Saturday, August 13, 2016

Siapakah Sang Penulis?

Siapakah sang penulis?

Amril sering bertanya kepada emak dan abahnya tentang siapa itu sang penulis. Emak bilang ia tidak pernah sekolah jadi ia tidak tahu sedang makam abahnya diam saja, bergeming. Jadi pada hari pertama Amril sekolah, ia dengan semangat mengacungkan tangannya ketika ibu guru baru masuk ke ruangan kelas, hendak memulai pelajaran, dan bertanya, “bu guru, siapakah sang penulis?”

Ibu guru bilang sang penulis adalah para filsuf yang pintar. Mereka bijaksana dan sekolahnya tinggi sekali, mungkin sekitar sampai S4 atau S5. Kata bu guru mereka sangat pintar sampai hampir gila. Kawan di sebelahnya mengangguk lalu bergumam bahwa kata orang tua mereka semua filsuf itu sudah gila. Tapi entah kenapa hati Amril tidak puas mendengar jawaban itu.

Maka, pada petang yang temaram, ketika hari sangat oranye dan langit terlihat terbakar, Amril secara tak sengaja bertemu dengan seorang calon mahasiswa yang sudah dua tahun gagal masuk perguruan tinggi. Ia sedang berjalan sambil membaca catatan kecil dan menggerutu rumus-rumus rumit yang Amril sulit pahami. Amril berjalan beriring di sampingnya dan bertanya, “bang, siapakah seorang penulis?”

Calon mahasiswa yang tampangnya lusuh itu langsung mengernyit, tidak suka gerutuannya akan rumus-rumus yang rumit diganggu. Tapi karena ia calon mahasiswa, ia menjawabnya juga akhirnya, “orang miskin. Mana bisa dapat duit jadi penulis. Harus jadi mahasiswa biar bisa jadi dokter atau pengacara, atau kerja kantoran, baru banyak duitnya. Jadi lurah atau camat juga lumayan, kalau gaji kurang bisa pinjam dulu duit kas negara.” Jawabannya seperti gerutu, kecil seperti berbisik tapi berisik. Amril tidak mengerti. Apa hubungannya sang penulis sama duit? Untuk apa duit? Terus kenapa kalau sang penulis tidak punya duit? Amril jadi tambah bingung.

Setelah kejadian itu Amril makin penasaran. Siapalah sang penulis. Oleh karena itu, ketika ia bertemu seorang laki-laki yang sedang membaca koran sambil berdiri di depan toko buku ia segera menghampirinya. “Om, siapakah sang penulis?” Laki-laki itu menatap Amril terkejut, lalu tertawa riang. Jam tangannya berkilat di bawah sinar matahari siang ibu kota. “Sang penulis tentu yang berpenis saja,” jawabnya enteng. Amril bertanya lagi karena masih bingung, “kenapa harus yang berpenis saja?”  Laki-laki itu menatap Amril dengan gembira.

“Yang tidak berpenis cuma bisa menulis cinta-cintaan saja, sang penulis membahas hal serius. Seperti atlet olahraga. Yang tidak berpenis di situ cuma jadi pemanis saja, atlet sebenarnya yang berpenis. Makanya cabang olahraga dipisah antara yang berpenis sama yang tidak, katanya biar adil, tapi ujungnya yang diminati kan hanya atlet berpenis. Sepak bola yang ada kejuaraan dunianya cuma untuk yang berpenis saja. Bola basket yang diminati juga cuma yang berpenis juga. Sama seperti seniman juga. Ah, mengertilah kau. Kau kan berpenis,” kemudian laki-laki itu kembali membaca korannya. Amril menatap selangkangannya sendiri dengan wajah terkejut. Dari mana laki-laki ini tahu ia berpenis???

Namun, walau dengan jawaban bijaksana laki-laki itu pun, Amril masih juga belum puas. Suatu malam, ketika ia bertemu dengan seorang perempuan yang nongkrong di pinggir jalan, Amril menghampirinya dan bertanya, “mbak, siapakah sang penulis?” Perempuan itu tampak terkejut. Walau malam banyak nyamuknya, bajunya yang terbuka terlihat nyaman-nyaman saja.

