Tuesday, December 20, 2016

Pada Malam yang Panjang, Aku Mengingatmu

Ketika Desember tiba, mawar kering yang terselip di dalam buku yang tak pernah aku baca tiba-tiba menjadi hal yang melankolis dan kartu ucapan selamat ulang tahun berwarna oranye terang buatan tangan di atas rak bukuku terlihat kesepian.

Siapa lagi yang akan menuliskan perasaan yang tulus ke dalam kartu ucapan di tengah dunia yang ruangnya bisa kau sebrangi dengan layar telpon genggam? Hanya engkau rasanya.

Aku cukup bersyukur juga tidak ada orang seromantis dirimu lagi dalam berkawan kepadaku. Aku tidak tahu bagaimana rasanya harus kehilangan dua orang yang meninggalkan mawar kering dan kartu ucapan buatan tangan pada hari ulang tahunku. Karena kehilangan satu orang sepertimu saja sudah cukup membuatku sepi pada malam-malam yang panjang.

Sambil menulis ini aku menatap sketsa wajahmu yang dulu tidak jadi aku berikan kepadamu, tapi aku urungkan, karena sketsaku tidak sebanding kartu ucapan oranye itu. Ah.

Monday, December 5, 2016

Ada sesuatu di dalam diriku yang perlahan mati.

Apakah itu kenaifan seorang anak atau idealisme dunia. Mungkin juga ambisi dan harapan akan masa depan, atau semangat. Aku sendiri tidak tahu apa.

Aku tidak tahu apa yang kukerjakan hari ini, apa saja yang kurasakan hari ini. Ketika sedang mengupas apel, jariku berdarah, aku tidak juga merasa begitu sakit atau terkejut. Sekali, dua kali, tiga kali, entah sudah biasa atau jadi kebiasaan, luka kecil seperti itu tidak menggangguku lagi. Aku bahkan kesulitan memastikan tubuhku yang lemas dan terasa panas ini karena aku sakit atau aku mengada-ngada saja.

Rasanya sudah lama aku tidak tertawa. Atau menangis. Atau marah. Lama sekali aku tidak merasakan apa-apa yang signifikan, lama sekali aku tidak menulis. Bahkan saat aku menuliskan hal ini, entah berapa kali aku berhenti dan memandangi layar laptopku (apa lagi yang harus kutulis? Apa lagi yang kurasakan sekarang? Belakangan ini?).

Ada sesuatu di dalam diriku yang perlahan tidak berdetak lagi.

Aku tidak tahu apa (sayangnya bukan jantungku). Apakah karena umurku sudah semakin bertambah? Atau aku sudah menyerah? Ah, bahkan perasaan iriku kepada binatang liar tidak terasa lagi.

Bila ada yang bertanya kepadaku: “apa kabar?” aku rasa satu-satunya jawabanku adalah, “baik.” Aku tidak tahu kata apa yang bisa mewakili kabarku saat ini selain baik. Aku baik. Mungkin kadang merasa tidak enak badan karena hujan terus turun belakangan ini, dan entah kenapa, aku sering melukai jariku saat mengupas apel. Tapi aku baik. Aku tidak merasakan kesedihan atau kemarahan, tidak bisa dibilang bahagia juga. Aku baik.

Ah, tapi benar ada yang sesuatu yang perlahan mati itu. Walau hal ini sebenarnya tidak bisa dikatakan hal yang buruk juga. Sayang aku akan semakin jarang menulis. Tapi setidaknya aku akan “baik” saja. 

Saturday, November 5, 2016

Kapan aku akhirnya menghilang di masa depan nanti?

Kapan aku akhirnya menghilang di masa depan nanti?

Kadang aku terlalu tertekan untuk memikirkan esok hari. Sebulan yang akan datang. Tahun depan. Ah, kapan akhirnya aku bisa menghilang? Jadi debu atau kumpulan awan? Hidup sebagai zat yang tak berpikir atau merasa. Kalau bisa, benar-benar hilang, jangan ada bentuk dan sisa.

Aku sering menulis mau jadi binatang, seperti kucing liar atau anjing yang menggaruk tempat sampah untuk makan. Itu boleh juga. Pokoknya jangan jadi makhluk yang punya peradaban dan aturan yang susah-susah. Aku tidak mau hidup dalam kungkungan ekspektasi orang. Aku muak, aku lelah.

Jadi manusia harus memikirkan masalah pasangan hidup, bukan hanya cinta, tapi agama dan ras serta keluarga. Harus mengkhawatirkan uang juga. Pekerjaan dan kawan. Keturunan, nama, pakaian, dan kalau kau wanita, banyaknya kerutan.

Intinya: jadi manusia susah! Tidak segampang jadi pohon atau rumput. Aku harus punya banyak gelar dan pekerjaan terhormat. Walau tidak seperti pohon dan rumput yang tidak punya kaki, aku tidak bisa juga berkelana melihat dunia. Kaki manusia hanya untuk melangkah dekat-dekat sini saja, seperti untuk mencari kerja dan jalan ke mall bersama keluarga.  

Kalau orang berkata,”nah, yang mengekang dirimu, ya, kau sendiri saja! kalau kau mau pergi, pergi saja!” tapi bagaimana dengan pasangan-pasangan mata yang mengharapkan aku hidup “bahagia”? Hidup bergelimang harta, taat agama, rumah tangga utuh, jadi orang dewasa yang sesungguhnya! Pasangan-pasangan mata itu adalah cinta hatiku yang sedikit ini berlabuh. Kalau kutinggalkan maka hilanglah sudah sedikit harapan dan cinta kasih dalam diriku ini. Sebuah perasaan irrasional yang tidak pernah kuhilangkan dalam tahun-tahun aku sadar bahwa hidup itu sia-sia.

Manusia itu makhluk yang rumit. Yang punya kaki tapi tidak bisa pergi begitu saja ke mana ia mau pergi. Yang punya rasio tapi tidak bisa berpikir semau otaknya mau berpikir. Yang punya suara tapi tidak bisa bicara seenak ia mau bicara. Yang punya kemampuan untuk mengakhiri segalanya dengan beberapa pil atau tali atau belati tapi tidak bernyali untuk mengakhirinya begitu saja.

Aku muak jadi manusia, tapi bisa dikata apa. Aku hanya bisa menulis gelisah-gelisahku saja, tak bisa mengubah takdir kecuali mengira kapan akhirnya aku berakhir di masa depan. 

Saturday, August 13, 2016

Siapakah Sang Penulis?

Siapakah sang penulis?

Amril sering bertanya kepada emak dan abahnya tentang siapa itu sang penulis. Emak bilang ia tidak pernah sekolah jadi ia tidak tahu sedang makam abahnya diam saja, bergeming. Jadi pada hari pertama Amril sekolah, ia dengan semangat mengacungkan tangannya ketika ibu guru baru masuk ke ruangan kelas, hendak memulai pelajaran, dan bertanya, “bu guru, siapakah sang penulis?”

Ibu guru bilang sang penulis adalah para filsuf yang pintar. Mereka bijaksana dan sekolahnya tinggi sekali, mungkin sekitar sampai S4 atau S5. Kata bu guru mereka sangat pintar sampai hampir gila. Kawan di sebelahnya mengangguk lalu bergumam bahwa kata orang tua mereka semua filsuf itu sudah gila. Tapi entah kenapa hati Amril tidak puas mendengar jawaban itu.

Maka, pada petang yang temaram, ketika hari sangat oranye dan langit terlihat terbakar, Amril secara tak sengaja bertemu dengan seorang calon mahasiswa yang sudah dua tahun gagal masuk perguruan tinggi. Ia sedang berjalan sambil membaca catatan kecil dan menggerutu rumus-rumus rumit yang Amril sulit pahami. Amril berjalan beriring di sampingnya dan bertanya, “bang, siapakah seorang penulis?”

Calon mahasiswa yang tampangnya lusuh itu langsung mengernyit, tidak suka gerutuannya akan rumus-rumus yang rumit diganggu. Tapi karena ia calon mahasiswa, ia menjawabnya juga akhirnya, “orang miskin. Mana bisa dapat duit jadi penulis. Harus jadi mahasiswa biar bisa jadi dokter atau pengacara, atau kerja kantoran, baru banyak duitnya. Jadi lurah atau camat juga lumayan, kalau gaji kurang bisa pinjam dulu duit kas negara.” Jawabannya seperti gerutu, kecil seperti berbisik tapi berisik. Amril tidak mengerti. Apa hubungannya sang penulis sama duit? Untuk apa duit? Terus kenapa kalau sang penulis tidak punya duit? Amril jadi tambah bingung.

Setelah kejadian itu Amril makin penasaran. Siapalah sang penulis. Oleh karena itu, ketika ia bertemu seorang laki-laki yang sedang membaca koran sambil berdiri di depan toko buku ia segera menghampirinya. “Om, siapakah sang penulis?” Laki-laki itu menatap Amril terkejut, lalu tertawa riang. Jam tangannya berkilat di bawah sinar matahari siang ibu kota. “Sang penulis tentu yang berpenis saja,” jawabnya enteng. Amril bertanya lagi karena masih bingung, “kenapa harus yang berpenis saja?”  Laki-laki itu menatap Amril dengan gembira.

“Yang tidak berpenis cuma bisa menulis cinta-cintaan saja, sang penulis membahas hal serius. Seperti atlet olahraga. Yang tidak berpenis di situ cuma jadi pemanis saja, atlet sebenarnya yang berpenis. Makanya cabang olahraga dipisah antara yang berpenis sama yang tidak, katanya biar adil, tapi ujungnya yang diminati kan hanya atlet berpenis. Sepak bola yang ada kejuaraan dunianya cuma untuk yang berpenis saja. Bola basket yang diminati juga cuma yang berpenis juga. Sama seperti seniman juga. Ah, mengertilah kau. Kau kan berpenis,” kemudian laki-laki itu kembali membaca korannya. Amril menatap selangkangannya sendiri dengan wajah terkejut. Dari mana laki-laki ini tahu ia berpenis???

Namun, walau dengan jawaban bijaksana laki-laki itu pun, Amril masih juga belum puas. Suatu malam, ketika ia bertemu dengan seorang perempuan yang nongkrong di pinggir jalan, Amril menghampirinya dan bertanya, “mbak, siapakah sang penulis?” Perempuan itu tampak terkejut. Walau malam banyak nyamuknya, bajunya yang terbuka terlihat nyaman-nyaman saja.

“Anak perempuan kaya mungkin,” jawabnya sambil menghidupkan rokok lalu menghirupnya. “Kenapa anak perempuan kaya saja?” Perempuan itu tertawa lalu menghembuskan asap berbentuk ‘O’ bulat. Membuat hati Amril agak berdegup entah mengapa. “Anak perempuan kaya bisa sekolah tinggi, punya pembantu jadi tidak perlu kerja di dapur. Ibunya suka ikut arisan. Mereka biasanya di penjara di rumah sampai ada anak laki-laki kaya yang bisa dijodohkan dengannya. Jadi ia pasti kesepian dan bosan di rumah, aku rasa begitulah ia mulai menjadi sang penulis,” perempuan itu menjelaskan. “Lah bapaknya?” Perempuan itu tertawa kecil, membuang rokoknya, kemudian menginjaknya. Ia kemudian berkedip kepada Amril, “bapaknya main denganku,” sambil berkata seperti itu ia pergi ke arah sebuah mobil yang diparkir tidak jauh dari mereka. Amril seperti terpana.

Rasanya semakin ia banyak bertanya kepada orang jawabannya makin tidak memuaskan hatinya. Maka pada hari itu ia bertanya kepada Tuhan. Karena tidak tahu harus bertanya kepada Tuhan yang mana, ia akhirnya sembahyang subuh itu di masjid, siangnya ke gereja, agak sore ke wihara, magribnya ke kuil-kuil (kuil apa saja yang ia temui di kotanya), malamnya bahkan kepada dewa di gunung, di pohon, makam Kyai, pokoknya semua yang disembah di kotanya. Tidak lupa juga kepada duit (siapa tahu).

