Monday, October 23, 2017

kesedihanmu itu tidak beralasan dan salahmu sendiri

Warna hidup kunang-kunang itu sepia yang sunyi.

Yang nyaman dan damai karena ia tidak suka kebisingan, ia tidak suka merasakan. Ia bersembunyi di rawa dan terbang rendah. Kadang bunga-bunga yang mengeluarkan bau harum menyuruhnya untuk sedikit terangkan nyala punggungnya, tapi kunang-kunang itu suka keredupan yang membosankan.

Yang memabukkan. Tapi karena ini kadang kunang-kunang lain tidak mau mendengarkannya atau melihatnya barang sedikit saja. Kadang ketika ia kesepian atau bersedih ia tidak tahu bagaimana memberi sinyalnya, tidak tahu cara berkata-kata. Kadang ia merasa sungguh sendiri di antara kunang-kunang rawa dan bunga-bunga. Bahkan sepia yang nyaman dan damai akhirnya terlihat sungguh bising.

Bising oleh rasa di dadanya. Yang membuatnya ingin teriak. Yang membuatnya ingin juga marah atau kesal. Pada akhirnya, tetapi, ia mengerti mungkin ia memang lebih baik sendiri. Keruh di dadanya tidak akan ada yang mengerti atau mendengarkan. Tidak akan ada yang mau mengerti atau mendengarkan. Kunang-kunang itu hidupnya tetap sepia.

Tapi hatinya merah. Perutnya hitam. Punggungnya redup. Telan, telan, telan. Pandanglah bulan yang indah dan bintang yang mengerling dalam kegelapan. Bunga-bunga menggelengkan kepala mereka, tidak setuju atau mengerti.





Tapi bahkan dirinya juga tidak setuju dan tidak mengerti. Ia hanya telan saja semuanya. Kapan pagi datang pikirnya dengan dada dan perut yang penuh. Mengapa malam sepia ini panjang sekali rasanya? Pikirnya dengan air mata dan kesedihan yang luar biasa. 

Monday, July 10, 2017

Giselle Act 2

Setelah bincang kami di kelas drama modern, aku dan Tian sekarang saling senyum saat berjumpa di koridor kampus. Tidak ada perubahan yang signifikan. Kami tidak tiba-tiba menjadi sangat dekat, tapi kami bukan lagi orang asing bagi satu sama lain. Aku cukup senang dengan keadaan ini. Saling bertukar senyum di koridor adalah hubungan yang lebih nyaman dari pada saling-kenal-tapi-tidak-cukup-dekat-untuk-saling-menyapa dan tidak terlalu dekat untuk bertukar kata lebih dari sapaan.

Keadaan ini berlangsung sampai kami kembali duduk di kelas bu Diana. Ibu Diana duduk di atas meja sambil membaca sebuah buku besar, menghiraukan mahasiswanya yang telah duduk rapi dan bingung kenapa kelas belum dimulai juga. Ibu Diana tiba-tiba mengangkat kepalanya lalu mulai menatap kami lama. “Hmm.. Kalian buat lima kelompok lalu minggu depan kumpulkan laporan mengenai pertunjukkan drama, bebas mau drama apa saja, saya tidak keberatan walau satu kelompok membahas drama yang sama asal dalam prespektif yang berbeda,” kelas segera ribut dengan gumaman protes. Ibu Diana menutup bukunya, berdiri, lalu mengangkat tangannya, “sampai jumpa minggu depan,” ia kemudian pergi meninggalkan kelas.

Aku menghela nafas. Aku tidak kenal siapa-siapa di kelas ini dan aku bukan orang yang bisa dengan mudah berbicara dengan orang asing. Tiba-tiba bahuku disentuh seseorang, “hei,” Tian tersenyum kepadaku. “Aku tidak kenal siapa-siapa di kelas ini selain kamu, mau bareng?” Aku hanya bisa mengangguk. Tian langsung duduk di sebelahku, lengannya bersenggolan dengan bahu dan lenganku. Kenapa tempat duduk di sebelahku dekat sekali dengan tempat dudukku?

Akhirnya, karena kami hanya berdua kami bergabung dengan kelompok lain yang juga masih kekurangan anggota. Kami mendiskusikan drama apa yang sebaiknya akan kami bahas, tapi ada terlalu banyak pilihan. Aku mengusulkan drama klasik Jepang, seperti Kabuki atau Noh, tapi seseorang berkata akan sulit menulis laporan tentang drama yang bahasanya saja tidak kami mengerti.

“Giselle,” Tian bergumam. “Ha?” Aku menatapnya. “Bagaimana kalau Giselle? Pertunjukkannya tidak memiliki dialog karena Giselle pertunjukkan balet dan plotnya tidak terlalu berat dan cukup sederhana,” usul Tian dengan semangat, matanya berbinar. Aku mengangguk setuju. Mungkin karena yang lain lelah berdiskusi dan mau pulang saja atau mungkin karena Tian punya mata yang menghipnotis dan mematikan, akhirnya yang lain ikut setuju. Kami bertukar kontak dan memutuskan untuk bertemu lagi Sabtu di perpustakaan kampus. Saat Tian masih berbicara dengan Cipto, salah satu anggota kelompok, tentang apa itu Giselle, aku pergi keluar kelas bersama anggota kelompok lain. Saat aku baru menginjakkan kaki di luar kampus telpon genggamku bergetar.

Hati-hati di jalan Rai ;) -Tian

Hampir saja aku menjatuhkan telpon genggamku. Walau kami sudah bertukar nomor ID aplikasi untuk chat, Tian menghubungiku lewat SMS. Mungkin dia punya bonus 100 SMS yang sayang bila tidak digunakan jadi dia tiba-tiba mengirimkan pesan singkat ini? Aku masih menatap telpon genggamku lama. Apa aku harus balas pesan singkatnya? Apa aku harus diamkan saja? Aku agak bersyukur pesan ini ia kirim lewat SMS bukan aplikasi chat gratis yang memperlihatkan apakah pesan sudah dibaca atau belum. Tiba-tiba telpon genggamku bergetar lagi.

Oh, aku tahu nomor ini dari Egi. Maaf kalau mengagetkanmu!

Ya, sekitar dua minggu yang lalu. Tapi kenapa dia baru menghubungiku sekarang? Kenapa dia menghubungiku dengan pesan singkat tidak penting seperti “hati-hati di jalan winky face”? Apa maksudnya? Apa dia sedang berusaha memancingku? Memancingku untuk apa? Terlalu banyak pertanyaan, terlalu banyak dugaan, jadi akhirnya aku memutuskan untuk mengunci layar telpon genggamku, menyimpannya ke dalam sakuku lagi, dan melanjutkan perjalananku pulang ke kamar kosanku yang sempit.

Hari ini adalah hari yang panas, aku memegangi kedua pipiku.

-

“Aku rasa ada yang salah dengan pangeranmu itu,” Egi mengacungkan sumpitnya ke depan wajahku. Gilang memukul kepalanya dari belakang, “jangan menodong orang dengan sumpit yang baru saja kau masukkan kemulutmu, menjijikkan,” Egi mengusap kepalanya. “Ini kekerasan dalam rumah tangga!” Tuduhnya kesal. “Aku rasa ini hanya kekerasan,” potongku, Gilang mengusap kepalaku, “tuh, dengarkan Rai, ini hanya kekerasan.”

