Tuesday, December 23, 2014

aku mau jadi binatang saja.

Aku ingin berkawan dengan anjing saja, supaya tidak pusing memikirkan bagaimana aku harus tersenyum kepadanya.

Aku mau jadi binatang yang duduk malas memandangi dunia dan mencuri makanan di tempat sampah atau bekas makan manusia di selokan. Aku mau hidup dengan sejujurnya, bebas dari ikatan yang memberatkan. Aku ingin sendirian saja dan jadi binatang jalan yang tidak mengenal kesepian karena mereka selalu sendiri dan tidak pernah mencicip kasih yang memaksa hatiku bercinta.

Aku mau jadi binatang yang tidur di jembatan pada siang-siang yang lalai. Tidak menghiraukan pasir yang menempel di sekujur tubuhku atau tatapan orang lain yang memandangku heran. Karena binatang tidak peduli. Binatang tidak memikirkan binatang lain kecuali bayi-bayi mereka. Aku ingin jadi binatang yang tidak peduli apa-apa kecuali perut dan bayi-bayi mereka.

Aku mau melepas pakaian yang mendefinisikanku karena binatang tidak peduli warna dan penampilanmu bagaimana. Mereka hidup bagai barbar dan tidak menghiraukan manusia yang asyik menggunjingi dunia, tidak perlu memikirkan yang beradab apa, tidak perlu merasakan kecewa itu apa.

Aku mau jadi binatang liar yang hidup di jalanan.
Yang tidak punya kawan dan kerjanya memandangi langit dan awan dan rintik hujan.
Aku letih, letih, letih...



Wednesday, December 3, 2014

selamat ulang tahun sayang, bisikku malu

Bukankah lagu ini sungguh indah dan sederhana? Penuh doa dan harapan? Aku nyanyikan lagi lagu itu sekali lagi, dua kali lagi, tiga kali lagi, sepanjang tanggal 3 Desember hari ini, sambil berjalan menuruni tangga, sambil berjalan menyebrangi jembatan, sambil menunggu kelas dimulai...

Lagu itu berputar di otakku, sampai aku lupa liriknya, terus-terus.

Aku  menimbang untuk membeli sepotong kue sore tadi. Hanya untuk basa-basi. Biar laguku tidak terlalu kesepian. Tapi rasanya keadaannya jadi tambah menyedihkan bagiku, karena itu aku urungkan. Lalu ketika sampai di kamar aku masih memutar lagu itu di dalam kepalaku, seperti kaset rusak, urutan liriknya pun tak karuan. Sesekali aku melihat jam, menunggu akhir 3 Desember, agar bisa jadi yang paling akhir mengucapkannya seperti tahun lalu.

Tahun lalu!

Ketika lagu ini tidak bermakna apa-apa dan 3 Desember hanya hari dirgahayumu dan orang-orang lainnya. Ketika malam-malam yang sepi belum memolototiku dan bunga mawar kering yang terselip di buku yang kau berikan kepadaku tidak menatapku sinis.

Hei, sebentar lagi hari ini berakhir. Namun, lagu itu tidak bisa berhenti. Tidak akan berhenti. Seperti mengingatkanku 3 Desember belum berakhir.

Selamat
ulang tahun,
Kami ucapkan.

Selamat
panjang umur!
Kita ‘kan doakan.

Selamat
sejahtera, sehat sentosa!

Selamat panjang umur
dan bahagia!


Ha ha ha ha ha ha