Tuesday, December 23, 2014

aku mau jadi binatang saja.

Aku ingin berkawan dengan anjing saja, supaya tidak pusing memikirkan bagaimana aku harus tersenyum kepadanya.

Aku mau jadi binatang yang duduk malas memandangi dunia dan mencuri makanan di tempat sampah atau bekas makan manusia di selokan. Aku mau hidup dengan sejujurnya, bebas dari ikatan yang memberatkan. Aku ingin sendirian saja dan jadi binatang jalan yang tidak mengenal kesepian karena mereka selalu sendiri dan tidak pernah mencicip kasih yang memaksa hatiku bercinta.

Aku mau jadi binatang yang tidur di jembatan pada siang-siang yang lalai. Tidak menghiraukan pasir yang menempel di sekujur tubuhku atau tatapan orang lain yang memandangku heran. Karena binatang tidak peduli. Binatang tidak memikirkan binatang lain kecuali bayi-bayi mereka. Aku ingin jadi binatang yang tidak peduli apa-apa kecuali perut dan bayi-bayi mereka.

Aku mau melepas pakaian yang mendefinisikanku karena binatang tidak peduli warna dan penampilanmu bagaimana. Mereka hidup bagai barbar dan tidak menghiraukan manusia yang asyik menggunjingi dunia, tidak perlu memikirkan yang beradab apa, tidak perlu merasakan kecewa itu apa.

Aku mau jadi binatang liar yang hidup di jalanan.
Yang tidak punya kawan dan kerjanya memandangi langit dan awan dan rintik hujan.
Aku letih, letih, letih...



Wednesday, December 3, 2014

selamat ulang tahun sayang, bisikku malu

Bukankah lagu ini sungguh indah dan sederhana? Penuh doa dan harapan? Aku nyanyikan lagi lagu itu sekali lagi, dua kali lagi, tiga kali lagi, sepanjang tanggal 3 Desember hari ini, sambil berjalan menuruni tangga, sambil berjalan menyebrangi jembatan, sambil menunggu kelas dimulai...

Lagu itu berputar di otakku, sampai aku lupa liriknya, terus-terus.

Aku  menimbang untuk membeli sepotong kue sore tadi. Hanya untuk basa-basi. Biar laguku tidak terlalu kesepian. Tapi rasanya keadaannya jadi tambah menyedihkan bagiku, karena itu aku urungkan. Lalu ketika sampai di kamar aku masih memutar lagu itu di dalam kepalaku, seperti kaset rusak, urutan liriknya pun tak karuan. Sesekali aku melihat jam, menunggu akhir 3 Desember, agar bisa jadi yang paling akhir mengucapkannya seperti tahun lalu.

Tahun lalu!

Ketika lagu ini tidak bermakna apa-apa dan 3 Desember hanya hari dirgahayumu dan orang-orang lainnya. Ketika malam-malam yang sepi belum memolototiku dan bunga mawar kering yang terselip di buku yang kau berikan kepadaku tidak menatapku sinis.

Hei, sebentar lagi hari ini berakhir. Namun, lagu itu tidak bisa berhenti. Tidak akan berhenti. Seperti mengingatkanku 3 Desember belum berakhir.

Selamat
ulang tahun,
Kami ucapkan.

Selamat
panjang umur!
Kita ‘kan doakan.

Selamat
sejahtera, sehat sentosa!

Selamat panjang umur
dan bahagia!


Ha ha ha ha ha ha

Wednesday, November 26, 2014

aku yang lebih sempurna

Aku adalah asteorid. Bentukku tidak bulat yang cantik dan aku tidak bersinar seperti bintang. Beberapa bagian tubuhku penyot karena harus bertabrakan dengan asteorid lain. Suatu hari aku mengambang cukup dekat dengan sebuah bintang. Mengelilingi sang bintang adalah ribuan asteorid lainnya dan beberapa planet.