“Dasar keluarga kejam! Sadis! Tidak berprikemanusiaan!” Aku hanya mengangkat bahuku. “Ya, ya, tapi si Tian ini, apa dia membuatmu tidak nyaman? Kau mau aku bicara dengannya?” Gilang bertanya kepadaku. Aku segera menggeleng kencang, “tidak, tidak, dia hanya... membuatku curiga. Tapi kau tidak perlu berbicara apa-apa dengannya. Paling seminggu dua minggu dia akan berhenti menggangguku sendiri.” Egi mengangkat salah satu alisnya, tapi memutuskan untuk diam saja.

“Kau yakin?” Gilang menatapku, wajahnya terlihat khawatir. Gilang memang hanya beda empat bulan dariku tapi bagaimana pun dia kakak sepupuku jadi kadang dia terlalu protektif kepadaku. Pertama kali Egi mengajakku makan malam di warung bawah kosannya, Gilang langsung menceramahi Egi malam itu juga setelah kami selesai makan. Aku ingat malam berikutnya ia menceramahiku untuk tidak jatuh cinta kepada Egi. Aku berhasil meyakinkannya bahwa aku tidak akan jatuh cinta kepada Egi karena hal yang dia bicarakan kepadaku, ya, kalau bukan pacarnya yang bekerja di bank, pacarnya yang bekerja di kantor pemerintahan, atau pacarnya yang baru ambil S2. Lagipula, pada satu titik, aku benar-benar yakin Egi dan Gilang pacaran, tapi keduanya langsung marah saat aku tanyai soal hal ini. Terutama Gilang; “kalau pun aku gay aku juga pilih-pilih kali!” Katanya kesal malam itu.

“Tentu saja aku yakin. Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku. Justru aku yang khawatir tentang perkembangan hubunganmu dengan Lani,” Lani adalah teman satu angkatan Gilang yang ia taksir dari semester pertama. Tapi Gilang pengecut kalau soal cinta, tidak seperti Egi, jadi sampai sekarang pun Gilang hanya bisa mengagumi Lani dari jauh. Gilang mengalihkan pandangannya, menolak menatapku. “Ah, si payah ini menyapa Lani saja tidak berani. Inilah kenapa kau masih perjaka sampai sekarang nyet,” ejek Egi. “Memang aku kau, itu penis atau USB? Colok sana, colok sini”

“Aku cuma punya tiga colokan njing! Memang kau kira aku laki-laki apaan? Aku setia!” Bela Egi. “Cuma tiga,” Gilang mendengus. “Jadi yang di chat-mu itu siapa?” Egi langsung menunjuk Gilang dengan tatapan menuduh, “kau buka-buka hapeku?! Bahkan pacarku tidak buka-buka hapeku!” Gilang memutar bola matanya, “aku tidak perlu memeriksa hapemu kalau reaksimu seperti itu.” Egi hanya cemberut, kehilangan kata-kata, tiba-tiba ia mengernyitkan keningnya, “tunggu, kita tadi sedang membahas pangerannya Rai yang kemungkinan besar adalah seorang psikopat kenapa malah membicarakan keperjakaan Gilang.”

“Dia bukan pangeranku! Dan aku sudah mengalihkan pembicaraan kita menjadi Lani,” aku melipat kedua tanganku di meja. “Kalau begitu aku alihkan lagi menjadi Tian, karena pembicaraan kita soal Lani hanya akan berakhir sampai Gilang diam dengan pipi yang memerah seperti perawan. Apa hanya aku yang merasa si Tian ini aneh dari cerita-ceritamu?” Gilang baru saja mau membalas ejekan Egi tapi dia memutuskan untuk menyeruput tehnya yang mulai dingin dan diam saja. karena bagaimana pun apa yang dikatakan Egi tidak salah.

“Aku rasa dia tidak seaneh itu tapi, ya, dia memang agak aneh,” aku membaringkan kepalaku di lenganku yang terlipat di meja. “Aku rasa dari pada aneh dia hanya sedikit terlalu edgy. Aku yakin dia ini termasuk anak-anak yang baca Murakami dan pikir mereka keren karena mereka sudah membaca semua buku-buku Murakami,” Gilang mengaduk tehnya. Egi mengangguk, “aku selalu merasa orang-orang seperti itu aneh, karena aku bahkan berusaha baca cerita pendeknya Murakami dan aku tidak pernah selesai karena bagian depannya terlalu membosankan.” Gilang tertawa, “Samsa in Love? Ugh, aku bahkan tidak bisa baca Kafka. Kita cetek banget, sih, jadi sedih.” Egi ikut tertawa.

Aku memejamkan mataku. “Kau ngantuk Rai? Ayo, kita pulang, memang sudah malam,” Gilang mengusap kepalaku. Egi tertawa mengejek, “ah, dasar bayi. Masih jam segini sudah ngantuk.” Aku terlalu capek untuk membalas ejekannya jadi aku hanya mengerang pelan tanda tak setuju. Akhirnya kami pulang ke kosan masing-masing, Gilang mengingatkanku untuk cuci muka dan gosok gigi sebelum tidur dan Egi tertawa mengejek karena Gilang terdengar seperti ibuku (yang membuatnya dihadiahi sebuah tendangan, walau Egi tidak salah, Gilang memang kadang terdengar seperti ibuku).

Setelah sampai di kosan aku langsung membaringkan tubuhku di kasur. Memejamkan mata sejenak. Bayangan tuan bermata indah terbesit di kepalaku; matanya berbinar, senyumnya lebar, lesung pipitnya kecil. Aku segera membuka mataku, sadar tentang apa yang aku baru saja kubayangkan di kepalaku. Aku duduk, wajahku panas, aku cepat-cepat ke kamar mandi untuk mencuci wajahku. Apa yang terjadi kepadaku? Apa yang sudah dia lakukan kepadaku?

-

Sabtu pagi aku sudah di perpustakaan untuk menghabiskan waktu sampai waktu janjian kelompok kelas drama modern. Awalnya aku mau menunggu di kosan saja sambil malas-malasan, tapi kepalaku dipenuhi dengan bayangan-bayangan yang membuat perutku terasa aneh setiap aku membiarkan otakku istirahat sejenak saja, jadi aku putuskan untuk main di perpustakaan, mencari-cari buku yang enak untuk dibaca.

Aku suka menghabiskan waktu di perpustakaan saat aku tidak punya buku tertentu untuk dicari. Hanya menelusuri rak-rak dan mencari-cari buku apa yang kelihatannya menarik. Kadang aku menemukan buku-buku yang sangat menarik, kadang aku menemukan buku aneh yang membuatku bertanya-tanya kenapa perpustakaan kampus menyimpan buku ini. Tapi bila aku punya buku tertentu yang harus aku cari, aku benci harus mencarinya di perpustakaan kampus karena 90% akhir dari skenario ini aku tidak berhasil menemukan buku yang aku cari.

Aku duduk di lantai di depan rak bagian buku-buku sastra Cina, aku tidak pernah membaca buku fiksi dari Cina sebelumnya, aku menimbang-nimbang mungkin aku bisa memulai sekarang, tapi aku tidak tahu harus membaca yang mana. Sebenarnya perpustakaan menyediakan tempat duduk, bahkan ada sofa segala. Tapi aku suka duduk-duduk di lantai di sudut perpustakaan, bersembunyi di balik rak-rak, dan dikelilingi oleh buku-buku tua yang banyak berdebu. Aku merasa sendirian dan aman. Rasanya walau di luar sedang terjadi zombie apocalypse aku akan baik-baik saja.

“Kau sedang baca apa?”