“Anak perempuan kaya mungkin,” jawabnya sambil menghidupkan rokok lalu menghirupnya. “Kenapa anak perempuan kaya saja?” Perempuan itu tertawa lalu menghembuskan asap berbentuk ‘O’ bulat. Membuat hati Amril agak berdegup entah mengapa. “Anak perempuan kaya bisa sekolah tinggi, punya pembantu jadi tidak perlu kerja di dapur. Ibunya suka ikut arisan. Mereka biasanya di penjara di rumah sampai ada anak laki-laki kaya yang bisa dijodohkan dengannya. Jadi ia pasti kesepian dan bosan di rumah, aku rasa begitulah ia mulai menjadi sang penulis,” perempuan itu menjelaskan. “Lah bapaknya?” Perempuan itu tertawa kecil, membuang rokoknya, kemudian menginjaknya. Ia kemudian berkedip kepada Amril, “bapaknya main denganku,” sambil berkata seperti itu ia pergi ke arah sebuah mobil yang diparkir tidak jauh dari mereka. Amril seperti terpana.

Rasanya semakin ia banyak bertanya kepada orang jawabannya makin tidak memuaskan hatinya. Maka pada hari itu ia bertanya kepada Tuhan. Karena tidak tahu harus bertanya kepada Tuhan yang mana, ia akhirnya sembahyang subuh itu di masjid, siangnya ke gereja, agak sore ke wihara, magribnya ke kuil-kuil (kuil apa saja yang ia temui di kotanya), malamnya bahkan kepada dewa di gunung, di pohon, makam Kyai, pokoknya semua yang disembah di kotanya. Tidak lupa juga kepada duit (siapa tahu).

Setelah larut malam, hampir subuh, ia akhirnya tidur sambil berdoa. Dalam doanya ia berkata, berilah jawab-Mu dalam mimpiku, atau bisikilah aku besok pagi sebelum bangun. Kemudian ia tidur. Namun, jawaban dari Tuhan tidak juga datang. Ia tunggu seminggu, dua minggu, ia ulangi rutinitasnya setiap hari. Sampai dewasa, ibunya menyuruh ia memilih satu agama saja, biar tidak capek mengunjungi banyak tempat ibadah (dan di KTP cuma boleh punya satu agama). Tapi jawaban dari Tuhan tidak juga kunjung datang.

Hipotesisnya ada dua, 1). Tuhan itu tidak ada, atau, 2). Tuhan itu sang penulis. Sampai tua Amril pegang hipotesis kedua, buat jaga-jaga. Untuk nanti mati di akhirat. Kalau ternyata tidak ada apa-apa setelah ia mati, baru akhirnya dirinya bisa tarik hipotesis pertama. Rasanya tidak sabar ia ingin teriak di kubur: “nah, kan! Apa kubilang!”

Amril tersenyum-senyum, sambil menatap matahari di luar jendela rumah sakit yang terang dan serasa mencekik tubuhnya. (Mungkin ini sudah akhir cerita?)
  

  

Friday, August 12, 2016

Jilbab

“Orang yang tidak mengenakan jilbab nanti jodohnya pasti jelek, brengsek, mata keranjang! Kalau kita tutup aurat, nanti jodohnya pasti bagus!”

-

Tidak seperti biasanya, Zizah diam saja di teras rumah mereka sambil memperhatikan ibu bapaknya berkebun. Minggu pagi bapak tidak perlu pergi kebon sawit punya Haji Amad, nanti agak siangan, sekitar jam setengah sepuluh, barulah ia turun ke kebon. Ibu juga minggu pagi tidak perlu ke rumah-rumah orang buat cuci pakaian. Minggu pagi waktunya mereka berkebun.

Bapak sering bilang, “biarlah rumah kita gubuk, tapi kebun kita jangan sampai gersang, kering, tak ada yang merawatnya. Manalah ada malaikat yang mau masuk rumah tanpa bunga, nak,” kepada Zizah.  Zizah tidak terlalu mengerti kenapa malaikat tidak mau masuk ke rumah tanpa bunga, apakah malaikat suka bunga? Tapi ia hanya mengangguk mengiyakan setiap bapaknya berceloteh tentang pentingnya kebun rumah yang indah.