Sang bintang tidak begitu besar, bukan bintang-bintang kerdil yang berwarna pucat, tapi bintang-bintang yang ukurannya pas dan warnanya paling cantik. Bintang seukuran ini memiliki massa yang pas untuk membuat benda langit lainnya mengitari mereka. Bintang-bintang berwarna oranye atau merah kadang massanya terlalu kecil sehingga tidak banyak benda langit yang bisa mereka tarik, sedangkan bintang-bintang kerdil yang pucat sudah kehilangan sumber energi mereka, bintang ini berukuran sedang dan berwarna kuning sempurna.

Planet-planet yang mengelilingi sang bintang pun cantik-cantik dan menarik, ada yang bercincin, ada yang berwarna sangat biru, ada yang bersinar sangat terang untuk ukuran planet. Asteroid-asteorid berkumpul di antara sebuah planet merah menyala dan planet yang cukup besar (bukan yang terbesar yang pernah kulihat, tapi besar di antara planet lain di tata surya ini), mereka semua memandang sang bintang dengan kagum.

Kami asteroid hanya bisa mengagumi seperti ini, kami asteorid yang tidak cantik hanya bisa memuja seperti ini. Kadang yang tidak memperhatikan ke mana mereka pergi berakhir terlalu dekat dengan planet lain dan hancur tertarik gravitasi, atau bertabrakan dengan asteroid lain, atau bila kau beruntung hancur tertarik sang bintang sendiri.

Asteorid sendiri bukanlah benda langit yang menarik, dibanding bitntang, planet, satelit, bahkan komet (yang selalu menyala begitu cantik ketika berdekatan dengan bintang, sial). Beberapa satelit cukup beruntung dapat memantulkan cahaya bintang. Sedangkan aku yang bahkan bukanlah asteroid yang indah, menatap bintang dan planet-planetnya dan satelit dan komet, semuanya, dengan susah payah (karena aku sangat buruk rupa dan kecil, tidak ada artinya).

Bagaimana pun aku berusaha aku tidak akan pernah seindah mereka karena aku bukan mereka. Aku asteroid, benda langit dingin kecil yang hanya bisa mengambang mengikuti arus berbondong mengelilingi bintang.

Seorang asteroid tua yang pernah kujumpai pernah berkata kepadaku, bintang-bintang sebenarnya mengelilingi pusat alam semesta; konon ia sangat cantik hanya bintang-bintang yang bisa melihatnya. Rasanya lucu memikirkan bahwa bintang-bintang ini, yang menjadi pusat bagi jutaan asteroid dan komet serta planet-planet, ternyata mengelilingi benda lain.

Tentu saja aku tidak berhak bermimpi tiba-tiba berubah menjadi benda langit lain yang lebih menarik dan cantik, tapi kadang aku ingin seseorang menatapku sebagai seorang asteroid 30 detik saja, lalu dengan segala ketidaksempurnaanku berkata, “tidak ada yang salah dari dirimu, begini juga tidak apa-apa.”

Mungkin (mungkin!) semua bebanku sebagai asteroid buruk rupa yang tidak ada harganya dapat sedikit menghilang. Setelah 30 detik dan kalimat itu, aku, sebagai benda langit yang hanya bisa mengelilingi sesuatu yang lebih elok, tidak harus memandangi benda langit lain dengan susah payah.

Tapi, bukankah semua orang menginginkan aku yang lebih baik?

Friday, October 10, 2014

Ketiduran

Aku mengantuk.

Tapi benakku tak bisa diam; telingaku menangkap suara hening yang memekakkan, mataku menatap gelap yang bersembunyi, darahku berdesir pelan, malam membisikkan selamat malam.

Aku letih.

Namun, ribuan hal terasa tertinggal di sudut kepalaku. Kelopak mata yang memaksa turun aku naikkan, mencoba menerka esok yang harus kusiapkan.

Tugas ini dan itu, rapat ini dan itu, ssssttt

Ssssttt... (gelap)

Thursday, July 24, 2014

Kami Manusia

“Kenapa manusia senang berperang?” Lirih seekor burung yang hinggap di reruntuhan habis perang.

