Sunday, June 26, 2016

Aku Adalah Hantu

“Aku adalah hantu. Aku hidup dan bernafas di dunia ini tanpa tujuan. Hanya melayang dan mengikuti jalan setapak yang sanggup aku lalui. Aku tidak melewati jalan yang terlalu curam atau jalan yang paling singkat,  jalan yang biasa saja, yang biasa dilewati oleh hantu lainnya.

Aku punya sepasang bola mata yang melihat dan sebuah mulut yang tidak ada gunanya. Kedua tanganku sulit memulai sesuatu, tapi cukup cakap dalam mengambil remah-remah yang ditinggalkan manusia. Kakiku, tentu saja, tidak menapak tanah, tapi tidak cukup jauh untuk terbang.


Aku adalah hantu yang menyukai kesendirian.” 

-Aku, Nurul Eka Putri, tiga tahun yang lalu.

Seorang Pelacur Bernama Aisyah

Aisyah mengerang seksi, seolah ia benar-benar merasa nikmat di alat kelaminnya, biar laki-laki gendut yang sedang menggoyang pinggul di atas tubuhnya ini cepat selesai. Tidak mengerti dirinya kepada ego laki-laki tua yang tidak mau keluar duluan itu, seolah bentuknya yang menjijikkan bisa membuat orang lain birahi. Lelaki botak, gendut, giginya kuning jelek, nafasnya bau; bukankah mereka membayar pelacur murah seperti dirinya karena tidak ada perempuan elok yang mau berhubungan seks dengan manusia seperti kerbau kecuali pelacur murah?

Genjotan lelaki itu makin kuat, makin kasar. Ia memejamkan matanya, Aisyah segera menangkap bahwa lelaki itu sudah mau orgasme.“Di luar, bang! Di luar!” Lelaki itu hanya melenguh, tidak mengindahkan Aisyah. Aisyah mengernyit, berani-beraninya babi tua ini keluar di dalam! Pikirnya. Lelaki itu mengeluarkan penisnya lalu berguling, nafasnya masih sengal, perutnya yang buncit dan ditumbuhi rambut-rambut tipis naik turun. Seperti tak berdosa ia tersenyum puas.

Aisyah segera berlari ke kamar mandi, mau membersihkan sperma di dalam rahimnya. “Anjing! Brengsek botak sialan!” Gerutunya sambil membasuh vaginanya. Begitu selesai, ia keluar, sang lelaki sedang memakai celananya. “Bang, keluar di dalam biayanya beda, ya, sama keluar di luar,” ia berkata tajam, berusaha menahan umpatan yang sudah berada di tenggorokannya.

“Ah, masa pelit sekali kau dengan langganan lama,” cengir lelaki itu. “Kalau abang tidak mau bayar, abang bisa aku adu ke mami. Keluar di dalam bisa buat aku hamil, kalau aku hamil uang aborsinya dari siapa? Dari mami?” Mendengar hal itu sang lelaki takut juga. Germonya Aisyah bukan orang sembarangan. Dia berpengaruh, preman lama. Takut tidak selamat ia akhirnya mengeluarkan uang dari dompetnya dengan terburu-buru.

“Kau bilang aku boleh tidak pakai kondom tanpa biaya tambahan kalau aku mau memilihmu malam ini,” si lelaki berkata kesal. “Aku bilang tidak pakai kondom bukan keluar di dalam, nggak ngerti spermamu itu kalau ketemu telur di rahimku bisa jadi anak?” Aisyah berkata pedas. Sang lelaki menyerahkan uang simpanannya dengan hati berat. Ah, itu uang untuk dibawa ke rumah hari ini, istrinya pasti ngomel malam ini pun tidak ada uang yang bisa ia beri untuk dapur.

“Pecun!”

Kesal, si lelaki yang masih bertelanjang dada mengambil kemejanya dan segera keluar dari kamar hotel murah itu.

Aisyah hanya tertawa geli. “Lah, aku memang pecun, goblok.”

-

“Hina sekali dia, masih dia pakai nama Aisyah ketika melacur.”

Aisyah hanya senyum-senyum saja mendengar bisikan tetangganya itu. Bukan kali pertama ia dicaci. Sudah tidak mempan. Memangnya kenapa kalau namanya Aisyah? Mereka kira berapa Muhammad yang sudah jadi pelanggannya? Minta diteriakkan namanya? Halah, yang suci itu nabi beserta istrinya, dia dan beribu Muhammad dan Aisyah lain di dunia ini semuanya pendosa. Aisyah masuk lalu mengunci pintu rumahnya, karena ini lingkungan preman, ia tidak mau ambil resiko.

Ia melepaskan sepatu haknya yang berwarna merah mentereng dan menaruhnya sembarangan, tasnya juga ia lempar saja ke sudut ruangan. Ia mengambil remote televisi dan menyalakan televisi usang yang gambarnya tidak hd. Ia membanting tubuhnya ke sofa, meletakkan kakinya di atas meja tamu, dan mengambil minuman bersoda dari bawah sofa. Bunyi psssh keluar dari kaleng minuman bersoda yang dibuka, ia meneguknya lalu mengelap sisa-sisa air soda yang mengalir keluar mulutnya. “Ah, sial,” katanya ketika ingat ia belum membersihkan bibirnya dari lipstik merah murah yang sekarang belepoton di wajah dan punggung tangannya.

Entah kenapa apes sekali dia hari ini, pikirnya. Ia meletakkan kaleng minuman bersoda di lantai lalu meregangkan tubuhnya. Kakinya mengangkang, baju terusan ketat yang ia gunakan naik ke pangkal paha, memperlihatkan celana dalam berwarna ungu. Ia memandang langit-langit, lalu memejamkan mata.

Capek sekali dia.

-

Malam itu tempat pelacuran mereka sepi pelanggan. Aisyah merapatkan kain berwarna kuning terang yang ia bawa malam ini ke tubuhnya, selain sepi malam itu juga dingin. “Ah, sial,” gerutunya sambil duduk di tepi jalan, rok mininya membuat angin malam menyentuh kulit Aisyah seenaknya. Ia menatap sepatu haknya yang mekilap-kilap di kegelapan. “Rokokku habis lagi,” ia menyandarkan dagunya ke lututnya.

Tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti di depannya. Aisyah segera berdiri, bersiap menyambut siapa pun yang ada di dalam mobil itu. Walau sopir tua jelek juga dia ladeni, malam sepi begini ia tidak bisa memilih-milih pelanggan.

Pintu mobil dibuka, seorang lelaki kira-kira umur 45-50 tahunan duduk di belakang stir. Tubuhnya tidak buncit, tinggi, cukup tegap untuk seorang bapak-bapak, rambutnya disisir rapi dengan sedikit gel rambut, terlihat garis-garis ketampanan bekas mudanya dulu. Ia mengenakan kacamata berpinggiran besi berwarna putih berbentuk persegi panjang. Lelaki itu tersenyum lalu menggerakkan kepalanya, mengisyaratkan Aisyah untuk naik ke mobilnya.

Tanpa pikir panjang Aisyah segera masuk dan menutup pintu mobil. Sang lelaki hanya menatapnya, Aisyah bingung. Apa dia mau di sini? “Maaf, om, kalau di sini kita tidak bisa,” sebelum selesai kata-katanya lelaki itu menunjuk sabuk pengaman yang ia kenakan. Wajah Aisyah memerah, ia segera mencari-cari sabuk pengaman dan memasangnya dengan terburu-buru. Lelaki itu, dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya, mengangguk puas. Kemudian, ia mengalihkan pandangannya ke depan, menggerakkan mobil mewahnya.

Aisyah melirik lelaki itu sesekali. Kalau melihat jam tangannya, lelaki ini pastilah bukan supir. Bajunya kemeja rapi dan ikat pinggangnya terlihat mahal. Kuku-kukunya bersih, tangannya terlihat halus. Kulitnya kuning langsat. Walau sudah dihiasi kerutan di sana-sini, tetapi ia tidak terlihat ringkih. Senyumnya lembut, tetapi postur tubuhnya memancarkan kharisma.

Aisyah melihat dirinya sendiri, tank top ketat berwarna pink terang, rok mini ketat, kain kuning tipis, sepatu hak tinggi, kuku-kuku yang diwarnai kutek murah. Dibanding lelaki ini terlihat sekali kalau dia pecun murahan. Kenapa ia mau-mau saja pakai dirinya? Pikir Aisyah. Jelas sekali ia bisa main dengan pelacur yang lebih mahal, yang nongkrongnya di bar-bar hotel bintang lima. Wajah Aisyah bahkan tidak cantik-cantik amat, hidungnya tidak mancung, tubuhnya tidak tinggi semampai, kulit wajahnya tidak bersih karena sering mengenakan make up murah, buah dadanya tidak juga besar. Aisyah jadi curiga, jangan-jangan dia bukan mau dipakai tapi mau dibunuh?

Tiba-tiba lelaki itu tertawa kecil, “kamu tegang sekali, tenang saja, saya bukan pembunuh atau semacamnya. Santai saja,” katanya ramah. Pipi Aisyah merah lagi. Suara lelaki itu berat, tetapi dipenuhi kehangatan, seperti mereka sudah saling kenal; akrab. Aisyah melemaskan punggungnya dan bersender ke tempat duduk mobil yang terlihat baru itu.

Rasanya aneh. Perutnya melilit dan jantungnya berdebar. Rasanya ia malu. Rasanya seperti sedang dijatuhkan dari tempat tinggi. Aisyah menggenggam kainnya erat.

-

Begitu pintu kamar dibuka, Aisyah rasanya tidak bisa menutup mulutnya. Benar saja hotel ini hotel mewah bintang lima, kamar itu sangat luas, sangat bersih, sangat mewah. Tidak pernah Aisyah melihat kamar seperti ini, membayangkannya saja tidak pernah. “Ayo, masuk,” lelaki tadi masih memegang knop pintu. Aisyah dengan kikuk segera masuk. Pintu ditutup pelan. Aisyah berdiri di tengah ruangan, tidak tahu mau duduk di mana.

“Kamu mau makan? Minum? Lapar kan?” Lelaki itu meletakkan tas dan kunci mobilnya di atas meja di samping pintu kaca beranda. “Mau makan apa?” Lelaki itu bertanya lagi sambil mengambil gagang telpon kamar. “Ah, tidak usah om, aku tidak lapar,” lelaki itu hanya tersenyum saja. Ia menekan satu tombol, lalu diam sebentar.

“Halo, iya, saya dari kamar 501. Saya mau pesan nasi goreng spesial satu dan soto ayam satu. Minumnya espresso dan teh hangat. Tidak usah, jasmine tea saja, tapi pakai gula. Anak saya tidak suka teh yang macam-macam,” setelah berkata seperti itu ia tertawa riang. Ia kemudian melirik ke arah Aisyah, menjauhkan gagang telpon sambil menutup bagian bawah gagang, “apa kamu ingin tambahan?” Tanyanya. Aisyah terdiam, tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

“Ah, puding! Halo, saya pesan puding juga. Ah, puding karamel biasa, iya, baik.” Setelah itu ia meletakkan gagang telpon kembali. Lelaki itu menatap Aisyah dengan penuh senyum lagi, “mandilah dulu, biar agak nyaman. Susah kan tidur dengan make up, tidak baik untuk kulit juga.” Aisyah awalnya ingin menolak, tapi mungkin lelaki ini tidak mau menyentuhnya karena ia terlihat kotor? Pipinya memerah lagi, tiba-tiba ia merasa sangat malu dengan tubuhnya. Aisyah mengangguk dan dengan kikuk pergi ke kamar mandi.

Kamar mandinya sangat besar, dan seperti kamarnya, juga sangat mewah. Aisyah tidak tahu harus mulai dari mana. Lama ia hanya memandang kamar mandi yang lantainya jauh lebih bersih dari lantai kamar tidurnya. Tiba-tiba ia tersadar ia sedang di mana, ‘bodoh, kau sedang bekerja Aisyah. Ini pelanggan bagus! Jangan disia-siakan!’ Aisyah segera menanggalkan bajunya. Di depan kaca yang besar kamar mandi ia menatap bayangannya.

Ayo, Aisyah. Kamu pecun profesional!