Aku bersumpah jantungku benar-benar hampir copot saat itu juga. Aku berhasil menahan teriakanku. Suara yang terdengar tidak asing itu tertawa kecil, sangat familiar. Benar saja, Tian berjongkok di belakangku. Kepalanya berada sangat dekat dengan kepalaku, berusaha mengintip buku yang sedang aku buka-buka. Sedekat ini aku bisa melihat bulu matanya yang panjang dan mencium bau parfum samar yang anehnya cukup lembut. Bukannya aku merasa bahwa laki-laki yang menggunakan parfum yang wanginya lembut aneh, tapi baik Gilang atau Egi selalu menggunakan parfum yang baunya menyengat dan membuatku pusing. Aku sedikit membenci Tian karena parfumnya sangat wangi sampai-sampai aku ingin menciumnya lebih dekat.

“Oh, aku belum pernah baca ini, apa bukunya menarik?” Ia menggapai buku yang sedang aku pegang dan membaliknya untuk melihat sampul bukunya. Menyadari betapa dekat tubuh kami karena tidak hanya mencium wangi parfumnya, aku juga bisa merasakan panas tubuh Tian di punggungku, aku dengan refleks mencondongkan tubuhku ke depan. Aku tidak pernah sedekat ini dengan manusia, apalagi laki-laki. Bahkan aku dan Gilang tidak pernah sedekat ini. Mungkin ia menyadari aku merasa tidak nyaman, mungkin dia akhirnya sadar bahwa posisi kami sangat tidak enak dipandang dari sudut pandang orang ketiga, entah yang mana tapi Tian akhirnya bergerak dan duduk di sebelahku. Lengan kami masih bersentuhan dan ini masih terlau dekat bagiku, tapi setidaknya punggungku tidak lagi merasa panas. Buku yang tadinya ada di tanganku sudah berpindah ke tangannya.

Aku menatapnya lama, kehilangan kata-kata. Ini masih jam sembilan pagi, waktu kumpul untuk tugas drama modern masih empat jam lagi. Apa yang Tian lakukan di sini? Apa dia mengikutiku? Untuk apa dia mengikutiku? Bagaimana dia tahu aku ada di sini? “Kalau kau terus menatapku seperti itu mukaku akan memerah karena malu,” ia mengalihkan pandangannya dari buku di tangannya dan menatapku dengan senyum yang membuatku kesal. “Sedang apa kau di sini?” Tanyaku seketus yang aku bisa. Ia mengangkat kedua bahunya, “aku bosan di rumah dan memutuskan untuk menghabiskan waktuku di perpustakaan sampai jam satu. Lalu aku melihatmu duduk sendirian di sini. Kau asyik sekali sampai-sampai tidak mendengar aku mendekat,” ia menatap buku yang ia ambil dariku, “Empress Orchid? Apa buku ini sebegitu menariknya?” Aku mengambil buku itu lagi dari tangannya, “aku tidak tahu, sebelum benar-benar membacanya seseorang mengejutkanku dari belakang,” Tian diam saja dan kemudian mengambil buku lain lalu membuka-bukanya.

Selama sepuluh menit, kami berdua diam, aku mencoba membaca buku tadi dan Tian membaca buku lain. Tapi aku tidak bisa konsentrasi jadi aku akhirnya menutup buku yang sedang kupegang lalu menatapnya, “sedang apa kau di sini?” Tian balas menatapku bingung, “tadi kan sudah kubilang, aku-“ Aku segera memotongnya, “bukan, bukan sedang apa kau di perpustakaan pagi-pagi buta begini, tapi sedang apa kau, di sini, di sampingku.” Tian memanyunkan bibirnya, “apa aku tidak boleh ada di sini?” Tanyanya dengan wajah sedikit sedih. Aku menghela nafasku, “bukannya tidak boleh, sih, tapi bukannya kau punya selera buku sendiri?”

Tian hanya menggaruk belakang kepalanya, “aku tidak keberatan duduk di sini, lagipula siapa bilang aku tidak suka... buku-buku ini?” ia menatap buku-buku sastra dari Cina yang kebanyakan buku novel sejarah. “Kau bukannya suka Murakami?” Mendengar pertanyaannku, wajah Tian langsung terlihat cerah. “Dari mana kau tahu aku suka Murakami? Aku sudah baca semua novelnya! Apa kau juga suka buku-bukunya?” Mendengar hal ini aku hanya bisa kembali menghela nafas. Tentu saja Gilang dan Egi benar. Tentu saja Tian suka Murakami seperti anak-anak hip edgy lainnya. “Aku.. hanya menebak-nebak saja. Kau terlihat seperti orang yang akan sangat menyukai Murakami. Tidak bisa dibilang suka kalau aku hanya pernah baca Samsa in Love,” karena Egi adalah Murakami anti dan Gilang terlalu malas untuk menyelesaikan buku-buku Murakami, aku tidak pernah benar-benar mencoba membaca buku-buku karyanya. Aku juga membaca Samsa in Love karena Gilang terus membicarakan betapa membosankannya cerita pendek itu dan ia harus membacanya untuk kelas kesusastraan. Akhirnya ia menyerah dan memilih untuk membaca novel Kawabata, Yukiguni, yang menurutnya juga membosankan tapi setidaknya tidak bercerita tentang kisah cinta kecoak dan manusia. Menurutku Samsa in Love tidak seburuk itu tapi Gilang memang sering terlalu dramatis.

“Wah! Kau harus baca satu karyanya kalau begitu! Sini!” Tian menggenggam pergelangan tanganku dan menarikku berdiri lalu menuntunku ke depan rak bagian buku-buku sastra dari Jepang. Ia mendudukkanku di depan rak lalu sibuk mencari-cari buku kesukaannya. “Sebenarnya yang paling aku suka adalah Hard Boiled Wonderland and the End of the World, tapi mungkin kau lebih baik mulai dari Norwegian Wood karena kebanyakan orang mulai dari situ, ah!” Ia kemudian menarik satu buku dari rak lalu duduk di sebelahku dan menyerahkan bukunya kepadaku. Lagi-lagi aku merasa kami terlalu dekat karena bau parfumnya tercium lagi. Apa Tian tidak tau artinya personal space?

Aku mencoba membaca buku yang ia berikan tapi sulit membaca sesuatu saat seseorang menatapmu dengan seksama seolah kau punya sesuatu yang aneh di wajahmu. Akhirnya aku menutup bukunya membuat Tian terkejut, “kenapa? Apa kau tidak suka bukunya?” aku menggeleng, “mungkin aku baca di kosan saja, aku mau beli sesuatu untuk mengganjal perutku karena aku belum sarapan.” Tian kembali tersenyum, “ide yang bagus! Aku butuh kopi pagi-pagi begini.” Aku mengernyit karena aku tidak bisa minum kopi, apalagi pagi-pagi di saat perutku kosong, “kita juga bisa pesan roti lalu bagi dua! Roti di kafe bawah cukup enak, tapi porsinya terlalu besar untuk sarapan bagiku, apa kau mau kentang goreng juga? Atau nasi goreng?” Aku tidak bisa makan pagi jadi aku semakin mengernyitkan dahiku. Kenapa dia langsung berkesimpulan aku mengajaknya untuk ikut bersamaku? “Roti saja,” gumamku. Ah, pada akhirnya aku tidak bisa bilang tidak pada wajah yang bersemangat itu.

-

“Aku punya kartu mahasiswa sendiri, kenapa kau harus meminjamkan bukunya untukku?” Tian tersenyum menggoda. Matanya berkilat dan lesung pipitnya yang kecil dan hampir tidak kelihatan muncul. “Karena dengan begini kau tidak bisa lari dariku, setidaknya untuk dua minggu ke depan,” jawabnya santai. Perutku kembali ngilu dan wajahku terasa panas. Tian menatapku lalu tertawa kecil, ia kemudian menyodorkan minuman yang tadi aku pesan lalu membawa kopi dan roti yang ia pesan. Rasanya otakku gosong dan aku mengalami korsleting karena saat aku sadar kami sudah duduk di kursi kafe, lututnya bersentuhan dengan lututku, dan aku sedang minum kopinya yang ia sodorkan kepadaku.