Manusia tidak suka kedamaian. Manusia menyukai kebisingan konflik dan teriakan “KAMI LEBIH BAIK”. Mereka menganggap perbedaan warna kulit, warna rambut, warna mata, postur tubuh, bahasa, kebangsaan, darah, dan Tuhan adalah alasan yang cukup bagus untuk saling membenci.

Manusia tidak suka mendamaikan perang, alih-alih mereka akan saling meneriakkan kebencian, karena manusia suka membenci. Membenci memberikan kebahagiaan tersendiri kepada manusia, adrenalin yang terpompa sampai ke ubun-ubun dan pikiran yang membludak bahwa kita lebih baik dari orang lain, bukankah itu perasaan paling  memabukkan di dunia ini?

Bukankah menyenangkan berpikir bahwa orang lain adalah pihak yang jahat dan menganggap diri sendiri lebih mulia? Bukankah menyenangkan mencari-cari sisi jelek pihak lain? Bukankah menyenangkan mengumpat dan meludahi manusia lain?

Bayangkan dunia manusia tanpa perang dan kebencian, hanya ada kedamaian dan cinta kasih. Betapa membosankan dunia seperti itu! Bila semua manusia saling menghargai dan menghormati satu sama lain, bila manusia tidak pernah merasa lebih baik dari orang lain, bila manusia membantu yang susah terlepas dari segala perbedaan, hahahahahaha, aku tidak bisa bayangkan.


Kami manusia tidak suka hidup di surga.

Monday, July 21, 2014

Aku tidak tahu harus menulis apa...

Dulu aku merasa menulis adalah satu-satunya yang aku punya. Aku merasa tulisanku indah dan unik, aku sombong, terlena dalam duniaku sendiri. Jauh sebelum itu aku merasa menggambar adalah kelebihanku, gambarku cantik dan enak dipandang, dengan tinggi hati aku merasa dipuncak dunia dengan gambar-gambar bocah.

Tapi pada akhirnya tidak ada yang pernah menjadi "satu-satunya yang aku punya". Tulisanku hambar, gambar-gambarku hanya sekedar coretan tanpa makna, aku tidak bisa menyanyi, aku tidak bisa bermain musik, nilai-nilai sekolahku pas-pasan, dan aku tidak punya pandangan yang jelas akan masa depanku.

Ibuku tidak menyukai cita-cita yang diam-diam tumbuh di dalam diriku. Beliau tidak menyukai tulisan-tulisanku, gambar-gambarku, nilai-nilai ilmu sosial yang selalu lebih tinggi dan lebih kunikmati dari ilmu sainsku. Ibuku menganggap aku tidak serius melihat dunia, sibuk berangan-angan dalam mimpi manisku sendiri.

Mungkin memang benar, nyatanya aku tidak punya apa-apa. Aku tidak punya bakat, aku tidak punya banyak motivasi untuk melakukan hal-hal besar. Aku adalah debu dunia yang tidak punya ambisi dan luar biasa kecil dan membosankan. Aku hanya punya tempat ini dan sepuluh jari untuk menulis buruk rupa di dalam diriku. Aku hanya punya uang orang tuaku, keluarga, dan nafas dari Tuhan.

Kadang aku ingin membalas cemoohan dunia dan berteriak "aku tidak pernah minta dilahirkan!". Kadang aku ingin lari, melepas moralku, melepas segala hal yang serasa mencekikku setiap harinya, dan membiarkan diriku membusuk di neraka. Kadang aku ingin menjadi pengecut tapi... Segalanya mencekikku lagi.

Dalam setiap nafas yang tersisa aku kadang bertanya, "kapan kau bunuh aku sampai mati?"


Saturday, May 3, 2014

Manusia

Manusia mati saat ia kehilangan kemanusiaannya.

Ketika ia mengharapkan hal-hal buruk terjadi terhadap makhluk hidup lain, maka ia mati saat itu. Ketika ia mendoakan hal-hal baik terhadap makhluk hidup lain maka ia kembali menjadi manusia.