 -

Begitu keluar dari kamar mandi Aisyah sebenarnya agak malu, ini pertama kalinya ia menunjukkan wajahnya tanpa make up kepada pelanggannya. Wajahnya tidak cantik, kulitnya juga tidak mulus, tapi dibanding pelacur murah lainnya yang nongkrong di jalan, Aisyah cukup manis dan menarik. Hidungnya memang tidak mancung, tapi kecil elok menghias wajahnya. Matanya pas, tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil. Bibirnya juga pas, walaupun bibir bagian atasnya agak lebih besar dari bagian bawah dan warnanya tidak merah menggoda. Kulitnya tidak putih seperti bule atau orang kaya yang tidak pernah keluar rumah, tapi langsat—agak gelap. Rambutnya panjang agak bergelombang, warnanya hitam, tetapi tidak hitam pekat, terlihat warnanya agak coklat karena sering dijilat matahari dulu. Ia tidak mengenakan pakaian murahnya yang ketat sekarang tetapi kimono handuk putih yang sangat nyaman.

Di kamar, lelaki tadi sedang menonton televisi, siaran anak kecil, sambil minum kopi. Makanan yang dipesan telah terhidang, menggiurkan, di atas meja kecil dekat beranda. Begitu menyadari Aisyah telah keluar dari kamar mandi lelaki itu menatapnya, raut wajahnya berubah rindu, sendu. “Makanannya sudah datang, papa sudah kenyang, kamu saja yang makan.”

Begitu lelaki itu berkata seperti itu ia sepertinya terkejut dengan apa yang ia katakan sendiri. “Ah, maaf, maksudnya saya...” Aisyah menatap lelaki yang dengan gugup sedang meminum kopinya itu. ‘Ah, mungkin dia suka permainan seperti itu?’ Aisyah mendekat lalu menyentuh bahu lelaki itu mesra, “tidak apa-apa,kok, tidak perlu minta maaf... papa.” Katanya agak manja.

Lelaki itu segera mematung. Bahunya tegang, matanya terbelalak, nafasnya seperti terhenti. ‘Apa dia sudah sangek? Jangan-jangan sudah keluar?’ Aisyah bertanya-tanya dalam hati. Mereka diam beberapa saat. Ketika Aisyah hendak ingin bertanya apakah lelaki itu baik-baik saja, ia menyadari bahu laki-laki begoyang pelan, naik turun.

Aisyah awalnya mengira ia sedang tertawa, ia melangkah mundur. Setelah agak jauh, ia melihat wajah lelaki itu baik-baik, terlihat pipi lelaki itu sudah sangat basah dengan air mata. Wajahnya merah, mengerucut, ia sesenggukan, air matanya tidak mau berhenti. Makin lama terdengar jelas bunyi “huu... huu...” yang sangat menyedihkan.

Lama sekali rasanya Aisyah hanya memandangi lelaki itu menangis. Ia menangis sejadi-jadinya. Seperti ada yang mati. Sepertinya sedih sekali. Makin lama suaranya makin besar, air matanya makin deras. Lelaki itu berusaha menghapus air matanya, kacamatanya naik ke atas karena tangannya berusaha mengucek matanya. Aisyah terduduk di tempat tidur, matanya tidak bisa lepas dari pemandangan itu.

Tidak pernah ia melihat ada orang yang menangis seperti itu. Apakah yang ia tangisi? Siapakah yang ia tangisi? Aisyah penasaran. Aisyah ingin menghiburnya. Ingin membuatnya berhenti bersedih. Tapi pada waktu yang sama ia merasa puas melihat air mata itu, ekspresi wajah yang sangat tulus itu. Seolah ia sedang mengintip hati seseorang yang paling dalam.

Jantung Aisyah berdegup kencang. Ia menyentuh dadanya, apa ini cinta?

-

Setelah lelaki itu mulai reda tangisnya, hanya terdengar sesenggukan kecil, Aisyah segera menghampirinya, kemudian memeluknya sambil mengelus kepala lelaki itu. “Sssshhh, papa sudah nangisnya?” Aisyah menuntun lelaki itu ke tempat tidur. Mereka berdua jatuh di tempat tidur sambil berpelukan. Lelaki itu masih sesenggukan. “Ssssshhhh,” Aisyah lalu mencium kening lelaki itu sambil terus membelai kepalanya. Begitu ia diam, sesenggukannya hilang, Aisyah ingin memulai senggama mereka dengan mencium bibir sang lelaki. Tetapi ternyata sang lelaki tertidur, pulas seperti bayi. Aisyah hanya menghela nafas, agak kecewa, tetapi senang melihat wajah sang lelaki yang letih menangis. Ia menatap wajah itu agak lama sambil mengelus pipinya.

-

Hari sudah pagi, Aisyah bangun dengan kebingungan. Tubuhnya baik-baik saja, tidak sakit-sakit dan pegal seperti biasanya. Kasur tempat ia tidur juga sangat nyaman dan pakaian yang ia kenakan lembut membungkus dan melindunginya dari dinginnya pagi. Aisyah mengerang sedikit, meregangkan tubuhnya. Ia membuka matanya.

Langit-langit yang indah bersih dari sarang laba-laba dan lumut, cahaya matahari yang menembus tirai putih panjang, hawa sejuk dari air conditioner yang tidak berisik, bau makanan hangat. Jelas sekali ini bukanlah hotel murah tempat biasa ia tertidur habis bekerja atau kamarnya. Ia segera duduk dengan siaga. Oh!

Akhirnya Aisyah ingat kejadian semalam. Ia segera mencari-cari lelaki itu. Kemudian agak kecewa begitu sadar lelaki itu sudah pergi. Akan tetapi, ia menyadari keberadaan makanan di meja dekat beranda. Makanan semalam sudah diganti makanan baru yang lebih banyak macamnya. Ada nasi goreng, berbagai macam roti, sosis, telur orak-arik, selai, bubur, sup ayam, jus jeruk, susu, dan coklat hangat yang masih mengepul.

Perut Aisyah berbunyi, ia segera berdiri dan mendekati meja tempat makanan disajikan. Ia mengambil satu roti yang kelihatannya enak (dan masih hangat! Aisyah tidak tahu roti bisa dimakan saat masih hangat). Setelah menghabiskan satu roti, ia minum susu hangat dengan sedikit terburu-buru, lalu dengan garpu mengambil sosis yang sangat besar lalu melanjutkan makanannya. Ia memutuskan untuk menikmati waktunya di kamar hotel ini.

