Friday, June 23, 2017

Giselle 1

Pertama kali aku bertemu dengannya kami sedang ospek jurusan. Aku ingat, “ah, orang ini matanya indah,” terlintas di kepalaku ketika kami berpapas mata untuk pertama kalinya. Saat itu aku rasa aku tidak sedang jatuh cinta, jantungku tidak berdegub kencang dan tanganku tidak berkeringat dingin. Aku suka matanya yang besar tapi tajam dan rambutnya yang ikal panjang sebahu. Walau begitu aku pikir kami tidak akan pernah bertegur sapa. Aku tidak ramah, dia seperti tokoh utama novel remaja yang pendiam dan misterius. Aku butuh seseorang untuk memulai pembicaraan dalam bergaul, aku rasa dia juga.

Kenyataannya, benar, kami tidak bertegur sapa untuk waktu yang lama. Aku lebih suka pulang setelah perkuliahan selesai, dia cukup aktif di kampus. Kami bukannya benar-benar berbeda, malahan aku rasa kami memiliki selera yang cukup sama, tapi kesamaan selera tidak serta merta membuat dua orang yang enggan menyapa tiba-tiba menjadi kawan.

Kedua kali aku berpapas mata dengannya kami sedang menonton pertunjukkan teater yang sama. Ia dengan seorang kakak cantik yang diam-diam sering aku pandangi di kampus dan aku dengan kawanku yang menyeretku jauh karena ia tertarik dengan pertunjukkan teater ini. Kakak cantik itu ternyata kenalan kawanku, Egi. Mereka saling bertegur sapa dan entah kenapa akhirnya aku duduk bersebelahan dengan tuan bermata indah.

Aku tidak pernah bisa diam dalam menonton pertunjukkan atau film, komenku selalu banyak, dan Egi sama cerewetnya denganku. Tapi duduk di sebelah orang yang terasa asing membuatku enggan membuka percakapan dengan Egi. Egi kadang melirikku, tapi dia memutuskan untuk diam saja. pertunjukkannya tidak buruk, tapi juga bukan pertunjukkan terbagus yang pernah aku saksikan. Beberapa adegan cukup menggelitik dan menghibur, beberapa terlihat canggung. Tiba-tiba bahuku dicuil dan permen karat disodorkan kepadaku. Kami bertatapan mata untuk ketiga kalinya.

Aku ingin menolak tawarannya, tapi tanganku tanpa sadar sudah mengambil satu permen karetnya. Aku sebenarnya tidak terlalu suka permen karet. Permen karet terlalu manis untukku dan aku tidak boleh menelannya, aku tidak terlalu mengerti apa kenikmatannya. Jadi aku simpan permen karet itu di sakuku cepat-cepat. Tuan bermata indah mengulurkan tangannya lebih jauh untuk menawari Egi. Tuan bermata indah matanya menghipnotis. Aku ingin buang permen karet darinya karena entah kenapa permen itu terasa panas di sakuku.  

-

Malam itu, setelah pertunjukkan teater selesai, aku cepat-cepat menarik Egi untuk segera pulang. Sudah kemalaman, kataku tanpa menatap matanya. Aku bisa merasakan tatapan Egi yang tahu aku berbohong. Aku pernah pulang lebih malam dari ini, sendirian. Tapi ia tidak terlalu mempersalahkan tingkah lakuku yang agak aneh. Ia mungkin berpikir aku tidak terlalu menyukai pertunjukkan teaternya dan ia mungkin merasa bersalah telah menyeretku paksa. Di dalam kereta aku pura-pura mengantuk, Egi mulai bercerita tentang pendapatnya tentang pertunjukkan tadi. Aku sedikit membenci diriku yang masih dapat merasakan permen karet di sakuku.

-

Mungkin aku punya sedikit ketertarikan dengan tuan bermata indah. Bukan salahku. Ia pria yang menarik. Tapi aku benci mengakuinya jadi aku berusaha untuk tidak pernah bertatapan mata lagi dengannya. Ia punya mata yang berbahaya. Sayangnya, aku berkawan dengan Egi (dan aku tidak bisa memutuskan pertemanan kami karena kalau benar-benar dihitung, aku hanya punya dua kawan; Egi dan Dipta).

“Kau ingat Tian?” Egi memulai pembicaraan saat kami sedang makan malam di salah satu warung ayam goreng kesukaannya.

“Siapa?” Jawabku malas, aku sebenarnya tidak lapar atau pun mau keluar kamar, tapi Egi—seperti biasa—memaksaku untuk menemaninya. Dia habis bertengkar dengan pacarnya, entah yang mana, jadi dia sedikit haus perhatian belakangan ini.

“Tian, yang duduk di sebelahmu waktu nonton teater minggu lalu,” aku terdiam sejenak. Tentu saja aku ingat. Permen karetnya masih ada di saku kardiganku.

“Oh, ya, namanya Tian?” Egi menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memberikan tatapan orang tua yang kecewa kepada anaknya (aku tahu karena orang tuaku selalu menatapku seperti itu), “dia satu jurusan denganmu, bagaimana kau bisa tidak tahu namanya?” Aku hanya mengangkat kedua bahuku. “Kau tahu bagaimana. Kenapa dengan si Tian ini?” Aku balik bertanya.

“Tian bertanya padaku apakah kau membencinya,” Egi menatapku serius, “dan apakah kita pacaran.” Aku mengernyit, “apa kita terlihat pacaran? Apa ini alasan kenapa tidak ada yang mau mendekatiku selama empat semester?” Egi hanya mengangkat bahunya, “kalau menurut pendapatku, itu mungkin karena kau selalu memasang wajah tidak bersahabat setiap orang mendekatimu.” Aku menendang kakinya cukup kencang, “aku tidak butuh pendapatmu.” Egi meringis.

“Apa kita tidak akan membicarakan bahwa akhirnya ada seseorang yang sepertinya tertarik denganmu?” Aku menyedot teh tawar dingin dihadapanku, menolak memberikan komentar apapun. Egi menatapku aneh. “Rai?”

“Siapa yang bilang dia tertarik denganku? Bagaimana kalau dia tertarik denganmu?” Aku balas bertanya. Egi tiba-tiba nyengir lebar. Cengiran yang berarti dia habis melakukan sesuatu yang benar-benar bodoh. “Karena... nomor kontak yang dia minta dan aku berikan kemarin nomor kontakmu?”