Aku mati setiap hari. Setiap hari ketika aku berharap orang-orang yang kubenci mengalami kesialan, ketika aku berharap seseorang yang tidak memiliki kemanusiaan lagi di dalam diri mereka mengalami kesakitan yang luar biasa.

Aku mati setiap membaca berita. Seorang pemerkosa membunuhku setiap aku mengutuknya. Seorang pemerkosa membunuh kemanusiaan ribuan jiwa yang geram mendengar perbuatannya. Ribuan jiwa mendoakan kematian yang paling sakit dilimpahkan kepadanya. 

Aku menjadi manusia lagi saat menangis memikirkan manusia-manusia lain yang direnggut pilihannya, diperkosa, dan dijajah tubuhnya. Aku menjadi manusia lagi saat mendoakan kehidupan yang lebih baik untuk mereka, saat mengharapkan rencana Tuhan yang paling baik untuk mereka.

Manusia mati setiap harinya. Manusia kembali menjadi manusia setiap harinya. Namun, manusia mati selamanya saat mereka tidak menemukan kemanusiaan itu lagi di dalam diri mereka. Mereka hilang, bukan manusia, bukan setan, bukan malaikat, bukan hewan.

Sunday, April 27, 2014

Tuhan tolong aku.

Kebenaranku perlahan retak. Aku tidak mau mereka hancur. Tapi...

Tuhan, tolong aku.

Sunday, April 20, 2014

Tenggelam II

Aku tenggelam. Namun, tidak jatuh ke dasar. Mengambang tanpa tujuan, hanya kebingungan. Kadang air masuk ke dalam paruku, menggantikan udara. Suara enggan menggapaiku, mereka hanya berbisik samar di luar sana.

Aku tenggelam.

Air menyelimutiku, memaksaku untuk menyerah dan mati di sini saja. Di atas sana, di permukaan sana, tidak ada siapa-siapa, tidak ada apa-apa.

Ah, air mataku. Tenggelam.

(selamatkan aku)

Saturday, March 29, 2014

Di Dalam Kebenaranku

Tidak ada kebenaran yang mutlak di dunia ini. Sesuatu yang manusia percaya benar, benar karena manusia mempercayainya. Ini adalah kebenaran yang aku percaya.

Hina aku akan kebenaranku, tapi inilah yang aku percaya;

Aku mempercayai keberadaan Tuhan dan aku percaya, agamaku adalah jembatan terdekat antara diriku dan Tuhan.

Namun, aku percaya, Tuhanku, tidak pernah membenci makhluk-makhluk-Nya. Ia tidak akan membenci seorang wanita karena tidak menutup auratnya, Ia tidak akan membenci seseorang karena orang itu tinggal shalatnya, dan kepercayaanku sampai kepada, Tuhan bahkan tidak membenci makhluk-Nya yang tidak mempercayai keberadaan-Nya.

Apakah Tuhan membenci perbuatan Adam yang melanggar larangan-Nya untuk tidak memakan buah khuldi? Tentu saja. Apakah Tuhan membenci perbuatan Iblis yang membangkang dari perintah-Nya untuk memberi hormat kepada Adam? Ya. Apakah Tuhan membenci perbuatan zinah? Tidak diragukan.

Apakah Tuhan melenyapkan Adam karena Ia melanggar larangan-Nya? Apakah Tuhan melenyapkan iblis saat itu juga? Apakah Tuhan membunuh manusia yang berbuat zinah setelah mereka melakukannya?

Aku percaya, Tuhanku adalah Maha Pengasih dan Penyayang. Aku percaya, Tuhanku membenci perbuatan dengan suatu alasan untuk kepentingan makhluk-Nya sendiri, karena itu Ia akan menghukum seseorang atas perbuatan-Nya itu dengan hukuman yang setimpal pada waktunya kelak. Namun, Tuhan tetap membiarkan manusia hidup sampai ajalnya, baik ia berhati buruk atau baik, untuk diberikan kesempatan.