Setelah selesai makan, ia menghidupkan televisi. Ia mengutak-ngatik televisi dan tidak menemukan siaran yang bagus, kemudian memutuskan untuk mandi. Agak lama ia mandi, menikmati kamar mandi mahal beserta sabun dan sampo yang baunya seperti parfum. Selesai mandi ia membanting tubuhnya ke kasur yang empuk. Menatap langit-langit.

Ia menatap ke kanan dan menyadari sebuah amplop di atas meja kecil di samping tempat tidur. Ia segera bangun dan mengambil amplop itu. Di dalam amplop ada sebuah surat, kartu nama, kartu debit, dan sebuah kalung.

-

Selamat pagi.

Bagaimana tidurmu? Maafkan kelancangan saya yang tertidur bersamamu di tempat tidur semalam. Maklum, orang tua seperti saya sudah susah tidur larut. Saya lupa menanyakan namamu siapa, saya minta maaf. Kita tidak banyak berbincang semalam, saya merasa tidak enak dengan seenaknya menunjukkan sisi saya yang sangat emosional seperti itu. Kamar bisa digunakan sampai jam 12, bersantailah dulu. Saya juga telah memesan makan pagi karena semalam kamu tidak makan apa-apa. Saya ingin mengucapkan semua ini secara langsung, tetapi pagi ini saya harus pergi, ke tempat yang jauh, untuk berobat. Saya tidak tahu kapan akan kembali.

Saya tidak punya uang tunai, jadi saya tinggalkan saja kartu debit saya. Kode pin kartu debit itu adalah 171094. Saya kebetulan tahu sekolah kursus keterampilan yang bagus, alamatnya ada di kartu nama yang saya tinggalkan bersama surat ini. Kalau berminat, mainlah ke sana.

Saya juga meninggalkan kalung ini kepada kamu. Kalung milik anak saya yang sangat mirip denganmu. Kalau berkenan, jagalah kalung ini. Kalau kamu mau, buang juga tidak apa-apa.

Terima kasih sudah mau menemani orang tua ini semalaman. Terima kasih atas segalanya. Jagalah dirimu baik-baik. Saya harap suatu hari kita dapat bertemu lagi.

Lukman.

-

Aisyah menatap kalung salib itu sambil tertawa kering. Setitik air mata mengalir di pipinya.

“Namaku Aisyah dan aku seorang pelacur. Dia kira bisa kuapakan salib ini, goblok,” lirihnya.


Wednesday, June 15, 2016

"Apakah Tuhanmu Seorang Pembunuh?" Tanya Rasyid

“Kultum kita hari ini akan dibacakan oleh Rasyid! Ayo, nak Rasyid, sudah siapkan?”

Seorang anak laki-laki berpakaian baju koko putih rapi, lengkap dengan sarung yang agak kebesaran dan peci yang terus melorot dari kepalanya yang kecil naik ke atas panggung. Ia memegang secarik kertas yang sudah lusuh karena dilipat dan digenggam dengan tangan yang berkeringat sebelumnya. Ia menatap pak ustad yang mengangguk, memberikan semangat. Setelah berdiri di tengah panggung, stand mic tepat di depan hidungnya, ia mengambil nafas.

Ia berjinjit sedikit agar bibirnya bisa sejajar dengan mic.

Apakah Tuhanmu seorang pembunuh?

Apakah Tuhanmu membenarkanmu untuk meludahi satu sama lain?

Apakah Ia mengajarimu membenci dan memaki? Menggunakan peluru dan belati?

Apakah Tuhanmu seorang tiran yang menodongmu dengan ujung pistol,

memaksamu untuk menyembahNya?

Apakah Tuhanmu menciptakanmu dengan akal dan hati nurani,

untuk disia-siakan?

Apakah Tuhanmu tidak menyebar cinta?

Tidakkah Tuhanmu berkata untuk menjadi bijaksana?

Apakah Tuhanmu sama seperti manusia yang mendengki?

Apakah Tuhanmu tidak memberikanmu pilihan?

Apakah Tuhanmu begitu tidak berdaya,

Ia memerlukanmu untuk menjadi polisi agamaNya?

Apakah Tuhanmu sedang tertawa-tawa bangga melihat darah

yang mengalir begitu banyak,

membuat merah hati keluarga dan kerabat mayat-mayat yang mati tergeletak

teruntuk Tuhanmu itu?

Apakah Tuhanmu seorang pembunuh?”

Rasyid menatap penonton yang geram bercampur kesal, karena hatinya diungkap seperti itu. Berani-beraninya anak ini meragukan Tuhan! Mereka menunjuk-nunjuk. Segala barang dilempar ke atas panggung. Rasyid, melihat tingkah penontonnya yang marah-marah itu, justru malah lega dan tersenyum lebar. Ia melirik Pak Ustad yang memelototinya.


Rasyid kembali membaca catatan kultumnya, baris terakhir: “Karena Tuhanku tidak.” 

Penjara

(Seorang polisi dan lelaki berjas masuk ke panggung, polisi itu mempersilahkan lelaki berjas masuk dan mengangkat topinya dengan sopan lalu keluar dari panggung)

Koruptor : (merapikan dasinya,berjalan mengelilingi panggung lalu mengeluarkan sapu tangan dan mengelap keningnya yang tidak basah)

 (Tidak ada yang menanggapi koruptor)

Koruptor : (berdehem keras)

Koruptor : (berdehem lebih keras)

Koruptor : Tidak adakah yang mau menyambut tamu di sini?

Pencuri : Tamu? Dia pikir dia bisa pulang seenak perutnya kayak tamu?

(pembunuh, pencuri, dan bandar narkoba terkekeh)

Koruptor : Ap—

(Tiba-tiba terdengar bunyi kaleng kosong dipukul dengan kencang berkali-kali, semua tahanan dengan terburu-buru mengambil buku di bawah tikarnya masing-masing dan mulai membaca. Koruptor dengan bingung melihat sekeliling, penipu berdiri menghampiri koruptor)

Penipu : Selamat datang! Selamat datang kawan! Maafkan kelancangan mereka semua. Mereka orang-orang baik,tapi memang kurang bersahabat. Tidak menyambut tamu? Oh, sungguh tidak beretika. Bukankah begitu? Etika itu penting! Penting! Tanpa etika, bagaimana penjara ini bisa berjalan dengan baik? Orang-orang akan jarang bertamu dan, oh, sungguh penjara yang membosankan tanpa tamu!

