Saturday, March 29, 2014

Di Dalam Kebenaranku

Tidak ada kebenaran yang mutlak di dunia ini. Sesuatu yang manusia percaya benar, benar karena manusia mempercayainya. Ini adalah kebenaran yang aku percaya.

Hina aku akan kebenaranku, tapi inilah yang aku percaya;

Aku mempercayai keberadaan Tuhan dan aku percaya, agamaku adalah jembatan terdekat antara diriku dan Tuhan.

Namun, aku percaya, Tuhanku, tidak pernah membenci makhluk-makhluk-Nya. Ia tidak akan membenci seorang wanita karena tidak menutup auratnya, Ia tidak akan membenci seseorang karena orang itu tinggal shalatnya, dan kepercayaanku sampai kepada, Tuhan bahkan tidak membenci makhluk-Nya yang tidak mempercayai keberadaan-Nya.

Apakah Tuhan membenci perbuatan Adam yang melanggar larangan-Nya untuk tidak memakan buah khuldi? Tentu saja. Apakah Tuhan membenci perbuatan Iblis yang membangkang dari perintah-Nya untuk memberi hormat kepada Adam? Ya. Apakah Tuhan membenci perbuatan zinah? Tidak diragukan.

Apakah Tuhan melenyapkan Adam karena Ia melanggar larangan-Nya? Apakah Tuhan melenyapkan iblis saat itu juga? Apakah Tuhan membunuh manusia yang berbuat zinah setelah mereka melakukannya?

Aku percaya, Tuhanku adalah Maha Pengasih dan Penyayang. Aku percaya, Tuhanku membenci perbuatan dengan suatu alasan untuk kepentingan makhluk-Nya sendiri, karena itu Ia akan menghukum seseorang atas perbuatan-Nya itu dengan hukuman yang setimpal pada waktunya kelak. Namun, Tuhan tetap membiarkan manusia hidup sampai ajalnya, baik ia berhati buruk atau baik, untuk diberikan kesempatan.

Tuhan Yang Maha Besar menghargai kemanusiaan. Tuhan di dalam kepercayaanku penuh cinta akan makhluk-Nya. Tuhan memberikan makhluk-Nya kesempatan untuk hidup dan memilih kepercayaan mereka masing-masing, dengan sebuah rahasia yang manusia tidak bisa terka kebenaran mutlaknya. Tidak pernah Ia turun ke dunia dan memaksa semua makhluk-Nya untuk menyembah diri-Nya. Karena ia Maha Bijaksana dan Maha Tahu, Ia mempercayakan pilihan kepada kita semua, Ia berikan manusia pikiran sebagai modal atas apa yang harus kita percaya dan tidak. Kemanusiaan.

Di dalam kebenaran yang aku percaya, Tuhan tidak membunuh.

Ia mengambil nyawa-nyawa yang memang seharusnya pergi, karena Ia memiliki rencana yang lebih besar yang tidak kita ketahui. Tuhan tidak akan membencimu saat kau membunuh, tapi Tuhan tidak akan melepaskanmu dari hukuman-Nya, baik kau membunuh dengan mengatasnamakan nama-Nya (ketika tidak ada yang mengusik hidupmu) atau tidak.

Aku percaya Tuhan tidak membenci makhluk-Nya. Sekotor dan sejahat apapun diri mereka, Tuhan akan terus mencintai makhluk-Nya. Aku merasa, tidak benar “memanusiakan” Tuhan dengan beranggapan Tuhan membenci, mendengki, atau mengutuk makhluk-Nya. Tidak benar membunuh kemanusiaan dan pilihan orang lain dengan alasan Tuhan.


Tuhan memberikan pengampunan. Tuhan memberikan kesempatan. Tuhan mengetahui kebenaran mutlak yang sesungguhnya. Sedangkan manusia, manusia hanya bisa percaya. Aku tidak pernah berharap orang lain mempercayai kebenaranku, aku hanya berharap orang lain percaya dengan kebenaran masing-masing dengan menghormati kebenaran orang lain. 

Saturday, March 15, 2014

Asap itu Telah Menyembul Puluhan Tahun Lalu

Aku menatap hutan sawit yang terhampar luas di luar jendela mobil bobrok yang baunya seperti minyak angin. Jendelanya di buka lebar karena AC mobil tidak menyala. Hutan sawit di luar sangat menakjubkan, ada banyak sekali sawit, berjejer rapi di bukit-bukit. Mereka tidak terlihat ujungnya. Ada sesuatu yang membuatku tidak nyaman dengan hutan sawit, tapi setiap aku melewati tempat ini menuju Kotabaru, kampung halaman Ibu, aku selalu dibuat terperangah.