Ya, Tuhan, apa yang sudah orang ini lakukan kepadaku?    

Friday, June 23, 2017

Giselle Act 1

Pertama kali aku bertemu dengannya kami sedang ospek jurusan. Aku ingat, “ah, orang ini matanya indah,” terlintas di kepalaku ketika kami berpapas mata untuk pertama kalinya. Saat itu aku rasa aku tidak sedang jatuh cinta, jantungku tidak berdegub kencang dan tanganku tidak berkeringat dingin. Aku suka matanya yang besar tapi tajam dan rambutnya yang ikal panjang sebahu. Walau begitu aku pikir kami tidak akan pernah bertegur sapa. Aku tidak ramah, dia seperti tokoh utama novel remaja yang pendiam dan misterius. Aku butuh seseorang untuk memulai pembicaraan dalam bergaul, aku rasa dia juga.

Kenyataannya, benar, kami tidak bertegur sapa untuk waktu yang lama. Aku lebih suka pulang setelah perkuliahan selesai, dia cukup aktif di kampus. Kami bukannya benar-benar berbeda, malahan aku rasa kami memiliki selera yang cukup sama, tapi kesamaan selera tidak serta merta membuat dua orang yang enggan menyapa tiba-tiba menjadi kawan.

Kedua kali aku berpapas mata dengannya kami sedang menonton pertunjukkan teater yang sama. Ia dengan seorang kakak cantik yang diam-diam sering aku pandangi di kampus dan aku dengan kawanku yang menyeretku jauh karena ia tertarik dengan pertunjukkan teater ini. Kakak cantik itu ternyata kenalan kawanku, Egi. Mereka saling bertegur sapa dan entah kenapa akhirnya aku duduk bersebelahan dengan tuan bermata indah.

Aku tidak pernah bisa diam dalam menonton pertunjukkan atau film, komenku selalu banyak, dan Egi sama cerewetnya denganku. Tapi duduk di sebelah orang yang terasa asing membuatku enggan membuka percakapan dengan Egi. Egi kadang melirikku, tapi dia memutuskan untuk diam saja. pertunjukkannya tidak buruk, tapi juga bukan pertunjukkan terbagus yang pernah aku saksikan. Beberapa adegan cukup menggelitik dan menghibur, beberapa terlihat canggung. Tiba-tiba bahuku dicuil dan permen karet disodorkan kepadaku. Kami bertatapan mata untuk ketiga kalinya.

Aku ingin menolak tawarannya, tapi tanganku tanpa sadar sudah mengambil satu permen karetnya. Aku sebenarnya tidak terlalu suka permen karet. Permen karet terlalu manis untukku dan aku tidak boleh menelannya, aku tidak terlalu mengerti apa kenikmatannya. Jadi aku simpan permen karet itu di sakuku cepat-cepat. Tuan bermata indah mengulurkan tangannya lebih jauh untuk menawari Egi. Tuan bermata indah matanya menghipnotis. Aku ingin buang permen karet darinya karena entah kenapa permen itu terasa panas di sakuku.  

-

Malam itu, setelah pertunjukkan teater selesai, aku cepat-cepat menarik Egi untuk segera pulang. Sudah kemalaman, kataku tanpa menatap matanya. Aku bisa merasakan tatapan Egi yang tahu aku berbohong. Aku pernah pulang lebih malam dari ini, sendirian. Tapi ia tidak terlalu mempersalahkan tingkah lakuku yang agak aneh. Ia mungkin berpikir aku tidak terlalu menyukai pertunjukkan teaternya dan ia mungkin merasa bersalah telah menyeretku paksa. Di dalam kereta aku pura-pura mengantuk, Egi mulai bercerita tentang pendapatnya tentang pertunjukkan tadi. Aku sedikit membenci diriku yang masih dapat merasakan permen karet di sakuku.

-

Mungkin aku punya sedikit ketertarikan dengan tuan bermata indah. Bukan salahku. Ia pria yang menarik. Tapi aku benci mengakuinya jadi aku berusaha untuk tidak pernah bertatapan mata lagi dengannya. Ia punya mata yang berbahaya. Sayangnya, aku berkawan dengan Egi (dan aku tidak bisa memutuskan pertemanan kami karena kalau benar-benar dihitung, aku hanya punya dua kawan; Egi dan Dipta).

“Kau ingat Tian?” Egi memulai pembicaraan saat kami sedang makan malam di salah satu warung ayam goreng kesukaannya.

“Siapa?” Jawabku malas, aku sebenarnya tidak lapar atau pun mau keluar kamar, tapi Egi—seperti biasa—memaksaku untuk menemaninya. Dia habis bertengkar dengan pacarnya, entah yang mana, jadi dia sedikit haus perhatian belakangan ini.

“Tian, yang duduk di sebelahmu waktu nonton teater minggu lalu,” aku terdiam sejenak. Tentu saja aku ingat. Permen karetnya masih ada di saku kardiganku.

“Oh, ya, namanya Tian?” Egi menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memberikan tatapan orang tua yang kecewa kepada anaknya (aku tahu karena orang tuaku selalu menatapku seperti itu), “dia satu jurusan denganmu, bagaimana kau bisa tidak tahu namanya?” Aku hanya mengangkat kedua bahuku. “Kau tahu bagaimana. Kenapa dengan si Tian ini?” Aku balik bertanya.

“Tian bertanya padaku apakah kau membencinya,” Egi menatapku serius, “dan apakah kita pacaran.” Aku mengernyit, “apa kita terlihat pacaran? Apa ini alasan kenapa tidak ada yang mau mendekatiku selama empat semester?” Egi hanya mengangkat bahunya, “kalau menurut pendapatku, itu mungkin karena kau selalu memasang wajah tidak bersahabat setiap orang mendekatimu.” Aku menendang kakinya cukup kencang, “aku tidak butuh pendapatmu.” Egi meringis.

“Apa kita tidak akan membicarakan bahwa akhirnya ada seseorang yang sepertinya tertarik denganmu?” Aku menyedot teh tawar dingin dihadapanku, menolak memberikan komentar apapun. Egi menatapku aneh. “Rai?”

“Siapa yang bilang dia tertarik denganku? Bagaimana kalau dia tertarik denganmu?” Aku balas bertanya. Egi tiba-tiba nyengir lebar. Cengiran yang berarti dia habis melakukan sesuatu yang benar-benar bodoh. “Karena... nomor kontak yang dia minta dan aku berikan kemarin nomor kontakmu?”

-

Berkawan dengan Egi bukanlah keputusanku. Kebetulan dia adalah kawan baik sepupu laki-lakiku. Sebelumnya kami tidak sedekat ini, tapi setelah sama-sama merantau ke kota, universitas, dan fakultas yang sama dengan natural intensitas tegur-sapa kami semakin besar dan akhirnya aku terjebak di dalam perkawanan yang tidak sehat di mana aku menginginkan kedamaian dan dia datang menggangguku karena Gilang, kakak sepupuku, adalah laki-laki 23 tahun emo dengan hormon estrogen yang lebih tinggi dariku; “butuh waktu sendiri” katanya.