Koruptor : (merapikan dasinya) Tentu saja, tanpa tamu sepertiku, penjara ini pasti lebih menyedihkan dari sekarang. Karena aku penting, karena aku mengenakan jas dan dasi. Benar, seharusnya aku diperlakukan lebih baik, tapi aku maafkan mereka, karena aku memiliki dada yang lapang. Jas dan dasiku tidak bisa menutupi dadaku yang lapang.

Penipu : Hahahahaha. Aku menyukaimu, tapi benarkah kau memaafkan mereka?

Koruptor : Tidak, tidak, aku sungguh mengerti. Mereka pasti tidak memiliki pemimpin sebaik diriku seperti masyarakatku di luar sana. Masyarakatku sungguh, apa tadi kau katakan? Oh, ya! Beretika! Masyarakatku penuh etika. Mereka menyambut tamu-tamu yang berdasi dengan baik.

Penipu : dan bila masyarakatmu menyambut tamu berdasi dengan baik, kenapa kau berada di sini kawan?

Koruptor : Dua minggu aku duduk di kursi depan rumah tetanggaku, aku tidak dianggap tamu lagi. Mungkin mereka tidak menyukai dasiku lagi atau jasku, entahlah.

Penipu : Kau pasti pemimpin yang baik bila memiliki masyarakat yang beretika, kawan.

Koruptor : (merapikan dasinya) Tentu saja. Tapi, walau aku memaafkan orang-orang ini, aku tidak suka laki-laki di pojok sana. Ia tidak pernah sekalipun menatapku semenjak aku masuk ke penjara ini.

Penipu : Orang itu? Oh, kawan, itu hanya si pembunuh. Dia itu baik sekali. Salah satu kawan favoritku! Tentu saja setelah kau! Karena kau memiliki dasi yang menawan.

Koruptor : (merapikan dasinya) Tentu saja.

Penipu : Jadi kau tidak usah khawatir tentang pemuda malang itu, kawan.

Koruptor : Tapi bagaimana dengan orang di sana itu? Dia melihat ke arahku, tapi tidak benar-benar melihat dasiku. Aku merasa dia berpikir bahwa ia orang yang lebih baik dariku.

Penipu : Itu hanya bandar narkoba, apalah yang dia bisa selain mengedarkan narkoba? Kau bukan pecandu bukan?

Koruptor : (berdeham dan merapikan dasinya) Tentu saja..... tidak.

Penipu : Kalau begitu kau tidak punya hal yang harus kau takuti kawan. Bandar narkoba bukan apa-apa dibanding orang seperti dirimu.

Koruptor : Tentu saja. Tapi bagaimana dengan orang yang berbicara denganku tadi. Aku tidak suka caranya berbicara denganku.

Penipu : Pencuri? Bisa apa pencuri? Pencuri maling ayam! Sedangkan kau kawanku? Kau punya dasi yang sangat menawan. Jangan terlalu dipikirkan.

Koruptor : Tentu sa.... (berhenti saat mau merapikan dasinya) .... apa kau dengar bunyi itu?

Penipu : Bunyi apa? Oh, maksudmu, bunyi tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik--

Koruptor : YA! Berhenti bertik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik ti—Aaaah! Kenapa aku melanjutkannya juga!?

Penipu :Karena bunyi itu terus bertik tik tik tik tik tik tik—

Koruptor : Aku mengerti! Berhenti! Bunyi apa itu!?

Penipu : Itu pengangguran.

Koruptor : Pengangguran?

(Bunyi kaleng dipukul kembali terdengar, pembunuh, pencuri, dan bandar narkoba menyimpan buku mereka kembali. Mereka berdiri lalu mulai mereganggakan badan dan berolahraga di tempat. Koruptor menatap mereka dengan bingung tapi penipu segeran mengalihkan perhatiannya)

Penipu : Dia di atas sana. Pengangguran sudah sangat lama berada di sini. Sangat sangat lama.

Koruptor : Kenapa dia bisa ada di sini?

Penipu : Tidak ada yang tahu, karena dia di sini sebelum kami ada di sini. Sangat sangat lama. Dia yang membuat peraturan di sini.

Koruptor : Apakah dia pemimpin di sini?

Penipu : Aku tidak tahu. Tapi dia sudah sangat sangat lama di sini.

Koruptor : Aku mengerti! Kau mengulang kata-kata itu sekitar empat atau lima kali. Aku tahu dia sudah sangat sangat lama di sini.

Penipu : Lebih baik kita tidak membicarakan pengangguran, karena dia sudah sangat sangat lama di sini.

Koruptor : Kau takut padanya?

Penipu : Aku tidak tahu.

Koruptor : Menggelikan! Takut kepada orang yang kerjanya membuat bunyi bising. Apa tidak ada yang bilang padanya bahwa bunyi itu sangat mengganggu? Dia ngapain di atas dengan bunyi itu?!

Penipu : Aku tidak tahu, tidak ada yang benar-benar tahu mengenai bunyi itu. Tapi semua orang di sini terbiasa dengannya, tidak ada yang terlalu memikirkan tentang itu.

Koruptor : Terbiasa? Terbiasa dengan itu? Ooh, tidak akan. Aku akan menghentikan bunyi berisik itu!

Penipu : Hahahahahaha bagaimana caranya kawan? Kau mau memanjat ke atas sana?

Koruptor : Memanjat? Apa kau tidak lihat jas dan dasiku? Aku akan berbicara dengannya.

Penipu : Dari bawah sini?

Koruptor : Aku tidak suka menengadah, tapi aku orang yang lapang dada.
(Koruptor mendekati tempat pengangguran)

Koruptor : Maaf, permisi, kau yang di sana! Aku rasa kau membuat bunyi yang sangat berisik. Aku adalah orang baru di sini dan aku tidak suka bunyi tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik—aaah! Maksudku, bunyi itu sangat keras dan mengganggu kenyamananku. Aku—

(Pencuri berhenti berolahraga dan melipat kedua tangannya di dada)

Pencuri : Kenyamanan? Ini penjara,bung! Bukan hotel!

Koruptor : Aku tidak berbicara denganmu!