Ada berapa banyak pohon sawit yang mereka tanam? Ada berapa sawit yang truk di depan mobil kami bawa? Ada berapa sawit yang  dunia ini butuhkan?

Tapi hutan sawit itu terus, terus, menemani perjalananku. Di setiap bukit yang tak terlihat ujungnya, serta jalan setapak di sela pohon-pohon sawit yang membuatku curiga, ke mana ujungnya akan membawa kita?

-

“Bukitnya terbakar... Kenapa bukitnya terbakar?”

Bapak menyetir mobil, Ibu mengusap lehernya dengan minyak angin, adikku tertidur pulas sehabis menegak obat anti mabuk darat, angin menerpa wajahku.

“Tutup jendelanya sayang, banyak asap.”

-

Mobil kami berhenti diperbatasan sebuah gapura besar antara Jambi dan Riau. Ibu segera keluar mobil dan mengeluarkan isi perutnya. Adikku buang air kecil di pinggir jalan. Aku menatap pohon-pohon sawit yang seolah menatapku balik.

-

Aku sangat suka lebaran, tapi lima hari lagi aku harus kembali menikmati perjalananku di dalam mobil tua ditemani oleh hutan sawit yang tak ada ujungnya.

-

Beberapa tahun kemudian aku menatap bukit-bukit yang menghitam. Kali ini, mobil kami bukan mobil bobrok. ACnya menyala dengan baik, dan suara musik mengalun lembut menemani ayahku menyetir. Ibuku masih mabuk darat dan kaki adikku terus menggangguku.

Bukit-bukitnya menghitam dan mengeluarkan asap.

-

Pohon-pohon sawit itu tidak berubah sedikit pun.

-

Ketika aku berada di bangku SMA, suatu pagi dapurku dipenuhi oleh asap atau kabut. Aku tidak bisa membedakannya. Aku pergi ke sekolah tanpa beban.

“Kau lihat asapnya, kawan?”

“Asap atau kabut?”

“Asap, lihat berita tadi pagi? Kota kita masuk berita.”

“Keren.”

-

Dua hari kemudian asap tidak juga reda. Masyarakat mulai resah. Kepala sekolah di seluruh kota mengadakan rapat mengenai hal ini. Sekolah tidak diliburkan, asapnya belum berbahaya, namun, masyarakat dianjurkan mengenakan masker. Akhirnya masker gratis diberikan di jalan-jalan, di instansi kesehatan, dan pendidikan.

“Asap bodoh, setidaknya liburkan aku...”

-

Aku melihat salah satu sumber asapnya. Sangat dekat dengan kota. Biasanya aku melihat bukit hitam yang mengeluarkan sedikit asap, tapi kali ini, ini bukan bukit. Hanya dataran hitam yang terus mengeluarkan asap.

Aneh. Aneh.

-

Beberapa hari kemudian pemerintah membuat hujan buatan untuk menghentikan asapnya. Bandara sudah ditutup beberapa hari.

-

“Kita tidak pernah mendapatkan libur...”

“Tapi kemarin kita pulang cepat.”

“... ya...”

“Hujan buatan, keren.”

-

Pesawat ayahku tidak bisa mendarat karena asap.

-

Aku menonton sebuah acara televisi tentang Kalimantan. Keadaan Kalimantan lebih jelek dari Sumatera. Di sana listriknya sering mati, bahkan ada banyak daerah yang belum terjangkau listrik.

Tapi di Kalimantan banyak batu bara!

Tapi di Kalimantan banyak batu bara.

-

Di Sumatera juga banyak sawit.

-

Aku melihat televisi, di Jakarta banjir lagi. Ayahku bilang, Jakarta memang selalu banjir, mereka tinggal di dekat kali yang setiap musim penghujan air kalinya naik ke rumah warga.

“Seperti Seberang?”

“Seperti Seberang.”

-

Seberang adalah nama tempat di Jambi. Letaknya di dekat sungai Batanghari. Setiap tahun, ketika musim penghujan, air sungai meluap. Namun, orang-orang di Seberang tinggal di rumah panggung. Setiap rumah bahkan punya perahu masih-masing. Setiap tahun, pamanku selalu mengundangku main ke sana untuk berenang. Setelah aku duduk di bangku SMP, aku berhenti mandi di sana saat banjir.