Di saat Gilang tidak mau diganggu maka Egi hanya punya dua pilihan; Dipta atau Rai yang malang. Dipta biasanya tidak merespon bila dijejali dengan masalah cinta Egi yang rumit, maka Rai yang malang harus terjebak dengan Egi yang dipenuhi dengan keluh kesah tentang kisah cintanya yang rumit dan tidak hanya satu.

Intinya, perkawananku dengan Egi seharusnya kuakhiri saat kami masih ditahap tegur-sapa.

-

Untungnya, Tian dan Egi sepertinya hanya mengalami miskomunikasi waktu itu karena setelah hampir satu minggu tuan bermata indah tidak menghubungiku. Ia mungkin tidak bermaksud apa-apa ketika bertanya tentang hubunganku dan Egi, ia hanya penasaran, tapi Egi memang sering kali salah membaca premis karena itu kesimpulan yang ia ambil juga sering kali salah. Permen karet dari tuan bermata indah sudah aku buang karena aku tidak suka permen karet dan entah kenapa aku enggan memberikannya kepada orang lain. Sebagian kecil dari diriku merasa kecewa, tapi setidaknya dengan begini aku tidak harus mengalami perasaan-perasaan tidak menyenangkan saat bertatap muka dengan Tian; berkeringat dingin atau merasakan ngilu di perutku tanpa alasan yang jelas. Aku benci merasa seperti anak SMP yang baru mengenal cinta. Aku tidak suka merasa menyedihkan. Aku suka memiliki kontrol atas apa yang aku rasakan.

Keberuntunganku ternyata tidak lama karena kelas drama modern yang aku ambil karena aku pikir akan menyenangkan adalah kelas yang juga tuan bermata indah anggap akan menyenangkan. Kami bertatap mata saat aku masuk ke kelas dengan langkah kaki yang gembira. Rasanya ususku jatuh ke bawah lubang, tahu kan, perasaan seperti naik roller coaster dan tiba-tiba roller coasternya jatuh ke bawah. Langkah kakiku jadi kurang gembira dan aku cepat-cepat duduk di bangku depan, jauh dari tuan bermata indah yang duduk di belakang kelas.

Aku berusaha melupakan eksistensi tuan bermata indah selama kelas berlangsung. Tidak mudah karena dosen kelas ini ternyata suka melihat muridnya menderita. Ibu Diana, dosen yang gayanya tidak senyentrik yang aku kira, memutuskan akan menyenangkan bila mahasiswanya saling mengenal satu sama lain sebelum memulai mengajarkan kami tentang sejarah perkembangan seni pertunjukkan klasik sampai modern Eropa. Ia memegang daftar hadir kelas lalu menggumamkan sesuatu yang sulit untukku tangkap.

“Rai Annisa? Siapa Rai Annisa?” Aku mengangkat tanganku. “Kenapa nama kamu Rai Annisa?” Tudingnya tiba-tiba. Aku bingung mau menjawab apa dan hanya bisa membuka mulutku sedikit, “ssshhh, aku tidak mau tahu, aku mau Sebastian Kuncoro yang tahu kenapa namamu Rai Annisa. Siapa Sebastian Kuncoro?” Aku memutar kepalaku ke belakang dan mendapati tuan bermata indah mengangkat tangannya, “saya bu.” Aku menghadap ke depan lagi dengan perut yang ngilu. Sepertinya perasaanku terlihat di wajahku karena ibu Diana memandangku aneh, “kenapa? Kamu tidak suka Sebastian?” Aku segera menggelengkan kepalaku cepat-cepat, tapi dia masih memandangku aneh, “kalau begitu kenapa wajahmu seperti itu?” Aku baru mau membuka mulutku untuk menjawab tapi dia segera memotongnya, “sssshhh, aku tidak mau tahu, aku mau Sebastian Kuncoro tahu kenapa wajahmu seperti itu saat aku pasangkan kalian. Kalian berdua pindah ke belakang dan mulai mengenal satu sama lain.” Aku bisa merasakan seluruh kelas menatapku dan mulai menggoda kami berdua, “diam, siapa Lania Marwan?”

-

“Jadi kenapa namamu Rai Annisa?” Tian memulai pembicaraan setelah ibu Diana selesai membagikan pasangan dan keluar untuk “mencari udara segar” yang aku yakin adalah kode untuk merokok. “Karena orang tuaku memberikan nama itu kepadaku?” Jawabku tidak yakin harus menjawab apa. Tian tertawa kecil, matanya yang indah berubah bentuk menjadi bulan sabit. “Oke, aku ubah pertanyaannya, apa arti Rai Annisa?” Ia tersenyum sambil membenarkan duduknya agar lebih nyaman. “Secara literal? Atau filosofis?” Tian tiba-tiba terbahak, beberapa anak kelas lain memandang ke arah kami heran. Aku hanya memandang Tian dengan bingung, bahunya yang bidang naik turun, ia menutup wajahnya dengan tangannya yang besar. Setelah selesai tertawa ia mengangkat wajahnya, “secara literal,” ia nyengir lebar, matanya berkilat. “Rai dari Ray dalam bahasa Inggris dan Annisa dari bahasa Arab,” aku menjelaskan. “Sinar perempuan?” Tian mengangkat alisnya, aku mengangguk. “Tidak semua orang bisa punya nama keren seperti Sebastian,” gumamku. Tian sepertinya mendengar gumamanku (dan punya selera humor yang sangat aneh) karena dia tertawa kecil lagi.

“Sayangnya aku tidak tahu arti di balik namaku. Tapi Kuncoro adalah nama belakang keluarga ayahku,” ia memangku dagu dengan tangannya. “Tapi aku bisa beritahu apa arti Sebastian Kuncoro secara filosofis bila kau ingin tahu,” lanjutnya. “Aku tidak tertarik dengan ceramah eksistensialis pagi-pagi begini,” balasku. Tian tersenyum, “ah, siapa yang bilang aku eksistensialis?” Aku balas tersenyum, “karena aku bisa mengenali kawan saat aku bertemu satu.” Tian tersenyum puas, kemudian mengangguk kecil.

“Aku kira kau tidak menyukaiku,” ia tiba-tiba memulai topik lain. Topik yang kebetulan sekali tidak ingin aku mulai. “Saat di teater kita duduk bersampingan dan kau duduk sangat jauh dariku, seperti aku membawa penyakit menular. Aku sampai mengecek bau nafasku dua kali,” ia memasang tampang sedih tapi aku bisa melihat kilat di matanya yang menunjukkan ia menikmati reaksiku. “Aku hanya sulit berdekatan dengan orang asing,” aku mencoba membela diri. “Dan ibu Diana bilang kau tidak suka harus dipasangkan denganku,” tambahnya lagi.

“Aku hanya merasa kita tidak akan menjadi partner yang cocok,” Tian terlihat tertarik dengan jawabanku. “Oh? Kenapa?” Aku menelan ludahku. Kenapa? Karena kau punya mata yang indah yang membuatku merasa bodoh? Karena rambutmu ikal sebahu dan pakaianmu rapi dan menarik? Karena bahu dan tanganmu besar? “Hanya perasaanku saja,” jawabku singkat. “Hmm.. Menurut perasaanku kita akan menjadi partner yang sangat cocok,” ia menaikturunkan alisnya sambil menatapku. Aku harap ekspresiku tidak berubah karena jantungku hampir copot.

“Kenapa ambil kelas ini?” Aku berusaha mengalihkan pembicaran. Tian tersenyum, tapi aku bisa melihat ia tahu aku berusaha mengalihkan pembicaran kami. “Aku suka seni pertunjukkan dan kelas ini adalah satu-satunya kelas tentang seni pertunjukkan yang buka semester ini,” ia mengangkat bahunya. Aku mengangguk, pura-pura tertarik. “Seni pertunjukkan seperti apa yang kau suka?” Aku kembali bertanya.