Pembunuh : Diam kau! Dari tadi berceloteh ini itu! Berisik! Kau tidak lihat aku sedang pendinginan? Aku butuh ketenangan agar tubuhku dingin! (pembunuh berbicara sambil terus melakukan pendinginan sedangkan bandar narkoba duduk dan mengipas tubuhnya dengan kipas rotan)

Koruptor : Aku? Berisik? Kau bilang aku berisik dan orang gila di atas sana yang terus membuat bunyi tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik—AAAH! Cukup! Dengar, aku tidak  punya masalah apa-apa dengan kalian. Aku hanya mau bunyi sial itu berhenti. Bunyi itu menggangguku.

Pembunuh : Kau juga menggangguku! (pembunuh berhenti pendinginan)

Koruptor : Aku? AKU?! Kau bisa terbiasa dengan bunyi itu dan mengatakan aku mengganggu?! Dengar anak muda, kau tidak lihat dasiku? Kau tidak tahu siapa aku? Aku ini orang paling tinggi martabatnya di penjara ini! Aku kaya, dasiku menawan, aku tampan, dasiku menawan, aku berpendidikan tinggi, dasiku menawan, aku lulusan universitas paling bergengsi di negeri ini, dasiku menawan, aku terkenal, dasiku menawan, aku adalah koruptor! Dan dasiku menawan!

Pencuri : pfft..Hahahahahahahahahahahahaha, dengar saudara dasi menawan, kau sama saja denganku, kau maling juga!

Koruptor : Apa?! aku? Denganmu? Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak. Kau lihat jasku? Dasiku? Aku tidak mengendap-endap di malam hari mengambil televisi atau ayam tetangga, aku adalah tamu berdasi yang disambut baik oleh masyarakatku yang, apa tadi namanya? Oh! Beretika!

Pencuri : Lalu, kau mencuri kue lebaran mereka.

Koruptor : Dengar, mereka tahu aku mengambilnya dan tetap mengizinkan aku bertamu. Karena aku tamu berdasi. Mereka maklum dengan tamu berdasi dan telah berlapang dada membiarkan aku mengambilnya. Tapi aku rasa mereka tidak suka bila aku duduk terlalu lama karena tamu-tamu lain mengantri untuk disambut. Atau mereka sudah tidak suka lagi dengan dasiku, entahlah. Tapi, mereka adalah masyarakatku yang baik. Berbeda dengan tempat ini, apa tidak ada yang mengajari kalian tata krama di sini? Etika? Apa orang di atas itu tidak memberikan kalian pelajaran tentang apa yang seharusnya kalian lakukan dan tidak lakukan di penjara ini? Kalau aku pemimpin kalian, peraturan pertama, hormati tamu berdasi!

Pembunuh : Kami punya peraturan!

Pencuri : Kami punya peraturan!

Bandar narkoba : Kami punya peraturan!

Penipu : Kami punya peraturan!

Pembunuh : Peraturan pertama, tidak ada yang boleh berdiri di tempat pembunuh. Karena itu adalah wilayah pembunuh saja. Kecuali kau seorang pembunuh. Karena hanya pembunuh yang bisa membunuh, maka tidak ada yang boleh berdiri di tempat pembunuh. Tidak ada yang boleh berdiri di tempatku!

Pencuri, bandar narkoba, dan penipu : tidak ada yang boleh berdiri di tempatnya!

Pencuri : Peraturan kedua, semua hal di penjara ini adalah milik pencuri. Aku bisa mengambilnya kapan saja, karena semuanya adalah milikku. Tidak ada yang memiliki sesuatu mutlak untuk dirinya sendiri, karena aku bisa mengambilnya sekarang, besok, lusa, kapan saja, dan itu milikku lagi! Karena aku adalah pencuri! Semuanya adalah milikku!

Pembunuh, bandar narkoba, dan penipu : Semuanya adalah miliknya!

Bandar narkoba : Peraturan ketiga, tidak ada yang boleh minum dari gelasku. Karena siapa yang tahu apa yang kumasukkan ke dalam situ? Bisa yang putih, yang merah, yang kuning, yang bening, yang tajam, yang bau, yang tipis, bisa apa saja! Tidak ada yang boleh minum dari gelasku!

Pembunuh, pencuri, dan penipu : Tidak ada yang boleh minum dari gelasnya!

Penipu : Peraturan keempat, tidak boleh ada yang tahu siapa diriku. Karena aku bisa dipercaya dan kita adalah kawan. Semua orang butuh kawan.Tidak ada yang boleh tahu siapa aku!

Pembunuh : Kami punya peraturan!

Pencuri : Kami punya peraturan!

Bandar narkoba : Kami punya peraturan!

Penipu : Dan kau, kawan, sebaiknya menaati peraturan itu.

Koruptor : Aku tidak mengerti! Peraturan konyol macam apa itu? Kenapa kalian harus mengikuti peraturan konyol itu? Siapa yang membuat aturan macam itu?

Pembunuh : Yang di atas!

Pencuri : Yang mengetik!

Banda narkoba : Yang sudah sangat sangat lama di sini!

Penipu : Yang tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik

(pembunuh, pencuri, dan bandar narkoba ikut mengucapkan tik tik tik tik tik)

Koruptor : CUKUP!

(Pengangguran berhenti mengetik sejenak)

Penipu : dan tik tik!

Koruptor : Aku masih tidak mengerti, kenapa kalian harus mengikuti aturannya?

Pembunuh : Dia sudah sangat sangat lama di sini. Dia tahu yang terbaik.

Pencuri : Lagipula peraturan-peraturannya beralasan, dari pada menghormati tamu berdasi.

Bandar narkoba : Aturan itu dibuat untuk kebaikan penjara ini. Kau tidak mau membuat pengangguran marah.

Koruptor : Apa yang akan dia lakukan kalau aku membuatnya marah? Memasukkanku ke dalam penjara?

Pembunuh : Tidak ada.

Bandar narkoba : sebenarnya tidak ada yang tahu.

Pencuri : Tidak ada yang pernah melanggar aturan.

Penipu : Dia sudah sangat sangat lama di sini.

Koruptor : Omong kosong! Aku bisa memimpin lebih baik dari orang tidak ada kerjaan yang kerjanya membuat bunyi menganggu sepanjang hari! Kalian lihat dasiku?

(Pembunuh, pencuri, dan bandar narkoba saling bertatapan dan tertawa kencang)

Koruptor : Kenapa? Apa yang salah?

Pencuri : Kau gila!

Pembunuh : Mimpi!

Bandar narkoba : Anak baru belagu!