-

Berkawan dengan Egi bukanlah keputusanku. Kebetulan dia adalah kawan baik sepupu laki-lakiku. Sebelumnya kami tidak sedekat ini, tapi setelah sama-sama merantau ke kota, universitas, dan fakultas yang sama dengan natural intensitas tegur-sapa kami semakin besar dan akhirnya aku terjebak di dalam perkawanan yang tidak sehat di mana aku menginginkan kedamaian dan dia datang menggangguku karena Nurdin, kakak sepupuku, adalah laki-laki 23 tahun emo dengan hormon estrogen yang lebih tinggi dariku; “butuh waktu sendiri” katanya.

Di saat Nurdin tidak mau diganggu maka Egi hanya punya dua pilihan; Dipta atau Rai yang malang. Dipta biasanya tidak merespon bila dijejali dengan masalah cinta Egi yang rumit, maka Rai yang malang harus terjebak dengan Egi yang dipenuhi dengan keluh kesah tentang kisah cintanya yang rumit dan tidak hanya satu.

Intinya, perkawananku dengan Egi seharusnya kuakhiri saat kami masih ditahap tegur-sapa.

-

Untungnya, Tian dan Egi sepertinya hanya mengalami miskomunikasi waktu itu karena setelah hampir satu minggu tuan bermata indah tidak menghubungiku. Ia mungkin tidak bermaksud apa-apa ketika bertanya tentang hubunganku dan Egi, ia hanya penasaran, tapi Egi memang sering kali salah membaca premis karena itu kesimpulan yang ia ambil juga sering kali salah. Permen karet dari tuan bermata indah sudah aku buang karena aku tidak suka permen karet dan entah kenapa aku enggan memberikannya kepada orang lain. Sebagian kecil dari diriku merasa kecewa, tapi setidaknya dengan begini aku tidak harus mengalami perasaan-perasaan tidak menyenangkan saat bertatap muka dengan Tian; berkeringat dingin atau merasakan ngilu di perutku tanpa alasan yang jelas. Aku benci merasa seperti anak SMP yang baru mengenal cinta. Aku tidak suka merasa menyedihkan. Aku suka memiliki kontrol atas apa yang aku rasakan.

Keberuntunganku ternyata tidak lama karena kelas drama modern yang aku ambil karena aku pikir akan menyenangkan adalah kelas yang juga tuan bermata indah anggap akan menyenangkan. Kami bertatap mata saat aku masuk ke kelas dengan langkah kaki yang gembira. Rasanya ususku jatuh ke bawah lubang, tahu kan, perasaan seperti naik roller coaster dan tiba-tiba roller coasternya jatuh ke bawah. Langkah kakiku jadi kurang gembira dan aku cepat-cepat duduk di bangku depan, jauh dari tuan bermata indah yang duduk di belakang kelas.

Aku berusaha melupakan eksistensi tuan bermata indah selama kelas berlangsung. Tidak mudah karena dosen kelas ini ternyata suka melihat muridnya menderita. Ibu Diana, dosen yang gayanya tidak senyentrik yang aku kira, memutuskan akan menyenangkan bila mahasiswanya saling mengenal satu sama lain sebelum memulai mengajarkan kami tentang sejarah perkembangan seni pertunjukkan klasik sampai modern Eropa. Ia memegang daftar hadir kelas lalu menggumamkan sesuatu yang sulit untukku tangkap.

“Rai Annisa? Siapa Rai Annisa?” Aku mengangkat tanganku. “Kenapa nama kamu Rai Annisa?” Tudingnya tiba-tiba. Aku bingung mau menjawab apa dan hanya bisa membuka mulutku sedikit, “ssshhh, aku tidak mau tahu, aku mau Sebastian Kuncoro yang tahu kenapa namamu Rai Annisa. Siapa Sebastian Kuncoro?” Aku memutar kepalaku ke belakang dan mendapati tuan bermata indah mengangkat tangannya, “saya bu.” Aku menghadap ke depan lagi dengan perut yang ngilu. Sepertinya perasaanku terlihat di wajahku karena ibu Diana memandangku aneh, “kenapa? Kamu tidak suka Sebastian?” Aku segera menggelengkan kepalaku cepat-cepat, tapi dia masih memandangku aneh, “kalau begitu kenapa wajahmu seperti itu?” Aku baru mau membuka mulutku untuk menjawab tapi dia segera memotongnya, “sssshhh, aku tidak mau tahu, aku mau Sebastian Kuncoro tahu kenapa wajahmu seperti itu saat aku pasangkan kalian. Kalian berdua pindah ke belakang dan mulai mengenal satu sama lain.” Aku bisa merasakan seluruh kelas menatapku dan mulai menggoda kami berdua, “diam, siapa Lania Marwan?”

-

“Jadi kenapa namamu Rai Annisa?” Tian memulai pembicaraan setelah ibu Diana selesai membagikan pasangan dan keluar untuk “mencari udara segar” yang aku yakin adalah kode untuk merokok. “Karena orang tuaku memberikan nama itu kepadaku?” Jawabku tidak yakin harus menjawab apa. Tian tertawa kecil, matanya yang indah berubah bentuk menjadi bulan sabit. “Oke, aku ubah pertanyaannya, apa arti Rai Annisa?” Ia tersenyum sambil membenarkan duduknya agar lebih nyaman. “Secara literal? Atau filosofis?” Tian tiba-tiba terbahak, beberapa anak kelas lain memandang ke arah kami heran. Aku hanya memandang Tian dengan bingung, bahunya yang bidang naik turun, ia menutup wajahnya dengan tangannya yang besar. Setelah selesai tertawa ia mengangkat wajahnya, “secara literal,” ia nyengir lebar, matanya berkilat. “Rai dari Ray dalam bahasa Inggris dan Annisa dari bahasa Arab,” aku menjelaskan. “Sinar perempuan?” Tian mengangkat alisnya, aku mengangguk. “Tidak semua orang bisa punya nama keren seperti Sebastian,” gumamku. Tian sepertinya mendengar gumamanku (dan punya selera humor yang sangat aneh) karena dia tertawa kecil lagi.

