Saturday, October 31, 2015

Tiga Kecelakaan di Jalan Depan Rumah Bu Asri

Pertama kali terjadi kecelakaan di jalan ini, aku sedang tiduran di bawah pohon mangga rumah pak Mamat, duda tua yang baru saja ditinggal istrinya tercinta. Siang itu sangat terik, pakaian-pakaian yang dijejerkan di depan rumah kering sebelum waktu Zuhur tiba. Karena panas, tidak ada satu manusia pun yang pergi keluar rumah. Bahkan bu Asri, tetangga depan rumah pak Mamat, yang selalu membuang air cucian beras di pot-pot tanaman depan rumahnya tepat sebelum azan, hingga jam segini tidak juga menunjukkan batang hidungnya.
            Aku sangat mengantuk siang itu sebab pak Mamat memberiku sepiring penuh makanan tadi pagi. Jarang sekali aku diberikan makanan sebanyak itu, bahkan ikannya masih utuh. Biasanya aku hanya diberi sisa nasi dengan ekstra tulang. Pak Mamat juga terlihat masih sedih karena bu Rositah, istrinya yang bersuara lantang, meninggal seminggu yang lalu. Mungkin ia memberiku makanan ekstra karena ia kesepian? Ia terus mengamatiku dengan seksama hingga aku menghabiskan makanan itu sambil berceloteh panjang (aku tidak terlalu mengerti celotehannya).
            Karena perut yang kenyang dan hari yang terik, aku hanya dapat berbaring malas di bawah bayangan pohon mangga sambil mengamati jalan yang sepi. Di seberang jalan, si kuning, kucing penguasa komplek yang suka berpatroli menjaga daerah kekuasaannya, sedang mengejar makan siangnya, seekor tikus kucil yang cukup sial terlihat oleh si kuning kali ini.
           Aku menguap malas melihat mereka bergerak ke sana kemari. Si tikus cukup lihai dalam menghindari si kuning, namun, kuning yang sudah lama berburu sendiri makanannya tidak semudah itu tertipu trik-trik sang tikus dalam mengecoh predatornya. Si tikus lari ke arah jalan, mungkin berusaha kabur dari selokan sebelah sini (selokan di seberang disemen oleh pak Amir karena bu Asri terus mengeluh karena selokannya bau).
            Aku ingat kejadian itu berlangsung sangat cepat. Rasanya baru saja kuning dan si tikus berkejaran, tiba-tiba kuning terpelanting di jalan sambil menggeliat hebat dan sebuah sepeda motor berhenti sebentar, pengendaranya yang masih bocah melihat ke arah si kuning yang masih berguling kesakitan sambil merintih lemah, kemudian melihat ke kiri dan ke kanan, lalu tancap gas meninggalkan  kuning yang gerakannya semakin lemah (tikus yang dikejar kuning tadi sudah menghilang entah ke mana).
-
            “Astaga pak! Kucing yang sering mondar-mandir di depan rumah kita mati!”
            “Haah? Kok, bisa?”
            “Kayaknya ketabrak motor atau mobil, yang nabrak lari lagi!”
            “Aduh, harus cepat dikubur, kasihan itu. Ibu ambil kain bersih sana, kita saja yang kubur.”
            “Iya, pak, tunggu aku ambilkan.”
            “Siapa, sih, yang menabrak kucing  terus lari, kayak anak kecil saja, tidak ada tanggung jawabnya sama sekali.”
-
            Kedua kalinya kecelakaan terjadi di jalan ini aku sedang menjilati tubuhku sambil berjemur di bawah sinar matahari sore. Kejadian ini terjadi tepat seminggu setelah si Kuning mati. Banyak kucing dari komplek sebelah yang datang karena ikut berduka. Bahkan si Codet, kucing yang sering bertengkar dengan Kuning datang melihat. Ia diam sebentar di depan kuburan Kuning yang ada di halaman rumah bu Asri, kemudian pulang dengan wajah yang sulit ditebak. Mungkin dia agak sedih kawan bertengkarnya tidak ada lagi. Bagaimana pun juga Kuning adalah hal terdekat yang Codet punya sebagai teman.
            Pak Mamat mengantarkan piring penuh makanan lalu mengelus kepalaku. Sudah seminggu ini makanan yang kudapatkan selalu berlimpah dan enak-enak. Pak Mamat juga sering mengelus kepala atau perutku sambil berceloteh panjang tentang sesuatu. Awalnya agak aneh juga, tapi karena pak Mamat bicaranya lembut aku lama-lama merasa itu tidak buruk juga. Terkadang aku ketiduran saat ia sedang asyik berceloteh.