(Bunyi kaleng terdengar lagi, tiba-tiba pembunuh, pencuri, dan bandar narkoba menguap dan meregangkan badannya seolah baru saja melakukan pekerjaan berat)

Pembunuh : Aku lelah!

Pencuri : Aku ngantuk!

Bandar narkoba : Aku keduanya!

Pencuri : Kita anggap pembicaraan ini tidak pernah ada!

Pembunuh : Selamat malam!

(Pembunuh, pencuri, dan bandar narkoba  kembali ke tempatnya masing-masing)

Koruptor : Ini bohong!

Penipu : Tapi itu betul adanya.

Koruptor : Apa pula bunyi kaleng itu?!

Penipu : Itu jadwal kami.

Koruptor : Apa pengangguran itu juga yang membuat jadwal konyol itu?

Penipu : Setahuku tidak, tapi dia tidak melarang kami mengikutinya.

Koruptor : Aku pemimpin yang lebih baik dari orang gila itu!

Penipu : Tentu saja.

Koruptor : Tapi aku—tunggu, kau setuju denganku?

Penipu : 100%

Koruptor : Apa menurutmu aku sebaiknya menjadi pemimpin di sini?

Penipu : Kalau itu yang kau inginkan. Menurutku itu ide yang bagus.

Koruptor : (memperbaiki dasinya) Tentu saja, tapi... bagaimana?

Penipu : Legenda mengatakan... pengangguran akan berhenti kalau semua aturannya dilanggar.

Koruptor : Heh, apa susahnya melanggar aturan, toh kita berada di sini karena kita melanggar aturan.

Penipu : Kalau kau memang mampu, kenapa tidak langgar sekarang?

Koruptor : (memperbaiki dasinya) baik! Apa peraturan pertama tadi?

Penipu :  Tidak ada yang boleh berdiri di tempat pembunuh.

Koruptor : Gampang! Gampang! (memperbaiki dasinya) Lihat aku (mendekati pembunuh)
(pembunuh sadar ada yang mendekatinya)

Pembunuh : Apa yang kau lakukan di sini.

Koruptor :  (mendekat)

Pembunuh : (menghindar)

Koruptor : (mendekat)

Pembunuh : (menghindar)

Koruptor : (mendekat)

Pembunuh : Apa yang kau inginkan?! Berhenti!

Koruptor : Aku ingin berdiri di tempatmu.

Pembunuh : Berdiri di tempatku? Hahahahahahahahahahaha, yang bisa berdiri di tempat pembunuh hanya pembunuh! Kau kan tuan berdasi.

Koruptor : Logika macam apa itu? Aku bisa berdiri di tempatmu, siapapun bisa! Di mana tempat itu?

Pembunuh : Sudah kubilang hanya pembunuh yang bisa berdiri di tempatku. Hanya pembunuh yang bisa membunuh. Kau bukan pembunuh, kau tidak bisa berdiri di tempatku.

Koruptor : Aku bisa! Aku bisa membunuh! Siapa pun bisa membunuh!

Pembunuh : Kau tidak bisa.

Koruptor : Bukan hanya kau yang bisa membunuh!

Penipu : Sebenarnya, hanya pembunuh yang bisa membunuh.

Pencuri : Hanya dia yang bisa!

Bandar narkoba : kau tidak akan pernah bisa.

Koruptor : Aku bisa!

(suara tik tik mengeras)

Pembunuh : Kau hanya punya dasi!

Koruptor : Aku punya jas! Dan sepatu!

Pencuri : Kau tidak bisa!

Bandar narkoba : Kau tidak bisa!

Koruptor : Aku bisa!

Pembunuh : Kau bahkan tidak bisa memegang belati.

Pencuri : Kau tidak bisa!

Bandar narkoba : Kau tidak bisa!

Koruptor : Aku bisa!

Penipu : (menyelipkan belati ke tangan koruptor)

(Koruptor menatap belati di tangannya)

(Pencuri dan bandar narkoba terus berkata ‘tidak bisa’)

(Pembunuh mendekat sampai tepat di depan koruptor dengan tampang mengejek)

(Koruptor menusukkan belatinya ke pembunuh)

(Pengangguran berhenti mengetik, terdengar bunyi kertas yang dirobek dan diremuk, lalu dibuang ke bawah. Pengangguran terkekeh dan kembali mengetik)

Pencuri : Kau melakukannya!

Bandar narkoba : kau gila!

Koruptor : (mundur dari pembunuh)

Penipu : Kau berhasil! Kau sekarang berdiri di tempat pembunuh!

Koruptor : A-aku berhasil?

Penipu : Kau berhasil!

(Seorang laki-laki berpakaian polisi masuk, ia menggelengkan kepala, dan membawa pembunuh keluar panggung. tak lama kemudian ia masuk lagi dan menaikkan topinya)

Pencuri : Kau gila!

Bandar narkoba : Kau melakukannya!

Koruptor : (menatap tangannya) t-tentu saja! Hahahahahahahaha. (merapikan dasinya) tentu saja! Aku berhasil! Apa peraturan kedua?

Penipu : Peraturan kedua, semua hal yang ada di penjara ini adalah milik pencuri.

Koruptor : Tentu saja tidak! Dia tidak bisa memiliki dasiku!

Pencuri : Aku dengar itu! Dasi itu milikku! Semua hal di penjara ini adalah milikku. Aku hanya belum mengambilnya.

Koruptor : Dasi ini milikku!

Pencuri : Dasi itu milikku!

Koruptor : Jas ini milikku!

Pencuri : Bah, aku bisa mengambil jas itu kapan saja!

Koruptor : Kau tidak bisa mendapatkannya!

Pencuri : Hahahahahaha, peraturan kedua, semua hal di penjara ini milikku. Jangan karena kau melanggar peraturan pertama kau bisa melanggar peraturan berikutnya! Peraturan kedua adalah mutlak!

(Koruptor terdiam)

Pencuri : Bagaimana? Kau tidak bisa melanggar peraturan kedua bukan? Karena semua hal di penjara ini milikku. Aku hanya tidak mengambilnya sekarang.

Koruptor : Tapi sebenarnya tidak juga.

Pencuri : Kau hanya menggertak. Dasimu itu, jasmu itu, aku bisa mengambilnya kapan saja. Aku hanya tidak terlalu menginginkannya, karena itu aku tidak mengambilnya. Tapi semuanya adalah miliku! Milikku!