“Sayangnya aku tidak tahu arti di balik namaku. Tapi Kuncoro adalah nama belakang keluarga ayahku,” ia memangku dagu dengan tangannya. “Tapi aku bisa beritahu apa arti Sebastian Kuncoro secara filosofis bila kau ingin tahu,” lanjutnya. “Aku tidak tertarik dengan ceramah eksistensialis pagi-pagi begini,” balasku. Tian tersenyum, “ah, siapa yang bilang aku eksistensialis?” Aku balas tersenyum, “karena aku bisa mengenali kawan saat aku bertemu satu.” Tian tersenyum puas, kemudian mengangguk kecil.

“Aku kira kau tidak menyukaiku,” ia tiba-tiba memulai topik lain. Topik yang kebetulan sekali tidak ingin aku mulai. “Saat di teater kita duduk bersampingan dan kau duduk sangat jauh dariku, seperti aku membawa penyakit menular. Aku sampai mengecek bau nafasku dua kali,” ia memasang tampang sedih tapi aku bisa melihat kilat di matanya yang menunjukkan ia menikmati reaksiku. “Aku hanya sulit berdekatan dengan orang asing,” aku mencoba membela diri. “Dan ibu Diana bilang kau tidak suka harus dipasangkan denganku,” tambahnya lagi.

“Aku hanya merasa kita tidak akan menjadi partner yang cocok,” Tian terlihat tertarik dengan jawabanku. “Oh? Kenapa?” Aku menelan ludahku. Kenapa? Karena kau punya mata yang indah yang membuatku merasa bodoh? Karena rambutmu ikal sebahu dan pakaianmu rapi dan menarik? Karena bahu dan tanganmu besar? “Hanya perasaanku saja,” jawabku singkat. “Hmm.. Menurut perasaanku kita akan menjadi partner yang sangat cocok,” ia menaikturunkan alisnya sambil menatapku. Aku harap ekspresiku tidak berubah karena jantungku hampir copot.

“Kenapa ambil kelas ini?” Aku berusaha mengalihkan pembicaran. Tian tersenyum, tapi aku bisa melihat ia tahu aku berusaha mengalihkan pembicaran kami. “Aku suka seni pertunjukkan dan kelas ini adalah satu-satunya kelas tentang seni pertunjukkan yang buka semester ini,” ia mengangkat bahunya. Aku mengangguk, pura-pura tertarik. “Seni pertunjukkan seperti apa yang kau suka?” Aku kembali bertanya.

“Giselle,” Tian menjawab dengan percaya diri, matanya menatapku menantang. “Giselle? Balet Giselle” Aku bertanya dengan nada tidak percaya. Giselle? Serius? Orang ini suka Giselle? Tian tampak sedikit kecewa. “Kenapa? Ada masalah kalau aku suka Giselle?” Ia melipat tangannya di depan dada. “Iyalah, cerita Giselle menyebalkan, tokoh-tokohnya menyebalkan, koreografinya standar. Dari segi cerita aku jauh lebih suka Carmen, Coppèlia punya moral cerita yang menarik dan koreografinya cukup menghibur, tapi dari segi koreografi jelas Swan Lake yang menang karena pemeran utamanya harus berputar 32 kali.”

Fouettè.”

“Ha?”

“Pemeran utamanya harus melakukan fouettès 32 kali.”

Tian tampak puas. Seperti ia baru selesai menyelesaikan tes sulit dan sangat senang dengan hasilnya. Matanya memicing dan senyumnya lebar. Aku mengerutkan keningku, “tidak semua orang gila balet,” kataku setelah berdecak kesal. Tian tertawa renyah. “Kau sering sekali tertawa padahal menurutku tidak ada yang lucu,” kataku lagi sambil menaikkan alisku.

“Aku hanya... sangat senang,” jawabnya, senyumnya masih lebar diarahkan kepadaku. Aku mengalihkan pandanganku dari tatapannya yang mempesona; yang membuat tanganku berkeringat dan jantungku berdetak kencang.


Thursday, May 18, 2017

Jangan Biarkan Dia Bicara

Jangan biarkan dia bicara.

Aku menyumpal mulutku dengan pil-pil kuning. Aku hitung sampai sepuluh. Apa aku butuh lebih? Tapi perutku kembung karena air putih. Malam ini malam yang gerah. Kipas angin berputar kesepian. Langit-langit kamar gelap. Kotak merah ternganga di bawah ranjang. Aku berlutut, berdoa sebelum tidur, kedua tanganku kubuka. Setelah selesai aku baringkan tubuhku di kasur. Suara musik mengalun pelan. Dalam kegelapan pisau kecil tertinggal di lantai sendirian. Kepalaku berkunang-kunang.

-

“Jadi kau maunya apa?”

Pertanyaan itu seperti melilit tenggorokanku. Jadi aku maunya apa? Aku juga tidak tahu. Kalau aku buka suara orang-orang akan mengataiku pemimpi. Jadi aku diam saja. Tapi dadaku sesak. Nafasku sengal. Diam saja. jangan biarkan dia bicara, begitu kata benakku.

Tatapan tuan berkemeja dengan wajah lesu memicing, menungguku menjawab, mungkin agar ia bisa mengatakan apa yang aku dengar di kepalaku. Aku diam saja.

“Kalau kau pilih jalan yang kanan mungkin kau bisa menemukan pohon rambutan,” ia akhirnya menjawab untukku, “sudah banyak yang coba, rata-rata mereka berhasil menemukannya.” Aku masih diam saja.

“Jadi kau pilih jalan kanan?” Aku ingin menggeleng. Aku tidak pandai memanjat. Aku tidak suka rambutan. Tapi jangan biarkan dia bicara, bisik seseorang. Jadi akhirnya aku mengangguk. Senyum tipis menghiasi wajah tuan berkemeja yang keriput, ia mengusap rambutnya yang putih. “Aku kira kau akan menjawab tidak. Jalan yang kiri, ah, jalan yang kiri tidak aman,” aku diam saja. “Tenang saja, jangan terlalu tertekan.” Tapi aku kesusahan bernafas.

-

“Kau sedang apa sekarang?”