Setelah larut malam, hampir subuh, ia akhirnya tidur sambil berdoa. Dalam doanya ia berkata, berilah jawab-Mu dalam mimpiku, atau bisikilah aku besok pagi sebelum bangun. Kemudian ia tidur. Namun, jawaban dari Tuhan tidak juga datang. Ia tunggu seminggu, dua minggu, ia ulangi rutinitasnya setiap hari. Sampai dewasa, ibunya menyuruh ia memilih satu agama saja, biar tidak capek mengunjungi banyak tempat ibadah (dan di KTP cuma boleh punya satu agama). Tapi jawaban dari Tuhan tidak juga kunjung datang.

Hipotesisnya ada dua, 1). Tuhan itu tidak ada, atau, 2). Tuhan itu sang penulis. Sampai tua Amril pegang hipotesis kedua, buat jaga-jaga. Untuk nanti mati di akhirat. Kalau ternyata tidak ada apa-apa setelah ia mati, baru akhirnya dirinya bisa tarik hipotesis pertama. Rasanya tidak sabar ia ingin teriak di kubur: “nah, kan! Apa kubilang!”

Amril tersenyum-senyum, sambil menatap matahari di luar jendela rumah sakit yang terang dan serasa mencekik tubuhnya. (Mungkin ini sudah akhir cerita?)
  

  

Friday, August 12, 2016

Jilbab

“Orang yang tidak mengenakan jilbab nanti jodohnya pasti jelek, brengsek, mata keranjang! Kalau kita tutup aurat, nanti jodohnya pasti bagus!”

-

Tidak seperti biasanya, Zizah diam saja di teras rumah mereka sambil memperhatikan ibu bapaknya berkebun. Minggu pagi bapak tidak perlu pergi kebon sawit punya Haji Amad, nanti agak siangan, sekitar jam setengah sepuluh, barulah ia turun ke kebon. Ibu juga minggu pagi tidak perlu ke rumah-rumah orang buat cuci pakaian. Minggu pagi waktunya mereka berkebun.

Bapak sering bilang, “biarlah rumah kita gubuk, tapi kebun kita jangan sampai gersang, kering, tak ada yang merawatnya. Manalah ada malaikat yang mau masuk rumah tanpa bunga, nak,” kepada Zizah.  Zizah tidak terlalu mengerti kenapa malaikat tidak mau masuk ke rumah tanpa bunga, apakah malaikat suka bunga? Tapi ia hanya mengangguk mengiyakan setiap bapaknya berceloteh tentang pentingnya kebun rumah yang indah.

Bapak dan ibu sepertinya telah selesai mencabuti rumput liar yang tumbuh nakal dekat mawar-mawar, melati, lidah buaya, lengkuas, terong, dan tanaman-tanaman lain yang mereka pelihara. Ibu sedang menyirami tanaman kebun, bapak menyemprot bunga-bunga dengan percikan air, biar bunganya segar, suatu hari ia pernah menjelaskan.

Hari sudah semakin siang, bapak menyadari anak semata wayangnya hanya duduk termangu di kursi plastik teras rumah mereka yang sederhana. Ia akhirnya mendekati Zizah dengan tubuh yang penuh peluh dan senyum yang lembut, “Jijah tak mau main air?” Tanya bapaknya sambil duduk di kursi plastik di samping Zizah. Zizah menggeleng. “Kok, diam saja dari tadi? Biasanya Jijah suka berkebun, sakit kau nak?” Zizah menggeleng makin kencang.

Zizah menatap bapaknya, lalu ibunya. “Pak,” mulainya. Bapaknya terlihat tertarik, tapi Zizah enggan memulai pembicaraan mengenai pertanyaan-pertanyaan dan kelabut di dalam dirinya. Bapak sepertinya sadar Zizah sungkan bertanya, “kenapa, nak? Uang SPP sudah ditagih?” Zizah menggeleng.

“Ah, soal sepatumu, ya? Aku dengar dari ibu sepatumu sudah sempit dan robek, bapak ada tabungan sedikit, sudah disisihkan dari uang SPP, besok bapak ambil uangnya,” Zizah terperangah sebentar, karena sepatunya memang sudah kekecilan, tapi ia rasa masih bisa digunakan sebulan-dua lagi, ketika akhirnya ia sadar dan mau mengatakan kepada bapak ia tidak perlu sepatu baru, tiba-tiba sebuah motor butut yang bunyi mesinnya menyedihkan berhenti di depan halaman mereka.

“Walah, jemputan bapak sudah datang. Sudah tinggi sekali rupanya matahari, nak,” ia tertawa kecil. Bapak menunduk dan mencium kepala Zizah, “bapak pergi kerja dulu, walau hari minggu, jangan lupa kau belajar.” Kemudian, bapak berlalu, ia berhenti sebentar, pamit kepada ibu, lalu naik motor butut milik Pak Saipul, kawan kerja bapak di kebun.

Hati  Zizah semakin kalut.

Bapak bisa saja beli motor kalau dia mau, tapi ia mau anaknya masuk SD Islam yang biayanya tidak murah. Zizah memandang ibunya yang masih menyirami tanaman kebun mereka satu-satu dengan gayung. Ibunya juga awalnya hanya ibu rumah tangga biasa, tapi untuk menambah uang keperluan sekolah, ibu akhirnya bekerja sebagai tukang cuci keliling.

Setelah selesai menyirami tanaman, ibu membereskan peralatan berkebun. Rambutnya yang dikuncir rendah agak berantakan dan dasternya yang lusuh basah, entah karena peluh atau bekas menyiram bunga. Ibu menghampiri Zizah yang masih bungkam sambil menatap ibunya lekat. “Kenapa kau Zizah? Lesu sekali dari tadi,” ibu menegurnya.

“Ibu, kenapa ibu tidak pakai jilbab?”

Ibu terdiam. Ia memandang anaknya dengan agak terkejut. Ia kemudian berjongkok di depan anaknya, lalu memegang kedua tangan kecilnya, “ibu sudah tua sayang, untuk apa? Siapa yang bernafsu melihat ibu? Dari pada beli jilbab buat ibu, beli baju kurung untuk menutupi kulit ibu yang dekil ini, baik uangnya ditabung untuk kau sekolah nanti atau beli jilbab dan baju kurungmu.” Ia mengusap wajah anaknya dengan lembut lalu berdiri meninggalkan Zizah sendiri.

Ah, waktu ia bertanya kepada bapak kenapa bapak tidak shalat juga sama saja, bapak bilang: “bapak sudah tua, sudah banyak dosa, tak tertolong lagi. Masih muda dulu, tak ada yang mengajarkan bapak shalat, ngaji, membaca, bapak hanya bisa kerja di kebon saja. Baik kau belajar yang baik, shalat yang rajin, jangan tiru bapak dan ibu. Minta Allah rigankan siksa bapak ibumu ini di neraka nanti.”

Sama seperti magrib itu, air mata Zizah menitik sepi mendengar jawaban itu.

Kata bapak orang miskin tidak bisa masuk surga, mereka harus kerja, makanya Zizah tidak boleh miskin, harus belajar yang baik. Tapi untuk apa masuk surga kalau bapak dan ibu tidak ada di sana?

Kata Pak Ustad, neraka untuk orang-orang jahat; yang tidak shalat, tidak mengaji, tidak zakat.. Tapi kalau begitu kenapa Allah jadikan bapak dan ibu miskin sejak kecil? Kenapa Allah tidak utus Jibril untuk mengajari bapak mengaji? Kenapa imam-imam tidak ajarkan bapak shalat?  

Kata kawannya perempuan tak berjilbab tidak bisa dapat jodoh baik karena ia bukan juga perempuan baik, tapi kalau ibu dan bapaknya bukan orang baik kenapa mereka menginginkan Zizah masuk surga? Kalau ibu dan bapaknya bukan orang baik, siapa orang baik? Sebaik apa orang baik? Baikkah dirinya yang mengenakan jilbab, shalat, mengaji, dan menuntut ilmu? Tapi kalau dialah orang baik, bukankah dia baik karena bapak ibunya?

Zizah menatap kebunnya yang bersih, rapi, penuh bunga. Kalau ibu bapaknya bukan orang baik, kenapa mereka mau malaikat masuk ke dalam rumah?



                                                                                            



“Pakailah jilbab ini cu, untuk melindungimu, dari nafsu laki-laki.”

-

Fatimah menatap sekeliling:

Indah sekali marmer di bawah kakinya, warnanya kuning seperti emas, emaskah marmer ini?

Indah sekali tirai yang membingkai jendela kamar, warnanya kuning sewarna marmer, marmerkah itu?

Indah sekali sprei menutup tempat tidur, warnanya kuning layaknya tirai, tiraikah mereka?

Fatimah melangkah, ah sungguh tak biasa kakinya yang sering menginjak lantai semen, menginjak marmer yang dingin dan indah ini. Lampu di atas kepalanya terang, seperti matahari. Kamar itu luas, seperti masjid besar di kota. Perabotnya besar, seperti rumah raksasa. Ia merasa asing, merasa kecil, kotor dan hina. Ia merasa harus berwudhu, tapi rasanya sungkan untuk beranjak menjelajahi tempat ini tanpa dipersilahkan.

Ia pandang pantulan dirinya di jendela. Siapakah itu? Jilbabnya panjang dan cantik, bajunya bagus berpeyet, tangannya elok berinai, siapakah itu? Fatimah kah? Kenapa Fatimah secantik itu? Fatimah anak guru ngaji dusun kecil. Tiap hari makannya ikan asin dan sambal mentah. Mainnya di surau atau sungai tempat anak dusun main air. Jilbabnya kotor bekas ingus dan lumpur. Ah, Fatimah bocah kecil itu. Rasanya bukan dia.

Sudah tiga bulan hidup di istana, Fatimah yang dulu sudah hilang entah ke mana. Mungkin sedang menangkap capung, bantu ibu di dapur, atau ngaji di surau. Pantulan itu bukan Fatimah yang ia kenal. Siapakah itu?

Ia elus jilbabnya. Kangen rasanya dengan jilbab Fatimah yang diberikan nenek. Biar aman dirinya dari nafsu laki-laki. Biar Tuhan melindunginya dengan jilbab itu. Fatimah tersenyum pahit.

Tapi kata ibu juga, enak tinggal di istana, makannya tidak ikan asin, lantainya marmer emas, tidak perlu kerja hanya tinggal angkat jari, tunjuk-tunjuk apa yang dimau. Kata bapak juga, enak jadi istri orang alim, sudah naik haji tiga kali, sudah umrah puluhan kali, pandai mengaji, murah rezeki, nanti habis mati masuk surgalah kau nanti nak!

Pintu di ketok, hari sudah malam.

Tapi juga, matilah Fatimah yang masih bocah. Belum sempat menyicip sekolah yang tinggi-tinggi. Kata orang tuanya tak apalah jadi bini ketiga orang alim! Biarlah jadi istri  muda (sangat muda)! Lihatlah Muhammad! Kaulah Aisyahnya! Tapi bukan Fatimah seorang Aisyah, bukan laki-laki ini seorang Muhammad.

Pintu dibuka.

Semakin kangen ia kepada jilbabnya.

Pintu  ditutup.

Kata nenek pakailah jilbab untuk melindungi dirinya dari syaitan, dari nafsu laki-laki. Jagalah auratnya. Karena begitu berharga tubuhnya yang indah, sebagai seorang perempuan.

“Kenapa dek, melamun saja.”

Terasa nafas menghembus leher, jilbabnya di belakang sudah disingkap. Ia pandang pantulan di jendela. Kangen sekali ia dengan jilbab lamanya.