Tuhan Yang Maha Besar menghargai kemanusiaan. Tuhan di dalam kepercayaanku penuh cinta akan makhluk-Nya. Tuhan memberikan makhluk-Nya kesempatan untuk hidup dan memilih kepercayaan mereka masing-masing, dengan sebuah rahasia yang manusia tidak bisa terka kebenaran mutlaknya. Tidak pernah Ia turun ke dunia dan memaksa semua makhluk-Nya untuk menyembah diri-Nya. Karena ia Maha Bijaksana dan Maha Tahu, Ia mempercayakan pilihan kepada kita semua, Ia berikan manusia pikiran sebagai modal atas apa yang harus kita percaya dan tidak. Kemanusiaan.

Di dalam kebenaran yang aku percaya, Tuhan tidak membunuh.

Ia mengambil nyawa-nyawa yang memang seharusnya pergi, karena Ia memiliki rencana yang lebih besar yang tidak kita ketahui. Tuhan tidak akan membencimu saat kau membunuh, tapi Tuhan tidak akan melepaskanmu dari hukuman-Nya, baik kau membunuh dengan mengatasnamakan nama-Nya (ketika tidak ada yang mengusik hidupmu) atau tidak.

Aku percaya Tuhan tidak membenci makhluk-Nya. Sekotor dan sejahat apapun diri mereka, Tuhan akan terus mencintai makhluk-Nya. Aku merasa, tidak benar “memanusiakan” Tuhan dengan beranggapan Tuhan membenci, mendengki, atau mengutuk makhluk-Nya. Tidak benar membunuh kemanusiaan dan pilihan orang lain dengan alasan Tuhan.


Tuhan memberikan pengampunan. Tuhan memberikan kesempatan. Tuhan mengetahui kebenaran mutlak yang sesungguhnya. Sedangkan manusia, manusia hanya bisa percaya. Aku tidak pernah berharap orang lain mempercayai kebenaranku, aku hanya berharap orang lain percaya dengan kebenaran masing-masing dengan menghormati kebenaran orang lain. 

Saturday, March 15, 2014

Asap itu Telah Menyembul Puluhan Tahun Lalu

Aku menatap hutan sawit yang terhampar luas di luar jendela mobil bobrok yang baunya seperti minyak angin. Jendelanya di buka lebar karena AC mobil tidak menyala. Hutan sawit di luar sangat menakjubkan, ada banyak sekali sawit, berjejer rapi di bukit-bukit. Mereka tidak terlihat ujungnya. Ada sesuatu yang membuatku tidak nyaman dengan hutan sawit, tapi setiap aku melewati tempat ini menuju Kotabaru, kampung halaman Ibu, aku selalu dibuat terperangah.

Ada berapa banyak pohon sawit yang mereka tanam? Ada berapa sawit yang truk di depan mobil kami bawa? Ada berapa sawit yang  dunia ini butuhkan?

Tapi hutan sawit itu terus, terus, menemani perjalananku. Di setiap bukit yang tak terlihat ujungnya, serta jalan setapak di sela pohon-pohon sawit yang membuatku curiga, ke mana ujungnya akan membawa kita?

-

“Bukitnya terbakar... Kenapa bukitnya terbakar?”

Bapak menyetir mobil, Ibu mengusap lehernya dengan minyak angin, adikku tertidur pulas sehabis menegak obat anti mabuk darat, angin menerpa wajahku.

“Tutup jendelanya sayang, banyak asap.”

-

Mobil kami berhenti diperbatasan sebuah gapura besar antara Jambi dan Riau. Ibu segera keluar mobil dan mengeluarkan isi perutnya. Adikku buang air kecil di pinggir jalan. Aku menatap pohon-pohon sawit yang seolah menatapku balik.

-

Aku sangat suka lebaran, tapi lima hari lagi aku harus kembali menikmati perjalananku di dalam mobil tua ditemani oleh hutan sawit yang tak ada ujungnya.