Aku terdiam. Aku tidak sedang apa-apa. Aku hanya duduk lalu berdiri. Sudah sampai di jalan ini aku tidak tahu harus bagaimana. Aku mau ke kiri tapi jalannya bukan untukku katanya. Jadi aku diam saja.

Akhirnya aku pura-pura jalan. Jalan di tempat? Nyonya di dalam mobil menatapku kasihan. Ia ingin meninggalkan aku di hutan ini atau memakiku karena aku banyak cacatnya, tapi ia tidak tega. Ia memberiku payung juga roti dan susu. Ah, nyonya yang baik, kata benakku. Tapi sekarang aku sedang apa? Aku menangis, aku tersenyum, aku terbahak, aku tidak tahu. Aku diam saja.

-

“Bagaimana kalau kau coba naik sepeda?”

Begitu kata gadis yang kutemui di pinggir jalan. Ia punya sepeda tak jauh dari tempat kami bertegur sapa. Sepedanya belum bisa dikendarai karena ia belum bisa naik sepeda. Aku ingin bilang aku tidak punya sepeda. Tidak ada yang mau memberiku sepeda. Ia hanya menatapku heran. Seolah aku yang tidak mau punya sepeda. Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku diam saja.

-

Aku rasa semua orang sedang tidak mendengarku sekarang begitu aku berpikir sambil menatap jurang terjal di hadapanku. Mungkin karena aku diam saja. Tapi kalau aku berkata semua orang menganggapku gila. Jadi aku diam saja. Jangan biarkan dia bicara, begitu bisik seseorang di kepalaku. Tapi aku hampir benar-benar gila. Akhirnya aku teriak juga. Tapi teriakanku tidak ada bentuknya. Mungkin lebih baik aku diam saja.

-

Aku terbangun dengan lengan dan kaki yang mati rasa. Perutku mual. Tubuhku lemas. Suara gema teriakan tadi masih terngiang di kepalaku. Jangan biarkan dia bicara, bisik seseorang di sudut kamar. Jadi dengan tangan gemetar aku gapai kotak merah dan aku sumbat mulutku dengan pil-pil yang sekarang berubah warna. Aku hitung sampai sepuluh. Haruskan aku tambah? Cahaya masuk melalui celah jendela. Suara manusia bicara membuatku iri, aku ingin keluar sana.

Tapi seseorang menahan kakiku, membisikku penuh cemooh; “jangan biarkan dia bersuara.” Jadi aku diam saja. Air mataku keluar, tapi seseorang membekam bibirku. Aku tidak bicara, tidak bersuara, seseorang memeluk tubuhku di dalam kegelapan; “'tak kan ku biarkan kau bicara.”    

Tuesday, May 16, 2017

Magenta



Tangan Elena tidak bisa berhenti gemetar.

Ia berusaha menenangkan dirinya. Ssshh... Elena sudah dewasa bukan remaja tanggung yang tidak bisa mengapresiasi hidup ia coba meyakinkan dirinya. Tapi 12 tahun berikutnya ia masih saja digoda malam-malam yang sepi. Seperti angin musim pancaroba membisikinya untuk kembali menggoresi tubuhnya. Seperti kegelapan yang hampa mengingatkan keberadaannya yang sia-sia.

Mungkin, tidak semua orang bisa mengerti mengapa rasa sakit malahan membuatnya sedikit terbebas dari rasa sesak yang menggorogoti tidur dan bangunnya. Tapi begitulah ternyata, ketika luka terbuka, ia merasa akhirnya ia bisa menangis tersedak bebas. Ia bisa melupakan hidupnya yang menyedihkan, perasaan-perasaan yang membuatnya gelisah. Elena ingin merasakan kesakitan itu lagi. Ia ingin lupa, ia ingin melihat magenta.

-

Elena ingat ketika darah terlalu banyak keluar dari lukanya dunia tiba-tiba berubah menjadi magenta. Kepalanya menjadi berkunang-kunang dan lukanya terasa pedih, tapi lantai keramik putih di bawah kakinya dihiasi warna magenta cantik. Seperti bunga-bunga kecil, seperti cinta, mungkin. Lalu ia akan tertawa kecil dengan air mata di pipinya; ah, magenta, cinta. Senada.

-

Ia berhenti melukai dirinya ketika lukanya menjadi terlalu banyak dan orang-orang di sekitarnya mulai menatapnya curiga. “Dia gila,” mungkin begitu orang-orang mengatainya. Lengannya tidak muat lagi untuk luka baru dan ia tidak berani mengiris terlalu dalam. Akhirnya ketika luka-lukanya mengering, perasaan bersalah melilit perutnya. Ia sadar yang ia lakukan tidak ada artinya, tidak ada gunanya. (Kecuali bila ia dapat menekan pisau kecil di pergelangan tangannya lebih dalam. Lebih perih. Sampai dunia magenta itu berubah jadi merah dan akhirnya gelap menghilang bersama angan-angan, keputusasaan, lubang hampa di perut dan dadanya.)

-

Tidak ada yang harus mengerti. Ia sendiri juga tidak mengerti.

Mengapa ia seperti ini? Bagaimana membuatnya bahagia? Cintakah? Hartakah? Apa yang membuat tangannya gemetar mendambakan magenta yang memabukkan? Setankah yang membisikinya pada malam-malam penuh gelisah? Atau ia kurang dekat dengan Tuhan yang katanya dapat menyelamatkan manusia dari diri mereka? Ia tidak tahu.

Ia coba tenggelam dalam alkohol yang memabukkan, atau doa-doa malam dan ritual agama, keduanya tidak mengisi rongga dadanya dengan apa-apa.

-

Ketika matahari terbit Elena merasa seperti boneka. Ia tersenyum, tertawa, mengapresiasi pagi hari. Ia bersyukur, entah untuk apa. ia memeluk orang tuanya, bercengkrama dengan kawan-kawannya. Duduk, berdiri, berjalan, berlari. Ia merasa seperti manusia biasa. Ketika pertanyaan-pertanyaan dilemparkan kepadanya ia jawab dengan baik-baik saja. Tapi di setiap ruangan ada sudut yang gelap, tempat warna magenta bersembunyi, mengingatkannya pada malam-malam yang sepi.

