Sunday, July 24, 2016

Ulasan Singkat: Atheis dan Kani Kosen

Kira-kira sebulan yang lalu saya membaca dua buku yang kebetulan punya tema yang mirip, yaitu Atheis karya Achdiat K. Mihardja dan Kani Kosen karya Kobayashi Takiji. Kedua novel ini sama-sama dipengaruhi oleh ideologi Marxis tetapi dengan kadar dan pesan yang berbeda. Menariknya, menurut saya novel Atheis jauh lebih pintar dalam menyampaikan pesannya, sedangkan Kani Kosen lebih gamblang dan jelas dalam menceritakan apa yang ingin disampaikan oleh penulis.

Pada novel Kani Kosen, jelas yang ingin diangkat penulis ke perhatian pembaca adalah adanya ketidakadilan antara kaum buruh dan pabrik. Cerita kesenjangan kelas, penindasan pemilik modal (pabrik) kepada buruh-buruhnya, yang pada akhirnya membuat para buruh melakukan revolusi dan berusaha mengambil alih kapal. Novel ini tidak terlalu panjang, tetapi entah kenapa terasa panjang. Mungkin karena dari awal hingga akhir banyak sekali diceritakan ketidakadilan terhadap para pekerja di kapal yang membuat saya terus bertanya-tanya kapan mereka akhirnya akan berontak. Kelebihan dari novel ini tentu saja dari caranya membuat pembaca ikut panas, geram, dan muak kepada perlakuan pihak pabrik kepada para buruh. Kobayashi mampu membangun solidaritas antara yang tertindas dan pembaca, saya cukup terkesan. Sayangnya, di dalam novel karakter dari tokoh-tokoh protagonis tidak ditonjolkan. Kalau di dalam Atheis kita punya tokoh utama, Hasan, yang mudah terbawa arus dan plin-plan, Rusli yang penuh kharisma dan wibawa serta pandai, atau Anwar yang mata keranjang dan free spirited, di dalam Kani Kosen kita hanya diberikan Mandor mewakili pabrik yang serakah, atau sang penindas, dan para buruh yang miskin, yang ditindas. Walau sempat muncul beberapa nama di kalangan buruh, impresi yang diberikan tidak tertinggal lama dibenak saya.     

Hal yang paling menarik di dalam novel ini bagi saya adalah keberadaan tokoh mandor sebagai antagonis. Mandor, mewakili pabrik, kerjanya hanya memarahi dan menghukum buruh, tidur, makan, bahkan minum enak-enakan, sedangkan para buruh berjuang menahan sakit di badan dan dinginnya laut Kamchatka. Mengapa tokoh Mandor menarik bagi saya? Karena Mandor sendiri bukanlah pemilik modal. Ia hanyalah pengawas dari perusahaan, yang berarti ia digaji juga oleh para pemilik modal. Ini membuat Mandor sebagai middle class; kelas yang menjadi perdebatan tentang kedudukannya dalam dua kelas yang telah dibagi oleh Marx. Secara teori seharusnya benar, Mandor adalah middle class, dan dilihat dari bagaimana Kobayashi Takiji menggambarkan karakternya, bisa dilihat juga bagaimana simpati Kobayashi terhadap kelas ini. Mungkin ada yang berpendapat “mungkin Mandor hanyalah perwujudan dari pabrik” dan saya setuju, memang sangat mungkin, dan kalau memang begitu, tokoh nahkoda dapat kita kategorikan sebagai middle class-nya! Maka gambaran simpati Kobayashi terhadap middle class benar-benar berubah. Bagaimana pun, bagi saya, keberadaan mandor yang sangat dominan di dalam novel sangat menarik hati saya. Entahlah, sampai akhir, saya merasa hanya mandor lah karakter yang memberikan bekas mendalam di antara karakter yang lain.

Atheis, berbeda dengan Kani Kosen, menarik karena karakter berbagai macam tokoh yang membantu tokoh utamanya, Hasan, untuk berubah. Hasan itu seperti anak ayam yang kehilangan induknya, dari awal ia tidak punya pendirian yang kuat dan hanya mengekor orang-orang di sekitarnya. Walau begitu, karakter Hasan sangat relatable dan memberikan tamparan bagi saya (dan mungkin orang lain yang membaca novel ini). Secara pribadi saya tidak suka dengan Hasan, di sisi lain saya sering merasa pernah berada di posisinya. Selain itu, walau saya tidak menyukai sikapnya yang setengah-setengah dan pengecut itu, saya juga mau tidak mau mengerti bagaimana perasaannya. Hasan merupakan karakter yang hidup bagi saya, ia tidak terasa seperti karakter fiksi yang 100% sesuatu; ia tidak jahat, tidak baik, tidak agamis, tidak atheis, tidak marxis. Ia merasakan perasaan takut, mengalami banyak konflik batin, dan sampai akhir pun masih mengalami banyak konflik itu. Saya merasa walau ia tidak pernah benar-benar menyelesaikan konflik batinnya dan pada akhirnya saya terus bertanya-tanya “jadi kau ini apa?” tentang Hasan, sisi itulah yang membuat Hasan lebih manusia bagi saya.