“Giselle,” Tian menjawab dengan percaya diri, matanya menatapku menantang. “Giselle? Balet Giselle” Aku bertanya dengan nada tidak percaya. Giselle? Serius? Orang ini suka Giselle? Tian tampak sedikit kecewa. “Kenapa? Ada masalah kalau aku suka Giselle?” Ia melipat tangannya di depan dada. “Iyalah, cerita Giselle menyebalkan, tokoh-tokohnya menyebalkan, koreografinya standar. Dari segi cerita aku jauh lebih suka Carmen, Coppèlia punya moral cerita yang menarik dan koreografinya cukup menghibur, tapi dari segi koreografi jelas Swan Lake yang menang karena Odile harus berputar 32 kali.”

Fouettè.”

“Ha?”

“Odile harus melakukan fouettès 32 kali.”

Tian tampak puas. Seperti ia baru selesai menyelesaikan tes sulit dan sangat senang dengan hasilnya. Matanya memicing dan senyumnya lebar. Aku mengerutkan keningku, “tidak semua orang gila balet,” kataku setelah berdecak kesal. Tian tertawa renyah. “Kau sering sekali tertawa padahal menurutku tidak ada yang lucu,” kataku lagi sambil menaikkan alisku.

“Aku hanya... sangat senang,” jawabnya, senyumnya masih lebar diarahkan kepadaku. Aku mengalihkan pandanganku dari tatapannya yang mempesona; yang membuat tanganku berkeringat dan jantungku berdetak kencang.


Thursday, May 18, 2017

Jangan Biarkan Dia Bicara

Jangan biarkan dia bicara.

Aku menyumpal mulutku dengan pil-pil kuning. Aku hitung sampai sepuluh. Apa aku butuh lebih? Tapi perutku kembung karena air putih. Malam ini malam yang gerah. Kipas angin berputar kesepian. Langit-langit kamar gelap. Kotak merah ternganga di bawah ranjang. Aku berlutut, berdoa sebelum tidur, kedua tanganku kubuka. Setelah selesai aku baringkan tubuhku di kasur. Suara musik mengalun pelan. Dalam kegelapan pisau kecil tertinggal di lantai sendirian. Kepalaku berkunang-kunang.

-

“Jadi kau maunya apa?”

Pertanyaan itu seperti melilit tenggorokanku. Jadi aku maunya apa? Aku juga tidak tahu. Kalau aku buka suara orang-orang akan mengataiku pemimpi. Jadi aku diam saja. Tapi dadaku sesak. Nafasku sengal. Diam saja. jangan biarkan dia bicara, begitu kata benakku.

Tatapan tuan berkemeja dengan wajah lesu memicing, menungguku menjawab, mungkin agar ia bisa mengatakan apa yang aku dengar di kepalaku. Aku diam saja.

“Kalau kau pilih jalan yang kanan mungkin kau bisa menemukan pohon rambutan,” ia akhirnya menjawab untukku, “sudah banyak yang coba, rata-rata mereka berhasil menemukannya.” Aku masih diam saja.

“Jadi kau pilih jalan kanan?” Aku ingin menggeleng. Aku tidak pandai memanjat. Aku tidak suka rambutan. Tapi jangan biarkan dia bicara, bisik seseorang. Jadi akhirnya aku mengangguk. Senyum tipis menghiasi wajah tuan berkemeja yang keriput, ia mengusap rambutnya yang putih. “Aku kira kau akan menjawab tidak. Jalan yang kiri, ah, jalan yang kiri tidak aman,” aku diam saja. “Tenang saja, jangan terlalu tertekan.” Tapi aku kesusahan bernafas.

-

“Kau sedang apa sekarang?”

Aku terdiam. Aku tidak sedang apa-apa. Aku hanya duduk lalu berdiri. Sudah sampai di jalan ini aku tidak tahu harus bagaimana. Aku mau ke kiri tapi jalannya bukan untukku katanya. Jadi aku diam saja.

Akhirnya aku pura-pura jalan. Jalan di tempat? Nyonya di dalam mobil menatapku kasihan. Ia ingin meninggalkan aku di hutan ini atau memakiku karena aku banyak cacatnya, tapi ia tidak tega. Ia memberiku payung juga roti dan susu. Ah, nyonya yang baik, kata benakku. Tapi sekarang aku sedang apa? Aku menangis, aku tersenyum, aku terbahak, aku tidak tahu. Aku diam saja.

-

“Bagaimana kalau kau coba naik sepeda?”

Begitu kata gadis yang kutemui di pinggir jalan. Ia punya sepeda tak jauh dari tempat kami bertegur sapa. Sepedanya belum bisa dikendarai karena ia belum bisa naik sepeda. Aku ingin bilang aku tidak punya sepeda. Tidak ada yang mau memberiku sepeda. Ia hanya menatapku heran. Seolah aku yang tidak mau punya sepeda. Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku diam saja.

-

Aku rasa semua orang sedang tidak mendengarku sekarang begitu aku berpikir sambil menatap jurang terjal di hadapanku. Mungkin karena aku diam saja. Tapi kalau aku berkata semua orang menganggapku gila. Jadi aku diam saja. Jangan biarkan dia bicara, begitu bisik seseorang di kepalaku. Tapi aku hampir benar-benar gila. Akhirnya aku teriak juga. Tapi teriakanku tidak ada bentuknya. Mungkin lebih baik aku diam saja.

-

Aku terbangun dengan lengan dan kaki yang mati rasa. Perutku mual. Tubuhku lemas. Suara gema teriakan tadi masih terngiang di kepalaku. Jangan biarkan dia bicara, bisik seseorang di sudut kamar. Jadi dengan tangan gemetar aku gapai kotak merah dan aku sumbat mulutku dengan pil-pil yang sekarang berubah warna. Aku hitung sampai sepuluh. Haruskan aku tambah? Cahaya masuk melalui celah jendela. Suara manusia bicara membuatku iri, aku ingin keluar sana.

Tapi seseorang menahan kakiku, membisikku penuh cemooh; “jangan biarkan dia bersuara.” Jadi aku diam saja. Air mataku keluar, tapi seseorang membekam bibirku. Aku tidak bicara, tidak bersuara, seseorang memeluk tubuhku di dalam kegelapan; “'tak kan ku biarkan kau bicara.”    

Tuesday, May 16, 2017

Magenta



Tangan Elena tidak bisa berhenti gemetar.

Ia berusaha menenangkan dirinya. Ssshh... Elena sudah dewasa bukan remaja tanggung yang tidak bisa mengapresiasi hidup ia coba meyakinkan dirinya. Tapi 12 tahun berikutnya ia masih saja digoda malam-malam yang sepi. Seperti angin musim pancaroba membisikinya untuk kembali menggoresi tubuhnya. Seperti kegelapan yang hampa mengingatkan keberadaannya yang sia-sia.

Mungkin, tidak semua orang bisa mengerti mengapa rasa sakit malahan membuatnya sedikit terbebas dari rasa sesak yang menggorogoti tidur dan bangunnya. Tapi begitulah ternyata, ketika luka terbuka, ia merasa akhirnya ia bisa menangis tersedak bebas. Ia bisa melupakan hidupnya yang menyedihkan, perasaan-perasaan yang membuatnya gelisah. Elena ingin merasakan kesakitan itu lagi. Ia ingin lupa, ia ingin melihat magenta.