-

Elena menggenggam pisau kecilnya dengan tangan yang gemetar.

Nafasnya pendek seperti tercekik, dadanya berdetak kencang tak beraturan, keringat dingin turun di punggungnya. Ia tidak sedang bersedih, ia hanya kesulitan mencintai diri dan hidupnya. Kenapa ia ada? kenapa Tuhan memilihnya? Dirinya adalah kesalahan. Semua ini adalah kesalahan. Ia tidak mau merasa seperti ini juga. Ia tidak tahu mengapa ia begitu menderita juga. Apa dia benar gila? Atau setan sedang membisikinya?

Mungkin semuanya benar. Mungkin benar ia gila. Ada penjelasan apa lagi? Hidupnya baik-baik saja, tapi ia ingin mati. Ia ingin menghilang. Ia ingin mati.

Tapi ia tidak punya nyali. Jadi ia hanya menggores luka-luka kecil di lengannya. Bersikap seolah-olah tidak ada yang mencintainya. Tapi ia sadar betul itu hanya kebohongan saja; sebetulnya ia hanya pura-pura. Satu-satunya yang tidak mencintainya adalah dirinya sendiri. Dan mungkin Tuhan yang siap mengirimnya ke neraka.

-


(Dunia warna magenta. Bunga-bunga di kakinya. Suara-suara hilang. Pergelangan tangannya mati rasa.) 

Tuesday, May 9, 2017

Merah


Kalau Lusiana mati ia mau mati dengan cantik.

Suatu hari Lusiana sedang melamun, langit hari itu abu-abu tapi bau hujan belum tercium. Ia sedang duduk di halte bis entah menunggu apa sambil memikirkan skenario-skenario kematian dirinya. Mati karena kecelakaan atau tertabrak kereta terdengar menyakitkan. Mati karena tenggelam membuat jasadnya gembung terisi air. Gantung diri? Di mana ia bisa gantung diri? Langit-langit kamarnya terlalu tinggi. Ada racun kalau ia mau, tapi racun cukup mahal. Kecuali mungkin racun tikus. Tapi racun tikus terdengar menjijikan.

Sebenarnya banyak cara-cara mati lain. Skenario yang paling ia benci adalah mati karena sakit. Sudah sakit, jelek, menghabiskan banyak uang, juga terlalu lama. Ia ingin mati cepat tapi tetap cantik. Ia ingin kematian yan membuat orang-orang mengaguminya sejenak. Yang membuat orang-orang takut menyentuh jasadnya; takut merusak keindahannya.

Ia menghela nafas. Mati itu gampang. Mati dengan indah? Tuhan seperti tidak mengizinkan.

-

Kadang Lusiana terjaga di malam hari sambil memandangi langit-langit. Ia merasakan kehampaan yang mencekik. Yang membuatnya menangis tersedak-sedak di dalam kegelapan malam. Lusiana ingin pulang tapi ia tidak punya rumah. Ia ingin pergi jauh. Ia ingin berhenti merasakan. Ia ingin jadi angan-angan atau mimpi. Ia tidak mau menjadi senyata ini. Begitu menakutkan, begitu kecil.

-

Kadang ia menjejerkan satu-satunya pisau yang ia punya dan pil-pil yang ia kumpulkan. Di bawah sinar temaram lampu tidurnya, keduanya terasa sama menggiurkan. Tetapi pada akhirnya ia hanya duduk di situ memandangi mereka. Tidak bergerak, kadang sulit bernafas. Tanpa sadar, pagi datang. Kamarnya terang. Suara azan berkumandang. Kehampaan yang melilit lehernya makin mencekam.

-

Lusiana tidak tahu mengapa ia seperti ini.

Mungkin ia yang terlalu melodramatis. Hidupnya tidak menyedihkan. Orang tuanya menyayanginya, ia cukup akur dengan adiknya, ia punya kawan-kawan yang sepaham dengan dirinya, keluarganya berkecukupan, ia tidak sedang jatuh atau putus cinta. Kehidupannya baik-baik saja. Tapi entah kenapa ia merasa selalu lelah. Ia lelah tertawa, tersenyum, menangis, bernafas... hal yang paling melelahkan adalah menjadi baik-baik saja. “Apa kabar? Sudah makan? Lagi apa Lusi sayang?” Lusiana akan jawab sesuai apa yang orang tua atau kawannya mau.

Lusiana siapa dan kenapa harus hidup? Kenapa Lusiana harus baik-baik saja dan bersyukur atas setiap tarikan nafas yang mencengkram lehernya erat? Kenapa Lusiana merasa terikat, terkungkung? Kenapa Tuhan terasa mentertawainya? “Ah, Lusiana, kau ratu drama,” begitu mungkin Tuhan mengejeknya.

-

Ketika ia masih kecil, ibunya bilang kalau ia menelan biji jeruk maka pohon jeruk akan tumbuh di perutnya. Ia tidak pernah menelan biji jeruk lagi semenjak itu. tapi kalau dipikir-pikir sekarang, mati karena ditumbuhi pohon jeruk tidak terdengar buruk. Akan lebih baik lagi bila ia mati karena perutnya ditumbuhi bunga. Ah, bayangkan bunga keluar dari tenggorokannya, menyeruak dari bibirnya mencari sinar matahari. Bayangkan mawar merah, duri-durinya menggores isi tubuhnya, warna merah—entah darah atau kelopak bunga—menghiasi lehernya, bukankah akan begitu cantik? Lusiana tidak peduli bila harus mati kesakitan kalau ia bisa mati dengan mawar merah tumbuh di dalam tubuhnya.

Lusiana menghembus rokoknya. Apa ia coba telan bibit mawar merah?

-

Lusiana ingin jadi bintang di langit. Ingin jadi kucing di jalanan. Ingin jadi layangan putus yang tersangkut di tiang-tiang listrik ibu kota.

Apa yang sebenarnya ia inginkan? Lusiana tidak tahu juga. Apakah ia kesepian? Apakah ia ingin sendirian? Luisana tidak tahu. Yang ia tahu ia tidak ingin jadi Lusiana lagi. Lusiana ingin menghilang. Kadang Lusiana menangis kepada Tuhan, minta hidupnya dicabut saja. “Bunuh aku, bunuh aku...” bisiknya disela air mata. Tuhan diam saja. Memandangi Lusiana yang menyedihkan. Yang kotor dan pantas tidak bahagia. Tuhan tidak akan pernah bunuh dia selama ia masih mengemis kematian dari diriNya.