Bapak dan ibu sepertinya telah selesai mencabuti rumput liar yang tumbuh nakal dekat mawar-mawar, melati, lidah buaya, lengkuas, terong, dan tanaman-tanaman lain yang mereka pelihara. Ibu sedang menyirami tanaman kebun, bapak menyemprot bunga-bunga dengan percikan air, biar bunganya segar, suatu hari ia pernah menjelaskan.

Hari sudah semakin siang, bapak menyadari anak semata wayangnya hanya duduk termangu di kursi plastik teras rumah mereka yang sederhana. Ia akhirnya mendekati Zizah dengan tubuh yang penuh peluh dan senyum yang lembut, “Jijah tak mau main air?” Tanya bapaknya sambil duduk di kursi plastik di samping Zizah. Zizah menggeleng. “Kok, diam saja dari tadi? Biasanya Jijah suka berkebun, sakit kau nak?” Zizah menggeleng makin kencang.

Zizah menatap bapaknya, lalu ibunya. “Pak,” mulainya. Bapaknya terlihat tertarik, tapi Zizah enggan memulai pembicaraan mengenai pertanyaan-pertanyaan dan kelabut di dalam dirinya. Bapak sepertinya sadar Zizah sungkan bertanya, “kenapa, nak? Uang SPP sudah ditagih?” Zizah menggeleng.

“Ah, soal sepatumu, ya? Aku dengar dari ibu sepatumu sudah sempit dan robek, bapak ada tabungan sedikit, sudah disisihkan dari uang SPP, besok bapak ambil uangnya,” Zizah terperangah sebentar, karena sepatunya memang sudah kekecilan, tapi ia rasa masih bisa digunakan sebulan-dua lagi, ketika akhirnya ia sadar dan mau mengatakan kepada bapak ia tidak perlu sepatu baru, tiba-tiba sebuah motor butut yang bunyi mesinnya menyedihkan berhenti di depan halaman mereka.

“Walah, jemputan bapak sudah datang. Sudah tinggi sekali rupanya matahari, nak,” ia tertawa kecil. Bapak menunduk dan mencium kepala Zizah, “bapak pergi kerja dulu, walau hari minggu, jangan lupa kau belajar.” Kemudian, bapak berlalu, ia berhenti sebentar, pamit kepada ibu, lalu naik motor butut milik Pak Saipul, kawan kerja bapak di kebun.

Hati  Zizah semakin kalut.

Bapak bisa saja beli motor kalau dia mau, tapi ia mau anaknya masuk SD Islam yang biayanya tidak murah. Zizah memandang ibunya yang masih menyirami tanaman kebun mereka satu-satu dengan gayung. Ibunya juga awalnya hanya ibu rumah tangga biasa, tapi untuk menambah uang keperluan sekolah, ibu akhirnya bekerja sebagai tukang cuci keliling.

Setelah selesai menyirami tanaman, ibu membereskan peralatan berkebun. Rambutnya yang dikuncir rendah agak berantakan dan dasternya yang lusuh basah, entah karena peluh atau bekas menyiram bunga. Ibu menghampiri Zizah yang masih bungkam sambil menatap ibunya lekat. “Kenapa kau Zizah? Lesu sekali dari tadi,” ibu menegurnya.

“Ibu, kenapa ibu tidak pakai jilbab?”

Ibu terdiam. Ia memandang anaknya dengan agak terkejut. Ia kemudian berjongkok di depan anaknya, lalu memegang kedua tangan kecilnya, “ibu sudah tua sayang, untuk apa? Siapa yang bernafsu melihat ibu? Dari pada beli jilbab buat ibu, beli baju kurung untuk menutupi kulit ibu yang dekil ini, baik uangnya ditabung untuk kau sekolah nanti atau beli jilbab dan baju kurungmu.” Ia mengusap wajah anaknya dengan lembut lalu berdiri meninggalkan Zizah sendiri.