Monday, August 8, 2016

Ulasan Singkat: Gadis Pantai dan Snow Country

Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer dan Snow Country atau Daerah Salju (Yukiguni) karya Yasunari Kawabata yang diterjemahkan oleh A.S. Laksana adalah dua novel yang sangat bertolak belakang. Tidak hanya kewarganegaraan novelis dan latar belakang budaya serta sejarah novel, pesan yang ingin disampaikan; cara penyampaiannya; bagaimana novel mengalir juga sangat berbeda.

Gadis Pantai sebenarnya adalah sebuah roman dan jilid pertama dari trilogi yang dibuat oleh Pramoedya berdasarkan kisah hidup keluarganya yang dimulai dari neneknya, si Gadis Pantai. Sayang, dua buku lanjutannya hilang di tengah orde baru. Walau begitu saya bisa pastikan Gadis Pantai tidak akan membuat pembacanya merasa tidak puas di akhir cerita, Gadis Pantai dapat dibaca sebagai novel yang berdiri sendiri. Saya merasa akhir dari kisah ini tidak mengurangi kenikmatan dalam membacanya dan pesan yang ingin disampaikan, namun tentu saja, saya merasa sangat disayangkan kita tidak bisa membaca kelanjutannya. Berbeda dengan Gadis PantaiSnow Country merupakan novel yang diterbitkan tanpa masalah saat perang dunia 2, awal zaman Showa, ketika Jepang sangat ketat dalam menyensor buku-buku yang diterbitkan. Mungkin karena novel ini menyoroti banyak kebudayaan Jepang dan tidak memberikan pesan anti perang.

Gadis Pantai menceritakan tentang kehidupan priyayi Jawa yang dingin; yang menghancurkan hati, jiwa, raga sang protagonis; yang tidak rasional dan penuh tradisi omong kosong. Kritik dan rasa geram Pramoedya berhasil ia sampaikan dengan gejolak emosi tokoh utamanya. Cerita novel ini telah dirangkum dan di-spoiled pada sampul belakang buku, saya sudah tahu bagaimana nasib protagonis nantinya, tapi tetap saja saya merasakan amarah dan kesedihan di setiap halaman baru. Kata-kata yang digunakan oleh Pramoedya selalu lugas, tidak bertele-tele, penuh emosi, penuh gejolak, saya sulit untuk berhenti membaca, namun, pada saat yang bersamaan saya kadang merasa letih dan sesak.

Walau novel ini diceritakan dengan sudut pandang orang ketiga, Pramoedya berhasil menuliskan pikiran-pikiran dan gejolak emosi Gadis Pantai dengan sangat eksplisit. Saya bahkan bisa merasakan kebingungan Gadis Pantai, dan walau kadang keputusan yang diambil Gadis Pantai tidak selalu membuat saya puas, saya mengerti kenapa ia memilih jalan itu. Dalam hal ini, Gadis Pantai dan Snow Country sangat berbeda. Bila Pramoedya menyajikan perasaan tokoh utamanya dengan vulgar, maka Kawabata sedikit sekali membiarkan pembaca mengintip ke dalam hati tokoh utamanya. Shimamura memiliki karakter yang dingin, yang tidak dapat ditebak, dan sangat samar-samar. Walau di dalam novel ia digambarkan sangat mencintai Komako, saya sulit mempercayai cintanya, mungkin karena ketertarikannya kepada Yoko, atau caranya bersikap kepada Komako.

Tidak hanya tokoh utamanya, Snow Country merupakan kisah yang tidak terlalu memberikan saya gejolak emosi seperti Gadis Pantai. Bila Gadis Pantai adalah sungai yang riak, maka Snow Country adalah sungai yang tenang. Novel ini mengalir dengan pelan, indah, dan sunyi. Ceritanya penuh misteri dan tidak jelas siapa tokoh yang jahat, atau adakah tokoh yang baik. Dari pada kedalaman emosi tokohnya, Kawabata lebih mengeksplor deskribsi alam yukiguni* dengan kata-kata yang indah. Walau sebagai novel terjemahan pembaca tidak dapat menikmati seratus persen keindahannya, penerjemah novel ini tidak mengambil seluruh keindahan pemilihan kata-kata Kawabata. Tetapi, secara pribadi, saya yakin, bila saya dapat membaca dan mengerti novel ini dalam bahasa aslinya, maka saya akan lebih menikmati novel ini 200% dari saat saya membaca terjemahannya (karena novel ini dianggap sebagai “haiku panjang” yang menjelma di dalam sebuah novel).

Tokoh yang menarik hati saya adalah Yoko. Yoko adalah sebuah misteri. Sampai akhir pun saya tidak tahu siapa dia sebenarnya atau apa perannya dalam kehidupan Shimamura atau Komako. Tetapi jelas sekali Yoko merupakan tokoh yang sangat penting. Dibanding chemistry antara Shimamura dan Komako, saya jauh lebih tertarik dengan hubungan Komako dan Yoko. Komako sendiri merupakan tokoh yang mau tidak mau membuat saya bersimpati kepadanya. Dalam sebuah tulisan ilmiah mengenai novel ini yang pernah saya pelajari di kelas kesustraan, Komako dianggap sebagai simbol kesucian dan kebersihan yang dijunjung tinggi dalam budaya Jepang. Komako, walaupun bekerja sebagai seorang geisha, dengan jelas menganggap pelacuran adalah hal yang tidak pantas. Walau pada akhirnya ia tidur dengan Shimamura, perasaan cintanya kepada Shimamura tidaklah berdasarkan motif apapun. Ia tahu Shimamura telah berkeluarga, ia juga sangat mengerti hubungan mereka tidak akan berujung bahagia, tetapi ia tetap mencintai lelaki ini. Bahkan Komako terlihat masih menyimpan semacam rasa bertanggung jawab kepada Yoko, meskipun Komako terlihat tidak terlalu menyukai Yoko.

Saya sebenarnya lebih menyukai Gadis Pantai ketimbang Snow Country, karena saya lebih menyukai sesuatu yang dinamis saat membaca ketimbang pace yang lambat. Selain itu, entah kenapa, mungkin karena novel ini menormalisasi perselingkuhan Shimamura dan Komako, dan lebih lagi, setelah berhubungan dengan Komako, Shimamura masih menyimpan hati kepada Yoko, novel ini bagi saya--seperti yang saya katakan kepada adik saya—merupakan novel laki-laki dewasa. Mungkin, ketimbang perempuan berumur 20-an yang belum menikah seperti saya, laki-laki dewasa yang telah berkeluarga akan lebih bisa bersimpati kepada tokoh-tokoh yang ada di dalam ceritanya. Saya juga sangat merekomendasikan novel Snow Country kepada orang-orang yang tertarik kepada budaya Jepang. Akan tetapi, bila anda memutuskan untuk membaca novel yang berhasil membawa Kawabata kepada penerimaan nobelnya dalam bidang literatur ini, jangan lupa untuk membaca Gadis Pantai juga, dan rasakan perbedaan emosi saat membaca keduanya secara beruntun.

*yukiguni : judul asli novel ini, merupakan nama tempat fiktif yang dibuat oleh Kawabata sebagai latar belakang tempat novel.       

Sunday, July 24, 2016

Ulasan Singkat: Atheis dan Kani Kosen

Kira-kira sebulan yang lalu saya membaca dua buku yang kebetulan punya tema yang mirip, yaitu Atheis karya Achdiat K. Mihardja dan Kani Kosen karya Kobayashi Takiji. Kedua novel ini sama-sama dipengaruhi oleh ideologi Marxis tetapi dengan kadar dan pesan yang berbeda. Menariknya, menurut saya novel Atheis jauh lebih pintar dalam menyampaikan pesannya, sedangkan Kani Kosen lebih gamblang dan jelas dalam menceritakan apa yang ingin disampaikan oleh penulis.

Pada novel Kani Kosen, jelas yang ingin diangkat penulis ke perhatian pembaca adalah adanya ketidakadilan antara kaum buruh dan pabrik. Cerita kesenjangan kelas, penindasan pemilik modal (pabrik) kepada buruh-buruhnya, yang pada akhirnya membuat para buruh melakukan revolusi dan berusaha mengambil alih kapal. Novel ini tidak terlalu panjang, tetapi entah kenapa terasa panjang. Mungkin karena dari awal hingga akhir banyak sekali diceritakan ketidakadilan terhadap para pekerja di kapal yang membuat saya terus bertanya-tanya kapan mereka akhirnya akan berontak. Kelebihan dari novel ini tentu saja dari caranya membuat pembaca ikut panas, geram, dan muak kepada perlakuan pihak pabrik kepada para buruh. Kobayashi mampu membangun solidaritas antara yang tertindas dan pembaca, saya cukup terkesan. Sayangnya, di dalam novel karakter dari tokoh-tokoh protagonis tidak ditonjolkan. Kalau di dalam Atheis kita punya tokoh utama, Hasan, yang mudah terbawa arus dan plin-plan, Rusli yang penuh kharisma dan wibawa serta pandai, atau Anwar yang mata keranjang dan free spirited, di dalam Kani Kosen kita hanya diberikan Mandor mewakili pabrik yang serakah, atau sang penindas, dan para buruh yang miskin, yang ditindas. Walau sempat muncul beberapa nama di kalangan buruh, impresi yang diberikan tidak tertinggal lama dibenak saya.     

Hal yang paling menarik di dalam novel ini bagi saya adalah keberadaan tokoh mandor sebagai antagonis. Mandor, mewakili pabrik, kerjanya hanya memarahi dan menghukum buruh, tidur, makan, bahkan minum enak-enakan, sedangkan para buruh berjuang menahan sakit di badan dan dinginnya laut Kamchatka. Mengapa tokoh Mandor menarik bagi saya? Karena Mandor sendiri bukanlah pemilik modal. Ia hanyalah pengawas dari perusahaan, yang berarti ia digaji juga oleh para pemilik modal. Ini membuat Mandor sebagai middle class; kelas yang menjadi perdebatan tentang kedudukannya dalam dua kelas yang telah dibagi oleh Marx. Secara teori seharusnya benar, Mandor adalah middle class, dan dilihat dari bagaimana Kobayashi Takiji menggambarkan karakternya, bisa dilihat juga bagaimana simpati Kobayashi terhadap kelas ini. Mungkin ada yang berpendapat “mungkin Mandor hanyalah perwujudan dari pabrik” dan saya setuju, memang sangat mungkin, dan kalau memang begitu, tokoh nahkoda dapat kita kategorikan sebagai middle class-nya! Maka gambaran simpati Kobayashi terhadap middle class benar-benar berubah. Bagaimana pun, bagi saya, keberadaan mandor yang sangat dominan di dalam novel sangat menarik hati saya. Entahlah, sampai akhir, saya merasa hanya mandor lah karakter yang memberikan bekas mendalam di antara karakter yang lain.

Atheis, berbeda dengan Kani Kosen, menarik karena karakter berbagai macam tokoh yang membantu tokoh utamanya, Hasan, untuk berubah. Hasan itu seperti anak ayam yang kehilangan induknya, dari awal ia tidak punya pendirian yang kuat dan hanya mengekor orang-orang di sekitarnya. Walau begitu, karakter Hasan sangat relatable dan memberikan tamparan bagi saya (dan mungkin orang lain yang membaca novel ini). Secara pribadi saya tidak suka dengan Hasan, di sisi lain saya sering merasa pernah berada di posisinya. Selain itu, walau saya tidak menyukai sikapnya yang setengah-setengah dan pengecut itu, saya juga mau tidak mau mengerti bagaimana perasaannya. Hasan merupakan karakter yang hidup bagi saya, ia tidak terasa seperti karakter fiksi yang 100% sesuatu; ia tidak jahat, tidak baik, tidak agamis, tidak atheis, tidak marxis. Ia merasakan perasaan takut, mengalami banyak konflik batin, dan sampai akhir pun masih mengalami banyak konflik itu. Saya merasa walau ia tidak pernah benar-benar menyelesaikan konflik batinnya dan pada akhirnya saya terus bertanya-tanya “jadi kau ini apa?” tentang Hasan, sisi itulah yang membuat Hasan lebih manusia bagi saya.