Hal yang saya suka dari novel ini adalah banyaknya sudut pandang dan interpretasi yang dapat diambil dari ceritanya. Dari sudut pandang saya, novel ini sepertinya sedang memandang sinis praktik keagamaan yang dilakukan oleh keluarga Hasan dan keberadaan Tuhan dalam hidup Hasan pada akhirnya. Namun, penulisnya juga sedang mengkritik Anwar yang penuh kontra diksi. Salah satu yang saya sangat tidak suka dari Anwar adalah cara dia memperlakukan “jongos” (pelayan) tapi terus mengkritik kaum borjuis. Tokoh yang tidak disoroti dengan cara pandang yang sinis oleh penulis, menurut saya, adalah Rusli dan tokoh yang merupakan narator novel (novel ini merupakan cerita di dalam cerita). Rusli merupakan karakter yang cukup bijaksana, walau ia memiliki pendiriannya sendiri, ia tidak pernah memaksakan pendiriannya ini kepada Hasan saat Hasan masih sangat agamis (berbeda dengan Anwar), sedangkan narator novel, tidak banyak yang diketahui dari tokoh ini, ia hanya sekedar menyampaikan kisah hidup Hasan nampaknya. Anehnya saya tidak banyak punya pendapat tentang tokoh Kartini. Saya rasa Kartini kurang kuat keberadaannya walau kisah hidup Hasan berputar di sekeliling wanita ini.

Bila ditanya novel mana yang lebih saya suka, secara pribadi saya akan menjawab Atheis. Mungkin karena Kani Kosen adalah novel terjemahan, dari segi penyampaiannya, Atheis lebih enak dibaca. Novel terjemahan cukup tricky, karena karya literatur juga harus dinikmati dengan bahasanya, tidak hanya cerita dan pesannya. Namun, saya tetap merekomendasikan kedua novelnya untuk orang-orang yang tertarik dengan Marxisme, saya tidak merekomendasikan keduanya kepada orang-orang yang suka membaca cerita romantis atau mementingkan gaya bahasa (terutama Kani Kosen). Saya ingatkan sekali lagi, semua yang saya tulis sepenuhnya adalah opini saya, dan saya menulis ulasan buku ini karena saya tidak ingin melupakan pendapat saya tentang keduanya nanti; saya perlu menuliskannya.

Thursday, July 21, 2016

Gerimis Pergi

(( Akibat dengerin theme songnya Tifa :( ))

Bagaimana caranya mengalahkan orang yang sudah mati?

Aku termenung duduk memandangi kafe yang sepi pengunjung. Piano kecil di sudut kafe terlihat kesepian, tempat duduk dan meja tersusun rapi, aku masih termangu di belakang meja panjang bar, berharap pintu kafe dibuka dan orang itu akhirnya pulang.

Sudah dua tahun semenjak Gerimis meninggal, orang itu juga sudah dua tahun tidak pulang ke kampung halaman. Ia pergi ke kota, mencari kesibukkan dan lari dari bayang-bayang yang terus mengejarnya. Bagaimana caranya bisa menang dari cinta yang bahkan tidak pernah benar-benar terucap? Yang begitu besar dan dalam, hampir bersambut, tapi tiba-tiba terputus begitu saja.

Aku menghela nafas. Di luar rintik hujan perlahan membasahi tanah kemarau yang kering dan kehausan. Gerimis... Aku menatap kalender, tidak terasa sudah tanggal segini. Sudah dua tahun. Karena tidak ada pelanggan aku memutuskan untuk mengelap piring dan cangkir yang sebenarnya tidak perlu dilap lagi. Hari ini seharusnya ia pulang. Aku menatap keluar jendela.

Gerimis. Gerimis yang cantik dan senyumnya lembut. Yang suka memakai baju terusan dan rambutnya dikuncir kuda dengan pita yang lucu. Gerimis yang matanya cokelat muda, besar, dan berbinar. Gerimis yang tangannya halus dan bibirnya mungil. Gerimis yang kalau tertawa selalu menutup mulutnya. Gerimis yang baik hati dan tidak bisa dibenci oleh siapapun.

Tiba-tiba telpon berdering memecah lamunanku. Dengan segera aku meletakkan piring yang sedang aku lap dan mengangkatnya. Aku bertanya siapa yang menelpon, sekedar basa-basi, aku tahu siapa yang menelpon.

Oh, kau pulang juga tahun ini?

...Iya, aku yang bersihkan.

Tidak usah berterima kasih, aku melakukannya karena aku ingin.

Tidak mampir dulu? Kafeku lagi sepi, nanti aku kasih diskon.