-

Elena ingat ketika darah terlalu banyak keluar dari lukanya dunia tiba-tiba berubah menjadi magenta. Kepalanya menjadi berkunang-kunang dan lukanya terasa pedih, tapi lantai keramik putih di bawah kakinya dihiasi warna magenta cantik. Seperti bunga-bunga kecil, seperti cinta, mungkin. Lalu ia akan tertawa kecil dengan air mata di pipinya; ah, magenta, cinta. Senada.

-

Ia berhenti melukai dirinya ketika lukanya menjadi terlalu banyak dan orang-orang di sekitarnya mulai menatapnya curiga. “Dia gila,” mungkin begitu orang-orang mengatainya. Lengannya tidak muat lagi untuk luka baru dan ia tidak berani mengiris terlalu dalam. Akhirnya ketika luka-lukanya mengering, perasaan bersalah melilit perutnya. Ia sadar yang ia lakukan tidak ada artinya, tidak ada gunanya. (Kecuali bila ia dapat menekan pisau kecil di pergelangan tangannya lebih dalam. Lebih perih. Sampai dunia magenta itu berubah jadi merah dan akhirnya gelap menghilang bersama angan-angan, keputusasaan, lubang hampa di perut dan dadanya.)

-

Tidak ada yang harus mengerti. Ia sendiri juga tidak mengerti.

Mengapa ia seperti ini? Bagaimana membuatnya bahagia? Cintakah? Hartakah? Apa yang membuat tangannya gemetar mendambakan magenta yang memabukkan? Setankah yang membisikinya pada malam-malam penuh gelisah? Atau ia kurang dekat dengan Tuhan yang katanya dapat menyelamatkan manusia dari diri mereka? Ia tidak tahu.

Ia coba tenggelam dalam alkohol yang memabukkan, atau doa-doa malam dan ritual agama, keduanya tidak mengisi rongga dadanya dengan apa-apa.

-

Ketika matahari terbit Elena merasa seperti boneka. Ia tersenyum, tertawa, mengapresiasi pagi hari. Ia bersyukur, entah untuk apa. ia memeluk orang tuanya, bercengkrama dengan kawan-kawannya. Duduk, berdiri, berjalan, berlari. Ia merasa seperti manusia biasa. Ketika pertanyaan-pertanyaan dilemparkan kepadanya ia jawab dengan baik-baik saja. Tapi di setiap ruangan ada sudut yang gelap, tempat warna magenta bersembunyi, mengingatkannya pada malam-malam yang sepi.

-

Elena menggenggam pisau kecilnya dengan tangan yang gemetar.

Nafasnya pendek seperti tercekik, dadanya berdetak kencang tak beraturan, keringat dingin turun di punggungnya. Ia tidak sedang bersedih, ia hanya kesulitan mencintai diri dan hidupnya. Kenapa ia ada? kenapa Tuhan memilihnya? Dirinya adalah kesalahan. Semua ini adalah kesalahan. Ia tidak mau merasa seperti ini juga. Ia tidak tahu mengapa ia begitu menderita juga. Apa dia benar gila? Atau setan sedang membisikinya?

Mungkin semuanya benar. Mungkin benar ia gila. Ada penjelasan apa lagi? Hidupnya baik-baik saja, tapi ia ingin mati. Ia ingin menghilang. Ia ingin mati.

Tapi ia tidak punya nyali. Jadi ia hanya menggores luka-luka kecil di lengannya. Bersikap seolah-olah tidak ada yang mencintainya. Tapi ia sadar betul itu hanya kebohongan saja; sebetulnya ia hanya pura-pura. Satu-satunya yang tidak mencintainya adalah dirinya sendiri. Dan mungkin Tuhan yang siap mengirimnya ke neraka.

-


(Dunia warna magenta. Bunga-bunga di kakinya. Suara-suara hilang. Pergelangan tangannya mati rasa.) 

Tuesday, May 9, 2017

Merah


Kalau Lusiana mati ia mau mati dengan cantik.

Suatu hari Lusiana sedang melamun, langit hari itu abu-abu tapi bau hujan belum tercium. Ia sedang duduk di halte bis entah menunggu apa sambil memikirkan skenario-skenario kematian dirinya. Mati karena kecelakaan atau tertabrak kereta terdengar menyakitkan. Mati karena tenggelam membuat jasadnya gembung terisi air. Gantung diri? Di mana ia bisa gantung diri? Langit-langit kamarnya terlalu tinggi. Ada racun kalau ia mau, tapi racun cukup mahal. Kecuali mungkin racun tikus. Tapi racun tikus terdengar menjijikan.

Sebenarnya banyak cara-cara mati lain. Skenario yang paling ia benci adalah mati karena sakit. Sudah sakit, jelek, menghabiskan banyak uang, juga terlalu lama. Ia ingin mati cepat tapi tetap cantik. Ia ingin kematian yan membuat orang-orang mengaguminya sejenak. Yang membuat orang-orang takut menyentuh jasadnya; takut merusak keindahannya.

Ia menghela nafas. Mati itu gampang. Mati dengan indah? Tuhan seperti tidak mengizinkan.

-

Kadang Lusiana terjaga di malam hari sambil memandangi langit-langit. Ia merasakan kehampaan yang mencekik. Yang membuatnya menangis tersedak-sedak di dalam kegelapan malam. Lusiana ingin pulang tapi ia tidak punya rumah. Ia ingin pergi jauh. Ia ingin berhenti merasakan. Ia ingin jadi angan-angan atau mimpi. Ia tidak mau menjadi senyata ini. Begitu menakutkan, begitu kecil.

-

Kadang ia menjejerkan satu-satunya pisau yang ia punya dan pil-pil yang ia kumpulkan. Di bawah sinar temaram lampu tidurnya, keduanya terasa sama menggiurkan. Tetapi pada akhirnya ia hanya duduk di situ memandangi mereka. Tidak bergerak, kadang sulit bernafas. Tanpa sadar, pagi datang. Kamarnya terang. Suara azan berkumandang. Kehampaan yang melilit lehernya makin mencekam.

-

Lusiana tidak tahu mengapa ia seperti ini.

Mungkin ia yang terlalu melodramatis. Hidupnya tidak menyedihkan. Orang tuanya menyayanginya, ia cukup akur dengan adiknya, ia punya kawan-kawan yang sepaham dengan dirinya, keluarganya berkecukupan, ia tidak sedang jatuh atau putus cinta. Kehidupannya baik-baik saja. Tapi entah kenapa ia merasa selalu lelah. Ia lelah tertawa, tersenyum, menangis, bernafas... hal yang paling melelahkan adalah menjadi baik-baik saja. “Apa kabar? Sudah makan? Lagi apa Lusi sayang?” Lusiana akan jawab sesuai apa yang orang tua atau kawannya mau.

Lusiana siapa dan kenapa harus hidup? Kenapa Lusiana harus baik-baik saja dan bersyukur atas setiap tarikan nafas yang mencengkram lehernya erat? Kenapa Lusiana merasa terikat, terkungkung? Kenapa Tuhan terasa mentertawainya? “Ah, Lusiana, kau ratu drama,” begitu mungkin Tuhan mengejeknya.

-

Ketika ia masih kecil, ibunya bilang kalau ia menelan biji jeruk maka pohon jeruk akan tumbuh di perutnya. Ia tidak pernah menelan biji jeruk lagi semenjak itu. tapi kalau dipikir-pikir sekarang, mati karena ditumbuhi pohon jeruk tidak terdengar buruk. Akan lebih baik lagi bila ia mati karena perutnya ditumbuhi bunga. Ah, bayangkan bunga keluar dari tenggorokannya, menyeruak dari bibirnya mencari sinar matahari. Bayangkan mawar merah, duri-durinya menggores isi tubuhnya, warna merah—entah darah atau kelopak bunga—menghiasi lehernya, bukankah akan begitu cantik? Lusiana tidak peduli bila harus mati kesakitan kalau ia bisa mati dengan mawar merah tumbuh di dalam tubuhnya.

