tahun aku sadar bahwa hidup itu sia-sia.

Manusia itu makhluk yang rumit. Yang punya kaki tapi tidak bisa pergi begitu saja ke mana ia mau pergi. Yang punya rasio tapi tidak bisa berpikir semau otaknya mau berpikir. Yang punya suara tapi tidak bisa bicara seenak ia mau bicara. Yang punya kemampuan untuk mengakhiri segalanya dengan beberapa pil atau tali atau belati tapi tidak bernyali untuk mengakhirinya begitu saja.

Aku muak jadi manusia, tapi bisa dikata apa. Aku hanya bisa menulis gelisah-gelisahku saja, tak bisa mengubah takdir kecuali mengira kapan akhirnya aku berakhir di masa depan.