Ah, waktu ia bertanya kepada bapak kenapa bapak tidak shalat juga sama saja, bapak bilang: “bapak sudah tua, sudah banyak dosa, tak tertolong lagi. Masih muda dulu, tak ada yang mengajarkan bapak shalat, ngaji, membaca, bapak hanya bisa kerja di kebon saja. Baik kau belajar yang baik, shalat yang rajin, jangan tiru bapak dan ibu. Minta Allah rigankan siksa bapak ibumu ini di neraka nanti.”

Sama seperti magrib itu, air mata Zizah menitik sepi mendengar jawaban itu.

Kata bapak orang miskin tidak bisa masuk surga, mereka harus kerja, makanya Zizah tidak boleh miskin, harus belajar yang baik. Tapi untuk apa masuk surga kalau bapak dan ibu tidak ada di sana?

Kata Pak Ustad, neraka untuk orang-orang jahat; yang tidak shalat, tidak mengaji, tidak zakat.. Tapi kalau begitu kenapa Allah jadikan bapak dan ibu miskin sejak kecil? Kenapa Allah tidak utus Jibril untuk mengajari bapak mengaji? Kenapa imam-imam tidak ajarkan bapak shalat?  

Kata kawannya perempuan tak berjilbab tidak bisa dapat jodoh baik karena ia bukan juga perempuan baik, tapi kalau ibu dan bapaknya bukan orang baik kenapa mereka menginginkan Zizah masuk surga? Kalau ibu dan bapaknya bukan orang baik, siapa orang baik? Sebaik apa orang baik? Baikkah dirinya yang mengenakan jilbab, shalat, mengaji, dan menuntut ilmu? Tapi kalau dialah orang baik, bukankah dia baik karena bapak ibunya?

Zizah menatap kebunnya yang bersih, rapi, penuh bunga. Kalau ibu bapaknya bukan orang baik, kenapa mereka mau malaikat masuk ke dalam rumah?



                                                                                            



“Pakailah jilbab ini cu, untuk melindungimu, dari nafsu laki-laki.”

-

Fatimah menatap sekeliling:

Indah sekali marmer di bawah kakinya, warnanya kuning seperti emas, emaskah marmer ini?

Indah sekali tirai yang membingkai jendela kamar, warnanya kuning sewarna marmer, marmerkah itu?

Indah sekali sprei menutup tempat tidur, warnanya kuning layaknya tirai, tiraikah mereka?

Fatimah melangkah, ah sungguh tak biasa kakinya yang sering menginjak lantai semen, menginjak marmer yang dingin dan indah ini. Lampu di atas kepalanya terang, seperti matahari. Kamar itu luas, seperti masjid besar di kota. Perabotnya besar, seperti rumah raksasa. Ia merasa asing, merasa kecil, kotor dan hina. Ia merasa harus berwudhu, tapi rasanya sungkan untuk beranjak menjelajahi tempat ini tanpa dipersilahkan.

Ia pandang pantulan dirinya di jendela. Siapakah itu? Jilbabnya panjang dan cantik, bajunya bagus berpeyet, tangannya elok berinai, siapakah itu? Fatimah kah? Kenapa Fatimah secantik itu? Fatimah anak guru ngaji dusun kecil. Tiap hari makannya ikan asin dan sambal mentah. Mainnya di surau atau sungai tempat anak dusun main air. Jilbabnya kotor bekas ingus dan lumpur. Ah, Fatimah bocah kecil itu. Rasanya bukan dia.

Sudah tiga bulan hidup di istana, Fatimah yang dulu sudah hilang entah ke mana. Mungkin sedang menangkap capung, bantu ibu di dapur, atau ngaji di surau. Pantulan itu bukan Fatimah yang ia kenal. Siapakah itu?

Ia elus jilbabnya. Kangen rasanya dengan jilbab Fatimah yang diberikan nenek. Biar aman dirinya dari nafsu laki-laki. Biar Tuhan melindunginya dengan jilbab itu. Fatimah tersenyum pahit.

Tapi kata ibu juga, enak tinggal di istana, makannya tidak ikan asin, lantainya marmer emas, tidak perlu kerja hanya tinggal angkat jari, tunjuk-tunjuk apa yang dimau. Kata bapak juga, enak jadi istri orang alim, sudah naik haji tiga kali, sudah umrah puluhan kali, pandai mengaji, murah rezeki, nanti habis mati masuk surgalah kau nanti nak!