Lusiana menghembus rokoknya. Apa ia coba telan bibit mawar merah?

-

Lusiana ingin jadi bintang di langit. Ingin jadi kucing di jalanan. Ingin jadi layangan putus yang tersangkut di tiang-tiang listrik ibu kota.

Apa yang sebenarnya ia inginkan? Lusiana tidak tahu juga. Apakah ia kesepian? Apakah ia ingin sendirian? Luisana tidak tahu. Yang ia tahu ia tidak ingin jadi Lusiana lagi. Lusiana ingin menghilang. Kadang Lusiana menangis kepada Tuhan, minta hidupnya dicabut saja. “Bunuh aku, bunuh aku...” bisiknya disela air mata. Tuhan diam saja. Memandangi Lusiana yang menyedihkan. Yang kotor dan pantas tidak bahagia. Tuhan tidak akan pernah bunuh dia selama ia masih mengemis kematian dari diriNya.

-

Aku baik-baik saja.

Kelopak mawar keluar dari mulutnya.

Aku punya kehidupan yang bahagia.

Ia batuk, tersedak mawar-mawar yang berjatuhan ke lantai kamarnya yang temaram.

Tuhan mencintaiku.

Dadanya sesak.

Ayah, Ibu, mereka mencintaiku.

Tenggorokannya sakit.

Kawan-kawanku mencintaiku.

Ia merasa penuh.

Aku baik-baik saja.

Mawar merah menyeruak keluar mencari sinar matahari. Lantai terasa dingin di pipinya. Ah, kelopak mawarkah itu? Merah menutupi bola matanya. Merah seperti darah, seperti lipstik favoritnya. Ia tersenyum bahagia.




-

Lusiana terbangun.

Dadanya sesak. Kepalanya sakit. Pil-pil berserak di hadapannya. Suara musik mengalun pelan, samar-samar di benaknya. Kamarnya masih temaram. Pisaunya bergagang merah tidak jauh dari tangannya. Lantai terasa dingin di pipinya. Suara tawa samar terdengar. Tuhankah? Setankah?

Lusiana terbangun dari mimpinya yang indah. Air mata mengalir pelan di pipinya. Ia sesenggukan. Kejam, sungguh kejam. Ia hanya ingin istirahat. Ia lelah, lelah. Kegelapan di sudut kamarnya terlihat sedih bersimpati. Nafas yang ia tarik seperti duri. Kehampaan mencengkramnya kembali. 

“Bunuh aku... Bunuh aku...” Bisik Lusiana yang tidak berani menelan pil-pil atau menggunakan pisau bergagang merah. Bisik Lusiana yang lelah, terlalu takut untuk menghadapi dunia dan warna merah yang menggodanya.



Sunday, February 19, 2017

Cinta?

Cinta adalah topik sulit untukku jadi aku putuskan untuk menuliskan apa saja yang terlintas di kepalaku tentang cinta. Sebelumnya aku minta maaf karena aku sudah berusaha untuk menjelaskan tentang cinta lebih jelas dan panjang lagi tapi aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku tulis.



Seorang kawanku berkata kepadaku dengan tawa yang miris bahwa cinta adalah kebohongan.

Bagiku yang selalu melihat cinta dari sudut pandang pesimis, cinta tidak pernah terasa seperti kebohongan. Bukan berarti omonganku yang ngelantur tentang cinta ini benar karena aku rasa aku bukanlah orang yang tepat untuk menceramahi orang tentang cinta. Aku tidak familiar dengan cinta. Dari kecil aku tidak pernah melihat atau mendengar bentuk dan kata-kata cinta yang sifatnya romantis. Keluargaku bukanlah keluarga yang membicarakan betapa kami saling mencintai satu sama lain di meja makan. Kami bahkan tidak punya meja makan ketika aku kecil. Kami adalah keluarga dari kalangan bawah yang orang tuanya harus bekerja hingga larut malam untuk anak-anaknya. Aku bahkan ingat ibuku pernah menasehati aku dan adik laki-lakiku bahwa cinta itu tidak ada. Cinta tidak akan bisa menolong apa-apa. Kami berdua tidak boleh mengandalkan cinta dan “tidak ada orang lain yang akan membantu kalian berdua kecuali kalian sendiri.” Ibuku selalu mengingatkan: aku terlahir sendirian ke dunia ini.

Karena aku tidak familiar dengan cinta, ketika bersenggolan dengan cinta, aku merasa asing dan terkejut. Aku sadar aku menjadi sangat egois saat jatuh cinta. Aku ingin diperhatikan, aku menjadi posesif, aku menjadi sensitif, aku terus ketakutan akan apa yang orang lain pikirkan, aku merasa sakit, aku sering kalut. Aku merasa cinta membuatku merasakan banyak hal yang tidak ingin aku rasakan. Karena hal ini aku lebih memilih memandang cinta dari kejauhan dari pada terjun ke dalam cinta yang sisi-sisinya tajam dan lantainya licin. Cinta membangkitkan sisi paling buruk dari diriku. Membuatku merasa menyedihkan, tidak punya kekuatan atas apa yang aku rasakan, merasa kasihan kepada diriku sendiri.

Cinta bukanlah kebohongan bagiku. Cinta adalah hal abstrak yang melayang lembut menggoda dengan tulisan peringatan besar di dekatnya: “JANGAN SENTUH. JANGAN HIRUP. MEMATIKAN.” Cinta adalah lubang besar yang mengeluarkan bau harum tapi dasarnya tidak kelihatan dengan tulisan di dekatnya: “AWAS LUBANG.” Bagiku, cinta tidak pernah berbohong; bila kau cukup pintar untuk membaca tanda-tanda bahaya, maka kau pasti tahu cinta tidak pernah menjanjikan kebahagiaan, adrenalin, ya, tapi tidak kebahagiaan, apalagi yang eternal. Cinta membuat kita semua gila, membuat kita semua terluka, membuat kita semua marah. Tapi, entah manusia makhluk yang bebal atau memang nikmat cinta sebegitu besarnya sampai-sampai pengalaman bercinta yang selalu berakhir pahit itu bukanlah hal yang berarti, kita semua akhirnya jatuh ke dalam cinta dan berakhir tidak bahagia.

Bila ada kalian para optimis cinta berargumen: “tapi ada yang saling jatuh cinta dan hidup selamanya bersama sampai ajal menjemput mereka,” jawabanku adalah dua pertanyaan: 1). Apakah benar mereka saling cinta atau 2). Apakah benar mereka bahagia hidup bersama sampai ajal menjemput mereka. Hubungan manusia yang egois tidak mungkin berakhir bahagia. Cinta yang tidak egois bagiku bukanlah cinta hanya kasih sayang saja.

Aku bukannya tidak percaya cinta. Aku juga bukannya merasa cinta adalah kebohongan. Aku hanya merasa cinta bukanlah untuk orang-orang yang lemah seperti diriku. Cinta adalah untuk orang-orang yang dapat menahan rasa sakitnya. Cinta adalah untuk orang-orang yang cepat sembuh dari memar dan luka. Cinta adalah untuk orang-orang yang sangat membutuhkannya. Aku? Aku terlalu pengecut untuk bercinta. Aku lebih suka melihatnya dari kejauhan. Sendirian. Baik-baik saja. Tidak sakit di mana pun jua.