Hal yang saya suka dari novel ini adalah banyaknya sudut pandang dan interpretasi yang dapat diambil dari ceritanya. Dari sudut pandang saya, novel ini sepertinya sedang memandang sinis praktik keagamaan yang dilakukan oleh keluarga Hasan dan keberadaan Tuhan dalam hidup Hasan pada akhirnya. Namun, penulisnya juga sedang mengkritik Anwar yang penuh kontra diksi. Salah satu yang saya sangat tidak suka dari Anwar adalah cara dia memperlakukan “jongos” (pelayan) tapi terus mengkritik kaum borjuis. Tokoh yang tidak disoroti dengan cara pandang yang sinis oleh penulis, menurut saya, adalah Rusli dan tokoh yang merupakan narator novel (novel ini merupakan cerita di dalam cerita). Rusli merupakan karakter yang cukup bijaksana, walau ia memiliki pendiriannya sendiri, ia tidak pernah memaksakan pendiriannya ini kepada Hasan saat Hasan masih sangat agamis (berbeda dengan Anwar), sedangkan narator novel, tidak banyak yang diketahui dari tokoh ini, ia hanya sekedar menyampaikan kisah hidup Hasan nampaknya. Anehnya saya tidak banyak punya pendapat tentang tokoh Kartini. Saya rasa Kartini kurang kuat keberadaannya walau kisah hidup Hasan berputar di sekeliling wanita ini.

Bila ditanya novel mana yang lebih saya suka, secara pribadi saya akan menjawab Atheis. Mungkin karena Kani Kosen adalah novel terjemahan, dari segi penyampaiannya, Atheis lebih enak dibaca. Novel terjemahan cukup tricky, karena karya literatur juga harus dinikmati dengan bahasanya, tidak hanya cerita dan pesannya. Namun, saya tetap merekomendasikan kedua novelnya untuk orang-orang yang tertarik dengan Marxisme, saya tidak merekomendasikan keduanya kepada orang-orang yang suka membaca cerita romantis atau mementingkan gaya bahasa (terutama Kani Kosen). Saya ingatkan sekali lagi, semua yang saya tulis sepenuhnya adalah opini saya, dan saya menulis ulasan buku ini karena saya tidak ingin melupakan pendapat saya tentang keduanya nanti; saya perlu menuliskannya.

Thursday, July 21, 2016

Gerimis Pergi

(( Akibat dengerin theme songnya Tifa :( ))

Bagaimana caranya mengalahkan orang yang sudah mati?

Aku termenung duduk memandangi kafe yang sepi pengunjung. Piano kecil di sudut kafe terlihat kesepian, tempat duduk dan meja tersusun rapi, aku masih termangu di belakang meja panjang bar, berharap pintu kafe dibuka dan orang itu akhirnya pulang.

Sudah dua tahun semenjak Gerimis meninggal, orang itu juga sudah dua tahun tidak pulang ke kampung halaman. Ia pergi ke kota, mencari kesibukkan dan lari dari bayang-bayang yang terus mengejarnya. Bagaimana caranya bisa menang dari cinta yang bahkan tidak pernah benar-benar terucap? Yang begitu besar dan dalam, hampir bersambut, tapi tiba-tiba terputus begitu saja.

Aku menghela nafas. Di luar rintik hujan perlahan membasahi tanah kemarau yang kering dan kehausan. Gerimis... Aku menatap kalender, tidak terasa sudah tanggal segini. Sudah dua tahun. Karena tidak ada pelanggan aku memutuskan untuk mengelap piring dan cangkir yang sebenarnya tidak perlu dilap lagi. Hari ini seharusnya ia pulang. Aku menatap keluar jendela.

Gerimis. Gerimis yang cantik dan senyumnya lembut. Yang suka memakai baju terusan dan rambutnya dikuncir kuda dengan pita yang lucu. Gerimis yang matanya cokelat muda, besar, dan berbinar. Gerimis yang tangannya halus dan bibirnya mungil. Gerimis yang kalau tertawa selalu menutup mulutnya. Gerimis yang baik hati dan tidak bisa dibenci oleh siapapun.

Tiba-tiba telpon berdering memecah lamunanku. Dengan segera aku meletakkan piring yang sedang aku lap dan mengangkatnya. Aku bertanya siapa yang menelpon, sekedar basa-basi, aku tahu siapa yang menelpon.

Oh, kau pulang juga tahun ini?

...Iya, aku yang bersihkan.

Tidak usah berterima kasih, aku melakukannya karena aku ingin.

Tidak mampir dulu? Kafeku lagi sepi, nanti aku kasih diskon.

Aah, gitu. Kabari aku, sudah berteman dari bocah masa kau cuma telpon setiap-

....

Maaf.

Iya. Aku mengerti. Jangan lupa jaga kesehatan.

....

Klik.

....

Gerimis di luar mulai berhenti, membuat hatiku semakin gundah. Gerimis kenapa harus pergi secepat itu? Kenapa tidak selesaikan dulu urusanmu, cintamu. Kenapa kau tinggalkan tanah kemarau yang haus, kenapa kau tinggalkan dia yang sedang mencinta, aku yang selalu mencinta. Aku tertawa kecil sedikit. Atau aku menangis?

Kleng kleng kleng

“Ah, kafenya buka kan mbak?”

Aku mengusap wajahku dan membalikkan badan, “iya!” Aku mengambil daftar menu dan segera memberikannya kepada tamu yang tampaknya agak kebasahan. “Ah, saya ambilkan handuk kecil sebentar,” aku cepat-cepat mencari handuk kecil yang bersih di lemari dekat dapur, setelah menemukannya aku memberikannya kepada tamu yang sedang asyik melihat-lihat daftar menu. “Ah, terima kasih!”

“Gerimis, ya?” Tanyaku basa-basi.

“Iya, sudah lama tidak gerimis.”

“Senang, ya, akhirnya gerimis.”

Ia mendengus.

“Anda tidak suka gerimis?”

“Aku benci gerimis.”

“Kenapa?”

“Entahlah, gerimis itu bukan hujan, jadi aku merasa sepertinya aman kalau jalan saja waktu gerimis, tapi akhirnya aku basah juga.”

Aku tertawa. Sang tamu terkejut.

“Ah, memangnya lucu?”

“Maaf, jawaban Anda sungguh sederhana, tapi benar juga.”

“Suka gerimis?”

Aku memandangnya lama.

“Suka gerimis?” Tanyanya lagi.

Aku menelan ludahku.

“Mbak?”

“...Aku harap gerimis tidak pergi terlalu cepat. Kemarau.”

Sekarang giliran sang tamu yang tertawa. “Jawaban mbak yang malah lucu, itu berarti mbak suka gerimis?”

Aku diam. 

Thursday, July 7, 2016

Selamat Lebaran dari Dusun Baru!

Ada sebuah dusun kecil di mana orang-orang tertinggal dari seluruh dunia karena dusun itu tidak terjangkau media tetapi media menjangkaunya. Namanya Dusun Baru. Di situ tinggal berbagai macam orang yang menonton ibukota dari televisi dan mendengar kota kecil enam jam dari dusun mereka dari cerita orang-orang perantau saat lebaran tiba.

Di televisi katanya harga sembako murah tetapi di pasar tidak jauh dari rumah mereka harga semuanya serba mahal. Di televisi seorang pemerkosa anak ditangkap tetapi tersebar kabar salah seorang penduduk di sana anak kecilnya diperkosa dan karena malu malah pindah ke dusun sebelah, tidak melaporkan apa-apa. Di televisi anak-anak artis masuk perguruan tinggi negri, alangkah pintarnya! Tapi anak mereka dimintai uang enam juta rupiah untuk mendaftar seleksi masuk perguruan tinggi gelombang pertama yang di website resminya katanya gratis.

Di Dusun Baru, seorang anak sakit panas tinggi pada hari lebaran. Ibunya berkeliling mencari obat, tidak ada yang buka. Puskesmasnya tidak ada juga yang jaga. Di Dusun Baru, jalan masuk ke dusun tidak diaspal, anak-anak kecil menghirup debu yang berterbangan karena mobil dan motor melintas dan menebar debu di jalan tanpa aspal.

Di Dusun Baru, air ledengnya berwarna hitam keruh, agak berminyak.

Di Dusun Baru, seorang anak lahir di sebuah keluarga miskin, lalu dijual oleh bapaknya seharga tiga juta rupiah untuk beli motor baru buat lebaran.

Di Dusun Baru, tidak ada yang tahu televisi itu nyata atau tidak. Di Dusun Baru hidup kota adalah surga. Di Dusun Baru, yang tidak pernah bapak ibu pejabat maha sibuk yang lagi bersiap open house pikirkan lebaran ini, entah berapa manusia yang haknya tidak diberikan.

Bapak Ibu, lihatlah Dusun Baru yang ditutupi berhektar sawit, yang banyak jalannya tak beraspal, yang entah berapa anak yang masa depannya direnggut keterbatasan materi. Berharaplah mereka memaafkan beribu dosa atas janji yang kau ingkari, uang yang seharusnya tidak kau tilap sendiri. Semoga Tuhan sebaik itu untuk mengampunimu. Selamat hari raya idul fitri 1437 H.


(Sudah 1437 H saja, sudah 2016, tapi Dusun Baru masih seperti lebaran-lebaran dulu saja, seperti tahun-tahun dulu saja)

Sunday, June 26, 2016

Aku Adalah Hantu

“Aku adalah hantu. Aku hidup dan bernafas di dunia ini tanpa tujuan. Hanya melayang dan mengikuti jalan setapak yang sanggup aku lalui. Aku tidak melewati jalan yang terlalu curam atau jalan yang paling singkat,  jalan yang biasa saja, yang biasa dilewati oleh hantu lainnya.

Aku punya sepasang bola mata yang melihat dan sebuah mulut yang tidak ada gunanya. Kedua tanganku sulit memulai sesuatu, tapi cukup cakap dalam mengambil remah-remah yang ditinggalkan manusia. Kakiku, tentu saja, tidak menapak tanah, tapi tidak cukup jauh untuk terbang.


Aku adalah hantu yang menyukai kesendirian.” 

-Aku, Nurul Eka Putri, tiga tahun yang lalu.

Seorang Pelacur Bernama Aisyah

Aisyah mengerang seksi, seolah ia benar-benar merasa nikmat di alat kelaminnya, biar laki-laki gendut yang sedang menggoyang pinggul di atas tubuhnya ini cepat selesai. Tidak mengerti dirinya kepada ego laki-laki tua yang tidak mau keluar duluan itu, seolah bentuknya yang menjijikkan bisa membuat orang lain birahi. Lelaki botak, gendut, giginya kuning jelek, nafasnya bau; bukankah mereka membayar pelacur murah seperti dirinya karena tidak ada perempuan elok yang mau berhubungan seks dengan manusia seperti kerbau kecuali pelacur murah?

Genjotan lelaki itu makin kuat, makin kasar. Ia memejamkan matanya, Aisyah segera menangkap bahwa lelaki itu sudah mau orgasme.“Di luar, bang! Di luar!” Lelaki itu hanya melenguh, tidak mengindahkan Aisyah. Aisyah mengernyit, berani-beraninya babi tua ini keluar di dalam! Pikirnya. Lelaki itu mengeluarkan penisnya lalu berguling, nafasnya masih sengal, perutnya yang buncit dan ditumbuhi rambut-rambut tipis naik turun. Seperti tak berdosa ia tersenyum puas.

Aisyah segera berlari ke kamar mandi, mau membersihkan sperma di dalam rahimnya. “Anjing! Brengsek botak sialan!” Gerutunya sambil membasuh vaginanya. Begitu selesai, ia keluar, sang lelaki sedang memakai celananya. “Bang, keluar di dalam biayanya beda, ya, sama keluar di luar,” ia berkata tajam, berusaha menahan umpatan yang sudah berada di tenggorokannya.