-

Aku baik-baik saja.

Kelopak mawar keluar dari mulutnya.

Aku punya kehidupan yang bahagia.

Ia batuk, tersedak mawar-mawar yang berjatuhan ke lantai kamarnya yang temaram.

Tuhan mencintaiku.

Dadanya sesak.

Ayah, Ibu, mereka mencintaiku.

Tenggorokannya sakit.

Kawan-kawanku mencintaiku.

Ia merasa penuh.

Aku baik-baik saja.

Mawar merah menyeruak keluar mencari sinar matahari. Lantai terasa dingin di pipinya. Ah, kelopak mawarkah itu? Merah menutupi bola matanya. Merah seperti darah, seperti lipstik favoritnya. Ia tersenyum bahagia.




-

Lusiana terbangun.

Dadanya sesak. Kepalanya sakit. Pil-pil berserak di hadapannya. Suara musik mengalun pelan, samar-samar di benaknya. Kamarnya masih temaram. Pisaunya bergagang merah tidak jauh dari tangannya. Lantai terasa dingin di pipinya. Suara tawa samar terdengar. Tuhankah? Setankah?

Lusiana terbangun dari mimpinya yang indah. Air mata mengalir pelan di pipinya. Ia sesenggukan. Kejam, sungguh kejam. Ia hanya ingin istirahat. Ia lelah, lelah. Kegelapan di sudut kamarnya terlihat sedih bersimpati. Nafas yang ia tarik seperti duri. Kehampaan mencengkramnya kembali. 

“Bunuh aku... Bunuh aku...” Bisik Lusiana yang tidak berani menelan pil-pil atau menggunakan pisau bergagang merah. Bisik Lusiana yang lelah, terlalu takut untuk menghadapi dunia dan warna merah yang menggodanya.



Sunday, February 19, 2017

Cinta?

Cinta adalah topik sulit untukku jadi aku putuskan untuk menuliskan apa saja yang terlintas di kepalaku tentang cinta. Sebelumnya aku minta maaf karena aku sudah berusaha untuk menjelaskan tentang cinta lebih jelas dan panjang lagi tapi aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku tulis.



Seorang kawanku berkata kepadaku dengan tawa yang miris bahwa cinta adalah kebohongan.

Bagiku yang selalu melihat cinta dari sudut pandang pesimis, cinta tidak pernah terasa seperti kebohongan. Bukan berarti omonganku yang ngelantur tentang cinta ini benar karena aku rasa aku bukanlah orang yang tepat untuk menceramahi orang tentang cinta. Aku tidak familiar dengan cinta. Dari kecil aku tidak pernah melihat atau mendengar bentuk dan kata-kata cinta yang sifatnya romantis. Keluargaku bukanlah keluarga yang membicarakan betapa kami saling mencintai satu sama lain di meja makan. Kami bahkan tidak punya meja makan ketika aku kecil. Kami adalah keluarga dari kalangan bawah yang orang tuanya harus bekerja hingga larut malam untuk anak-anaknya. Aku bahkan ingat ibuku pernah menasehati aku dan adik laki-lakiku bahwa cinta itu tidak ada. Cinta tidak akan bisa menolong apa-apa. Kami berdua tidak boleh mengandalkan cinta dan “tidak ada orang lain yang akan membantu kalian berdua kecuali kalian sendiri.” Ibuku selalu mengingatkan: aku terlahir sendirian ke dunia ini.

Karena aku tidak familiar dengan cinta, ketika bersenggolan dengan cinta, aku merasa asing dan terkejut. Aku sadar aku menjadi sangat egois saat jatuh cinta. Aku ingin diperhatikan, aku menjadi posesif, aku menjadi sensitif, aku terus ketakutan akan apa yang orang lain pikirkan, aku merasa sakit, aku sering kalut. Aku merasa cinta membuatku merasakan banyak hal yang tidak ingin aku rasakan. Karena hal ini aku lebih memilih memandang cinta dari kejauhan dari pada terjun ke dalam cinta yang sisi-sisinya tajam dan lantainya licin. Cinta membangkitkan sisi paling buruk dari diriku. Membuatku merasa menyedihkan, tidak punya kekuatan atas apa yang aku rasakan, merasa kasihan kepada diriku sendiri.

Cinta bukanlah kebohongan bagiku. Cinta adalah hal abstrak yang melayang lembut menggoda dengan tulisan peringatan besar di dekatnya: “JANGAN SENTUH. JANGAN HIRUP. MEMATIKAN.” Cinta adalah lubang besar yang mengeluarkan bau harum tapi dasarnya tidak kelihatan dengan tulisan di dekatnya: “AWAS LUBANG.” Bagiku, cinta tidak pernah berbohong; bila kau cukup pintar untuk membaca tanda-tanda bahaya, maka kau pasti tahu cinta tidak pernah menjanjikan kebahagiaan, adrenalin, ya, tapi tidak kebahagiaan, apalagi yang eternal. Cinta membuat kita semua gila, membuat kita semua terluka, membuat kita semua marah. Tapi, entah manusia makhluk yang bebal atau memang nikmat cinta sebegitu besarnya sampai-sampai pengalaman bercinta yang selalu berakhir pahit itu bukanlah hal yang berarti, kita semua akhirnya jatuh ke dalam cinta dan berakhir tidak bahagia.

Bila ada kalian para optimis cinta berargumen: “tapi ada yang saling jatuh cinta dan hidup selamanya bersama sampai ajal menjemput mereka,” jawabanku adalah dua pertanyaan: 1). Apakah benar mereka saling cinta atau 2). Apakah benar mereka bahagia hidup bersama sampai ajal menjemput mereka. Hubungan manusia yang egois tidak mungkin berakhir bahagia. Cinta yang tidak egois bagiku bukanlah cinta hanya kasih sayang saja.

