Thursday, July 24, 2014

Kami Manusia

“Kenapa manusia senang berperang?” Lirih seekor burung yang hinggap di reruntuhan habis perang.

Manusia tidak suka kedamaian. Manusia menyukai kebisingan konflik dan teriakan “KAMI LEBIH BAIK”. Mereka menganggap perbedaan warna kulit, warna rambut, warna mata, postur tubuh, bahasa, kebangsaan, darah, dan Tuhan adalah alasan yang cukup bagus untuk saling membenci.

Manusia tidak suka mendamaikan perang, alih-alih mereka akan saling meneriakkan kebencian, karena manusia suka membenci. Membenci memberikan kebahagiaan tersendiri kepada manusia, adrenalin yang terpompa sampai ke ubun-ubun dan pikiran yang membludak bahwa kita lebih baik dari orang lain, bukankah itu perasaan paling  memabukkan di dunia ini?

Bukankah menyenangkan berpikir bahwa orang lain adalah pihak yang jahat dan menganggap diri sendiri lebih mulia? Bukankah menyenangkan mencari-cari sisi jelek pihak lain? Bukankah menyenangkan mengumpat dan meludahi manusia lain?

Bayangkan dunia manusia tanpa perang dan kebencian, hanya ada kedamaian dan cinta kasih. Betapa membosankan dunia seperti itu! Bila semua manusia saling menghargai dan menghormati satu sama lain, bila manusia tidak pernah merasa lebih baik dari orang lain, bila manusia membantu yang susah terlepas dari segala perbedaan, hahahahahaha, aku tidak bisa bayangkan.


Kami manusia tidak suka hidup di surga.

Monday, July 21, 2014

Aku tidak tahu harus menulis apa...

Dulu aku merasa menulis adalah satu-satunya yang aku punya. Aku merasa tulisanku indah dan unik, aku sombong, terlena dalam duniaku sendiri. Jauh sebelum itu aku merasa menggambar adalah kelebihanku, gambarku cantik dan enak dipandang, dengan tinggi hati aku merasa dipuncak dunia dengan gambar-gambar bocah.

Tapi pada akhirnya tidak ada yang pernah menjadi "satu-satunya yang aku punya". Tulisanku hambar, gambar-gambarku hanya sekedar coretan tanpa makna, aku tidak bisa menyanyi, aku tidak bisa bermain musik, nilai-nilai sekolahku pas-pasan, dan aku tidak punya pandangan yang jelas akan masa depanku.

Ibuku tidak menyukai cita-cita yang diam-diam tumbuh di dalam diriku. Beliau tidak menyukai tulisan-tulisanku, gambar-gambarku, nilai-nilai ilmu sosial yang selalu lebih tinggi dan lebih kunikmati dari ilmu sainsku. Ibuku menganggap aku tidak serius melihat dunia, sibuk berangan-angan dalam mimpi manisku sendiri.

Mungkin memang benar, nyatanya aku tidak punya apa-apa. Aku tidak punya bakat, aku tidak punya banyak motivasi untuk melakukan hal-hal besar. Aku adalah debu dunia yang tidak punya ambisi dan luar biasa kecil dan membosankan. Aku hanya punya tempat ini dan sepuluh jari untuk menulis buruk rupa di dalam diriku. Aku hanya punya uang orang tuaku, keluarga, dan nafas dari Tuhan.

Kadang aku ingin membalas cemoohan dunia dan berteriak "aku tidak pernah minta dilahirkan!". Kadang aku ingin lari, melepas moralku, melepas segala hal yang serasa mencekikku setiap harinya, dan membiarkan diriku membusuk di neraka. Kadang aku ingin menjadi pengecut tapi... Segalanya mencekikku lagi.

Dalam setiap nafas yang tersisa aku kadang bertanya, "kapan kau bunuh aku sampai mati?"