“Ah, masa pelit sekali kau dengan langganan lama,” cengir lelaki itu. “Kalau abang tidak mau bayar, abang bisa aku adu ke mami. Keluar di dalam bisa buat aku hamil, kalau aku hamil uang aborsinya dari siapa? Dari mami?” Mendengar hal itu sang lelaki takut juga. Germonya Aisyah bukan orang sembarangan. Dia berpengaruh, preman lama. Takut tidak selamat ia akhirnya mengeluarkan uang dari dompetnya dengan terburu-buru.

“Kau bilang aku boleh tidak pakai kondom tanpa biaya tambahan kalau aku mau memilihmu malam ini,” si lelaki berkata kesal. “Aku bilang tidak pakai kondom bukan keluar di dalam, nggak ngerti spermamu itu kalau ketemu telur di rahimku bisa jadi anak?” Aisyah berkata pedas. Sang lelaki menyerahkan uang simpanannya dengan hati berat. Ah, itu uang untuk dibawa ke rumah hari ini, istrinya pasti ngomel malam ini pun tidak ada uang yang bisa ia beri untuk dapur.

“Pecun!”

Kesal, si lelaki yang masih bertelanjang dada mengambil kemejanya dan segera keluar dari kamar hotel murah itu.

Aisyah hanya tertawa geli. “Lah, aku memang pecun, goblok.”

-

“Hina sekali dia, masih dia pakai nama Aisyah ketika melacur.”

Aisyah hanya senyum-senyum saja mendengar bisikan tetangganya itu. Bukan kali pertama ia dicaci. Sudah tidak mempan. Memangnya kenapa kalau namanya Aisyah? Mereka kira berapa Muhammad yang sudah jadi pelanggannya? Minta diteriakkan namanya? Halah, yang suci itu nabi beserta istrinya, dia dan beribu Muhammad dan Aisyah lain di dunia ini semuanya pendosa. Aisyah masuk lalu mengunci pintu rumahnya, karena ini lingkungan preman, ia tidak mau ambil resiko.

Ia melepaskan sepatu haknya yang berwarna merah mentereng dan menaruhnya sembarangan, tasnya juga ia lempar saja ke sudut ruangan. Ia mengambil remote televisi dan menyalakan televisi usang yang gambarnya tidak hd. Ia membanting tubuhnya ke sofa, meletakkan kakinya di atas meja tamu, dan mengambil minuman bersoda dari bawah sofa. Bunyi psssh keluar dari kaleng minuman bersoda yang dibuka, ia meneguknya lalu mengelap sisa-sisa air soda yang mengalir keluar mulutnya. “Ah, sial,” katanya ketika ingat ia belum membersihkan bibirnya dari lipstik merah murah yang sekarang belepoton di wajah dan punggung tangannya.

Entah kenapa apes sekali dia hari ini, pikirnya. Ia meletakkan kaleng minuman bersoda di lantai lalu meregangkan tubuhnya. Kakinya mengangkang, baju terusan ketat yang ia gunakan naik ke pangkal paha, memperlihatkan celana dalam berwarna ungu. Ia memandang langit-langit, lalu memejamkan mata.

Capek sekali dia.

-

Malam itu tempat pelacuran mereka sepi pelanggan. Aisyah merapatkan kain berwarna kuning terang yang ia bawa malam ini ke tubuhnya, selain sepi malam itu juga dingin. “Ah, sial,” gerutunya sambil duduk di tepi jalan, rok mininya membuat angin malam menyentuh kulit Aisyah seenaknya. Ia menatap sepatu haknya yang mekilap-kilap di kegelapan. “Rokokku habis lagi,” ia menyandarkan dagunya ke lututnya.

Tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti di depannya. Aisyah segera berdiri, bersiap menyambut siapa pun yang ada di dalam mobil itu. Walau sopir tua jelek juga dia ladeni, malam sepi begini ia tidak bisa memilih-milih pelanggan.

Pintu mobil dibuka, seorang lelaki kira-kira umur 45-50 tahunan duduk di belakang stir. Tubuhnya tidak buncit, tinggi, cukup tegap untuk seorang bapak-bapak, rambutnya disisir rapi dengan sedikit gel rambut, terlihat garis-garis ketampanan bekas mudanya dulu. Ia mengenakan kacamata berpinggiran besi berwarna putih berbentuk persegi panjang. Lelaki itu tersenyum lalu menggerakkan kepalanya, mengisyaratkan Aisyah untuk naik ke mobilnya.

Tanpa pikir panjang Aisyah segera masuk dan menutup pintu mobil. Sang lelaki hanya menatapnya, Aisyah bingung. Apa dia mau di sini? “Maaf, om, kalau di sini kita tidak bisa,” sebelum selesai kata-katanya lelaki itu menunjuk sabuk pengaman yang ia kenakan. Wajah Aisyah memerah, ia segera mencari-cari sabuk pengaman dan memasangnya dengan terburu-buru. Lelaki itu, dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya, mengangguk puas. Kemudian, ia mengalihkan pandangannya ke depan, menggerakkan mobil mewahnya.

Aisyah melirik lelaki itu sesekali. Kalau melihat jam tangannya, lelaki ini pastilah bukan supir. Bajunya kemeja rapi dan ikat pinggangnya terlihat mahal. Kuku-kukunya bersih, tangannya terlihat halus. Kulitnya kuning langsat. Walau sudah dihiasi kerutan di sana-sini, tetapi ia tidak terlihat ringkih. Senyumnya lembut, tetapi postur tubuhnya memancarkan kharisma.

Aisyah melihat dirinya sendiri, tank top ketat berwarna pink terang, rok mini ketat, kain kuning tipis, sepatu hak tinggi, kuku-kuku yang diwarnai kutek murah. Dibanding lelaki ini terlihat sekali kalau dia pecun murahan. Kenapa ia mau-mau saja pakai dirinya? Pikir Aisyah. Jelas sekali ia bisa main dengan pelacur yang lebih mahal, yang nongkrongnya di bar-bar hotel bintang lima. Wajah Aisyah bahkan tidak cantik-cantik amat, hidungnya tidak mancung, tubuhnya tidak tinggi semampai, kulit wajahnya tidak bersih karena sering mengenakan make up murah, buah dadanya tidak juga besar. Aisyah jadi curiga, jangan-jangan dia bukan mau dipakai tapi mau dibunuh?

Tiba-tiba lelaki itu tertawa kecil, “kamu tegang sekali, tenang saja, saya bukan pembunuh atau semacamnya. Santai saja,” katanya ramah. Pipi Aisyah merah lagi. Suara lelaki itu berat, tetapi dipenuhi kehangatan, seperti mereka sudah saling kenal; akrab. Aisyah melemaskan punggungnya dan bersender ke tempat duduk mobil yang terlihat baru itu.

Rasanya aneh. Perutnya melilit dan jantungnya berdebar. Rasanya ia malu. Rasanya seperti sedang dijatuhkan dari tempat tinggi. Aisyah menggenggam kainnya erat.

-

Begitu pintu kamar dibuka, Aisyah rasanya tidak bisa menutup mulutnya. Benar saja hotel ini hotel mewah bintang lima, kamar itu sangat luas, sangat bersih, sangat mewah. Tidak pernah Aisyah melihat kamar seperti ini, membayangkannya saja tidak pernah. “Ayo, masuk,” lelaki tadi masih memegang knop pintu. Aisyah dengan kikuk segera masuk. Pintu ditutup pelan. Aisyah berdiri di tengah ruangan, tidak tahu mau duduk di mana.

“Kamu mau makan? Minum? Lapar kan?” Lelaki itu meletakkan tas dan kunci mobilnya di atas meja di samping pintu kaca beranda. “Mau makan apa?” Lelaki itu bertanya lagi sambil mengambil gagang telpon kamar. “Ah, tidak usah om, aku tidak lapar,” lelaki itu hanya tersenyum saja. Ia menekan satu tombol, lalu diam sebentar.

“Halo, iya, saya dari kamar 501. Saya mau pesan nasi goreng spesial satu dan soto ayam satu. Minumnya espresso dan teh hangat. Tidak usah, jasmine tea saja, tapi pakai gula. Anak saya tidak suka teh yang macam-macam,” setelah berkata seperti itu ia tertawa riang. Ia kemudian melirik ke arah Aisyah, menjauhkan gagang telpon sambil menutup bagian bawah gagang, “apa kamu ingin tambahan?” Tanyanya. Aisyah terdiam, tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

“Ah, puding! Halo, saya pesan puding juga. Ah, puding karamel biasa, iya, baik.” Setelah itu ia meletakkan gagang telpon kembali. Lelaki itu menatap Aisyah dengan penuh senyum lagi, “mandilah dulu, biar agak nyaman. Susah kan tidur dengan make up, tidak baik untuk kulit juga.” Aisyah awalnya ingin menolak, tapi mungkin lelaki ini tidak mau menyentuhnya karena ia terlihat kotor? Pipinya memerah lagi, tiba-tiba ia merasa sangat malu dengan tubuhnya. Aisyah mengangguk dan dengan kikuk pergi ke kamar mandi.

Kamar mandinya sangat besar, dan seperti kamarnya, juga sangat mewah. Aisyah tidak tahu harus mulai dari mana. Lama ia hanya memandang kamar mandi yang lantainya jauh lebih bersih dari lantai kamar tidurnya. Tiba-tiba ia tersadar ia sedang di mana, ‘bodoh, kau sedang bekerja Aisyah. Ini pelanggan bagus! Jangan disia-siakan!’ Aisyah segera menanggalkan bajunya. Di depan kaca yang besar kamar mandi ia menatap bayangannya.

Ayo, Aisyah. Kamu pecun profesional!

 -

Begitu keluar dari kamar mandi Aisyah sebenarnya agak malu, ini pertama kalinya ia menunjukkan wajahnya tanpa make up kepada pelanggannya. Wajahnya tidak cantik, kulitnya juga tidak mulus, tapi dibanding pelacur murah lainnya yang nongkrong di jalan, Aisyah cukup manis dan menarik. Hidungnya memang tidak mancung, tapi kecil elok menghias wajahnya. Matanya pas, tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil. Bibirnya juga pas, walaupun bibir bagian atasnya agak lebih besar dari bagian bawah dan warnanya tidak merah menggoda. Kulitnya tidak putih seperti bule atau orang kaya yang tidak pernah keluar rumah, tapi langsat—agak gelap. Rambutnya panjang agak bergelombang, warnanya hitam, tetapi tidak hitam pekat, terlihat warnanya agak coklat karena sering dijilat matahari dulu. Ia tidak mengenakan pakaian murahnya yang ketat sekarang tetapi kimono handuk putih yang sangat nyaman.

Di kamar, lelaki tadi sedang menonton televisi, siaran anak kecil, sambil minum kopi. Makanan yang dipesan telah terhidang, menggiurkan, di atas meja kecil dekat beranda. Begitu menyadari Aisyah telah keluar dari kamar mandi lelaki itu menatapnya, raut wajahnya berubah rindu, sendu. “Makanannya sudah datang, papa sudah kenyang, kamu saja yang makan.”

Begitu lelaki itu berkata seperti itu ia sepertinya terkejut dengan apa yang ia katakan sendiri. “Ah, maaf, maksudnya saya...” Aisyah menatap lelaki yang dengan gugup sedang meminum kopinya itu. ‘Ah, mungkin dia suka permainan seperti itu?’ Aisyah mendekat lalu menyentuh bahu lelaki itu mesra, “tidak apa-apa,kok, tidak perlu minta maaf... papa.” Katanya agak manja.

Lelaki itu segera mematung. Bahunya tegang, matanya terbelalak, nafasnya seperti terhenti. ‘Apa dia sudah sangek? Jangan-jangan sudah keluar?’ Aisyah bertanya-tanya dalam hati. Mereka diam beberapa saat. Ketika Aisyah hendak ingin bertanya apakah lelaki itu baik-baik saja, ia menyadari bahu laki-laki begoyang pelan, naik turun.