-

Beberapa tahun kemudian aku menatap bukit-bukit yang menghitam. Kali ini, mobil kami bukan mobil bobrok. ACnya menyala dengan baik, dan suara musik mengalun lembut menemani ayahku menyetir. Ibuku masih mabuk darat dan kaki adikku terus menggangguku.

Bukit-bukitnya menghitam dan mengeluarkan asap.

-

Pohon-pohon sawit itu tidak berubah sedikit pun.

-

Ketika aku berada di bangku SMA, suatu pagi dapurku dipenuhi oleh asap atau kabut. Aku tidak bisa membedakannya. Aku pergi ke sekolah tanpa beban.

“Kau lihat asapnya, kawan?”

“Asap atau kabut?”

“Asap, lihat berita tadi pagi? Kota kita masuk berita.”

“Keren.”

-

Dua hari kemudian asap tidak juga reda. Masyarakat mulai resah. Kepala sekolah di seluruh kota mengadakan rapat mengenai hal ini. Sekolah tidak diliburkan, asapnya belum berbahaya, namun, masyarakat dianjurkan mengenakan masker. Akhirnya masker gratis diberikan di jalan-jalan, di instansi kesehatan, dan pendidikan.

“Asap bodoh, setidaknya liburkan aku...”

-

Aku melihat salah satu sumber asapnya. Sangat dekat dengan kota. Biasanya aku melihat bukit hitam yang mengeluarkan sedikit asap, tapi kali ini, ini bukan bukit. Hanya dataran hitam yang terus mengeluarkan asap.

Aneh. Aneh.

-

Beberapa hari kemudian pemerintah membuat hujan buatan untuk menghentikan asapnya. Bandara sudah ditutup beberapa hari.

-

“Kita tidak pernah mendapatkan libur...”

“Tapi kemarin kita pulang cepat.”

“... ya...”

“Hujan buatan, keren.”

-

Pesawat ayahku tidak bisa mendarat karena asap.

-

Aku menonton sebuah acara televisi tentang Kalimantan. Keadaan Kalimantan lebih jelek dari Sumatera. Di sana listriknya sering mati, bahkan ada banyak daerah yang belum terjangkau listrik.

Tapi di Kalimantan banyak batu bara!

Tapi di Kalimantan banyak batu bara.

-

Di Sumatera juga banyak sawit.

-

Aku melihat televisi, di Jakarta banjir lagi. Ayahku bilang, Jakarta memang selalu banjir, mereka tinggal di dekat kali yang setiap musim penghujan air kalinya naik ke rumah warga.

“Seperti Seberang?”

“Seperti Seberang.”

-

Seberang adalah nama tempat di Jambi. Letaknya di dekat sungai Batanghari. Setiap tahun, ketika musim penghujan, air sungai meluap. Namun, orang-orang di Seberang tinggal di rumah panggung. Setiap rumah bahkan punya perahu masih-masing. Setiap tahun, pamanku selalu mengundangku main ke sana untuk berenang. Setelah aku duduk di bangku SMP, aku berhenti mandi di sana saat banjir.

-

Di kota kecilku, ada dua candi. Aku hanya pernah pergi ke candi yang ada di luar kota. Namanya candi Muaro Takus atau candi Muaro Jambi. Itu pun, aku di sana atas urusan lomba pramuka saat masih SMP. Aku dan teman-temanku sedang melihat-lihat candi ketika seorang temanku menunjuk sepasang sejoli. Betina dan jantan itu saling menggesekkan tubuh mereka, celana sang lelaki sudah separuh paha.

Aku masih SMP.

-

Aku tidak pernah masuk ke candi yang ada di dalam kota. Nama taman tempat candi itu berada adalah taman remaja.

Kakak sepupuku bilang, di sana pasangan saling bercumbu di tempat umum.

Temanku bilang di dalam candi ada sebuah tikar, konon disediakan untuk sejoli bersetubuh.

Temanku yang lain bilang mereka saling menggesekan tubuh mereka di depan umum.

Aku tidak pernah mau masuk ke dalam sana.