            Setelah pak Mamat selesai mengelus kepalaku ia kembali masuk ke rumah (kali ini ia tidak menungguiku makan seperti biasanya) dan aku langsung melahap makanan di depanku. Terdengar suara bu Asri di seberang jalan sedang berdendang kecil sambil menyirami tanamannya. Angin berhembus pelan dan langit yang biru mulai berubah warna. Sungguh sore yang damai. Namun, tiba-tiba di tengah kedamaian itu suara mendengung yang mengesalkan terdengar. Suara itu semakin lama semakin mendekat dan semakin membuatku kesal. Aku berhenti makan untuk melihat siapa lagi manusia yang berulah dan mengacaukan soreku yang damai ini.
            Ketika aku mengangkat kepalaku, sebuah motor terpeleset dan meluncur jatuh di jalan, manusianya ikut terseret di aspal. Suara gesekan dan “gedubrak” besar terdengar, bu Asri menjerit histeris, suami bu Astri, pak Amir, keluar rumah dengan tergesa-gesa, pak Mamat serta tetangga-tetangga lainnya juga ikut keluar. Manusia yang terseret motor bersimbah darah itu mengingatkanku kepada Kuning minggu lalu. Bedanya Kuning menggelepar hebat hingga akhirnya diam tak bernyawa sedangkan manusia ini hanya merintih sakit saja. Manusia-manusia lain yang tadi hanya menonton segera bergegas mendekat dan berusaha menolongnya begitu mendengar rintihan itu.
            Aku diam melihat manusia itu digotong masuk ke teras rumah bu Asri, manusia yang lain meminggirkan sepeda motornya, semakin lama manusia semakin banyak berkumpul. Aku melanjutkan makanku yang terganggu sambil menyayangkan hilangnya kesempatan untuk menikmati sore hari yang damai.
-
            Tak lama kemudian, setelah aku selesai makan, sebuah mobil putih besar yang terus mengeluarkan suara keras datang. Aku ingat mobil itu adalah mobil yang menjemput bu Rositah dan tidak pernah mengantarkannya pulang lagi... Apa manusia itu meninggal juga?
-
            “Aku dengar anak yang jatuh di depan rumah kita itu belum sadarkan diri sampai sekarang.”
            “Tidak heran, kepalanya terbentur sangat keras bu. Anak itu tidak mengenakan helm soalnya.”
            “Aduh, kasihan sekali... Rasanya tidak percaya hal seperti itu terjadi di depan rumah kita, di depanku lagi pak. Kejadiannya tiba-tiba saja, apa depan rumah kita ini licin, ya?”
            “Waktu bapak beresin sisa-sisa motornya kemarin sama yang lain, kami nemu hape, bu. Aku rasa dia itu ngebut sambil tidak memperhatikan jalan.”
            “Ya, ampun, sudah nggak pake helm, main hape pula...”
-
            Kecelakaan berikutnya terjadi dua minggu kemudian.
            Aku baru saja selesai jalan-jalan malam, menikmati bulan yang samar-samar terlihat di langit. Agak sedih karena biasanya aku berpapasan dengan Kuning pada malam-malam seperti ini. Aku dan Kuning tidak bisa dikatakan teman karena aku jarang berbincang dengannya, tapi kami sering bertegur sapa.
            Ketika aku sampai di depan rumah bu Asri, aku merasa ada yang aneh. Lampu rumah pak Mamat hidup, biasanya ia sudah tertidur pulas jam segini. Bahkan lampu rumah sebelahnya, yang salah satu penghuninya masih muda dan biasanya berisik, telah mati semua. Ketika aku hendak menyebrang jalan, tiba-tiba pintu rumah pak Mamat terbuka. Terlihat ia sedang berdiri di balik pintu dan masih mengenakan pakaian yang sama dengan yang ia kenakan tadi pagi.
            Pak Mamat tampak bingung dan sedikit panik. Ia sepertinya sedang menggumamkan sesuatu, dengan langkah gontai ia berjalan keluar rumah. Anehnya, pak Mamat tidak mengenakan alas kaki, biasanya manusia selalu mengenakan alas kaki karena telapak kaki mereka tipis (dan mereka lemah). Secara tidak sengaja, mata kami bertemu, mata pak Mamat berbinar, ia berlari kecil ke arahku.
            Suara bising yang tidak asing tiba-tiba memecah keheningan malam. Suara itu semakin lama semakin mendekat tapi pak Mamat kelihatannya tidak mendengarnya (atau pura-pura tidak dengar, aku tidak yakin). Ia terus melangkah maju, matanya berkaca-kaca, dan tubuhnya agak gemetar, ia bergumam kecil (“Rositah.... Sitah....”).
            Bila kecelakaan pertama dan kedua terjadi sangat cepat, aku merasa yang ketiga terjadi dengan sangat lambat. Mungkin karena aku sudah tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Sebuah sepeda motor menabrak tubuh pak Mamat yang ringkih, sama seperti Kuning, pak mamat terpelanting jauh, dan sama seperti Kuning juga, ia meggelempar hebat. Aku menahan napas sebentar, tiba-tiba ia terdiam, tidak bergerak, hanya terbaring di situ. Pengendara sepeda motor yang menabrak pak Mamat merintih kesakitan.