Aisyah awalnya mengira ia sedang tertawa, ia melangkah mundur. Setelah agak jauh, ia melihat wajah lelaki itu baik-baik, terlihat pipi lelaki itu sudah sangat basah dengan air mata. Wajahnya merah, mengerucut, ia sesenggukan, air matanya tidak mau berhenti. Makin lama terdengar jelas bunyi “huu... huu...” yang sangat menyedihkan.

Lama sekali rasanya Aisyah hanya memandangi lelaki itu menangis. Ia menangis sejadi-jadinya. Seperti ada yang mati. Sepertinya sedih sekali. Makin lama suaranya makin besar, air matanya makin deras. Lelaki itu berusaha menghapus air matanya, kacamatanya naik ke atas karena tangannya berusaha mengucek matanya. Aisyah terduduk di tempat tidur, matanya tidak bisa lepas dari pemandangan itu.

Tidak pernah ia melihat ada orang yang menangis seperti itu. Apakah yang ia tangisi? Siapakah yang ia tangisi? Aisyah penasaran. Aisyah ingin menghiburnya. Ingin membuatnya berhenti bersedih. Tapi pada waktu yang sama ia merasa puas melihat air mata itu, ekspresi wajah yang sangat tulus itu. Seolah ia sedang mengintip hati seseorang yang paling dalam.

Jantung Aisyah berdegup kencang. Ia menyentuh dadanya, apa ini cinta?

-

Setelah lelaki itu mulai reda tangisnya, hanya terdengar sesenggukan kecil, Aisyah segera menghampirinya, kemudian memeluknya sambil mengelus kepala lelaki itu. “Sssshhh, papa sudah nangisnya?” Aisyah menuntun lelaki itu ke tempat tidur. Mereka berdua jatuh di tempat tidur sambil berpelukan. Lelaki itu masih sesenggukan. “Ssssshhhh,” Aisyah lalu mencium kening lelaki itu sambil terus membelai kepalanya. Begitu ia diam, sesenggukannya hilang, Aisyah ingin memulai senggama mereka dengan mencium bibir sang lelaki. Tetapi ternyata sang lelaki tertidur, pulas seperti bayi. Aisyah hanya menghela nafas, agak kecewa, tetapi senang melihat wajah sang lelaki yang letih menangis. Ia menatap wajah itu agak lama sambil mengelus pipinya.

-

Hari sudah pagi, Aisyah bangun dengan kebingungan. Tubuhnya baik-baik saja, tidak sakit-sakit dan pegal seperti biasanya. Kasur tempat ia tidur juga sangat nyaman dan pakaian yang ia kenakan lembut membungkus dan melindunginya dari dinginnya pagi. Aisyah mengerang sedikit, meregangkan tubuhnya. Ia membuka matanya.

Langit-langit yang indah bersih dari sarang laba-laba dan lumut, cahaya matahari yang menembus tirai putih panjang, hawa sejuk dari air conditioner yang tidak berisik, bau makanan hangat. Jelas sekali ini bukanlah hotel murah tempat biasa ia tertidur habis bekerja atau kamarnya. Ia segera duduk dengan siaga. Oh!

Akhirnya Aisyah ingat kejadian semalam. Ia segera mencari-cari lelaki itu. Kemudian agak kecewa begitu sadar lelaki itu sudah pergi. Akan tetapi, ia menyadari keberadaan makanan di meja dekat beranda. Makanan semalam sudah diganti makanan baru yang lebih banyak macamnya. Ada nasi goreng, berbagai macam roti, sosis, telur orak-arik, selai, bubur, sup ayam, jus jeruk, susu, dan coklat hangat yang masih mengepul.

Perut Aisyah berbunyi, ia segera berdiri dan mendekati meja tempat makanan disajikan. Ia mengambil satu roti yang kelihatannya enak (dan masih hangat! Aisyah tidak tahu roti bisa dimakan saat masih hangat). Setelah menghabiskan satu roti, ia minum susu hangat dengan sedikit terburu-buru, lalu dengan garpu mengambil sosis yang sangat besar lalu melanjutkan makanannya. Ia memutuskan untuk menikmati waktunya di kamar hotel ini.

Setelah selesai makan, ia menghidupkan televisi. Ia mengutak-ngatik televisi dan tidak menemukan siaran yang bagus, kemudian memutuskan untuk mandi. Agak lama ia mandi, menikmati kamar mandi mahal beserta sabun dan sampo yang baunya seperti parfum. Selesai mandi ia membanting tubuhnya ke kasur yang empuk. Menatap langit-langit.

Ia menatap ke kanan dan menyadari sebuah amplop di atas meja kecil di samping tempat tidur. Ia segera bangun dan mengambil amplop itu. Di dalam amplop ada sebuah surat, kartu nama, kartu debit, dan sebuah kalung.

-

Selamat pagi.

Bagaimana tidurmu? Maafkan kelancangan saya yang tertidur bersamamu di tempat tidur semalam. Maklum, orang tua seperti saya sudah susah tidur larut. Saya lupa menanyakan namamu siapa, saya minta maaf. Kita tidak banyak berbincang semalam, saya merasa tidak enak dengan seenaknya menunjukkan sisi saya yang sangat emosional seperti itu. Kamar bisa digunakan sampai jam 12, bersantailah dulu. Saya juga telah memesan makan pagi karena semalam kamu tidak makan apa-apa. Saya ingin mengucapkan semua ini secara langsung, tetapi pagi ini saya harus pergi, ke tempat yang jauh, untuk berobat. Saya tidak tahu kapan akan kembali.

Saya tidak punya uang tunai, jadi saya tinggalkan saja kartu debit saya. Kode pin kartu debit itu adalah 171094. Saya kebetulan tahu sekolah kursus keterampilan yang bagus, alamatnya ada di kartu nama yang saya tinggalkan bersama surat ini. Kalau berminat, mainlah ke sana.

Saya juga meninggalkan kalung ini kepada kamu. Kalung milik anak saya yang sangat mirip denganmu. Kalau berkenan, jagalah kalung ini. Kalau kamu mau, buang juga tidak apa-apa.

Terima kasih sudah mau menemani orang tua ini semalaman. Terima kasih atas segalanya. Jagalah dirimu baik-baik. Saya harap suatu hari kita dapat bertemu lagi.

Lukman.

-

Aisyah menatap kalung salib itu sambil tertawa kering. Setitik air mata mengalir di pipinya.

“Namaku Aisyah dan aku seorang pelacur. Dia kira bisa kuapakan salib ini, goblok,” lirihnya.


Wednesday, June 15, 2016

"Apakah Tuhanmu Seorang Pembunuh?" Tanya Rasyid

“Kultum kita hari ini akan dibacakan oleh Rasyid! Ayo, nak Rasyid, sudah siapkan?”

Seorang anak laki-laki berpakaian baju koko putih rapi, lengkap dengan sarung yang agak kebesaran dan peci yang terus melorot dari kepalanya yang kecil naik ke atas panggung. Ia memegang secarik kertas yang sudah lusuh karena dilipat dan digenggam dengan tangan yang berkeringat sebelumnya. Ia menatap pak ustad yang mengangguk, memberikan semangat. Setelah berdiri di tengah panggung, stand mic tepat di depan hidungnya, ia mengambil nafas.

Ia berjinjit sedikit agar bibirnya bisa sejajar dengan mic.

Apakah Tuhanmu seorang pembunuh?

Apakah Tuhanmu membenarkanmu untuk meludahi satu sama lain?

Apakah Ia mengajarimu membenci dan memaki? Menggunakan peluru dan belati?

Apakah Tuhanmu seorang tiran yang menodongmu dengan ujung pistol,

memaksamu untuk menyembahNya?

Apakah Tuhanmu menciptakanmu dengan akal dan hati nurani,

untuk disia-siakan?

Apakah Tuhanmu tidak menyebar cinta?

Tidakkah Tuhanmu berkata untuk menjadi bijaksana?

Apakah Tuhanmu sama seperti manusia yang mendengki?

Apakah Tuhanmu tidak memberikanmu pilihan?

Apakah Tuhanmu begitu tidak berdaya,

Ia memerlukanmu untuk menjadi polisi agamaNya?

Apakah Tuhanmu sedang tertawa-tawa bangga melihat darah

yang mengalir begitu banyak,

membuat merah hati keluarga dan kerabat mayat-mayat yang mati tergeletak

teruntuk Tuhanmu itu?

Apakah Tuhanmu seorang pembunuh?”

Rasyid menatap penonton yang geram bercampur kesal, karena hatinya diungkap seperti itu. Berani-beraninya anak ini meragukan Tuhan! Mereka menunjuk-nunjuk. Segala barang dilempar ke atas panggung. Rasyid, melihat tingkah penontonnya yang marah-marah itu, justru malah lega dan tersenyum lebar. Ia melirik Pak Ustad yang memelototinya.


Rasyid kembali membaca catatan kultumnya, baris terakhir: “Karena Tuhanku tidak.” 

Penjara

(Seorang polisi dan lelaki berjas masuk ke panggung, polisi itu mempersilahkan lelaki berjas masuk dan mengangkat topinya dengan sopan lalu keluar dari panggung)

Koruptor : (merapikan dasinya,berjalan mengelilingi panggung lalu mengeluarkan sapu tangan dan mengelap keningnya yang tidak basah)

 (Tidak ada yang menanggapi koruptor)

Koruptor : (berdehem keras)

Koruptor : (berdehem lebih keras)

Koruptor : Tidak adakah yang mau menyambut tamu di sini?

Pencuri : Tamu? Dia pikir dia bisa pulang seenak perutnya kayak tamu?

(pembunuh, pencuri, dan bandar narkoba terkekeh)

Koruptor : Ap—

(Tiba-tiba terdengar bunyi kaleng kosong dipukul dengan kencang berkali-kali, semua tahanan dengan terburu-buru mengambil buku di bawah tikarnya masing-masing dan mulai membaca. Koruptor dengan bingung melihat sekeliling, penipu berdiri menghampiri koruptor)

Penipu : Selamat datang! Selamat datang kawan! Maafkan kelancangan mereka semua. Mereka orang-orang baik,tapi memang kurang bersahabat. Tidak menyambut tamu? Oh, sungguh tidak beretika. Bukankah begitu? Etika itu penting! Penting! Tanpa etika, bagaimana penjara ini bisa berjalan dengan baik? Orang-orang akan jarang bertamu dan, oh, sungguh penjara yang membosankan tanpa tamu!

Koruptor : (merapikan dasinya) Tentu saja, tanpa tamu sepertiku, penjara ini pasti lebih menyedihkan dari sekarang. Karena aku penting, karena aku mengenakan jas dan dasi. Benar, seharusnya aku diperlakukan lebih baik, tapi aku maafkan mereka, karena aku memiliki dada yang lapang. Jas dan dasiku tidak bisa menutupi dadaku yang lapang.

Penipu : Hahahahaha. Aku menyukaimu, tapi benarkah kau memaafkan mereka?

Koruptor : Tidak, tidak, aku sungguh mengerti. Mereka pasti tidak memiliki pemimpin sebaik diriku seperti masyarakatku di luar sana. Masyarakatku sungguh, apa tadi kau katakan? Oh, ya! Beretika! Masyarakatku penuh etika. Mereka menyambut tamu-tamu yang berdasi dengan baik.

Penipu : dan bila masyarakatmu menyambut tamu berdasi dengan baik, kenapa kau berada di sini kawan?

Koruptor : Dua minggu aku duduk di kursi depan rumah tetanggaku, aku tidak dianggap tamu lagi. Mungkin mereka tidak menyukai dasiku lagi atau jasku, entahlah.

Penipu : Kau pasti pemimpin yang baik bila memiliki masyarakat yang beretika, kawan.