-

Kali ini, ketika aku pulang kampung ke Kotabaru, seorang lelaki bertelanjang dada duduk di tepi jalan. Di depannya ada sebuah tape besar yang mengeluarkan bunyi kencang. Ia mengangkat tangannya dan menggoyang tubuhnya seperti sedang menyembah sesuatu.
Aku melihat jam, 11.00 malam.

-

Berikutnya, segerombolan anak muda, perempuan dan laki-laki, duduk-duduk di tepi jalan yang gelap di atas motor. Di belakang mereka adalah hutan, di seberang jalan adalah sawah.
Aku melihat jam, 11.42 malam.

-

“Kau tahu anaknya si Anu? Dia pemakai sekarang.”

“Kau tidak tahu keluarganya si Itu? Si Itu pake, suaminya juga. Lalu, mereka kehabisan uang, akhirnya si Itu ngasih bapak ibunya obat! Biar jadi pecandu juga, terus bisa ngobat dari duit orang tua sendiri.”

Memang di sini tidak ada polisi? Suatu hari aku bertanya.

“Oh, sayang, maksudnya para bandar itu?”

Oh. Ooooh.

-

Kotabaru tidak ada di peta atau GPS. Bukankah seharusnya ini sebuah desa kecil yang damai? Bukankah seharusnya ini desa yang bebas asap dan indah?

-

Di Kotabaru banyak motor dan mobil. Mereka petani sawit kaya.

-

Tahun 2014, aku tidak di Jambi lagi. Aku berada di sebuah kamar kecil, di asrama sebuah universitas di Depok.

Kabar tentang asap di Riau sedang heboh. Rakyat menuntut pemerintah.

Tapi aku sedang mengingat masa kecilku tentang Riau dan Jambi. Aku mengingat semua kebobrokan yang ada dalam ingatanku tentang kampung halamanku.

“Satu persatu, bencana dan musibah, alam maupun sosial, mendatangi Indonesia,”seorang temanku berkata.

Tapi, semua bencana dan musibah, alam maupun sosial, telah muncul saat mobilku masih mobil bobrok dengan AC yang rusak.

-

Tidak ada yang peduli dengan daerah kecil yang tak menarik media. Indonesia adalah ibukota dan sekitarnya, di mana kamera bisa menjangkau mereka. Daerah lain yang luas tak terkira itu adalah perhiasan, karena Indonesia adalah negeri yang kaya raya. Bila kau dapat masuk ke dalam kotak kecil berwarna, bersyukurlah, akhirnya kau jadi bagian dari Indonesia.



Friday, March 7, 2014

Malam ini adalah malam-malam itu...

Malam ini, bayanganmu datang lagi sayang. Ucapanmu dan kebrengsekan diriku serta dunia kepadamu. Semuanya mencekikku hingga dadaku sakit.

Mengapa aku menangis lagi? Tidak akan ada yang bisa membawamu kembali. Tidak akan ada yang bisa membawaku kembali. Tidak akan ada yang bisa mengubah semuanya.

Aku tetap brengsek. Aku tidak dapat melihat senyum itu lagi. Bagian dari hatiku telah terbakar dan mati. Setiap malam yang sepi tangisku pecah dan membunuh tidurku.

Aku mencintaimu. Maafkan aku. Biarkan aku memelukmu. Bangunkan aku bila ini semua mimpi.

Thursday, February 6, 2014

Nadya, sekali lagi, aku ingin bertemu.

Aku ingin menonton film, atau hanya bicara omong kosong di kamarmu atau kamarku. Kali ini aku ingin kita berdua berfoto bersama.

Aku ingin sekali lagi bertengkar. Maki aku atas keegoisanku, atas ketidakpedulianku. Bakar hatiku dengan kata-kata yang kejam. Lalu, mari berbaikan dan menangis sambil berpelukan.

Ayo, tertawa sekali lagi. Berbicara tentang bulan atau bintang, akan aku dengarkan. Tersenyum kepadaku sekali ini saja.

Aku tidak peduli walau di dalam mimpi. Temui aku sekali lagi.

Biarkan aku melihatmu sekali lagi.