-

Di kota kecilku, ada dua candi. Aku hanya pernah pergi ke candi yang ada di luar kota. Namanya candi Muaro Takus atau candi Muaro Jambi. Itu pun, aku di sana atas urusan lomba pramuka saat masih SMP. Aku dan teman-temanku sedang melihat-lihat candi ketika seorang temanku menunjuk sepasang sejoli. Betina dan jantan itu saling menggesekkan tubuh mereka, celana sang lelaki sudah separuh paha.

Aku masih SMP.

-

Aku tidak pernah masuk ke candi yang ada di dalam kota. Nama taman tempat candi itu berada adalah taman remaja.

Kakak sepupuku bilang, di sana pasangan saling bercumbu di tempat umum.

Temanku bilang di dalam candi ada sebuah tikar, konon disediakan untuk sejoli bersetubuh.

Temanku yang lain bilang mereka saling menggesekan tubuh mereka di depan umum.

Aku tidak pernah mau masuk ke dalam sana.

-

Kali ini, ketika aku pulang kampung ke Kotabaru, seorang lelaki bertelanjang dada duduk di tepi jalan. Di depannya ada sebuah tape besar yang mengeluarkan bunyi kencang. Ia mengangkat tangannya dan menggoyang tubuhnya seperti sedang menyembah sesuatu.
Aku melihat jam, 11.00 malam.

-

Berikutnya, segerombolan anak muda, perempuan dan laki-laki, duduk-duduk di tepi jalan yang gelap di atas motor. Di belakang mereka adalah hutan, di seberang jalan adalah sawah.
Aku melihat jam, 11.42 malam.

-

“Kau tahu anaknya si Anu? Dia pemakai sekarang.”

“Kau tidak tahu keluarganya si Itu? Si Itu pake, suaminya juga. Lalu, mereka kehabisan uang, akhirnya si Itu ngasih bapak ibunya obat! Biar jadi pecandu juga, terus bisa ngobat dari duit orang tua sendiri.”

Memang di sini tidak ada polisi? Suatu hari aku bertanya.

“Oh, sayang, maksudnya para bandar itu?”

Oh. Ooooh.

-

Kotabaru tidak ada di peta atau GPS. Bukankah seharusnya ini sebuah desa kecil yang damai? Bukankah seharusnya ini desa yang bebas asap dan indah?

-

Di Kotabaru banyak motor dan mobil. Mereka petani sawit kaya.

-

Tahun 2014, aku tidak di Jambi lagi. Aku berada di sebuah kamar kecil, di asrama sebuah universitas di Depok.

Kabar tentang asap di Riau sedang heboh. Rakyat menuntut pemerintah.

Tapi aku sedang mengingat masa kecilku tentang Riau dan Jambi. Aku mengingat semua kebobrokan yang ada dalam ingatanku tentang kampung halamanku.

“Satu persatu, bencana dan musibah, alam maupun sosial, mendatangi Indonesia,”seorang temanku berkata.

Tapi, semua bencana dan musibah, alam maupun sosial, telah muncul saat mobilku masih mobil bobrok dengan AC yang rusak.

-

Tidak ada yang peduli dengan daerah kecil yang tak menarik media. Indonesia adalah ibukota dan sekitarnya, di mana kamera bisa menjangkau mereka. Daerah lain yang luas tak terkira itu adalah perhiasan, karena Indonesia adalah negeri yang kaya raya. Bila kau dapat masuk ke dalam kotak kecil berwarna, bersyukurlah, akhirnya kau jadi bagian dari Indonesia.



Friday, March 7, 2014

Malam ini adalah malam-malam itu...

Malam ini, bayanganmu datang lagi sayang. Ucapanmu dan kebrengsekan diriku serta dunia kepadamu. Semuanya mencekikku hingga dadaku sakit.

Mengapa aku menangis lagi? Tidak akan ada yang bisa membawamu kembali. Tidak akan ada yang bisa membawaku kembali. Tidak akan ada yang bisa mengubah semuanya.

Aku tetap brengsek. Aku tidak dapat melihat senyum itu lagi. Bagian dari hatiku telah terbakar dan mati. Setiap malam yang sepi tangisku pecah dan membunuh tidurku.

Aku mencintaimu. Maafkan aku. Biarkan aku memelukmu. Bangunkan aku bila ini semua mimpi.