Koruptor : Tapi aku baru saja mengambil sesuatu.

Pencuri : Apa?

Koruptor : Kau tidak punya nyawa orang! Aku baru saja mengambil satu! Kau tidak memiliknya! Aku yang mencurinya! Itu bukan milikmu!

Pencuri : Itu.. itu milikku!

Koruptor : Itu bukan milikmu lagi, itu sudah hilang, kau tidak bisa mengambilnya.

Pencuri : Tidak!!

Koruptor : Tidak semua yang ada di tempat ini adalah milikmu. Kalau aku memutuskan untuk membunuh orang lain, kau tidak bisa melarangku, aku tidak harus minta izin kepadamu. Itu milikku.

Pencuri : (menunjuk koruptor) Kau gila! (menunjuk penipu) Kau bersekongkol dengannya! Kau juga gila! Kalian berdua gila! Walau itu bukan milikku.. Bukan! Itu milikku! Itu milikku! Aku pencuri! Itu milikku!

(Pengangguran berhenti mengetik dan terkekeh kecil. Terdengar bunyi kertas dirobek dan kertas diremuk. Kertas dibuang ke bawah, saat pengangguran berhenti mengetik, semua bergerak normal kecuali pencuri yang tetap diam)

(Seorang laki-laki berpakaian polisi masuk, ia menggelengkan kepala, dan membawa pencuri keluar panggung. Tak lama kemudian laki-laki berpakaian polisi itu masuk lagi ke panggung mengangkat topinya dan pergi)

Koruptor : A-aku berhasil! (memperbaiki dasinya) Tentu saja! Tentu saja!

Penipu : Kau berhasil!

Koruptor : (mengambil sapu tangan dari kantongnya dan mengelap keningnya yang bercucuran keringat)

Penipu : (mengambil jas koruptor) keberatan?

Koruptor : Tidak, tentu saja tidak. Sekarang.. apa tadi peraturan ketiga?

Penipu :  Tidak ada yang boleh minum dari gelas bandar narkoba.

(Koruptor dan penipu menatap bandar narkoba yang gemetar ketakutan)

(Bunyi kaleng terdengar lagi)

(Bandar narkoba berteriak histeris dan lari pontang panting)

(Koruptor menatap penipu, penipu menggelengkan kepalanya. Koruptor lalu mengambil gelas yang ditinggalkan bandar narkoba)

Koruptor : (mencium isi gelas) sepertinya tidak terlalu buruk (meminum isi gelas bandar narkoba)

(Pengangguran berhenti mengetik, terdengar bunyi kertas yang dirobek dan diremuk, lalu dibuang ke bawah. Pengangguran terkekeh dan kembali mengetik)

Penipu : Bagaimana rasanya?

Koruptor : (sempoyongan sebentar lalu menyadarkan dirinya) Aku merasa lebih segar! Minuman ini tidak jelek, aku rasa aku bisa mendaki sebuah gunung sekarang.

(Seorang laki-laki berpakaian polisi masuk dan mengangkat topinya lalu pergi)

(Ketika koruptor tidak melihat, penipu mengenakan jas yang ia ambil dari koruptor)

Koruptor : Jadi... apa peraturan keempat tadi kawan?

(Koruptor terdiam)

Koruptor : Kenapa kau mengenakan jasku?

Penipu : Bukankah kau memberikannya kepadaku?

Koruptor : Tidak, aku tidak pernah memberikanmu jasku.

Penipu : Tadi kau bilang kau tidak keberatan.

Koruptor : Yang aku tidak keberatan itu kau memegang jas itu sementara! Karena tempat ini panas!

Penipu : Terlambat, ini sudah jadi milikku.

Koruptor : Kau!

Penipu : Bukankah kita kawan, kawan. Masa kau tidak mau berbagi hanya sedikit saja.

Koruptor : Apa peraturan keempat!

Penipu : Membosankan kalau kau langsung tahu begitu saja.Ayo, ingat-ingat lagi.

Koruptor : Itu tentang kau!

Penipu : Ding dong! (berpura-pura memperbaiki dasi) tepat sekali

Koruptor : Kau—

(Tiba-tiba Koruptor seakan tersadar oleh sesuatu, ia mengamati penipu lalu mengelilinginya dengan tatapan tidak percaya)

Koruptor : Kau—

(Pengangguran berhenti mengetik, terdengar bunyi kertas yang dirobek dan diremuk, lalu dibuang ke bawah. Pengangguran terkekeh, saat ia kembali mengetik semua kembali normal kecuali penipu yang terdiam dengan sebuah senyum simpul)

Koruptor : Tapi dia, aku...

(Seorang laki-laki berpakaian polisi masuk, ia menggelengkan kepala, dan membawa penipu keluar panggung. Tak lama kemudian laki-laki berpakaian polisi itu masuk lagi ke panggung mengangkat topinya dan pergi)

Koruptor : Penipu licik itu menipuku mentah-mentah! Dasar sial! Dan aku mempercayai manusia tengil itu! Sungguh tidak bisa diterima! Dia pura-pura jadi kawanku, mengambil jasku, dan—

(Koruptor diam menatap kearah pengangguran)

Koruptor : Bunyi itu! Bunyi tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik—Aaaah! Bunyi itu membuatku gila! Berhenti! Berhenti! Berhenti kataku! Aku sudah langgar semua aturanmu! Kau bisa apa? kau tidak bisa mengaturku! Penjara ini adalah milikku! Ayo turun! Kemari kau kalau berani!

(Bunyi mesin ketik tetap berjalan)

Koruptor : berhenti! Berhenti, berhenti, berhenti, berhenti, BERHENTI! (koruptor berjalan mondar mandir sambil mengacak rambutnya dan melepaskan dasinya dengan kasar lalu membuangnya ke lantai)

(Bunyi mesin ketik berhenti. Terdengar suara kertas dirobek dan diremuk. Kertas dibuang ke bawah)

(Seorang lelaki berpakaian polisi masuk dan membawa koruptor. Tak lama kemudian ia masuk lagi dan mengangakat topinya ke arah penonton)

(Pengangguran tertawa kecil)

(Terdengar bunyi ketik pelan)

(Bunyi kaleng terdengar samar)

Pengangguran : Selesai.


Selesai