Aah, gitu. Kabari aku, sudah berteman dari bocah masa kau cuma telpon setiap-

....

Maaf.

Iya. Aku mengerti. Jangan lupa jaga kesehatan.

....

Klik.

....

Gerimis di luar mulai berhenti, membuat hatiku semakin gundah. Gerimis kenapa harus pergi secepat itu? Kenapa tidak selesaikan dulu urusanmu, cintamu. Kenapa kau tinggalkan tanah kemarau yang haus, kenapa kau tinggalkan dia yang sedang mencinta, aku yang selalu mencinta. Aku tertawa kecil sedikit. Atau aku menangis?

Kleng kleng kleng

“Ah, kafenya buka kan mbak?”

Aku mengusap wajahku dan membalikkan badan, “iya!” Aku mengambil daftar menu dan segera memberikannya kepada tamu yang tampaknya agak kebasahan. “Ah, saya ambilkan handuk kecil sebentar,” aku cepat-cepat mencari handuk kecil yang bersih di lemari dekat dapur, setelah menemukannya aku memberikannya kepada tamu yang sedang asyik melihat-lihat daftar menu. “Ah, terima kasih!”

“Gerimis, ya?” Tanyaku basa-basi.

“Iya, sudah lama tidak gerimis.”

“Senang, ya, akhirnya gerimis.”

Ia mendengus.

“Anda tidak suka gerimis?”

“Aku benci gerimis.”

“Kenapa?”

“Entahlah, gerimis itu bukan hujan, jadi aku merasa sepertinya aman kalau jalan saja waktu gerimis, tapi akhirnya aku basah juga.”

Aku tertawa. Sang tamu terkejut.

“Ah, memangnya lucu?”

“Maaf, jawaban Anda sungguh sederhana, tapi benar juga.”

“Suka gerimis?”

Aku memandangnya lama.

“Suka gerimis?” Tanyanya lagi.

Aku menelan ludahku.

“Mbak?”

“...Aku harap gerimis tidak pergi terlalu cepat. Kemarau.”

Sekarang giliran sang tamu yang tertawa. “Jawaban mbak yang malah lucu, itu berarti mbak suka gerimis?”

Aku diam. 

Thursday, July 7, 2016

Selamat Lebaran dari Dusun Baru!

Ada sebuah dusun kecil di mana orang-orang tertinggal dari seluruh dunia karena dusun itu tidak terjangkau media tetapi media menjangkaunya. Namanya Dusun Baru. Di situ tinggal berbagai macam orang yang menonton ibukota dari televisi dan mendengar kota kecil enam jam dari dusun mereka dari cerita orang-orang perantau saat lebaran tiba.

Di televisi katanya harga sembako murah tetapi di pasar tidak jauh dari rumah mereka harga semuanya serba mahal. Di televisi seorang pemerkosa anak ditangkap tetapi tersebar kabar salah seorang penduduk di sana anak kecilnya diperkosa dan karena malu malah pindah ke dusun sebelah, tidak melaporkan apa-apa. Di televisi anak-anak artis masuk perguruan tinggi negri, alangkah pintarnya! Tapi anak mereka dimintai uang enam juta rupiah untuk mendaftar seleksi masuk perguruan tinggi gelombang pertama yang di website resminya katanya gratis.

Di Dusun Baru, seorang anak sakit panas tinggi pada hari lebaran. Ibunya berkeliling mencari obat, tidak ada yang buka. Puskesmasnya tidak ada juga yang jaga. Di Dusun Baru, jalan masuk ke dusun tidak diaspal, anak-anak kecil menghirup debu yang berterbangan karena mobil dan motor melintas dan menebar debu di jalan tanpa aspal.

Di Dusun Baru, air ledengnya berwarna hitam keruh, agak berminyak.

Di Dusun Baru, seorang anak lahir di sebuah keluarga miskin, lalu dijual oleh bapaknya seharga tiga juta rupiah untuk beli motor baru buat lebaran.

Di Dusun Baru, tidak ada yang tahu televisi itu nyata atau tidak. Di Dusun Baru hidup kota adalah surga. Di Dusun Baru, yang tidak pernah bapak ibu pejabat maha sibuk yang lagi bersiap open house pikirkan lebaran ini, entah berapa manusia yang haknya tidak diberikan.

Bapak Ibu, lihatlah Dusun Baru yang ditutupi berhektar sawit, yang banyak jalannya tak beraspal, yang entah berapa anak yang masa depannya direnggut keterbatasan materi. Berharaplah mereka memaafkan beribu dosa atas janji yang kau ingkari, uang yang seharusnya tidak kau tilap sendiri. Semoga Tuhan sebaik itu untuk mengampunimu. Selamat hari raya idul fitri 1437 H.


(Sudah 1437 H saja, sudah 2016, tapi Dusun Baru masih seperti lebaran-lebaran dulu saja, seperti tahun-tahun dulu saja)