Friday, January 31, 2014

sendirian sedang membunuhku

Tanganku, kakiku, mataku, tubuhku, semuanya, berantakan.

Tangisku, tawaku, senyumku, cintaku, semuanya, terpisah.

Aku tidak mau sendirian. Aku takut sendirian. Sendirian selalu menuduhku, mentertawakanku, membunuhku. Sendirian menatapku dingin dan membisikanku kebencian. Kau tidak sedih lagi? Ia membunuhku suatu malam. Kau tidak menangis lagi? Ia menguburku dalam-dalam.

Lalu, tanganku diam, kakiku, diam, mataku diam, tubuhku, semuanya, diam.

Tangisku, tangisku, tangisku, tangisku, semuanya, pecah.

Sendirian menyalahkanku, kau tidak pernah memikirkannya, ia menusuk jantungku. Kau hanya pura-pura, ia mencekikku.

Kau tidak mencintainya,

Aku mati lagi.

Tapi aku tahu dia mencintaiku! Aku tahu dia menginginkan kebahagiaanku. Aku tahu dia tidak pernah mengharapkan balas atas cintanya. Aku tahu dia pergi tanpa sedikit pun kebencian, karena dia begitu penuh akan cinta.

Tapi kau tidak mencintainya, kau berpura-pura, kau tidak peduli, munafik, munafik, munafik...

Jangan.

Kau bahagia? Tertawa?

Aku mohon. Jangan.

Tanpanya?

Jangan bunuh aku lagi.





Tuesday, January 28, 2014

Hukuman

Tuhan sedang menghukumku.

Karena aku menyepelekan cinta kasih yang diberikan gadis itu kepadaku.

Aku tidak akan pernah menemukan seseorang yang menangis dan meminta maaf dengan sungguh-sungguh karena tidak dapat ikut merayakan ulang tahunku lagi. Aku tidak akan pernah menemukan seseorang yang setiap tahun dengan keras kepala menunggu hingga larut malam untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku lagi. Aku tidak akan pernah menemukan seseorang yang menghubungiku sesering mungkin hanya untuk membicarakan hal tidak penting, hanya sekedar mendengar kabar satu sama lain lagi.

Tidak akan pernah kutemukan seseorang yang akan mencintaiku seperti Nadya Siltami mencintaiku.

Tuhan menyadari kesombonganku dan mengambil sahabatku. Karena aku tidak bisa memberikan cinta kasih yang sama besarnya dengan cinta kasih yang telah ia berikan kepadaku, Tuhan memutuskan untuk memanggil Nadya untuk dicintai sebagai mana mestinya.

Aku menangis.

Walau aku tahu bahwa inilah yang terbaik, bahwa tangisku, air mataku, tidak akan pernah membawa Nadya kembali, aku tetap menangis.

Aku sedang dihukum Tuhan. Hukuman yang selamanya akan meninggalkan sesuatu di dalam diriku.

Aku tidak akan menangis selamanya, tapi biarkan aku menangisi hukumanku malam ini (dan malam-malam lain saat organku tidak sanggup menahannya).

Nadya, Nadya, Nadya, Nadya, Nadya, Nadya, Nadya, Nadya, Nadya.

Jangan Bunuh Aku

Haruskah aku meraung?

Aku tidak pernah bisa merasakan kematian. Tidak pernah. Rasanya seperti bohong, tidak nyata. Rasanya bahwa mereka yang meninggalkan kita tidak kemana-mana. Bohong. Bohong. Bohong.

Ya, Tuhan.

Boneka itu hadiahnya 2 tahun lalu, novel berjudul ‘Rembulan Tenggelam di Wajahmu’ karya Tere-Liye itu hadiahnya setahun yang lalu, buku kumpulan dongeng itu hadiahnya Desember 2013 kemarin, kartu ucapannya yang berwarna oranye, kartu ucapannya yang beramplop hijau.

Aku sesak. Sesak. Sesak.

Nadya.

Nadyaku.

Jangan lakukan ini padaku.