            Aku segera berlari mendekati pak Mamat sambil berteriak meminta pertolongan. Pak Mamat adalah orang yang baik, sama seperti istrinya. Mereka sama-sama suka memberiku makan dan membiarkanku tiduran di depan pintu rumah mereka saat hari hujan. Mereka juga sering mengelus kepala dan punggungku.
            Pada kecelakaan yang ketiga aku berteriak sampai tenggorakanku sakit.
-
            Pada malam yang sunyi, Codet mengangkat kepalanya. Ia seperti mendengar suara pilu yang butuh pertolongan. Tapi ia tidak tahu dari mana suara itu datang dan apakah suara itu nyata atau hanya imajinasinya saja. Pada akhirnya ia melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu. ‘Paling juga manusia,’ pikirnya.
-
            “Ini sudah dua kali, loh, ada kecelakaan di depan rumah kita, padahal ini jalan komplek, loh, pak, bukan jalan tol.”
           “Kayaknya ini gara-gara jalan besar arah ke pasar ditutup, jadi motor-motor yang suka lewat sana jadi lewat sini, tapi karena komplek ini jalannya lurus dan sepi, mereka suka ngebut.”
            “Bapak bilang ke pak RT, jalan komplek kita ini harus dibuatin polisi tidur. Ini sekarang sudah menyangkut nyawa orang, loh, pak. Kasihan sekali pak Mamat, lagian juga, kok, bisa sampai numbur orang, sih? Orang tua lagi.”
 “Katanya motor yang nabrak pak Mamat itu lampunya rusak, terus yang naik motor nggak nyangka bakal ada orang malam-malam begitu di jalan.”
            “Ya, jangan naik motor malam-malam kalau lampu motornya rusak, apalagi ngebut-ngebut! Gimana, sih? Tapi.. Pak Mamat memang agak aneh belakangan ini, semenjak istrinya meninggal. Aku beberapa kali mendapati beliau memanggil kucing yang sering diberi makan oleh almarhumah bu Rositah dengan nama mendiang istrinya itu.”
            “Oh, kucing yang malam itu, ya? Aku tidak pernah melihat kucing itu lagi.”
            “Iya, kucing yang mengeong keras di sebelah pak Mamat setelah ia tertabrak. Aku juga tidak pernah melihat kucing itu lagi. Eh, tapi pak, kalau dipikir-pikir, dua kecelakaan ini kejadiannya setelah kita nemuin mayat kucing yang ketabrak di depan rumah kita itu, loh, pak. Jangan-jangan ini kutukan, karena yang nabrak nggak nguburin kucing itu.”
            “Ah, ibu, masih percaya takhayul aja, ini gara-gara orang sini kalau naik motor sembarangan, nggak mikirin keselamatan sendiri, lebih-lebih keselamatan orang.
-
            Esoknya bu Asri membersihkan kuburan Kuning dan menghiasinya dengan bunga. Pak Amir hanya menggeleng saja saat ia melihat kelakuan istrinya. 
-
            Aku menutup mataku, mengingat hari-hariku yang telah berlalu. Aku berusaha mengingat rasa hangat di kepalaku saat pak Mamat mengelusku, suara lembut pak Mamat saat ia berceloteh panjang tentang sesuatu, suara lantang bu Rositah saat ia memanggilku untuk makan, pesan bu Rositah sebelum ia pergi naik ke mobil putih yang bising dan tidak pernah kembali... (“Manis, kalau aku sudah tidak ada lagi, kamu jagain bapak, ya. Dia itu orangnya ling-lung, susah kalau nggak ada yang jagain”)
Sambil menghela nafas aku merasa letih, letih...
Pada subuh yang sejuk, suara azan berkumandang samar di kejauhan. Aku harap tidak ada lagi yang mengganggu kedamaian ini, tidak suara bising itu lagi.
Aaah, aku mau istirahat. 

Wednesday, August 12, 2015

Sedikit raso gelisah malam ni

Aku ni bukan pujanggo jadi idak tau nak ngomong apo. Idak tau jugo mau merangkai kato cak mano. Cuma biso ngeluarin penat sampai sebatas ini bae. Kalau tiap hari rasonyo ado duo aku yang berseberangan. Sikok bicaro, sikok diam teronggok dan idak sanggup bekato. Yang sikok nangis melulung minta keluar, yang sikok senyum-senyum mengangguk setuju apo kato orang. Sikok bilang idak elok beperilaku kek gini, sikok masa bodo. Lagi aku pening siapo aku sebenarnyo, apo aku sebenarnyo. Apo sayang berarti harus puro-puro bahagio walau raso hati tecekek?
Kalau sikok bekato melok bae, sikok sedang nulis raso gelisah waktu mandang diri yang semakin lamo semakin kabur bentuknyo. Jambi ko tempat keluargo dengan kasih aku bediam, tapi kadang aku takut, apo cinto harus aku tukar kemanusiaan?