Pintu di ketok, hari sudah malam.

Tapi juga, matilah Fatimah yang masih bocah. Belum sempat menyicip sekolah yang tinggi-tinggi. Kata orang tuanya tak apalah jadi bini ketiga orang alim! Biarlah jadi istri  muda (sangat muda)! Lihatlah Muhammad! Kaulah Aisyahnya! Tapi bukan Fatimah seorang Aisyah, bukan laki-laki ini seorang Muhammad.

Pintu dibuka.

Semakin kangen ia kepada jilbabnya.

Pintu  ditutup.

Kata nenek pakailah jilbab untuk melindungi dirinya dari syaitan, dari nafsu laki-laki. Jagalah auratnya. Karena begitu berharga tubuhnya yang indah, sebagai seorang perempuan.

“Kenapa dek, melamun saja.”

Terasa nafas menghembus leher, jilbabnya di belakang sudah disingkap. Ia pandang pantulan di jendela. Kangen sekali ia dengan jilbab lamanya.

Monday, August 8, 2016

Ulasan Singkat: Gadis Pantai dan Snow Country

Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer dan Snow Country atau Daerah Salju (Yukiguni) karya Yasunari Kawabata yang diterjemahkan oleh A.S. Laksana adalah dua novel yang sangat bertolak belakang. Tidak hanya kewarganegaraan novelis dan latar belakang budaya serta sejarah novel, pesan yang ingin disampaikan; cara penyampaiannya; bagaimana novel mengalir juga sangat berbeda.

Gadis Pantai sebenarnya adalah sebuah roman dan jilid pertama dari trilogi yang dibuat oleh Pramoedya berdasarkan kisah hidup keluarganya yang dimulai dari neneknya, si Gadis Pantai. Sayang, dua buku lanjutannya hilang di tengah orde baru. Walau begitu saya bisa pastikan Gadis Pantai tidak akan membuat pembacanya merasa tidak puas di akhir cerita, Gadis Pantai dapat dibaca sebagai novel yang berdiri sendiri. Saya merasa akhir dari kisah ini tidak mengurangi kenikmatan dalam membacanya dan pesan yang ingin disampaikan, namun tentu saja, saya merasa sangat disayangkan kita tidak bisa membaca kelanjutannya. Berbeda dengan Gadis PantaiSnow Country merupakan novel yang diterbitkan tanpa masalah saat perang dunia 2, awal zaman Showa, ketika Jepang sangat ketat dalam menyensor buku-buku yang diterbitkan. Mungkin karena novel ini menyoroti banyak kebudayaan Jepang dan tidak memberikan pesan anti perang.

Gadis Pantai menceritakan tentang kehidupan priyayi Jawa yang dingin; yang menghancurkan hati, jiwa, raga sang protagonis; yang tidak rasional dan penuh tradisi omong kosong. Kritik dan rasa geram Pramoedya berhasil ia sampaikan dengan gejolak emosi tokoh utamanya. Cerita novel ini telah dirangkum dan di-spoiled pada sampul belakang buku, saya sudah tahu bagaimana nasib protagonis nantinya, tapi tetap saja saya merasakan amarah dan kesedihan di setiap halaman baru. Kata-kata yang digunakan oleh Pramoedya selalu lugas, tidak bertele-tele, penuh emosi, penuh gejolak, saya sulit untuk berhenti membaca, namun, pada saat yang bersamaan saya kadang merasa letih dan sesak.

Walau novel ini diceritakan dengan sudut pandang orang ketiga, Pramoedya berhasil menuliskan pikiran-pikiran dan gejolak emosi Gadis Pantai dengan sangat eksplisit. Saya bahkan bisa merasakan kebingungan Gadis Pantai, dan walau kadang keputusan yang diambil Gadis Pantai tidak selalu membuat saya puas, saya mengerti kenapa ia memilih jalan itu. Dalam hal ini, Gadis Pantai dan Snow Country sangat berbeda. Bila Pramoedya menyajikan perasaan tokoh utamanya dengan vulgar, maka Kawabata sedikit sekali membiarkan pembaca mengintip ke dalam hati tokoh utamanya. Shimamura memiliki karakter yang dingin, yang tidak dapat ditebak, dan sangat samar-samar. Walau di dalam novel ia digambarkan sangat mencintai Komako, saya sulit mempercayai cintanya, mungkin karena ketertarikannya kepada Yoko, atau caranya bersikap kepada Komako.