Koruptor : (merapikan dasinya) Tentu saja. Tapi, walau aku memaafkan orang-orang ini, aku tidak suka laki-laki di pojok sana. Ia tidak pernah sekalipun menatapku semenjak aku masuk ke penjara ini.

Penipu : Orang itu? Oh, kawan, itu hanya si pembunuh. Dia itu baik sekali. Salah satu kawan favoritku! Tentu saja setelah kau! Karena kau memiliki dasi yang menawan.

Koruptor : (merapikan dasinya) Tentu saja.

Penipu : Jadi kau tidak usah khawatir tentang pemuda malang itu, kawan.

Koruptor : Tapi bagaimana dengan orang di sana itu? Dia melihat ke arahku, tapi tidak benar-benar melihat dasiku. Aku merasa dia berpikir bahwa ia orang yang lebih baik dariku.

Penipu : Itu hanya bandar narkoba, apalah yang dia bisa selain mengedarkan narkoba? Kau bukan pecandu bukan?

Koruptor : (berdeham dan merapikan dasinya) Tentu saja..... tidak.

Penipu : Kalau begitu kau tidak punya hal yang harus kau takuti kawan. Bandar narkoba bukan apa-apa dibanding orang seperti dirimu.

Koruptor : Tentu saja. Tapi bagaimana dengan orang yang berbicara denganku tadi. Aku tidak suka caranya berbicara denganku.

Penipu : Pencuri? Bisa apa pencuri? Pencuri maling ayam! Sedangkan kau kawanku? Kau punya dasi yang sangat menawan. Jangan terlalu dipikirkan.

Koruptor : Tentu sa.... (berhenti saat mau merapikan dasinya) .... apa kau dengar bunyi itu?

Penipu : Bunyi apa? Oh, maksudmu, bunyi tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik--

Koruptor : YA! Berhenti bertik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik ti—Aaaah! Kenapa aku melanjutkannya juga!?

Penipu :Karena bunyi itu terus bertik tik tik tik tik tik tik—

Koruptor : Aku mengerti! Berhenti! Bunyi apa itu!?

Penipu : Itu pengangguran.

Koruptor : Pengangguran?

(Bunyi kaleng dipukul kembali terdengar, pembunuh, pencuri, dan bandar narkoba menyimpan buku mereka kembali. Mereka berdiri lalu mulai mereganggakan badan dan berolahraga di tempat. Koruptor menatap mereka dengan bingung tapi penipu segeran mengalihkan perhatiannya)

Penipu : Dia di atas sana. Pengangguran sudah sangat lama berada di sini. Sangat sangat lama.

Koruptor : Kenapa dia bisa ada di sini?

Penipu : Tidak ada yang tahu, karena dia di sini sebelum kami ada di sini. Sangat sangat lama. Dia yang membuat peraturan di sini.

Koruptor : Apakah dia pemimpin di sini?

Penipu : Aku tidak tahu. Tapi dia sudah sangat sangat lama di sini.

Koruptor : Aku mengerti! Kau mengulang kata-kata itu sekitar empat atau lima kali. Aku tahu dia sudah sangat sangat lama di sini.

Penipu : Lebih baik kita tidak membicarakan pengangguran, karena dia sudah sangat sangat lama di sini.

Koruptor : Kau takut padanya?

Penipu : Aku tidak tahu.

Koruptor : Menggelikan! Takut kepada orang yang kerjanya membuat bunyi bising. Apa tidak ada yang bilang padanya bahwa bunyi itu sangat mengganggu? Dia ngapain di atas dengan bunyi itu?!

Penipu : Aku tidak tahu, tidak ada yang benar-benar tahu mengenai bunyi itu. Tapi semua orang di sini terbiasa dengannya, tidak ada yang terlalu memikirkan tentang itu.

Koruptor : Terbiasa? Terbiasa dengan itu? Ooh, tidak akan. Aku akan menghentikan bunyi berisik itu!

Penipu : Hahahahahaha bagaimana caranya kawan? Kau mau memanjat ke atas sana?

Koruptor : Memanjat? Apa kau tidak lihat jas dan dasiku? Aku akan berbicara dengannya.

Penipu : Dari bawah sini?

Koruptor : Aku tidak suka menengadah, tapi aku orang yang lapang dada.
(Koruptor mendekati tempat pengangguran)

Koruptor : Maaf, permisi, kau yang di sana! Aku rasa kau membuat bunyi yang sangat berisik. Aku adalah orang baru di sini dan aku tidak suka bunyi tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik—aaah! Maksudku, bunyi itu sangat keras dan mengganggu kenyamananku. Aku—

(Pencuri berhenti berolahraga dan melipat kedua tangannya di dada)

Pencuri : Kenyamanan? Ini penjara,bung! Bukan hotel!

Koruptor : Aku tidak berbicara denganmu!

Pembunuh : Diam kau! Dari tadi berceloteh ini itu! Berisik! Kau tidak lihat aku sedang pendinginan? Aku butuh ketenangan agar tubuhku dingin! (pembunuh berbicara sambil terus melakukan pendinginan sedangkan bandar narkoba duduk dan mengipas tubuhnya dengan kipas rotan)

Koruptor : Aku? Berisik? Kau bilang aku berisik dan orang gila di atas sana yang terus membuat bunyi tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik—AAAH! Cukup! Dengar, aku tidak  punya masalah apa-apa dengan kalian. Aku hanya mau bunyi sial itu berhenti. Bunyi itu menggangguku.

Pembunuh : Kau juga menggangguku! (pembunuh berhenti pendinginan)

Koruptor : Aku? AKU?! Kau bisa terbiasa dengan bunyi itu dan mengatakan aku mengganggu?! Dengar anak muda, kau tidak lihat dasiku? Kau tidak tahu siapa aku? Aku ini orang paling tinggi martabatnya di penjara ini! Aku kaya, dasiku menawan, aku tampan, dasiku menawan, aku berpendidikan tinggi, dasiku menawan, aku lulusan universitas paling bergengsi di negeri ini, dasiku menawan, aku terkenal, dasiku menawan, aku adalah koruptor! Dan dasiku menawan!

Pencuri : pfft..Hahahahahahahahahahahahaha, dengar saudara dasi menawan, kau sama saja denganku, kau maling juga!

Koruptor : Apa?! aku? Denganmu? Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak. Kau lihat jasku? Dasiku? Aku tidak mengendap-endap di malam hari mengambil televisi atau ayam tetangga, aku adalah tamu berdasi yang disambut baik oleh masyarakatku yang, apa tadi namanya? Oh! Beretika!

Pencuri : Lalu, kau mencuri kue lebaran mereka.

Koruptor : Dengar, mereka tahu aku mengambilnya dan tetap mengizinkan aku bertamu. Karena aku tamu berdasi. Mereka maklum dengan tamu berdasi dan telah berlapang dada membiarkan aku mengambilnya. Tapi aku rasa mereka tidak suka bila aku duduk terlalu lama karena tamu-tamu lain mengantri untuk disambut. Atau mereka sudah tidak suka lagi dengan dasiku, entahlah. Tapi, mereka adalah masyarakatku yang baik. Berbeda dengan tempat ini, apa tidak ada yang mengajari kalian tata krama di sini? Etika? Apa orang di atas itu tidak memberikan kalian pelajaran tentang apa yang seharusnya kalian lakukan dan tidak lakukan di penjara ini? Kalau aku pemimpin kalian, peraturan pertama, hormati tamu berdasi!

Pembunuh : Kami punya peraturan!

Pencuri : Kami punya peraturan!

Bandar narkoba : Kami punya peraturan!

Penipu : Kami punya peraturan!

Pembunuh : Peraturan pertama, tidak ada yang boleh berdiri di tempat pembunuh. Karena itu adalah wilayah pembunuh saja. Kecuali kau seorang pembunuh. Karena hanya pembunuh yang bisa membunuh, maka tidak ada yang boleh berdiri di tempat pembunuh. Tidak ada yang boleh berdiri di tempatku!

Pencuri, bandar narkoba, dan penipu : tidak ada yang boleh berdiri di tempatnya!

Pencuri : Peraturan kedua, semua hal di penjara ini adalah milik pencuri. Aku bisa mengambilnya kapan saja, karena semuanya adalah milikku. Tidak ada yang memiliki sesuatu mutlak untuk dirinya sendiri, karena aku bisa mengambilnya sekarang, besok, lusa, kapan saja, dan itu milikku lagi! Karena aku adalah pencuri! Semuanya adalah milikku!

Pembunuh, bandar narkoba, dan penipu : Semuanya adalah miliknya!

Bandar narkoba : Peraturan ketiga, tidak ada yang boleh minum dari gelasku. Karena siapa yang tahu apa yang kumasukkan ke dalam situ? Bisa yang putih, yang merah, yang kuning, yang bening, yang tajam, yang bau, yang tipis, bisa apa saja! Tidak ada yang boleh minum dari gelasku!

Pembunuh, pencuri, dan penipu : Tidak ada yang boleh minum dari gelasnya!

Penipu : Peraturan keempat, tidak boleh ada yang tahu siapa diriku. Karena aku bisa dipercaya dan kita adalah kawan. Semua orang butuh kawan.Tidak ada yang boleh tahu siapa aku!

Pembunuh : Kami punya peraturan!

Pencuri : Kami punya peraturan!

Bandar narkoba : Kami punya peraturan!

Penipu : Dan kau, kawan, sebaiknya menaati peraturan itu.

Koruptor : Aku tidak mengerti! Peraturan konyol macam apa itu? Kenapa kalian harus mengikuti peraturan konyol itu? Siapa yang membuat aturan macam itu?

Pembunuh : Yang di atas!

Pencuri : Yang mengetik!

Banda narkoba : Yang sudah sangat sangat lama di sini!

Penipu : Yang tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik

(pembunuh, pencuri, dan bandar narkoba ikut mengucapkan tik tik tik tik tik)

Koruptor : CUKUP!

(Pengangguran berhenti mengetik sejenak)

Penipu : dan tik tik!

Koruptor : Aku masih tidak mengerti, kenapa kalian harus mengikuti aturannya?

Pembunuh : Dia sudah sangat sangat lama di sini. Dia tahu yang terbaik.

Pencuri : Lagipula peraturan-peraturannya beralasan, dari pada menghormati tamu berdasi.

Bandar narkoba : Aturan itu dibuat untuk kebaikan penjara ini. Kau tidak mau membuat pengangguran marah.

Koruptor : Apa yang akan dia lakukan kalau aku membuatnya marah? Memasukkanku ke dalam penjara?

Pembunuh : Tidak ada.

Bandar narkoba : sebenarnya tidak ada yang tahu.

Pencuri : Tidak ada yang pernah melanggar aturan.

Penipu : Dia sudah sangat sangat lama di sini.

Koruptor : Omong kosong! Aku bisa memimpin lebih baik dari orang tidak ada kerjaan yang kerjanya membuat bunyi menganggu sepanjang hari! Kalian lihat dasiku?

(Pembunuh, pencuri, dan bandar narkoba saling bertatapan dan tertawa kencang)

Koruptor : Kenapa? Apa yang salah?

Pencuri : Kau gila!

Pembunuh : Mimpi!

Bandar narkoba : Anak baru belagu!

(Bunyi kaleng terdengar lagi, tiba-tiba pembunuh, pencuri, dan bandar narkoba menguap dan meregangkan badannya seolah baru saja melakukan pekerjaan berat)

Pembunuh : Aku lelah!

Pencuri : Aku ngantuk!

Bandar narkoba : Aku keduanya!

Pencuri : Kita anggap pembicaraan ini tidak pernah ada!

Pembunuh : Selamat malam!

(Pembunuh, pencuri, dan bandar narkoba  kembali ke tempatnya masing-masing)

Koruptor : Ini bohong!

Penipu : Tapi itu betul adanya.