Aku bukannya tidak percaya cinta. Aku juga bukannya merasa cinta adalah kebohongan. Aku hanya merasa cinta bukanlah untuk orang-orang yang lemah seperti diriku. Cinta adalah untuk orang-orang yang dapat menahan rasa sakitnya. Cinta adalah untuk orang-orang yang cepat sembuh dari memar dan luka. Cinta adalah untuk orang-orang yang sangat membutuhkannya. Aku? Aku terlalu pengecut untuk bercinta. Aku lebih suka melihatnya dari kejauhan. Sendirian. Baik-baik saja. Tidak sakit di mana pun jua. 

Wednesday, January 18, 2017

Sofia Tidak Lari

Sofia menatap lembaran kertas di hadapannya tanpa berkedip untuk beberapa detik. Lalu mengangkat kepalanya, mencoba mendengarkan lawan bicaranya menerangkan sesuatu. Ah... Ia tidak bisa berkonsentasi untuk menangkap apa yang orang ini coba sampaikan kepadanya. Belakangan ini ia kesulitan berkonsentrasi dan sering sakit kepala. Ia rasa karena ia kebanyakan tidur, entahlah.

“Mengerti? Akhir minggu ini kamu harus ke sini lagi bersama orang tua kamu.”

Sofia mengangguk, tapi pikirannya melayang entah ke mana. Di kepalanya, ia mencoba mengingat apa yang harus ia beli di supermarket nanti. Sabun mandinya sudah habis, mungkin beberapa mi instan, ah, sudah waktunya beli sikat gigi yang baru. Sofia menghela nafas.

Banyak sekali yang harus ia kerjakan minggu ini.

-

Di supermarket Sofia menatap bir di atas rak dalam diam. Jilbabnya berusaha mengingatkan sesuatu, tapi ia tidak terlalu peduli apa. Kata orang alkohol dapat membantu kita melupakan banyak hal. Kebetulan sekali ia punya banyak sekali pikiran belakangan ini, kepalanya juga sering sakit. Mungkin alkohol bisa membantu? Haram? Ah, persetan. Toh, hanya Tuhan dan malaikat yang tahu. Ibunya di kampung halaman tidak. Kawan-kawannya yang sering menggunjing orang karena mereka “nakal” juga tidak. Hanya dia, malaikat, dan Tuhan.

Ia ambil akhirnya empat kaleng bir lalu ia letakkan ke keranjang belanjanya. Setelah itu ia berkeliling sebentar, melihat-lihat, siapa tahu ada benda lain yang ia inginkan. Lelah berkeliling ia memutuskan untuk membawa belanjaannya ke kasir. Cukup ramai juga hari ini untuk ukuran hari kerja. Ia menjejerkan belanjaannya di atas meja kasir. Sang kasir mengambil satu per satu dan memasukkan barcode barang-barang dengan malas.

Sampai di empat kaleng bir tidak bebas alkohol. Sang kasir terdiam sebentar menatap empat kaleng bir, lalu menatap perempuan berjilbab di depannya yang sedang sibuk mencari kartu debit di dalam dompetnya. Sofia yang telah menemukan kartu debit itu mengangkat kepalanya dan bertatapan dengan mbak kasir.

Oh... dia, malaikat, Tuhan, dan kasir. Tapi kasir peduli apa hahahaha.

“Mbak, aku mau rokoknya sebungkus. Yang paling mahal merek apa, ya?”

-

“Kamu yakin tidak mau pulang liburan ini?” Suara Bapak dari seberang telpon terdengar samar-sama. “Ibu kamu sedih, loh, adikmu juga lagi pergi keluar kota sama teman-temannya. Kita cuma berdua di rumah.” Sofia letakkan rokoknya di bibir kaleng bir kosong, “iya, pak. Aku mau mengerjakan tugas akhir secepatnya. Kalau di sana aku susah dapat buku-buku yang bagus untuk tugas akhir, perpustakaan di kampusku bukunya cukup bagus, lagian ada perpustakaan umum di tengah kota yang cukup besar, tidak seperti perpustakaan daerah yang isinya buku-buku lama.” Sofia menggosok kepalanya, aduh kepalanya sakit lagi, ia juga mual. Ini jangan-jangan gara-gara bir yang diminumnya semalam.

“Pak? Itu siapa? Sofia kah? Sini aku mau bicara!” Suara ibu terdengar jauh di telpon. “Sofiii! Aduh kamu kapan pulang?” Sofia terkekeh kecil mendengar suara ibunya yang tinggi. “Sofi tidak pulang bu, Sofi mau ngumpulin bahan buat tugas akhir semester depan. Pusing, mutusin judul susah banget,” Sofia membaringkan kepalanya ke kasur.

“Ya, udah... Ibu ngerti, tapi ibu kangen kamu, nak. Adikmu tahun depan juga mau kuliah, dia katanya mau kuliah di universitas yang sama dengan kamu. Jadinya anak ibu dua-duanya ninggalin ibu, dong,” Sofia memejamkan kepalanya. “Duit dia kuliah gimana? Di sini kan mahal bu,” Ibunya hanya tertawa saja. “Ah, kamu. Ibu sudah siap jual motor, kok. Masalahnya dia bisa masuk atau tidak. Anak itu kerjanya main saja. Kamu kan juga mau lulus semester depan,” Sofia tersenyum, tapi kedua bola mata dan pipinya panas. “Oh, iya, ya. Sofi tidak kuliah lagi tahun depan.”

-

Sofia menghirup rokoknya dan menatap air danau yang ditimpa matahari. Dia sudah dua hari merokok, entah apa enaknya. Tapi sudah beli sebungkus, sayang kalau tidak dihabiskan. Tiba-tiba seekor kucing mendekatinya lalu duduk di depannya. Kucing itu berwarna putih kumal dengan spot kuning, tubuhnya dipenuhi bekas luka.

“Aku tidak punya makanan,” ucap Sofia kepada si kucing. Sang kucing hanya menguap malas lalu merebahkan tubuhnya. “Enak kelihatannya jadi kucing,” Sofia bergumam kecil. Ya, jadi kucing pasti enak. Tidak perlu memikirkan apa-apa, tidak perlu memikirkan kekecewaan orang tua, merasa kesepian, Tuhan, hidup, mati, surga, neraka... Jadi kucing hanya pikirkan hari ini, kalau mati mereka mati, kalau hidup mereka hidup. Tidak perlu pikirkan konsekuensi, masa depan, kebahagiaan orang lain, kesedihan orang lain. Hidup hanya untuk diri sendiri, mati juga untuk diri sendiri.