Tidak hanya tokoh utamanya, Snow Country merupakan kisah yang tidak terlalu memberikan saya gejolak emosi seperti Gadis Pantai. Bila Gadis Pantai adalah sungai yang riak, maka Snow Country adalah sungai yang tenang. Novel ini mengalir dengan pelan, indah, dan sunyi. Ceritanya penuh misteri dan tidak jelas siapa tokoh yang jahat, atau adakah tokoh yang baik. Dari pada kedalaman emosi tokohnya, Kawabata lebih mengeksplor deskribsi alam yukiguni* dengan kata-kata yang indah. Walau sebagai novel terjemahan pembaca tidak dapat menikmati seratus persen keindahannya, penerjemah novel ini tidak mengambil seluruh keindahan pemilihan kata-kata Kawabata. Tetapi, secara pribadi, saya yakin, bila saya dapat membaca dan mengerti novel ini dalam bahasa aslinya, maka saya akan lebih menikmati novel ini 200% dari saat saya membaca terjemahannya (karena novel ini dianggap sebagai “haiku panjang” yang menjelma di dalam sebuah novel).

Tokoh yang menarik hati saya adalah Yoko. Yoko adalah sebuah misteri. Sampai akhir pun saya tidak tahu siapa dia sebenarnya atau apa perannya dalam kehidupan Shimamura atau Komako. Tetapi jelas sekali Yoko merupakan tokoh yang sangat penting. Dibanding chemistry antara Shimamura dan Komako, saya jauh lebih tertarik dengan hubungan Komako dan Yoko. Komako sendiri merupakan tokoh yang mau tidak mau membuat saya bersimpati kepadanya. Dalam sebuah tulisan ilmiah mengenai novel ini yang pernah saya pelajari di kelas kesustraan, Komako dianggap sebagai simbol kesucian dan kebersihan yang dijunjung tinggi dalam budaya Jepang. Komako, walaupun bekerja sebagai seorang geisha, dengan jelas menganggap pelacuran adalah hal yang tidak pantas. Walau pada akhirnya ia tidur dengan Shimamura, perasaan cintanya kepada Shimamura tidaklah berdasarkan motif apapun. Ia tahu Shimamura telah berkeluarga, ia juga sangat mengerti hubungan mereka tidak akan berujung bahagia, tetapi ia tetap mencintai lelaki ini. Bahkan Komako terlihat masih menyimpan semacam rasa bertanggung jawab kepada Yoko, meskipun Komako terlihat tidak terlalu menyukai Yoko.

Saya sebenarnya lebih menyukai Gadis Pantai ketimbang Snow Country, karena saya lebih menyukai sesuatu yang dinamis saat membaca ketimbang pace yang lambat. Selain itu, entah kenapa, mungkin karena novel ini menormalisasi perselingkuhan Shimamura dan Komako, dan lebih lagi, setelah berhubungan dengan Komako, Shimamura masih menyimpan hati kepada Yoko, novel ini bagi saya--seperti yang saya katakan kepada adik saya—merupakan novel laki-laki dewasa. Mungkin, ketimbang perempuan berumur 20-an yang belum menikah seperti saya, laki-laki dewasa yang telah berkeluarga akan lebih bisa bersimpati kepada tokoh-tokoh yang ada di dalam ceritanya. Saya juga sangat merekomendasikan novel Snow Country kepada orang-orang yang tertarik kepada budaya Jepang. Akan tetapi, bila anda memutuskan untuk membaca novel yang berhasil membawa Kawabata kepada penerimaan nobelnya dalam bidang literatur ini, jangan lupa untuk membaca Gadis Pantai juga, dan rasakan perbedaan emosi saat membaca keduanya secara beruntun.

*yukiguni : judul asli novel ini, merupakan nama tempat fiktif yang dibuat oleh Kawabata sebagai latar belakang tempat novel.