Koruptor : Apa pula bunyi kaleng itu?!

Penipu : Itu jadwal kami.

Koruptor : Apa pengangguran itu juga yang membuat jadwal konyol itu?

Penipu : Setahuku tidak, tapi dia tidak melarang kami mengikutinya.

Koruptor : Aku pemimpin yang lebih baik dari orang gila itu!

Penipu : Tentu saja.

Koruptor : Tapi aku—tunggu, kau setuju denganku?

Penipu : 100%

Koruptor : Apa menurutmu aku sebaiknya menjadi pemimpin di sini?

Penipu : Kalau itu yang kau inginkan. Menurutku itu ide yang bagus.

Koruptor : (memperbaiki dasinya) Tentu saja, tapi... bagaimana?

Penipu : Legenda mengatakan... pengangguran akan berhenti kalau semua aturannya dilanggar.

Koruptor : Heh, apa susahnya melanggar aturan, toh kita berada di sini karena kita melanggar aturan.

Penipu : Kalau kau memang mampu, kenapa tidak langgar sekarang?

Koruptor : (memperbaiki dasinya) baik! Apa peraturan pertama tadi?

Penipu :  Tidak ada yang boleh berdiri di tempat pembunuh.

Koruptor : Gampang! Gampang! (memperbaiki dasinya) Lihat aku (mendekati pembunuh)
(pembunuh sadar ada yang mendekatinya)

Pembunuh : Apa yang kau lakukan di sini.

Koruptor :  (mendekat)

Pembunuh : (menghindar)

Koruptor : (mendekat)

Pembunuh : (menghindar)

Koruptor : (mendekat)

Pembunuh : Apa yang kau inginkan?! Berhenti!

Koruptor : Aku ingin berdiri di tempatmu.

Pembunuh : Berdiri di tempatku? Hahahahahahahahahahaha, yang bisa berdiri di tempat pembunuh hanya pembunuh! Kau kan tuan berdasi.

Koruptor : Logika macam apa itu? Aku bisa berdiri di tempatmu, siapapun bisa! Di mana tempat itu?

Pembunuh : Sudah kubilang hanya pembunuh yang bisa berdiri di tempatku. Hanya pembunuh yang bisa membunuh. Kau bukan pembunuh, kau tidak bisa berdiri di tempatku.

Koruptor : Aku bisa! Aku bisa membunuh! Siapa pun bisa membunuh!

Pembunuh : Kau tidak bisa.

Koruptor : Bukan hanya kau yang bisa membunuh!

Penipu : Sebenarnya, hanya pembunuh yang bisa membunuh.

Pencuri : Hanya dia yang bisa!

Bandar narkoba : kau tidak akan pernah bisa.

Koruptor : Aku bisa!

(suara tik tik mengeras)

Pembunuh : Kau hanya punya dasi!

Koruptor : Aku punya jas! Dan sepatu!

Pencuri : Kau tidak bisa!

Bandar narkoba : Kau tidak bisa!

Koruptor : Aku bisa!

Pembunuh : Kau bahkan tidak bisa memegang belati.

Pencuri : Kau tidak bisa!

Bandar narkoba : Kau tidak bisa!

Koruptor : Aku bisa!

Penipu : (menyelipkan belati ke tangan koruptor)

(Koruptor menatap belati di tangannya)

(Pencuri dan bandar narkoba terus berkata ‘tidak bisa’)

(Pembunuh mendekat sampai tepat di depan koruptor dengan tampang mengejek)

(Koruptor menusukkan belatinya ke pembunuh)

(Pengangguran berhenti mengetik, terdengar bunyi kertas yang dirobek dan diremuk, lalu dibuang ke bawah. Pengangguran terkekeh dan kembali mengetik)

Pencuri : Kau melakukannya!

Bandar narkoba : kau gila!

Koruptor : (mundur dari pembunuh)

Penipu : Kau berhasil! Kau sekarang berdiri di tempat pembunuh!

Koruptor : A-aku berhasil?

Penipu : Kau berhasil!

(Seorang laki-laki berpakaian polisi masuk, ia menggelengkan kepala, dan membawa pembunuh keluar panggung. tak lama kemudian ia masuk lagi dan menaikkan topinya)

Pencuri : Kau gila!

Bandar narkoba : Kau melakukannya!

Koruptor : (menatap tangannya) t-tentu saja! Hahahahahahahaha. (merapikan dasinya) tentu saja! Aku berhasil! Apa peraturan kedua?

Penipu : Peraturan kedua, semua hal yang ada di penjara ini adalah milik pencuri.

Koruptor : Tentu saja tidak! Dia tidak bisa memiliki dasiku!

Pencuri : Aku dengar itu! Dasi itu milikku! Semua hal di penjara ini adalah milikku. Aku hanya belum mengambilnya.

Koruptor : Dasi ini milikku!

Pencuri : Dasi itu milikku!

Koruptor : Jas ini milikku!

Pencuri : Bah, aku bisa mengambil jas itu kapan saja!

Koruptor : Kau tidak bisa mendapatkannya!

Pencuri : Hahahahahaha, peraturan kedua, semua hal di penjara ini milikku. Jangan karena kau melanggar peraturan pertama kau bisa melanggar peraturan berikutnya! Peraturan kedua adalah mutlak!

(Koruptor terdiam)

Pencuri : Bagaimana? Kau tidak bisa melanggar peraturan kedua bukan? Karena semua hal di penjara ini milikku. Aku hanya tidak mengambilnya sekarang.

Koruptor : Tapi sebenarnya tidak juga.

Pencuri : Kau hanya menggertak. Dasimu itu, jasmu itu, aku bisa mengambilnya kapan saja. Aku hanya tidak terlalu menginginkannya, karena itu aku tidak mengambilnya. Tapi semuanya adalah miliku! Milikku!

Koruptor : Tapi aku baru saja mengambil sesuatu.

Pencuri : Apa?

Koruptor : Kau tidak punya nyawa orang! Aku baru saja mengambil satu! Kau tidak memiliknya! Aku yang mencurinya! Itu bukan milikmu!

Pencuri : Itu.. itu milikku!

Koruptor : Itu bukan milikmu lagi, itu sudah hilang, kau tidak bisa mengambilnya.

Pencuri : Tidak!!

Koruptor : Tidak semua yang ada di tempat ini adalah milikmu. Kalau aku memutuskan untuk membunuh orang lain, kau tidak bisa melarangku, aku tidak harus minta izin kepadamu. Itu milikku.

Pencuri : (menunjuk koruptor) Kau gila! (menunjuk penipu) Kau bersekongkol dengannya! Kau juga gila! Kalian berdua gila! Walau itu bukan milikku.. Bukan! Itu milikku! Itu milikku! Aku pencuri! Itu milikku!

(Pengangguran berhenti mengetik dan terkekeh kecil. Terdengar bunyi kertas dirobek dan kertas diremuk. Kertas dibuang ke bawah, saat pengangguran berhenti mengetik, semua bergerak normal kecuali pencuri yang tetap diam)

(Seorang laki-laki berpakaian polisi masuk, ia menggelengkan kepala, dan membawa pencuri keluar panggung. Tak lama kemudian laki-laki berpakaian polisi itu masuk lagi ke panggung mengangkat topinya dan pergi)

Koruptor : A-aku berhasil! (memperbaiki dasinya) Tentu saja! Tentu saja!

Penipu : Kau berhasil!

Koruptor : (mengambil sapu tangan dari kantongnya dan mengelap keningnya yang bercucuran keringat)

Penipu : (mengambil jas koruptor) keberatan?

Koruptor : Tidak, tentu saja tidak. Sekarang.. apa tadi peraturan ketiga?

Penipu :  Tidak ada yang boleh minum dari gelas bandar narkoba.

(Koruptor dan penipu menatap bandar narkoba yang gemetar ketakutan)

(Bunyi kaleng terdengar lagi)

(Bandar narkoba berteriak histeris dan lari pontang panting)

(Koruptor menatap penipu, penipu menggelengkan kepalanya. Koruptor lalu mengambil gelas yang ditinggalkan bandar narkoba)

Koruptor : (mencium isi gelas) sepertinya tidak terlalu buruk (meminum isi gelas bandar narkoba)

(Pengangguran berhenti mengetik, terdengar bunyi kertas yang dirobek dan diremuk, lalu dibuang ke bawah. Pengangguran terkekeh dan kembali mengetik)

Penipu : Bagaimana rasanya?

Koruptor : (sempoyongan sebentar lalu menyadarkan dirinya) Aku merasa lebih segar! Minuman ini tidak jelek, aku rasa aku bisa mendaki sebuah gunung sekarang.

(Seorang laki-laki berpakaian polisi masuk dan mengangkat topinya lalu pergi)

(Ketika koruptor tidak melihat, penipu mengenakan jas yang ia ambil dari koruptor)

Koruptor : Jadi... apa peraturan keempat tadi kawan?

(Koruptor terdiam)

Koruptor : Kenapa kau mengenakan jasku?

Penipu : Bukankah kau memberikannya kepadaku?

Koruptor : Tidak, aku tidak pernah memberikanmu jasku.

Penipu : Tadi kau bilang kau tidak keberatan.

Koruptor : Yang aku tidak keberatan itu kau memegang jas itu sementara! Karena tempat ini panas!

Penipu : Terlambat, ini sudah jadi milikku.

Koruptor : Kau!

Penipu : Bukankah kita kawan, kawan. Masa kau tidak mau berbagi hanya sedikit saja.

Koruptor : Apa peraturan keempat!

Penipu : Membosankan kalau kau langsung tahu begitu saja.Ayo, ingat-ingat lagi.

Koruptor : Itu tentang kau!

Penipu : Ding dong! (berpura-pura memperbaiki dasi) tepat sekali

Koruptor : Kau—

(Tiba-tiba Koruptor seakan tersadar oleh sesuatu, ia mengamati penipu lalu mengelilinginya dengan tatapan tidak percaya)

Koruptor : Kau—

(Pengangguran berhenti mengetik, terdengar bunyi kertas yang dirobek dan diremuk, lalu dibuang ke bawah. Pengangguran terkekeh, saat ia kembali mengetik semua kembali normal kecuali penipu yang terdiam dengan sebuah senyum simpul)

Koruptor : Tapi dia, aku...

(Seorang laki-laki berpakaian polisi masuk, ia menggelengkan kepala, dan membawa penipu keluar panggung. Tak lama kemudian laki-laki berpakaian polisi itu masuk lagi ke panggung mengangkat topinya dan pergi)

Koruptor : Penipu licik itu menipuku mentah-mentah! Dasar sial! Dan aku mempercayai manusia tengil itu! Sungguh tidak bisa diterima! Dia pura-pura jadi kawanku, mengambil jasku, dan—

(Koruptor diam menatap kearah pengangguran)

Koruptor : Bunyi itu! Bunyi tik tik tik tik tik tik tik tik tik tik—Aaaah! Bunyi itu membuatku gila! Berhenti! Berhenti! Berhenti kataku! Aku sudah langgar semua aturanmu! Kau bisa apa? kau tidak bisa mengaturku! Penjara ini adalah milikku! Ayo turun! Kemari kau kalau berani!

(Bunyi mesin ketik tetap berjalan)

Koruptor : berhenti! Berhenti, berhenti, berhenti, berhenti, BERHENTI! (koruptor berjalan mondar mandir sambil mengacak rambutnya dan melepaskan dasinya dengan kasar lalu membuangnya ke lantai)

(Bunyi mesin ketik berhenti. Terdengar suara kertas dirobek dan diremuk. Kertas dibuang ke bawah)

(Seorang lelaki berpakaian polisi masuk dan membawa koruptor. Tak lama kemudian ia masuk lagi dan mengangakat topinya ke arah penonton)

(Pengangguran tertawa kecil)

(Terdengar bunyi ketik pelan)

(Bunyi kaleng terdengar samar)

Pengangguran : Selesai.


Selesai