“Aku iri...” Sang kucing memejamkan matanya, sinar matahari menembus ranting pohon di atas, menyinari kepalanya yang codet.

-

Sofia meremuk kertas ke delapan yang ia tulis sore itu. Sudah hari Kamis, tinggal tiga hari lagi. Ia tidak tahu harus berkata apa kepada kedua orang tua dan adiknya. Ia tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat. Kepalanya sakit lagi. Selain harus memutuskan apa yang harus ia sampaikan kepada keluarganya ia juga harus memutuskan haruskah ia pergi atau diam di kosan saja.

Kalau ia pergi enaknya pergi ke laut atau ke gunung? Ia menggigit penanya sambil menimbang-nimbang. Gunung tinggi, tapi kalau kucing bisa mendarat dengan keempat kakinya bila jatuh dari ketinggian kenapa manusia tidak? Pikirnya tiba-tiba. Kalau laut... ah, kucing takut air kan, ya. Lagi pula sekarang bukannya ombak lagi tinggi.

Ia memutuskan untuk tidak menuliskan apa-apa. Hanya mengirim pesan singkat kepada adiknya, “aku mau liburan, kamu temenin ibu sama bapak, jangan main terus.”

-

Sofia duduk di kereta sambil menatap keluar jendela. Semua terlihat berlalu begitu cepat. Matanya berkunang-kunang. Mungkin ia mabuk darat. Sudah satu jam berlalu. Ia ingin pergi agak jauh tapi mungkin sebaiknya ia naik pesawat dari pada kereta. Tapi pesawat terlalu mahal, ia masih harus memikirkan mau menginap di mana sesampainya di kota tujuan. Memang, keputusannya untuk bepergian ini sangat tidak matang dan tiba-tiba. Tapi setidaknya ia ingin keluar dari kamar yang sempit itu, walau hanya sekali, dan melihat secuil keindahan yang ditawarkan bumi ini. Bola matanya panas lagi. Ia jadi sentimentil. Mungkin karena udara di sini, mungkin karena awan di luar sana abu-abu sedih. Ia sebenarnya rindu rumah, rindu kota kecilnya, tapi di sana ia tidak bisa leluasa. Ia tidak bisa menghilang bila ia berada di sana. Kota itu terlalu kecil, terlalu familiar.

-

Sofia bukannya tidak takut Tuhan dan janji neraka. Dia takut sekali. Satu-satunya alasan mengapa ia sampai Senin kemarin masih taat menjalankan agamanya adalah karena ia takut Tuhan dan kekuatannya. Tapi ternyata ada yang lebih ia takutkan dari Tuhan atau neraka.

Setelah seminggu ini ia pikirkan baik-baik, ia lebih takut jadi seonggok daging tidak berguna yang membebani orang-orang di sekitarnya. Sofia pikir, ia lebih baik masuk neraka dan fisiknya disakiti berkali-kali di sana. Ia lebih baik lupa akan dunia, dan menjerit ketika api membakar tubuhnya. Janji-janji menyakitkan seperti itu lebih baik dari pada ketidakpastian di tempat tidur seharga masa depan adiknya. Kalau janji neraka memang benar ada, setidaknya Tuhan tahu ia tidak lari, ia memutuskan hal ini dengan penuh pertimbangan. Tuhan tahu ia bukan menantang-Nya, ia benar sadar akan konsekuensi keberadaan Tuhan dan neraka-Nya.

Sofia bukannya tidak membayangkan apa yang akan terjadi bila ia mengambil jalan lain. Sofia bukannya jauh dari Tuhan. Sofia bahkan merasa semakin dekat dengan Tuhan. Selama ini ia tidak pernah terlalu memikirkan tentang mati, surga, atau neraka. Tapi seminggu ini ia terus memikirkannya. Ia terus ketakutan. Ia terus mempertimbangkan mau memilih penderitaan yang mana.

Ia melihat desir ombak yang riak, ujung lautan tak terlihat, hanya gelap dan bintang-bintang berkelip di langit bersama bulan yang seolah nyengir lebar. Matanya berkunang-kunang, kepalanya sakit.

BYUR

Ombak menghempas karang.

-

“Sudah kamu coba telpon?”

“Sudah pak, tidak tersambung.”

“Coba kamu telpon universitasnya dan minta nomor telpon rumahnya.”

“Baik, pak.”

-

“Kamu kenapa, risau sekali kelihatannya.”

“Pasienku ada yang tidak datang hari ini.”

“Cuma satu pasien saja, mungkin dia sudah sembuh atau pergi ke dokter lain.”

“Tapi dia tidak bisa dihubungi. Masalahnya, kalau tidak segera dioperasi, kemungkinannya selamat bisa semakin kecil.”

“Kanker?”

Sang dokter mengangguk, lalu menunjuk kepalanya.

“Otak? Walah...”

Mereka berdua terdiam.


Tuesday, December 20, 2016

Pada Malam yang Panjang, Aku Mengingatmu

Ketika Desember tiba, mawar kering yang terselip di dalam buku yang tak pernah aku baca tiba-tiba menjadi hal yang melankolis dan kartu ucapan selamat ulang tahun berwarna oranye terang buatan tangan di atas rak bukuku terlihat kesepian.

Siapa lagi yang akan menuliskan perasaan yang tulus ke dalam kartu ucapan di tengah dunia yang ruangnya bisa kau sebrangi dengan layar telpon genggam? Hanya engkau rasanya.

Aku cukup bersyukur juga tidak ada orang seromantis dirimu lagi dalam berkawan kepadaku. Aku tidak tahu bagaimana rasanya harus kehilangan dua orang yang meninggalkan mawar kering dan kartu ucapan buatan tangan pada hari ulang tahunku. Karena kehilangan satu orang sepertimu saja sudah cukup membuatku sepi pada malam-malam yang panjang.

Sambil menulis ini aku menatap sketsa wajahmu yang dulu tidak jadi aku berikan kepadamu, tapi aku urungkan, karena sketsaku tidak sebanding kartu ucapan oranye itu. Ah.